DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 76 Varell Nadya


__ADS_3

Tidak tau apa yang di pikirkannya. Varell memiringkan kepalanya dan mengecup bibir itu. Nadya tidak kaget. Karena dia tau Varell akan melakukan hal itu. Sudah terlihat dari gerak-gerik Varell.


Nadya memejamkan matanya seakan memberi Varell melakukan hal itu. Varell yang mendapat izin dari Nadya semakin memperdalam ciumannya.


Tangan Varell memegang ceruk leher Nadya dengan ke-2 tangannya. Agar bisa lebih dalam lagi mencium Nadya.


Seakan Varell tidak peduli. Nadya masih menolaknya atau tidak. Dia hanya ingin menuntaskan perasaannya yang sudah terlanjur kecewa dengan Nadya yang seakan mempermainkan hatinya.


Mengundur waktu untuk tidak menjawab perasaannya. Membuatnya kesal dan harus melakukan itu pada Nadya, toh Nadya tidak menolak.


Beberapa menit berciuman dengan kegundahan perasaan masing-masing. Varell melepaskan ciuman itu perlahan. Sehingga Nadya bisa bernapas.


Tidak Varell mau pun Nadya ke-2 nya sama-sama melihat dengan napas yang tersengal- senggal. Varell mengusap pipi Nadya dengan lembut tanpa mengalihkan pandangannya.


" Aku akan tetap menunggu jawaban langsung dari mu," ucap Verro yang masih mengharapkan Nadya mengatakan iya.


Walau Nadya tidak menolak ciumannya. Tetapi dia belum puas. Karena tidak mendengar langsung dari mulut Nadya untuk menerimanya.


" Ayo kembali!" ucap Varell ingin bergerak. Tetapi Nadya menahannya membuat Varell menaikkan 1 alisnya.


" Selama masih menungguku jangan mengacuhkanku. Bicaralah lah jika ingin bicara. Jangan marah kepada ku. Jangan seperti ini aku merasa seperti bersalah. Aku tidak bisa jika kamu cuek kepadaku," ucap Nadya mengakui jika perubahan sikap Varell membuatnya gelisah. Varell tersenyum tipis mengangguk.


" Ayo!" Varell berdiri mengulurkan tangannya untuk Nadya. Nadya menyambut uluran tangan itu. Lalu berdiri dengan kesulitan.


" Kau bisa berjalan?" tanya Varell. Nadya mengangguk.


Varell membantunya berjalan dengan memapah Nadya. Sebelum berjalan mereka saling melihat dulu. Lalu memutuskan melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang.


*********


Lain Varell yang masih di beri harapan. Aldo dan Raquel berjalan tanpa berdekatan. Aldo berjalan di depan Raquel yang sedari tadi bergerutu tidak jelas.


Akhirnya Raquel memang menyusul Aldo. Karena takut tidak akan mendapat nilai dan akhirnya guru akan melapor pada orang tuanya. Tidak ada pilihan lain selain mengikuti Aldo.


Tetapi mereka sedari tadi tidak bicara. Dari mencari bendera sampai menemukannya dan sampai melakukan perjalanan pulang. Aldo dan Raquel tetap konsisten dengan diamnya mereka.


Melihat tingkah Raquel yang berbeda dan apa lagi Raquel protes pada guru, membuat Aldo tidak peduli, menganggap jika tidak ada Raquel di belakangnya.


Walau dia sangat penasaran apa yang terjadi dengan Raquel kenapa Raquel yang belakangan terlihat manis sekarang berubah kembali.


" Dia benar-benar Pria yang sangat menyebalkan," batin Raquel mengoceh di dalam hatinya. Berjalan dengan terpaksa di belakang Aldo yang berjalan berjarak 2 meter darinya.


" Auhhh," lirih Raquel terjatuh ke-2 lututnya menyentuh tanah dan juga telapak tangannya. Mendengar teriakan Raquel membuat Aldo menoleh kebelakang dan melihat Raquel sudah tengkurap.


Aldo membuang napasnya perlahan. Lalu berjalan menghampiri Raquel.


" Kau tidak apa-apa?" tanya Aldo yang sudah berjongkok di depan Raquel.

__ADS_1


Raquel tidak mempedulikan pertanyaan Aldo dan sibuk membersihkan sampah-sampah dari sikut tangannya dan lututnya. Raquel yang memang hanya menggunakan hot pants sehingga lutut yang luka itu terlihat.


Aldo yang merasa simpatik, ingin memegang luka Raquel. Tetapi tangan itu langsung di tepis Raquel.


" jangan menyentuhku," sinis Raquel ketus membuat Aldo menatapnya aneh.


