DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 378 Berusaha yang terbaik.


__ADS_3

Selina dan Arif berada di dalam mobil yang mana mereka sedang makan nasi goreng abang-abang. Mereka memilih makan di dalam mobil di mana Dokter Arif yang tampan dan kelihatan cuek itu bisa juga bucin dan lihatlah bagaimana dia menyuapi Selina makan yang makan dengan manja.


" Kamu kelihatan lapar. Apa tadi siang kamu tidak makan?" tanya Arif. Selina mengangguk apa adanya.


" Bukannya aku sudah mengatakan. Kamu harus menjaga dirimu dan makan dengan teratur. Tapi apa yang kamu lakukan. Kamu malah telat makan lagi bahkan tidak makan. Apa sengaja mencari penyakit," ucap Arif yang mengomeli Selina.


" Iyaaaa, maaf, aku tadi makan cemilan. Jadi tidak terlalu lapar. Lagian kalau aku sakit bukannya ada kamu," sahut Selina yang sangat santai.


" Sayang, apapun itu kaamu harus teratur makan. Aku tidak mau mendengar kamu seperti ini lagi dan alasan apapun. Kamu harus tau mencegah lebih baik dari pada mengobati. Jadi makanlah dengan teratur dan jangan mencari penyakit," ucap Arif menegaskan.


" Iya, iya Pak Dokter. Makanya kamu ingatin aku dong. Kamu belakangan ini sibuk dengan Sasy. Jadi tidak pernah mengingatkan aku," sahut Selina yang mengeluh. Arif mengusap-usap pipi Selina.


" Maafkan aku ya. Tidak seharusnya aku mengorbankan hubungan kita," ucap Arif merasa bersalah.


" Tidak apa-apa yang penting sekarang Toby tidak menyuruh kamu lagi mendekati Sasy. Lama-lama kamu nanti jatuh cinta benaran lagi sama Sasy," ucap Selina.


" Aku tidak mungkin jatuh cinta kepada wanita lain. Jika ada wanita yang aku cintai di depanku," ucap Arif yang tersenyum manis.


" Hmmm, masasih yang kemarin bagaimana," ucap Selina yang menyindir sesuatu membuat Arif mengingat-ingat apa yang di maksud Selina.


" Maafkan aku Selina. Aku tidak akan mengulang kejadian beberapa bulan lalu yang mana hubungan kita berhenti karena kesalah pahaman dan jujur aku saat itu dengannya bukalah cinta seperti yang aku katakan kepadamu aku mencari pelarian," ucap Arif yang merasa bersalah pada Selina. Selina hanya tersenyum mendengarnya.


" Ya sudah tidak apa-apa. Lagian lupakan masalah yang lalu-lalu. Aku juga janji tidak akan secepatnya memutuskan sesuatu tanpa mengetahui yang sebenarnya," ucap Selina yang begitu dewasa jika sudah bersama Arif. Arif tersenyum.


" Ya sudah kita jangan membahas masalah yang lalu-lalu lagi," ucap Arif. Selina mengangguk.


Arif meletakkan piring di atas paha Selina yang membuat Selina heran yang tiba-tiba Arif berhenti menyuapinya. Di mana Arif ternyata mengambil sesuatu dari bangku belakang mengambil paper bag dan Selina hanya penuh kebingungan dengan apa yang di lihatnya.


" Apa itu?" tanya Selina heran. Arif tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana yang berupa kotak kecil dan membuka isinya yang berupa kalung yang indah. Selina begitu terkejut melihat benda yang begitu indah itu.


" Ini hadiah di hari anniversary kita yang ke-4 tahun," ucap Arif yang membuka pengait kalung itu dan langsung memasangkannya pada Selina.


Selina tersenyum dengan matanya yang berbinar yang tidak bisa menggambarkan kebahagiannya yang melihat kalung itu indah itu melekat di lehernya. Di mana tangannya terus memegangnya dengan kepalanya yang menunduk.


" Cantik sekali," ucap Selina.


" Itu menjadi cantik. Karena sudah melekat di tubuhmu," sahut Arif.


" Kamu bisa saja. Makasih ya," ucap Selina yang tersenyum lebar. Arif mengangguk dengan mencium kening Selina dengan lembut.


