
Hariyanto terus menggoda Cherry membuat Cherry malu.
" Papa, memang kapan aku menyukainya," sahut Cherry tambah malu dengan wajahnya yang sudah memerah.
" Bukannya kamu sama dia itu seperti magnet, yang tidak terpisahkan, selalu bersama," ucap Laskarta yang terus menggoda Cherry.
" Papa jangan seperti itu, sudahlah Cherry jadi malas," sahut Cherry merajuk.
Dengan bibirnya yang mengerucut. Laskarta tersenyum melihat putrinya yang malu-malu.
" Baiklah papa tidak akan menggoda hubunganmu, dengan Verro lagi. Sayang dengerin papa. Apapun hubungan kamu dengan Verro. Pekerjaan papa ya pekerjaan papa. Tidak ada sangkut pautnya dengan kamu juga Verro," jelas Laskarta.
" Apa papa mempercayai Verro?" tanya Cherry. Laskarta mengangguk.
" Kenapa? papa kan tidak melihat bagaimana Cherry dan dia setiap hari, kenapa mempercayainya?" tanya Cherry.
" Karena papa yakin, Verro orang yang benar-benar tulus denganmu. Dia selalu menjagamu sampai detik ini, dia tidak pernah meninggalkan kamu," jawab Laskarta dengan tersenyum.
" Bagaimana jika dia memarahiku?" tanya Cherry.
" Itu karena kamu yang bandel," jawab Laskarta mencolek hidung Cherry.
" Papa," keluh Cherry dengan manja.
" Sudah jangan memikirkan apa-apa. Tanpa kamu tanya papa. Kamu juga bisa merasakan bahwa Verro benar-benar sayang sama kamu," ucap Laskarta meyakinkan Cherry.
" Sayang dari mana, dia terus memarahiku," batin Cherry kesal.
" Sudah sana istirahat, kamu mandi dulu baru tidur, ingat jangan memikirkan apa-apa. Kamu harus fokus pada kesehatan kamu," ucap Laskarta meyakinkan.
" Iya pah, ya sudah Cherry naik dulu," ucap Cherry pamit. Laskarta mencium pipi Cherry.
" Bye papa," sahut Cherry melambaikan tangannya. Laskarta juga ikut membalas lambaian tangan putrinya. Laskarta tersenyum melihat putrinya yang menaiki anak tangga.
" Ada dengannya, kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu," batin Laskarta merasa aneh dengan sikap Cherry.
************
Setelah membersihkan dirinya di kamar mandi. Cherry keluar dari kamar mandi menggunakan piyama yang akan di pakainya saat tidur.
Cherry menuju meja riasnya, duduk menyisir rambutnya dan melakukan ritual sebelum tidurnya. Memakai handbody, meneymprotkan parfum dan yang lainnya.
Mata Cherry tertuju pada bingkai foto yang di meja riasnya. Foto Verro dengan dirinya. Cherry mengambil bingkai foto itu.
" Aku tidak tau. Jika hal ini yang membuatmu selalu marah kepadaku. Jika terjadi sesuatu kepadaku. Papamu akan melampiaskannya kepadamu. Wajar sih jika kamu begitu membenciku, papamu mengandalkanmu untuk sebuah bisnis," gumam Cherry berbicara pada foto Verro.
" Tapi Verro, sebenarnya papa ku tidak peduli dengan semua itu. Dia tidak pernah memasukkan urusan kita dengan bisnisnya. Papa mu terlalu berlebihan," lanjut Cherry lagi.
" Apa aku bilang aja sama Om Hariyanto. Supaya dia tidak terus menekan Verro. Agar Verro juga tidak perlu memaksakan diri untuk terus bersamaku," gumanya menemukan ide.
" Tapi bagaimana, jika nanti Om Hariyanto justru marah. Jika aku mengatakan itu. Nanti Verro lagi yang menjadi imbasnya," gumamnya lagi yang ragu akan rencananya.
" Ahhhhh, sudahlah, sebaiknya aku berhenti dulu untuk memikirkan itu. Besok aku akan mencari ide lagi. Untuk menyelesaikan semua ini," ucapnya mengambil keputusan.
Cherry meletakkan kembali bingakai foto itu dan berjalan menuju tempat tidurnya. Cherry meluruskan dirinya, menarik selimu. Perlahan-lahan mata indah itu mulai tertutup.
__ADS_1
***************
Di sisi lain. Verro duduk di meja belajarnya. Verro membuka buku notebook yang selalu menjadi coretan penting untuknya. Verro membuka halaman tengah yang diberi tanda.
Ternyata halaman tengah ada foto Cherry yang memakai seragam SMA. Verro mengambil foto itu melihat Cherry yang tersenyum ceria di dalam foto itu.
" Semuanya berubah," satu kata itu keluar dari mulut Verro denagn terus melihat Cherry.
Verro sepertinya ingin berbicara banyak pada foto itu. Tetapi seakan lidah Verro terpotong sampai tidak bisa berbicara.
Sepatah katah pun. Setelah lama melihat foto itu. Verro kembali meletakkan di tempatnya semula dan menutup buku itu.
**************
Verro menuruni anak tangga yang ingin berangkat ke sekolah. Saat sampai di anak tangga terakhir. Hariyanto menghentikan langkahnya.
" Verro!" panggil Hariyanto yang duduk di ruang tamu. Kali ini Hariyanto sendirian tidak bersama istri bermuka duanya.
" Ada apa?" jawab Verro dingin.
Hariyanto beranjak dari tempat duduknya dan menghadap Verro yang terlihat sangat ketus.
Hariyanto menepuk bahu Verro 2 kali.
" Papa sudah menambah uang jajan bulannan mu. Kamu bisa cek sendiri. Ini hadiah karena kamu...."
" Bersama Cherry," sahut Verro memotong pembicaraan papanya. Yang sudah tau apa yang akan di katakan papanya.
" Iya benar, teruslah seperti itu. Apa susahnya hanya bersamanya," ucap Hariyanto dengan wajah tersenyumnya.
" Sampai kapan akan seperti ini terus pa?" tanya Verro. Sebenarnya malas berdebat dengan Hariyanto.
Tetapi Verro sungguh panas dengan Hariyanto yang semakin hari semakin meraja lela. Bahkan tidak peduli dengan perasaannya dan juga Cherry.
" Sampai kapan kamu bilang, kenapa bertanya jika sudah tau jawabannya," sahut Hariyanto dengan sinis.
" Apa papa akan berhenti. Jika aku memberi tahu Cherry semuanya," ucap Verro dengan nada mengancam.
" Verro," ucap Hariyanto menekan suaranya mulai emosi.
" Jaga batasan kamu. Jadilah anak yang berguna," ucap Hariyanto menekankan.
" Untuk apa, untuk membuat papa kaya," sahut Verro. Hariyanto semakin marah dengan kelancangan Verro.
Plakkkkkkk. Tamparan panas mendarat di pipinya.
" Papa terus saja melakukan ini. Apa tangan papa harus putus dulu. Baru berhenti memukulku," sahut Verro dengan sinis.
Hariyanto yang darah tingginya sudah naik di tingkat atas. Langsung melayangkan tangannya. Kali ini tidak menampar tetapi meonjok Verro. Sampai ujung bibir Verro berdarah.
" Anak kurang kamu," bentak Hariyanto yang tidak bisa mengontrol dirinya. Verro mendengus tersenyum. Mengusap ujung bibirnya dengan jempolnya lalu pergi.
" Mau kemana kamu brengksek," teriak Hariyanto. Verro tidak mempedulikannya dan terus melanjutkan langkahnya.
" Dasar anak sialan," desis Hariyanto. Dengan penuh amarahnya.
__ADS_1
Sementara Verro memasuki mobilnya dengan dengan penuh kemarahan. Membanting pintu mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi.
**************
SMA High Internasional.
Dengan tidak bersemangat Cherry berjalan melewati lorong-lorong sekolah, menuju kelas.
" Ahhhhhhh, sudahlah Cherry," ucapnya mengacak rambutnya frustas.
Membuat orang yang berpapasan dengannya menatapnya aneh.
" Come on Cherry, jangan memikirkan hal itu terus, yang penting rasa penasaran kamu sudah terjawab. Papamu juga tidak peduli. Kamu hanya perlu hati-hati agar Pria misterius itu tidak bisa mengawasimu. Dan tidak melapor yang tidak-tidak pada Om Hariyanto agar Verro akan memarahiku lagi," gerutu Cherry mencoba tenang.
Tiba-tiba di tengah pemikirannya. Cherry melihat Verro berjalan dengan langkah yang cepat. Cherry menghentikan langkahnya dan hanya fokus pada Verro.
Verro yang berjalan terburu-buru tidak menyadari Fiona ada di depannya dan membuat bahu mereka kembali bertabarakan.
" Aisss," desis Verro saat melihat wanita yang sama menabraknya.
" Apa kau tidak bisa berjalan pakai mata," pekik Verro dengan amarah yang membara.
" Ada apa denganmu, kau yang berjalan tidak beres. Tetapi malah memarahiku," ucap Fiona yang tidak terima di salahkan.
" Kau memang selalu merasa benar, seharusnya kau berjalan dengan benar, jalanan lebar. Tetapi kau malah berjalan yang satu arah denganku, apa kau sengaja," sahut Verro sinis.
Mendengarnya Fiona menyunggingkan senyumnya.
Sengaja katamu, kau pikir kau siapa. Apa kau mengira jika aku adalah murid-murid alay yang tergila-gila kepadamu. Makanya kau kepedean," ucap Fiona membuat Verro semakin kesal.
" Kau," desis Verro memajukan langkahnya. fiona melihat luka di ujung bibir Verro. Reflex tangan fiona memegang ujung bibir itu.
" Kau terluka," ucap Viona membuag Verro heran. Viona mengambil tisu dari sakunya dan reflex melap darah yang belum kering di ujung bibir Verro.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Verro.
" Harus segera di obati, jika tidak akan infeski," ucap Fiona yang tiba-tiba peduli.
Cherry melihat hal itu. Cherry menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan ke depan. Cherry membalikkan tubuhnya dan pergi.
Fiona terus melap ujung bibir Verro.
" Tidak perlu," ucap Verro ketus menepis tangan Fiona.
" Minggir," ucap Verro pada Fiona yang menghalangi jalannya.
Fiona yang masih mematung. Verro pun menggeser paksa tubuh Fiona sampai Fiona benar-benar tidak menghalangi jalannya lagi.
" Diobati tidak mau, dasar," gumam Viona yang terus melihat punggung Verro berjalan dengan langkah yang cepat.
💝💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.
__ADS_1