" Aku hanya ingin menolongmu," ucap Aldo dengan suara dingin.


" Tidak perlu, kau tidak perlu melakukannya. Jangan berpura-pura baik di depanku," ucap Raquel dengan sinis membuat Aldo benar-benar tidak mengerti apa maksud Raquel.


" Baiklah! aku tidak akan menyentuhmu sedikitpun," sahut Aldo mengangkat ke2 tangannya tidak ingin menyentuh Raquel.


" Dia hanya berpura-pura saja," batin Raquel kelas.


Berdirilah!" ucap Aldo dengan datar yang sudah berdiri. dia lebih baik berdiri dari pada melawani Raquel.


" Kenapa dia begitu aneh, apa yang aku lakukan sehingga dia seperti sangat membenciku, tidak biasanya di seperti itu," batin Aldo masih kepikiran dengan wanita ketus itu.


Raquel berusaha berdiri, dengan kesulitan ya dia memang lebih baik berusaha sendiri dari pada di bantu Aldo yang merupakan penghiyanat baginya. Pria bermuka 2 yang sudah tertanam di hatinya.


Aldo hanya memperhatikan bagaimana wanita itu berdiri. Tanpa ingin membantunya. Karena Raquel memang tidak ingin di bantu.


Tetapi Raquel yang kesulitan dan hampir jatuh. Untung saja Aldo sigap menahan tubuh Raquel dengan memegang ke-2 tangannya.


Sehingga Aldo dan Raquel yang berhadapan dengan jarak yang sangat dekat saling menatap. Mata Raquel berkeliling melihat wajah Pria yang terlihat baik itu.


Wajah Aldo yang begitu tengang sebenarnya membuat jantungnya berdebar tidak menentu. Tata cara bicara Aldo selama ini membuat kenyamanan untuknya.


" Aku sudah mengatakan jangan menyentuhku," ucap Raquel sedikit berteriak.


" Aku tidak menyentuhmu, aku hanya membantumu," sahut Aldo melihat Raquel yang berdiri saja belum bisa. Tetapi sangat keras kepala.


" Ayo cepat!" ucap Aldo, " aku tidak punya waktu meladeni mu, mendengar ocehan mu, jadi cepat berjalan jika tidak ingin di bantu," sahut Aldo tegas. Lama-lama dia sangat kesal dengan Raquel yang marah-marah tanpa alasan.


" Aku tidak mau! pergi sendirian," sahut Raquel membuat Aldo mendengus. Dia hanya semakin muak dengan Raquel yang seperti anak kecil.


" Aku sudah katakan aku tidak punya waktu untuk membujukmu dan meladeni mu. Jadi berjalanlah. Aku harus memberikan bendera itu agar tugas selesai jadi cepat dan jangan banyak tingkah," sahut Aldo menegaskan sekali lagi dan melangkah duluan tidak mempedulikan Raquel.


Kepergian Aldo membuat Raquel kesal. Dia mengepal ke-2 tangannya melihat Aldo yang pergi. Raquel melihat ke arah bendera yang berada di dekat kakinya dan mengambilnya.


" Kau hanya butuh ini bukan," teriak Raquel membuat langkah Aldo berhenti dan membalikkan tubuhnya melihat Raquel dengan wajah marahnya dengan memegang bendera.


" Kau sangat sombong Aldo, kau sangat egois," ucap Raquel sinis, " Aku tau kau sangat pintar dan kebanggaan semua murid dan guru di sekolah. Kau tidak bedanya dengan Nadya yang suka mencari muka," kata-kata Raquel lagi-lagi membuat Aldo bingung tetapi menyimak dengan tetap berdiri di tempatnya.


" Sama halnya dengan hari ini. Hanya karena dirimu Pak Sony tidak mengijinkanku mencari tim lain. Dan bahkan dia membelamu. Apa salahnya jika Pak Sony yang memberiku kesempatan bukan kau. Sehingga aku tidak perlu lari kedalam hutan untuk mengejarmu demi bendera ini," lanjut Raquel dengan umpatan hatinya.


" Dan hari ini aku ingin melihat apa kata guru yang memberi tugas itu. Jika murid kesayangannya pulang dengan tangan kosong," ucap Raquel menatap Aldo tajam.

__ADS_1


" Apa maksud mu?" tanya Aldo merasa aneh. Namun tersirat firasat buruk.


Raquel tidak menjawab lagi apa yang di katakan Aldo. Tetapi Raquel langsung membuang bendera itu kedalam jurang yang ada di dekatnya. Hal itu membuat Aldo kaget dan bahkan tidak sempat mencegahnya.


" Raquel," teriak Aldo saat tangan Raquel sudah tidak terdapat bendera lagi.