" Aku yang berterima kasih. Karena kamu mau menerima ku kembali. Aku minta maaf pernah lari dari hubungan kita dan bahkan sampai melakukan pelarian pada Raquel.Aku minta maaf Selina atas apa yang aku lakukan," ucap Arif dengan memegang ke-2 tangan Selina yang berbicara begitu tulus pada Selina.


" Aku yang salah yang saat itu tidak bisa mengendalikan diri," sahut Selina yang merasa bersalah.


" Aku juga bersalah dan orang yang paling di salahkan saat itu," sahut Dokter Arif.


" Ya sudah kita sama-sama salah. Kalau begitu lain kali kita jangan marah-marah lagi ya. Kalau ada apa-apa, seperti biasa kamu akan menegur aku dan juga memarahiku," sahut Selina dengan tersenyum. Arif mengangguk.


" Janji," ucap Selina yang mengajungkan jari kelingkingnya.


" Janji," sahut Arif. Selina tertawa kecil dan mencium pipi Arif lembut.


" Kamu masih mau makan?" tanya Arif. Selina mengangguk. Arif pun kembali menyuapi Selina.


" Semoga Toby baik-baik saja ya," ucap Selina dengan penuh doa pada Toby.


" Amin," sahut Arif yang terus menyuapi pacarnya itu.


Hmmm, bucinnya Arif baru terlihat sekarang ternyata. Hmmmm pantesan Arif menolak apa kata Toby ternyata punya pacar diam-diam tanpa ada yang tau. Dia terus menyuapi pacarnya itu dengan tulus.


" Aku berharap Selina hubungan kita bisa sampai di pelaminan. Walau aku tau kamu tetap tidak ada keberanian untuk orang-orang tau jika kamu dan aku mempunyai hubungan," batin Arif.


" Aku tidak tau kenapa kamu bertahan sampai detik ini kepadaku. Padahal aku bukan siapa-siapa. Aku juga hanya gadis biasa. Tetapi kamu bertahan dengan ku," batin Selina yang tersenyum pada Arif.

__ADS_1


*********


Hari ini Sasy menemani Toby melakukan pemeriksaan dengan Dokter Arif. Di mana ini memang jadwal rutinnya Toby untuk periksa. Kali ini jelas sangat berbeda. Karena kali ini di temani oleh wanita yang paling di cintainya.


Di mana Sasy berdiri di samping Toby dan melihat Dokter Arif memeriksanya. Sasy terlihat tenang. Namun jelas ketenangan itu menutupi rasa takutnya yang kehilangan Toby secara tiba-tiba.


Walau bukan Dokter ahli jantung. Namun Sasy yang sebagai Dokter bisa paham dengan kondis Toby yang sangat parah. Toby melihat ke arah Sasy yang terlihat berpikir keras.


Toby meraih tangan Sasy, menggenggam erat tangan itu membuat Sasy melihat kearah Toby dan Toby menganggukkan matanya isyarat dia tidak apa-apa sama sekali.


" Aku tau Toby kamu hanya berusaha menutupi rasa sakit yang kamu alami. Aku tau itu sangat sakit," batin Sasy yang sebenarnya tidak tega dengan Toby. Dia bahkan ingin menangis. Namun harus di tahannya.


" Maafkan aku Sasy aku harus membuatmu kepikiran dalam masalahku. Aku benar-benar minta maaf. Ini yang aku takutkan. Jika kamu tau semua ini. Aku takut kamu terus kepikiran," batin Toby yang sebenarnya sangat menyesal yang sudah memberitahu Sasy dan yang lainnya. Tetapi mau gimana lagi memang semuanya harus di beritahukan.


" Toby saya menyarankan untuk kamu di rawat inap ya," ucap Dokter Arif yang terlihat selesai memeriksa Toby.


" Apa itu perlu Dokter?" tanya Toby yang sepertinya begitu keberatan.


" Toby tidak apa-apa. Justru itu lebih baik. Kamu harus di rawat inap. Agar kamu cepat pulih," sahut Sasy yang menambahi yang setuju dengan kata-kata Dokter Arif.


" Benar kata Sasy. Kondisi kamu sedang melemah. Rawat inap jalan yang paling tepat," sahut Dokter Arif. Toby melihat Sasy dan Sasy mengangguk menyarankan agar Toby setuju untuk di rawat inap.


" Baiklah Dokter," sahut Toby yang akhirnya setuju.


" Ya sudah saya akan persiapkan semuanya. Ruangan kamu dan sebagainya," sahut Dokter Arif yang merasa lega.


" Iya Dokter," sahut Toby.


" Ya sudah saya permisi dulu," ucap Dokter Arif pamit. Toby hanya mengangguk.


" Toby, kamu tunggu sebentar di sini ya. Aku mau bicara sebentar dengan Dokter Arif," ucap Sasy. Toby hanya mengangguk dan Sasy langsung keluar dari ruangan itu untuk mengejar dokter Arif.


" Dokter tunggu!" panggil Sasy yang membuat Arif menghentikan langkahnya.


" Dokter apa memang kondisi Toby sangat menurun?" tanya Sasy yang penuh rasa khawatir.


" Iya Sasy. Seperti yang kamu lihat konsinyasi begitu menurun," jawab Dokter Arif.


" Lalu Dok, apa yang harus kita lakukan. Apa akan ada operasi untuk Toby?" tanya Sasy yang panik.


" Kita lihat kondisinya setelah ini. Kalau memang harus operasi kita akan siapkan operasi," jawab Arif.


" Lalu Dok bagaimana dengan transplantasi jantung apa sudah ada?" tanya Sasy lagi.


" Itu sangat sulit Sasy. Karena donor jantung hanya akan di berikan orang yang masih hidup dan siap mati. Jadi transplantasi jantung sangat sulit kita dapatkan," ucap Arif yang tidak memberi sedikit harapan. Sasy mendengarnya semakin panik. Dengan air matanya yang sudah menetes kembali.


" Apa Toby akan sembuh tanpa donor jantung?" tanya Sasy dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya. Arif mendekatinya dengan mengusap-usap pundak Sasy yang memberikan Sasy semangat.


" Tidak ada yang tidak mungkin. Kita berdoa saja," ucap Dokter Arif yang tidak bisa menjanjikan apa-apa.


" Tapi aku takut Dokter," sahut Sasy.


" Sasy. Kamu harus kuat. Jika kamu kuat maka Toby akan kuat. Kamu hanya perlu terus mendampinginya dan percayalah. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Arif yang memberikan semangat. Sasy mengangguk yang mencoba untuk tenang.


" Sekarang masuklah. Hapus air mata kamu dan temani Toby. Jangan biarkan dia melihat kamu menagis," ucap Dokter Arif. Sasy mengangguk.


" Saya permisi dulu," ucap Arif pamit.


Sasy mengangguk dan dengan cepat mengusap air matanya. Menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan mencoba tenang sebelum memasuki ruangan Toby. Dia tidak ingin Toby melihat dirinya bersedih.


" Toby tidak boleh melihatku sedih," batinnya yang kembali memasuki ruangan kekasihnya itu.


**********

__ADS_1


Verro dan Cherry duduk di salah satu bangku yang ada di rumah sakit. Cherry tadi memeriksakan kandungannya dan mengobrol sebentar dengan suaminya.


" Sayang bukannya donor jantung itu sangat sulit," ucap Cherry yang pasti pembahasan kali ini mengenai Toby.


" Kamu benar, bahkan aku sudah menghubungi banyak rekan sefrofesiku dan sama sekali belum ada donor jantung," sahut Verro.


" Kalaupun ada belum lagi masalah cocok dan tidaknya. Kamu ingat tidak dengan Siska dulu temanku yang dia juga mengalami kanker dan memberikan jantungnya kepadaku. Bahkan saat darurat seperti itu. Jantungnya tidak cocok dengan ku," ucap Cherry mengingat almarhum temannya dan hal itu justru membuatnya sedih.


" Iya sayang memang masalah kecocokan jantung memang sangat sulit seperti yang aku katakan di awal tadi," ucap Verro.


" Dan untuk orang yang menderita kelainan jantung yang membuatnya bertahan hidup adalah transplantasi jantung. Papa saja mendonorkan jantungnya kepadaku untuk aku bertahan hidup. Dan kalau Toby tidak mendapatkan itu. Bagaimana Toby bisa bertahan," ucap Cherry dengan wajah sedihnya. Verro mengusap-usap punggung istrinya itu untuk menenangkan Cherry.


" Aku tau apa yang kamu rasakan Cherry. Kamu begitu takut jika Toby kenapa-kenapa. Aku paham itu," ucap Verro.


" Aku hanya berharap semoga saja Toby segera mendapatkan donor jantung," ucap Cherry dengan penuh doa dan harapan.


" Amin, kita akan terus berusaha untuk kebaikannya. Kamu jangan khawatir," ucap Verro yang juga pasti mempunyai harapan yang sama dengan istrinya.


" Sekarang Toby sudah di rawat. Aku berharap kondisinya membaik setelah di rawat serius di rumah sakit," ucap Cherry.


" Iya sayang. Aku berharap begitu dan pasti kondisinya akan membaik kamu percayalah kepadaku," sahut Verro. Cherry mengangguk.


Fiona yang berada di atas kursi roda mendengar pembicaraan Verro dan juga Cherry.


" Jadi Toby mengalami sakit jantung," batin Fiona yang schok mendengar hal itu.


" Bu Fiona!" tegur suster yang membuat Fiona kaget. Karena suster memanggil Fiona. Verro dan Cherry pun mendengar dan sama-sama melihat kearah Fiona yang jarak 7 meter dari mereka.


Verro dan Cherry sama-sama saling melihat yang tidak menyadari jika ada Fiona di sana. Dan semenjak kejadian itu. Ini pertama kalinya untuk Cherry dan Verro langsung bertatap muka dengan Fiona.


Walau Cherry membiayai seluruh biaya rumah sakit dan pengobatan Fiona. Tetapi dia tidak pernah ingin bertemu Fiona dan sama dengan Verro walau berada di rumah sakit yang sama Verro juga tidak pernah berpapasan atau bersengaja bertemu dengan Verro.


Pertemuan pertama kali itu membuat mereka bertiga saling melihat dengan sama-sama tegang.


" Ayo sayang kita cari makan siang!" ajak Verro memegang tangan Cherry mengajaknya berdiri. Cherry mengangguk dan memilih pergi dengan suaminya.


Belum ada permintaan maaf. Atau di maafkan. Tetapi memang Cherry atau Verro lebih baik bersikap seperti itu. Bersikap dingin demi kebaikan rumah tangga mereka dan Fiona dalam sendunya hanya melihat kepergian pasangan suami istri itu.


" Mereka wajar membenciku. Aku sudah merusak kehidupan rumah tangga mereka. Jadi sangat wajar mereka bahkan tidak ingjn mengenalku," batin Fiona yang merasa pantas mendapatkan semua itu.


" Bu Fiona, mari kita kekamar Bu Fiona," ucap suster. Fiona mengangguk saja dengan wajahnya yang terlihat sendu.


" Aku tidak menyangka Toby mengalami sakit jantung. Pantes saja beberapa kali aku sering melihatnya di rumah sakit. Ternyata dia sakit," batin Fiona yang tidak menyangka mendengar berita tentang Toby.


" Suster!" tegur Fiona.


" Iya ada apa?" tanya suster yang masih mendorong kursi roda Fiona.


" Apa penyakit jantung itu berbahaya?" tanya Fiona dengan tiba-tiba.


" Semua penyakit itu berbahaya dan pasti bukan hanya jantung saja," jawab suster dengan singkat.


" Apa resiko terburuknya?" tanya Fiona.


" Kematian," jawab sukses.


" Tapi pasti bisa sembuh?" tanya Fiona.


" Gagal jantung sangat jarang sembuh dan jika sembuh titik harus mendapatkan transplantasi jantung yang tepat," jawab suster.


" Apa itu seperti Cherry. Cherry sekarang sembuh total karena mendapatkan donor jantung yang tepat. Mungkinkah Toby juga akan sembuh. Jika mendapatkan donor jantung," batin Fiona yang tiba-tiba kepikiran dengan Toby.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2