
Cherry berada di dalam kamar yang sekarang sedang menangis terisak-isak yang bersandar di kepala ranjang dengan kakinya yang lurus kedepan. Dia terus menangis setelah pulang dari pesta tadi. Verro memasuki kamar dengan melihat kondisi istrinya yang begitu terpuruk. Verro membawakan segelas air putih untuk Cherry dan duduk di samping Cherry.
" Sayang sudah ya," ucap Verro dengan mengusap pucuk kepala Cherry.
" Kenapa tidak membangunkan ku saat itu? Kenapa? Bukannya Sasy sangat membutuhkan kita saat itu. Lalu kenapa kamu mematikan telponnya? Kenapa tidak membangunkanku? biar aku bicara padanya malam itu," ucap Cherry yang terus menangis yang menyesalkan kejadian itu.
Verro meletakkan gelas di atas nakas dan langsung mendekati Cherry dengan memeluk Cherry erat.
" Maafkan aku Cherry, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku sungguh minta maaf Cherry. Ini semua salahku. Aku tidak memikirkan apa yang terjadi saat itu. Maafkan aku Cherry," ucap Verro memeluk erat istrinya yang terus menangis sengugukan.
" Sasy begitu marah kepada kita semua. Dia merasa tidak ada teman saat dia membutuhkan kita di sisinya. Dia sudah tidak ingin berteman denganku lagi. Dia benar-benar marah," ucap Cherry.
" Aku tau Cherry apa yang kamu rasakan dan kemarahan Sasy atas kesalahpahaman yang terjadi. Sayang kita biarkan Sasy menenangkan diri dulu. Nanti kita akan bicara kembali kepadanya," ucap Verro memberikan pengertian kepada istrinya. Cherry melepas pelukannya dari Verro.
" Sasy sudah marah kepada kita Verro. Dia sudah memutuskan persahabatan kita. Dia sudah tidak ingin bersama kita lagi," ucap Cherry yang terlihat begitu takut kehilangan sahabatnya. Verro memegang ke-2 pipi Cherry dengan menatap dalam-dalam Cherry.
" Tidak Cherry! tidak ada yang akan memutus persahabatan itu. Sasy hanya terbawa emosi. Percayalah dia tidak akan melakukan itu. Hatinya sedang tidak baik. Ketika sudah baik. Kita akan bicara kepadanya dan semuanya akan kembali," ucap Verro meyakinkan Cherry.
" Apa semuanya bisa kembali seperti dulu lagi?" tanya Cherry yang ingin kepastian. Wajahnya begitu takut kehilangan sahabatnya. Verro mengangguk.
" Semuanya akan kembali seperti dulu lagi. Jadi percayalah kepadaku," ucap Verro meyakinkan Cherry dan memeluknya kembali dengan mengusap-usap punggung Cherry.
" Jangan menangis lagi Cherry. Kamu tidak boleh berpikir terlalu keras. Kasihan bayi kita. Jadi jangan menangis. Kita harus berfikir positif agar semuanya baik-baik saja," ucap Verro mengingatkan Cherry. Cherry tidak menjawab dan hanya menangis terus-menerus.
" Seharunya aku membuang egoku malam itu. Mungkin jika aku mencoba membiarkan Sasy bicara dengan Cherry maka masalahnya tidak akan separah ini. Cherry tidak seperti sekarang ini, dia tidak akan sesedih dan setakut ini," batin Verro yang menyalahkan dirinya sendiri atas masalah yang ada.
*********
Sama dengan Cherry yang begitu memikirkan Sasy. Sama juga dengan Raquel yang berdiri di depan jendela dengan tangannya yang di lipat di dadanya. Dia juga meneteskan air matanya berkali-kali ketika mengingat kata-kata Sasy. Dia bahkan tidak marah dengan Sasy yang menamparnya.
Karena tamparan itu memang cocok di dapatkannya. Raquel menyadari jika dia memang sangat keterlaluan. Bicara suka-suka yang tanpa memikirkan perasaan Sasy seperti apa. Pasti sama dengan yang lainnya yang mana Raquel menyesal dalam tangisannya.
Aldo yang keluar dari kamar mandi melihat istrinya yang seperti itu membuatnya juga ikut sedih. Aldo menghampiri Raquel dan langsung mendekati Raquel memegang ke-2 bahu Raquel membuat Raquel membalikkan tubuhnya dan memeluk Aldo. Tangisnya pecah di pelukan Aldo yang memberinya ketengan.
" Aku sungguh jahat. Aku tidak tau jika mulutku sudah menyakitinya. Dia terluka dengan kata-kata ku. Aku benar-benar bukan sahabat yang baik. Aku benar-benar sangat jahat," ucap Raquel yang menangis senggugukan di pelukan Aldo yang mengakui semua kesalahannya.
" Sudah, sudah, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Kamu harus tenangkan diri kamu dulu," ucap Aldo.
" Bagaimana semuanya tidak salahku Aldo. Semuanya kesalahanku. Aku sudah menghancurkan segalanya. Aku tidak tau apa yang di butuhkan Sasy. Aku tidak mengerti perasaannya. Dia sangat terluka. Aku tidak ada di saat dia membutuhkanku. Aku malah sibuk dengan urusanku. Aku sibuk dengan kata-kata yang aku anggap hanya lelucon yang ternyata menyakitinya. Aku benar-benar sangat keterlaluan," ucap Raquel.
" Sayang, aku tau kamu sudah menyesali apa yang kamu katakan pada Sasy. Sama dengan aku dan mungkin juga anak-anak yang lainnya yang sekarang mencoba untuk memahami situasi. Sayang dengan kita mengakui kesalahan kita itu sudah lebih dari cukup. Yang kita lakukan yang paling terpenting bagaimana kembali membangun komunikasi dengan Sasy. Itu yang harus kita lakukan," ucap Aldo.
" Tapi Sasy sudah memutus persahabatan itu. Dia sangat membenci ku. Dia bahkan tidak ingin bicara lagi dengan ku. Semuanya sudah di putus oleh Sasy. Semuanya sudah terlanjur," ucap Raquel.
" Tidak Raquel percayalah. Pasti ada kesempatan. Sasy hanya terbawa emosi. Kemarahannya tidak akan membuat persahabatan kita akan berantakan. Kamu harus yakin jika semuanya akan baik-baik saja," ucap Aldo menegaskan pada Raquel.
" Hiks,Tapi aku takut Aldo hiks, Aku takut jika Sasy benar-benar menutup pintu komunikasi dengan kita. Aku takut jika Sasy benar-benar sudah tidak ingin bersama kita lagi," ucap Raquel yang sama takutnya dengan Cherry.
" Tidak akan Raquel percayalah. Setelah semuanya tenang, kita akan coba bicara dengannya," ucap Aldo meyakinkan Raquel yang masih menagis di pelukannya. Aldo hanya berusaha menenangkan Raquel yang menagis dalam penyesalan.
__ADS_1
***********
Sementara Vandy dan Azizi terlihat mengobrol di atas ranjang.
" Aku tidak percaya, jika selama ini Sasy menanggung semuanya sendirian. Dan ternyata itu alasannya yang membuatnya berubah. Dia mengira kita semua meninggalkannya," ucap Azizi yang duduk bersilah kaki di depan suaminya.
" Kembali lagi Azizi. Semuanya terjadi hanya salah paham. Mungkin malam itu kita hanya menganggap biasa telpon dari Sasy. Yang kita merasa Sasy tidak mengerti perbedaan antara yang sudah menikah atau sendiri yang ternyata perbedaan itu justru menyakiti perasaannya. Semuanya hanya salah paham. Baik dari posisi kita yang tidak peka akan dirinya dan juga baik dari posisi Sasy dalam kemarahannya sehingga membuatnya menarik kesimpulan begitu cepat," ucap Vandy.
" Tapi tetap saja Vandy kemarahan yang di alami Sasy sangat fatal. Dia menyimpulkan semuanya dengan mudah. Dan kamu lihat sendiri dia langsung memutus persahabatan karena begitu kecewa dengan kita semua," sahut Azizi yang tidak bisa membendung kesedihannya dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
" Kamu benar Azizi semua ini terjadi karena kesalah pahaman dan Toby juga tidak menjelaskan secara rinci apa masalahnya. Sasy hanya mengatakan masalah pernikahan dan kecemburuannya kepada kita," ucap Vandy.