" Apa salahnya jika sekali-kali kau tidak mendapatkan nilai dan mendapat laporan orang tua," ada sahut Raquel sinis yang benar-benar kesal dengan Aldo sampai dia nekat melakukan hal itu.


" Kau benar-benar,"pekik Aldo yang terbawa emosi.


Aldo langsung menghampiri Raquel dan melihat jurang yang sangat dala. Aldo mengacak rambutnya frustasi dengan tindakan Raquel.


" Apa kau sudah gila," teriak Aldo kehilangan kesabaran berteriak di depan Raquel membuat Raquel kaget.


" Kenapa? kau sangat marah hanya karena tidak mendapatkan nilai," sahut Raquel tanpa merasa berdosa.


" Kau pikir semua orang sepertimu. Kau pikir aku dirimu yang sekolah dengan main-main Yang mengikuti kegiatan dengan spele dan merasa bangga mendapat teguran dan juga laporan guru pada orang tua," teriak Aldo marah-marah di depan Raquel dia memang tidak bisa menahan dirinya.


" Kau terlalu banyak tingkah. Pertama kau menolak untuk satu tim denganku. Aku diam saat kau tetap ikut dan aku berpikir sendiri mencari bendera itu. Sementara dirimu hanya mengoceh tidak jelas,"


" Aku tanya, apa ketika aku mendapatkan bendera itu nilainya hanya untukku. Bahkan aku memberinya kepadamu agar kau yang mendapatkan nilai lebih tinggi,"


" makanya ketika mendapatkan tugas sebelum mengerjakannya di baca dulu keterangannya dengan jelas. Siapa yang memegang bendera saat pulang nilainya lebih tinggi dari teman 1 timnya," jelas Aldi dengan wajahnya yang memerah. Raquel diam mendengar hal itu. Dia sama sekali tidak tau jika keterangan itu ada.


" Tapi apa yang kau lakukan dengan mudahnya kau membuangnya. Kalau kau tidak bisa menghargai usaha orang lain. Paling tidak hargai dirimu sendiri,"


" Kau bahkan malu karena tidak bisa mendapatkan tim lain dan terpaksa ikut denganku. Kau berjalan jauh dengan mulutmu yang tidak bisa diam dan kau terluka. Dan dengan mudahnya kau membuang usahamu sendiri, kau sudah melakukan banyak hal tapi kau menyia-nyiakan kan nya," teriak Aldo.


" Aku tidak peduli dengan hal itu," sahut Raquel yang juga berteriak. Aldo mendengarnya hanya geleng-geleng dengan tawa kecil yang benar-benar tidak habis pikir.


" Iya, aku lupa dengan siapa aku bicara, kau memang tidak akan peduli dengan hal itu. Karena bagimu semua itu hanya main-main, jadi wajar jika kau tidak mempedulikannya," sinis Aldo sudah memelankan suaranya dengan napasnya ngos-ngosan karena marah.


" Jangan berlebihan Aldo," Raquel menjeda kalimatnya, " kau juga tidak akan di marahi. Karena tidak menyelesaikan tugas. Karena guru-guru itu akan percaya dengan kata-kata mu mengenai aku yang melakukan kesalahan dan terakhirnya kau di anggap tidak bersalah dan aku yang salah," lanjut Raquel dengan sinis.


" Apa maksudmu," sahut Aldo tidak mengerti. Raquel tersenyum mendengarnya.


" Sudahlah jangan bermuka dua aku sudah tau kau itu sangat picik. Kau hanya berakting marah-marah di depanku. Tetapi di belakangku kau langsung membuat hal-hal yang menjelekkan ku," ucap Raquel membuat Aldo geleng-geleng dengan Raquel yang menganggapnya serendah itu.


" Pikiran mu sangat kotor. Iya memang seperti itu lah dirimu. Selalu berkata yang tidak benar. Tapi baiklah aku juga ingin melihatmu mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Apa kau akan mengakui kesalahan mu di depan guru atau kau hanya diam dengan tenang tanpa merasa berdosa," sahut Aldo dengan suara dingin.


" Aku hanya membuang-buang waktuku untuk bicara denganmu. Jangan bertingkah sekarang berjalanlah dan pertanggung jawabkan perbuatanmu,"


" Jika kau masih banyak protes aku benar-benar akan meninggalkanmu di sini sendirian," ucap Aldo dengan penuh penekanan dan penegasan sedikit mengancam Raquel. Tetapi seakan ancaman Aldo tidak berpengaruh untuknya sehingga Raquel berdecak kesal.


Bersambung...


Jangan lupa mampir ke sini ya. Ditunggu like Coment, Vote nya. Terima kasih.

__ADS_1


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.


__ADS_2