
Mereka masih merundingkan untuk shopping bareng memenuhi perlengkapan untuk acara Study tour yang sebentar lagi akan di adakan.
" Ayo dong," ajak Sasy lagi dengan suara manjanya yang memegang tangan Varell yang pasti orang yang di inginkannya untuk ikut makanya dia terus mendesak.
Varell menoleh kebelakang melihat ke arah, Nadya yang makan bersama Azizi dan Aldo. Sepertinya Varell punya rencana lain.
" Ayo ya mau ya, pada mau ya," desak Sasy lagi.
" Apa gunanya sih, yang ada kita akan pusing nemanin kalian terus," sahut Verro yang tampak kesal dan tidak tertarik untuk pergi shopping bareng.
" Benar kata Verro itu hanya akan membosankan," sambung Toby yang setuju.
" Nggak ada yang nyuruh bicara," sahut Verro yang tampak kesal dengan Toby. Toby langsung menunduk seakan takut dengan Verro.
" Apa Toby sama Verro sedang ada masalah?" batin Cherry merasa aneh melihat sikaf Verro dan Toby.
" Ya elah, cuma belanja doang, sekali-kali juga, apa salahnya, nggak lama-lama juga," sahut Sasy yang mulai lesu.
" Ihhhhh, sudah lah Sasy, kita belanja berdua aja," ucap Cherry yang malas mendengar rengekan Sasy.
" Nggak seru Cherry, kita Mulu yang belanja, nggak ada varian," sahut Sasy yang tetap ngotot.
" Maksud lo ngajakin kita hanya untuk varian saja," ucap Vandy yang kesal.
" Bukan begitu Vandy, sudahlah mau ya, plisss sekali aja," Sasy terus merengek memohon dengan menyatukan ke-2 tanganya agar geng V3 ikut shopping dengannya.
" Baiklah gue mau," sahut Varell.
Hal itu langsung mendapat tatapan aneh dari Verro. Memang Varell bukan tipe orang yang suka berbelanja.
" Yeeeee, Vandy ikut, Varell juga sudah setuju, tinggal lo Verro," ucap Sasy melihat ke arah Verro yang Verro langsung melihat ke arah Cherry.
" Ya sudah," sahut Verro dengan suara datar. Melihat teman-temannya ikut. Dia juga yang memang tidak mempersiapkan apa-apa perlu Cherry untuk membantunya mencari kelengkapan yang penting-penting.
" Sudah apa?" tanya Sasy penasaran, " lo ikut kan?" tanya Sasy sekali lagi memastikan. Verro mengangguk.
" Yeeee," sahut Sasy yang kesenangan sampai mengangkat tangannya.
" Lo bisa biasa aja nggak sih," saut Varell kesal menatap Sasy tajam.
Cherry yang mendengar Verro ikut justru senang, walau dia dan Verro sedang tidak akrab. Tetapi dengan adanya Verro jauh lebih baik.
***********
__ADS_1
Sedari tadi Varell berdiri di depan kamar mandi wanita. Entah apa yang dilakukannya yang jelas tingkahnya mendapat sorotan murid-murid wanita yang ingin ke toilet. Jelas sangat risih dengan adanya Varell yang menyandarkan diri dengan santainya.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya orang yang di tunggunya ke luar, siapa lagi jika bukan Nadya yang habis dari kamar mandi.
" Hey," tegur Varell dengan ketus saat Nadya melewatinya dan malah tidak menegurnya. Tetapi suara Varell membuat Nadya menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya.
" Ada apa ya?" tanya Nadya bingung. Varell langsung melangkahkan kakinya mendekati Nadya dan berdiri di hadapan Nadya.
" Pulang sekolah lo kemana?" tanya Varell dengan wajah juteknya.
" Nggak kemana-mana, langsung pulang," jawab Nadya pelan dan menunduk di depan Varell.
" He, gue itu ada di depan lo, bukan di Nadya dibawah," sahut Varell ketus melihat Nadya yang sama sekali tidak meresponnya.
" Maaf, ada apa ya," sahut Nadya mengangkat kepalanya.
" Hmmm, lo udah belanja buat memenuhi perlengkapan study tour?" tanya Varell dengan santai.
" Tidak ada yang perlu di belanjakan, soalnya aku juga tidak menyiapkan apa-apa," sahut Nadya yang merasa itu tidak penting dan dia juga bukan anak sultan yang harus apa-apa harus membeli ya baru.