" Lalu bagaimana sekarang. Semuanya serba salah. Aku tidak tau harus melakukan apa lagi. Menemui Sasy tidak mungkin dia begitu marah kepada kita," ucap Azizi yang meneteskan air matanya. Vandy mendekatinya dan memeluknya dengan erat.
" Ya kita memang harus memberinya waktu. Masalah ini juga bukan masalah kecil. Dan kita juga tidak bisa hanya mendengar Sasy atau Toby. Ini masalah pribadi mereka dan membuat Sasy tidak bisa mengendalikan dirinya dan semuanya jadi seperti ini," ucap Vandy.
" Sangat di sayangkan masalah ini terjadi. Kita kurang peka dengan Sasy. Tapi apa yang di katakannya benar selama ini dia sudah membantu kita banyak hal. Dan wajar saja dia mengungkit semuanya. Karena benar-benar saat dia terpuruk tidak ada satupun di antara kita yang tau. Bahkan itu terjadi begitu cepat. Padahal sebelumnya dia baik-baik saja di pesta Nadya dan Varell," ucap Azizi.
" Itulah peristiwa Azizi. Tidak ada yang tau dan terkadang perkataan kita juga membuatnya berpikiran yang aneh-aneh," sahut Vandy.
" Lalu apa yang harus kita lakukan ?" tanya Azizi.
" Seperti yang kita bahas tadi. Kita biarkan Sasy memenangkan diri dulu. Setelah itu akui, kamu dan anak-anak akan mencoba menemuinya dan akan bicara dengan kepala dingin dan semoga saja ada hasil yang terbaik," sahut Vandy memberikan saran.
" Iya, hanya itu cara satu-satunya. Aku juga berharap semuanya agar cepat terselesaikan," sahut Azizi. Vandy mengangguk dan memeluk erat Azizi.
********
" Ternyata di balik kebahagian pernikahan kita ada kejadian di mana Sasy dan Toby yang berpisah malam itu," ucap Nadya dengan wajah sendunya.
" Kamu benar Nadya. Ya memang hanya kita yang tidak di telpon malam itu. Mungkin Sasy juga mengerti kita baru menikah," sahut Varell dengan mengusap-usap pucuk kepala Nadya.
" Sikapnya juga berubah. Ternyata karena hal itu. Dia benar-benar menghindari kita semua karena merasa berbeda sendiri," ucap Nadya.
" Aku tau kita semua salah. Tapi bukan berarti pemikiran Sasy kita benarkan," sahut Varell.
" Maksud kamu apa?" tanya Nadya mengangkat kepalanya melihat suaminya.
" Nadya. Kita di sini memang bersalah. Tetapi Sasy juga bersalah. Kita tidak akan tau apa-apa. Jika tidak ada komunikasi dan yang seperti yang di katakannya apakah dia perlu bertanya atau tidak. Tetapi dia tau semuanya masalah kita tanpa bertanya. Tetapi Sasy tidak memahami situasinya. Bukan gara-gara kita sudah menikah atau tidak. Tetapi Sasy saat hal itu terjadi di pagi harinya bukannya Sasy menceritakan apa yang terjadi. Tetapi justru dia menghindar dan waktu sangat begitu singkat," ucap Varell.
" Itu lah menjadi kesalah pahamannya dan semua semakin terjadi salah paham. Saat Sasy yang sudah punya pacar baru dengan cepat. Dan dia juga memang sangat berubah terlihat bukan dia. Apa lagi saat pertama kali aku melihatnya dengan kekasihnya itu," sahut Nadya.
" Kamu pernah melihatnya sebelumnya?" tanya Varell.
" Hmmmm, waktu kita di Restaurant kemarin. Dia bahkan sangat jutek dan jelasnya dia memang sangat berubah. Aku sampai tidak percaya jika itu Sasy," ucap Nadya.
" Hmmm masalah ini memang semakin melebar dan Toby juga terlihat diam. Seakan masalah nya dengan Sasy memang begitu besar," ucap Varell.
" Aku jadi merasa jika diamnya Toby juga karena sesuatu," sahut Nadya yang tiba-tiba berpikiran aneh.
__ADS_1
" Maksud kamu?" tanya Varell.
" Aku juga tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Hanya saja. Aku tiba-tiba kepikiran. Jika terjadi sesuatu pada Toby yang membuat masalah ini tidak terpecahkan," sahut Nadya.
" Kalau begitu harus bicara dengan Toby dulu. Setelah itu baru dengan Sasy. Karena Sasy penuh dengan kemarahan kita harus memberinya nyak waktu untuk menenangkan dirinya," ucap Varell.
" Iya kamu benar. Karena kita harus mendengar dari 2 sisi saja," sahut Nadya. Varell mengangguk yang sama-sama sepemikiran dengan Nadya.
***********
Akhirnya Bagas sampai mengantarkan Sasy ke depan rumahnya. Sasy terlihat tidak semangat.
" Makasih ya sudah mengantarkanku," ucap Sasy yang membuka sabuk pengamannya dan buru-buru membuka pintu mobil. Namun Bagas menghentikannya yang membuat Sasy melihat ke arah Bagas.
" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bagas dengan mengusap pipi Sasy.
" Aku tidak apa-apa. Ini hanya masalah aku dan teman-teman ku. Jadi aku tidak apa-apa sama sekali," sahut Sasy.
" Kamu yakin yang melihat kebohongan di mata Sasy yang. Sasy tersenyum mengangguk.
" Sasy jika ada sesuatu kamu harus cerita kepadaku. Jangan ada yang di tutup-tutupi. Karena kita ini adalah pasangan," ucap Bagas dengan lembut yang bicara menatap Sasy dalam-dalam.
" Iya. Aku hanya belum siap menceritakan masalah ini kepadamu," sahut Sasy.
" Ya sudah tidak apa-apa. Aku akan menunggumu," ucap Bagas.
" Makasih aku masuk dulu!" sahut Sasy tersenyum dan kembali ingin membuka pintu mobil. Namun Bagas menahannya lagi. Bagas mendekatkan dirinya pada Sasy yang mata Bagas fokus pada bibir Sasy. Bagas memiringkan kepalanya yang ingin meraih bibir Sasy.
Saat bibir Bagas hampir menempel Sasy mengalihkan pandangannya kekirinya yang membuat Bagas tidak jadi menciumnya dan melihat ke arah Sasy yang kelihatan menolaknya.
" Bagas, aku mengantuk, aku harus masuk," sahut Sasy yang benar-benar menjauhkan diri dari Bagas. Bagas pun memundurkan tubuhnya yang merasa begitu kecewa setelah di tolak.
" Maaf Bagas," ucap Sasy merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa. Aku mengerti perasaanmu. Masuklah. Kamu harus istirahat. Besok aku akan menjemputmu," ucap Bagas.
" Iya terima kasih. Aku masuk dulu," sahut Sasy yang langsung membuka pintu mobil dan langsung memasuki rumahnya begitu saja dan Bagas terlihat begitu kecewa dengan Sasy.
" Kenapa sih dia. Masalahnya dengan teman-teman apa harus di bawanya dalam hubungan ini. Baru saja mau di cium sudah menghindar. Bagaimana yang lain-lain," desis Bagas yang merasa tersinggung dengan penolakan Sasy.
" Ahhhh, sudahlah memang payah cewek jaman sekarang," ucap Bagas yang akhirnya pergi dari rumah Sasy.
Sementara Sasy langsung memasuki kamarnya duduk di pinggir ranjangnya dengan menunduk menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya. Dan Sasy menyibak rambutnya kebelakang. Air matanya terlihat keluar. Mungkin Sasy juga mengingat apa yang terjadi barusan.
" Kalian yang membuatku seperti ini. Jadi jangan salahkan aku jika aku seperti ini. Kalian tidak mengerti perasaanku dan untuk apa aku harus mengerti perasaan kalian," ucap Sasy yang menangis.
Mungkin Sasy juga menyesal dengan kata-kata tadi. Dia hanya tidak bisa mengendalikan dirinya. Namun dia juga lega yang sudah mengeluarkan unek-unek nya.
Bersambung
__ADS_1