
Sasy pulang kerumahnya yang ternyata di antarkan Toby. Azizi yang sudah tinggal di rumahnya melihat dari jendela dan melihat Toby yang keluar dari mobil dan tampak berbicara dengan Sasy.
" Toby, bukannya dia mau pergi ya, kok bisa ada di sini dan Sasy kok bisa bareng sama Toby," batin Azizi bingung yang juga tau keberangkatan Toby untuk penerbangan ke Itali.
Azizi yang penasaran pun langsung menutup tirai jendela dan ternyata membuka pintu dan Sasy dan Toby sudah ada di depan pintu. Dan Toby yang melihat ke arah pintu cukup di kagetkan dengan kehadiran Azizi.
" Azizi, kok ada di sini?" tanya Toby heran dan langsung melihat ke arah Sasy.
" Hmmm, Azizi memang tinggal di sini," ucap Sasy menjelaskan.
" Oh iya, sejak kapan?" tanya Toby benar-benar Schock.
" Baru 3 hari," jawab Azizi.
" Begitu rupanya," sahut Toby yang sebenarnya ingin tau alasannya kenapa Azizi tinggal di rumah Sasy.
" Hmmm, kita sebaiknya masuk sebentar," ucap Sasy yang mengajak.
" Iya. Aku akan siapin minum," sahut Azizi. Sasy dan Toby saling mengangguk dan mereka pun memasuki rumah dan duduk di ruang tamu.
" Kalian tunggu sebentar ya!" ucap Azizi.
" Azizi, tidak perlu repot-repot," sahut Toby.
" Tidak apa-apa. Tidak merepotkan kok," sahut Azizi yang langsung pergi menuju dapur.
" Sasy, kenapa Azizi tinggal sama kamu?" tanya Toby setelah kepergian Azizi yang Toby ternyata sangat penasaran.
" Vandy, yang menyuruhnya," jawab Sasy membuat Toby kebingungan.
" Maksud kamu?" tanya Toby dengan dahinya mengkerut.
" Ya jelas maksud aku, Vandy menyuruh Azizi tinggal bersamaku. Karena Azizi sedang kesulitan ekonomi, mobil nya juga sudah di jual. Rumahnya sudah di sita dan biaya rumah sakit Iqbal semakin membengkak. Jadi Vandy yang berniat membantu tidak bisa karena Azizi menolak. Jadi aku haru membantu Azizi paling tidak Azizi punya rumah untuk berteduh," jelas Sasy dengan lengkap.
" Kenapa Azizi tidak cerita kepada yang lainnya. Jika mengalami kesulitan seperti ini," ucap Toby yang jelas cemas jika salah satu sahabatnya mengalami kesulitan.
" Mungkin dia merasa tidak enak. Aku juga hanya berusaha membujuknya untuk tinggal di rumahku dan aku juga tidak berani memberinya bantuan berupa uang. Aku takut dia tersinggung," jelas Sasy yang sangat berhati-hati membantu Azizi.
" Kasian, sekali Azizi, masalah sebesar ini lagi,lagi harus di hadapi sendiri. Tetapi seharunya dia memberitahu kita. Karena apapun itu, kita semua tidak bisa membiarkan dia menghadapi masalah besar ini," ucap Toby yang simpatik dengan Azizi.
" Kamu benar, tapi itulah Azizi dan ya aku hanya bisa membantu dengan memberinya tempat tinggal. Walau kebutuhan dan lainnya akan di ganti Vandy," sahut Sasy. Toby heran dengan pernyataan Sasy.
" Di ganti, maksudnya?" tanya Toby heran.
__ADS_1
" Iya di ganti, Vandy akan mengganti biaya yang aku keluarkan untuk Azizi," ucap Sasy pelan.
" Kamu minta ganti rugi?" tanya Toby memastikan. Sasy mengangguk tanpa berdosa. Sampai-sampai Toby geleng-geleng.
" Kamu ini ya, bisa-bisanya minta ganti rugi. Teman kamu sendiri lo," sahut Toby benar-benar heran dengan Sasy yang dari dulu suka perhitungan di pikir tabiat buruk itu akan hilang rupanya makin parah.
" Ishhh, Toby, kamu kan tau sendiri aku tinggal sendiri di Jakarta. Aku hanya Dokter umum yang gajinya belum seberapa. Bahkan gajiku sama dengan Dokter magang. Aku bukan Verro yang gajinya banyak, sudah itu aku juga tinggal di rumah besar ini dan juga masih nyicil. Kamu kan tau sendiri perbulan, aku harus ngeluarin uang puluhan juta untuk bayar cicilan, rumah, mobil dan biaya makan. Kalau aku tidak minta ganti rugi sama Vandy gimana gong aku dapat tambahan yang ada aku akan jadi gembel," ucap Sasy yang sekarang malah curhat dengan keadaannya.
Toby sampai membuang napasnya perlahan mendengar keluhan Sasy yang antara keluhan atau kode untuknya.
" Jadi wajar kan Toby. Jika aku perhitungan sedikit. Yang penting kan aku ikhlas membantu dan masalah kerugian. Kalau Vandy tidak keberatan ya nggak masalah dong," ucap Azizi pelan dengan wajahnya yang tanpa dosa menceritakan hal itu pada Toby.
" Kamu selalu perhitungan tidak ada bedanya dengan dulu," ucap Vandy geleng-geleng.
" Kamu juga dulu perhitungan apa-apa kamu traktir Cherry dan aku tidak pernah. Jadi kamu tu lebih perhitungan," sahut Sasy yang tidak mau kalah.
" Tetap kamu, sama teman sendiri saja harus bayar," tegas Toby
" Ishhh, sudahlah kan aku sudah bilang, kalau Vandy tidak masalah, jadi nggak ada yang di Khawatirkan," sahut Sasy menegaskan sekali lagi.
" Lalu kenapa Vandy yang harus bertanggung jawab atas Azizi," sahut Toby dengan wajah sedikit kesal.
" Ya mana aku tau," sahut Sasy menggedikkan bahunya. " Memang kenapa kalau Vandy yang bertanggung jawab. Memang kamu mau bertanggung jawab dengan kehidupan Azizi," ucap Sasy malah nyolot.
" Ya mungkin saja mereka ada sesuatu. Makanya Vandy sampai berlebihan," sahut Sasy yang terlihat sok tau.
" Ya mungkin saja," ucap Toby yang juga tidak bisa menarik kesimpulan apa-apa.
" Tapi apa itu berarti kamu akan sering dong melakukan transaksi dengan Vandy dan itu berati kalian berdua akan sering punya waktu untuk membicarakan mengenai Azizi," ucap Toby dengan menebak-nebak.
Sasy mendengarnya tersenyum. Seakan dia tau. Jika Toby pasti gelisah jika dia dan Vandy akan sering bertemu.
" Apa benar kata Raquel, kalau selama ini Toby cemburu dengan Vandy," batin Sasy yang tidak tahan untuk tertawa.
" Kamu kenapa senyum, aku serius bertanya?" ucap Toby. Sasy seketika mengubah ekspresinya, mengubah senyumnya.
" Hmmm, kayaknya sih, selain bertemu di rumah sakit setiap hari. Mungkin juga akan ada selang-selang waktu bertemu berduaan untum membicarakan masalah itu," sahut Sasy yang tampak memanas-manasi Toby.
Toby mendengar ucapan Sasy sudah menaikkan alisnya dan bahkan menatap Sasy dengan horor.
" Dan kamu tidak akan menjaga jarak?" tanya Toby tampak kesal.
" Jaga jarak, kenapa harus jaga jarak, kami kan memang selalu dekat. Jadi tidak ada alasan untuk jaga jarak, orang nyaman juga," sahut Sasy yang membuat kompor meleduk di hati Toby. Sampai Toby sudah kepanasan dengan kata-kata Sasy.
__ADS_1
" Sudah malam aku pulang dulu!" ucap Toby langsung berdiri dan Sasy langsung menahannya.
" Minumannya belum datang!" ucap Sasy memegang tangan Toby.
" Kamu saja yang minum," sahut Toby tampak ketus. Membuat Sasy tersenyum.
" Apa ada yang lucu sampai kamu tersenyum seperti itu?" tanya Toby tampak kesal.
" Kamu cemburuan amat," sahut Sasy merasa menang. Toby semakin resah dan kepanasan sampai melonggarkan dasinya.
" Aku tidak cemburu. Buat apa aku cemburu. Jika kamu tidak menganggap hubungan kita ada," sahut Toby yang benar-benar sangat serius. Sasy tidak henti-hentinya tertawa dan dengan lembut menarik tangan Toby agar duduk kembali di sampingnya.
" Jadi benar kata Raquel, jika kamu tidak memberitahuku kepergian mu. Itu karena kamu salah paham dengan hubungan ku dan Vandy," ucap Sasy dengan tersenyum menatap Toby.
" Tidak sama sekali," sahut Toby masih mengelak.
" Sudahlah jangan bohong, aku bisa melihat dari matamu," ucap Sasy mendekat kan wajahnya pada Toby dan menatap Toby yang sama sekali memalingkan wajahnya.
" Katakan Toby?" tanya Sasy lagi. Toby pun akhirnya melihat Sasy dan menatapnya dengan serius.
" Kamu selalu keganjenan dari dulu tidak pernah berubah. Kamu dulu mengejar-ngejar Varell, lalu Dokter Arif dan sekarang nempel- nempel dengan Vandy. Apa kamu tidak bisa mengubah tabiat buruk kamu itu," ucap Toby tampak kesal.
" Jadi benar kamu cemburu?" tanya Sasy yang merasa bahagia di cemburui oleh Toby.
" Menurut kamu. Lagian siapa yang suka melihat kamu seperti itu. Kamu harus jaga jarak dengan Vandy jangan nempel terus," ketus Toby.
" Hmmm, kalau untuk 3 hari kedepan mungkin aku bisa jaga jarak agar kamu tidak marah dan kesal. Tapi mungkin selebihnya aku tidak bisa jamin," ucap Sasy membuat Toby mengkerutkan dahinya.
" Apa maksud kamu?" tanya Toby tampak kesal. " Apa menurut kamu aku tidak akan kesal setelah 3 hari itu berlalu," ucap Toby yang tampak menekan suaranya.
" Ya kan kamu tidak akan melihat. Karena kamu akan pergi ke Itali. Kamu tinggal di sana. Jadi mana mungkin kamu melihat dan walaupun iya. Aku tidak akan melihat wajah kesalmu dan aku tidak perlu merasa bersalah," ucap Sasy dengan Santi. Toby sampai berdecak mendengar kata-kata Sasy.
" Jadi begitu rupanya, kamu ada niat ingin pecicilan saat aku tidak ada," sahut Toby dengan wajahnya yang serius dan Sasy tersenyum melihat kemarahan Toby dan langsung memeluk pinggang Toby.
" Makanya jangan pergi. Aku mana mungkin bisa berhubungan jarak jauh, pikiranku ku juga pasti tidak tenang. Jadi tetap lah di sini," ucap Sasy yang masih berusaha menahan Toby sampai dia membuat cara agar Toby takut.
" Kamu sengaja mengancamku untuk menahanku?" tanya Toby. Sasy memgangguk.
" Aku sudah mengatakan. Aku akan melakukan apapun. Agar kamu tetap bersamaku," ucap Sasy. " Jadi jangan pergi," lanjut Sasy mengangkat kepalanya dan melihat Toby. Toby tersenyum melihat wajah Sasy yang penuh harapan dan Toby mencium lembut kening Sasy.
" Aku akan pertimbangkan," sahut Toby. Membuat wajah Sasy mengeluarkan senyum mereka.
" Aku menunggu kabar baik itu," sahut Sasy. Toby menganggukan matanya. Dan Sasy kembali bermanja di pelukan Toby. Dia tidak ingin jauh-jauh dari Toby.
__ADS_1
Bersambung