" Oh begitu, kalau begitu, temani gue," sahut Varell to the point membuat Nadya kaget.
" Kemana?" tanya Nadya bingung.
" Kenapa haru aku?" tanya Nadya bingung.
" Gue nggak perlu harus berikan selembar alasannya, yang jelas gue tunggu di depan gerbang nanti sepulang sekolah, awas saja kalau lo nggak ada," tegas Varell sedikit mengancam.
" Oke, gue kekelas dulu, jangan lupa pulang sekolah," tegasnya lagi, sebelum pergi.
" Tapi," pekik Nadya bingung. Dia bahkan tidak mengatakan iya atau tidak. Tetapi Varell sudah main pergi aja dengan sesuka hatinya.
" Bagaimana ini," gumam Nadya yang gelisah. Karena dia belum pernah pergi dengan laki-laki siapapun.
*********
Setelah pulang sekolah Cherry, Azizi dan Sasy masih berada di dalam kelas. Karena ingin jalan-jalan bareng dan belanja mereka tidak pulang kerumah dan langsung akan pergi melaksanakan aktivitas mereka.
Cherry dan Sasy juga mengajak Azizi yang ikut bergabung bersama mereka. Sekarang ke-3 wanita remaja itu sedang memakai sweater di dalam kelas.
" Memang kalian belum memenuhi kelengkapan untuk berangkat Study tour?" tanya Azizi yang sudah selesai memakai sweater nya.
" Sudah tapi belum lengkap," jawab Sasy yang memang tidak akan pernah puas belanja pasti ada saja yang kurang.
__ADS_1
Azizi tersenyum dan langsung melihat ke arah Cherry yang masih tampak murung.
" Oh iya Cherry apa kamu baik-baik saja?" tanya Azizi membuat Cherry yang memakai sweater pink-nya heran dengan pertanyaan Azizi.
" Iya aku baik-baik saja, memang kenapa?" tanya Cherry.
" Kamu benar-benar sudah baikan sama Verro?" tanya nya lagi.
" Memang kapan aku ribut dengannya," sahut Cherry semakin bingung.
" Ahhhhh, sudahlah Azizi jangan di bahas lupakan saja, semua itu memang gara-gara Toby si biang kerok. Tapi untung saja Verro bergerak cepat," sahut Sasy yang memperbaiki riasannya.
Cherry bingung dengan apa yang di katakan Sasy.
" Verro memang apa yang di lakukan Verro?" tanya Cherry penasaran.
" Ya ampun Cherry, jadi Verro tidak menjelaskan semuanya," sahut Sasy. Cherry menggelengkan kepalanya.
" Sekolah itu sempat heboh dengan foto-foto Fiona yang mencium Verro ada di mana-mana. Saat Verro datang kesekolah dan melihat semuanya. Belum lagi anak-anak satu sekolah menggoda-goda Verro. Dengan kemarahan yang membara Verro langsung menghampiri Toby kekelas," jelas Sasy sambil menunjukan exspresi kesalnya.
" Lalu?" tanya Cherry yang ingin tau kelanjutannya.
" Ya Verro langsung menarik kerah baju Toby dengan matanya yang melotot dan menyuruh Toby untuk membakar-bakar foto-foto itu," jelas Sasy melanjutkan.
" He, Toby Singgirkan semua foto-foto itu. Jika aku masih melihat ada sisa selembar saja. Kau yang akan ku bakar," ucapnya menirukan suara Verro dengan serius.
" Jadi benar jika foto-foto itu memang menyebar, berarti sesuai dengan mimpiku hanya saja endingnya berbeda," batin Cherry tersenyum tipis.
" Verro memang the best, dia bahkan memusnahkan foto-foto itu, sebelum Cherry datang, jadi salut banget sama dia," sahut Azizi yang kagum.
" Benar kata Azizi, setelah itu tidak ada murid-murid yang menggoda Verro lagi. Hanya teman 1 kelas yang memang bandalnya tidak ketulungan yang masih sibuk mengurusi Fiona, aku aja enek," lanjut Sasy lagi.
Penjelasan Sasy benar-benar membuat hati Cherry semakin lega. Dia sangat takut jika mimpinya kenyataan.
" Hey kalian masih mengobrol ayo buruan sudah di tungguin," teriak Toby yang berdiri di depan pintu.
" Iya sabar," sahut Sasy kesal.
" Ya sudah ayo kita pergi," ajak Cherry. Azizi dan Sasy mengangguk dan pergi meninggalkan kelas, setelah selesai berkemas.
💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya