
Verro memegang tengkuk Cherry dengan ke-2 tangannya sehingga ciuman itu semakin dalam. Cherry memegang erat kemeja Verro. Lama berciuman. Verro pun akhirnya melepas ciumannya dari Cherry memberikan Cherry oksigen untuk bernapas.
Cherry membuka perlahan dengan pipinya yang merah merona dia sangat malu menatap Verro. Mata Cherry dan Verro saling beradu pandang dengan penuh cinta dan kerinduan.
" Apa ini suatu kesalahan?" tanya Cherry.
Cherry mengingat kejadian di atap yang Verro menciumnya dan meninggalkannya dan mengatakan semuanya adalah kesalahan dan bahkan kata-kata Verro masih menyakitkan baginya.
" Mana mungkin itu suatu kesalahan," ucap Verro dengan lembut mengusap-usap pipi Cherry. Cherry tersenyum mendengarnya.
" Aku mencintaimu," ucap Verro.
" Aku juga mencintaimu," sahut Cherry. Verro tersenyum mendengarnya, Verro memegang punggung Cherry dan meletakkan tangannya di bawah lutut Cherry menggendong Cherry ala bridal style.
Cherry yang sempat kaget mengalungkan tangannya di leher Verro. Mata mereka tidak hentinya saling menatap menatap dengan penuh cinta.
Sampai Cherry tidak sadar. Jika Verro membaringkannya lembut di atas tempat tidur. Terlihat wajah Cherry begitu gugup. Apa lagi tatapan Verro yang sangat dalam membuat jantungnya berdetak tidak menentu. Sehingga tidak bisa di kondisinya. Mungkin Verro bisa merasakan debaran jantungnya.
Verro tersenyum kepada Cherry dengan tangannya mengusap lembut pipi Cherry, menyinggirkan anak rambut di wajah Cherry kebelakang daun telinganya.
" Verro yang juga berada di atas ranjang tepat di atas tubuh Cherry. Mencium lembut kening Cherry. Cherry memejamkan matanya menerima ciuman itu. Verro juga mencium pipi Cherry bergantian kanan dan kirinya.
Mencium kelopak mata indah indah itu dan terakhir ciuman itu jatuh di wajah bibirnya. Awalanya hanya kecupan. Tetapi kembali ciuman itu menjadi semakin dalam dan menuntun.
Cherry hanya mengikuti permainan dari Verro yang pasti lebih ahli dari pada dia. Ternyata Verro yang sudah menindih Cherry menuntut lebih dari sekedar ciuman. Yang ternyata ciuman panas itu sudah sampai keleher jenjang Cherry.
Memberikan karya-karya indahnya di leher jenjang itu. Debaran jantung Cherry tidak henti-hentinya berdetak kencang. Saat Verro menjamah tubuhnya.
Verro menghentikan aktivitasnya, memberikan Cherry ruang. Mata keduanya di penuhi gairah dan suara napas yang tidak beraturan. Tanpa melepas pandangan itu Verro membuka satu persatu kancing kemejanya sampai akhirnya kemeja yang melekat di tubuhnya sudah jatuh kelantai.
Cherry yang melihat tubuh sispeck Verro mengalihkan pandangannya kekirinya. Seakan malu dengan apa yang di lihatnya. Karena ini pertama kali dia melihat tubuh seorang Pria.
Verro tersenyum tipis melihat Cherry yang malu. Bahkan wajah pipi Cherry sudah merah seperti kepiting rebus.
Verro memegang dagu Cherry dan mengarahkan kewajahnya.
" Lihat aku Cherry, aku tidak ingin kamu mengalihkan pandanganmu," ucap Verro dengan lembut. Cherry yang semakin gugup hanya melihat dengan pertahanannya.
Verro kembali meraup bibir Cherry memberikan ketenangan pada Cherry. Cherry kembali memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang di berikan Verro kepadanya.
Dan entah kapan Verro melakukannya. Pakaian yang melekat di tubuhnya sudah tidak ada lagi dia polos dan pasangan itu hanya tertutup selimut.
Tidak satu incipun tubuh Cherry di lewatkan Verro. Gairah Verro semakin meningkat dengan suasana kamar yang semakin panas. Sampai akhirnya pada titik pasangan yang saling merindukan itu melakukan penyatuan.
Air mata Cherry menetes. Saat merasakan sakit di are tertentu. Sakit yang tidak pernah di jelaskannya. Verro mencium kelopak mata Cherry. Seraya mengusap air mata itu.
Dia kembali meraup bibir Cherry memberikan kenyamanan untuk Cherry. Agar Cherry tenang dan hanya merasakan kenikmatan tanpa rasa sakit.
__ADS_1
Pasangan itu melanjutkan kegiatan yang pasti pertama kali untuk Verro maupun Cherry. Verro hanya mengenal Cherry dulu. Bahkan SMA dia sudah bersama Cherry dan menikah dengan Cherry.
Tetapi malam pengantin yang seharusnya mereka lakukan setelah menikah tidak terjadi. Karena mereka yang masih sekolah. Walau sudah sah menjadi suami istri. Tetapi tetap mereka tidak melakukan hal itu.
Pernikahan itu juga tidak berlangsung lama sampai akhirnya Cherry di bawa ke Jerman dan Selama kepergian Cherry. Verro tidak pernah menambatkan hatinya pada siapa-siapa dan jelas Cherry adalah orang pertama yang di sentuhnya.
Sama halnya dengan Cherry. Verro adalah orang yang pertama menyentuhnya. Karena dia memang tidak pernah berhubungan dengan siapapun dan terakhirnya suaminya juga lah yang menyentuhnya.
Aktivitas malam itu berlangsung lama sampai akhirnya Verro menyemburkan benihnya ke dalam rahim istrinya. Sebagai tanda berakhirnya aktivitas mereka. Dan Verro mengakhiri dengan mengecup lembut kening Cherry.
Verro dan Cherry sama, sama tersenyum dan Verro berbaring di samping Cherry dan membawa Cherry masuk kedalam pelukannya dan kembali mencium lembut kening itu.
" I love you," ucap Verro dengan suara beratnya.
" I love you, to," jawab Cherry dengan suara seraknya.
***************
Percintaan panas di antara ke-2nya terlihat bahagia. Tidak dengan Fiona yang berada di dalam mobilnya yang berada di pinggir jalan. Apa yang di lihatnya tadi di rumah sakit membuatnya masih tidak percaya.
Antara yakin dan tidak yang di lihatnya adalah Cherry atau tidak. Tetapi jelas dia tidak buta dan tidak mungkin ada hantu di siang bolong dan hantu itu dapat menginjakkan tanah. Jelas semuanya tidak masuk akal bagi Fiona.
" Kenapa Cherry bisa hidup lagi. Bukannya dia sudah mati," ucap Fiona yang terus memikirkan tentang Cherry.
" Tidak, apa itu bukan Cherry, apa itu orang lain yang mirip dengan Cherry," batin Fiona yang berusaha berpikiran positif. Jika apa yang di lihatnya memang bukan Cherry.
Fiona langsung Kerumah sakit untuk memastikan apa yang di lihatnya adalah Cherry atau orang lain.
**********
Tidak berapa lama. Akhirnya Fiona tiba di rumah sakit. Saat memarkirkan mobilnya. Fiona melihat Sasy yang ingin masuk mobil. Dengan buru-buru Fiona keluar dari mobil dan langsung menghampiri Sasy.
" Sasy tunggu!" cegah Fiona yang menahan tangannya membuat Sasy yang ingin membuka pintu mobil. Jadi tidak jadi.
" Kau," ucap Sasy kaget dan langsung menepis tangan Fiona dari genggamannya.
" Apa-apa ini, pakai pegang-pegang segala," ucap Sasy kesal. Melihat Fiona memang hanya akan membuatnya semakin dongkol.
" Apa Cherry masih hidup?" tanya Fiona to the point. Mendengarnya Sasy langsung tersenyum miring.
" Kenapa? Kau sudah bertemu dengannya," sahut Sasy dengan meletakkan ke-2 tangannya di dadanya.
" Jawab saja pertanyaanku, apa Cherry masih hidup," ucap Fiona dengan wajah seriusnya bertanya pada Sasy.
" Iya. Dia masih hidup kenapa?" jawab Sasy dengan lantang.
" Kau kaget mendengarnya. Fiona- Fiona, mau Cherry masih hidup atau tidak. Sama saja. Verro nggak akan suka sama cewek kayak lo," ucap Sasy mengejek.
__ADS_1
Fiona yang mendengarnya jelas semakin dongkal. Dengan hidupnya Cherry. Sudah membuatnya kesal dan di tambah. Kata-kata Sasy yang pasti menyakitkan.
" Fiona. Sekali-kali. Lo sadar diri kenapa sih. Lo nggak nyadar apa dengan semua yang lo lakuin. Verro itu. Nggak suka sama lo dan sebaiknya. Lo ngaca lo itu nggak ada apa-apa di bandingkan Cherry," ucap Sasy yang menyadarkan Fiona.
" Tutup mulutmu. Jangan bicara sembarangan," ucap Fiona dengan kesal.
" Itu memang kenyataan. Makanya sadar diri. Kenapa apa lo, udah nggak bisa lagi dapatin laki-laki lain selain Verro. Makanya mau kayak pelakor," ucap Sasy dengan ketus.
" Dasar lo murahan," ketus Sasy lagi.
Plakkk. Sasy langsung mendapat tamparan dari Fiona karena mulutnya yang sangat tajam. Membuat Sasy kaget. Sampai Sasy memegang pipinya.
Berani lo nampar gue," sahut Sasy tidak terima dan langsung ingin membalas. Tetapi tangannya di tahan Fiona dan malah menjatuhkan Sasy sampai kepala Sasy kejedot ke besi yang berdiri kokoh.
" Auhhh," lirih Sasy. Saat jidanya kesakitan dan tangannya yang memegang jidatnya itu berdarah.
" Fiona," geram Sasy.
" Itu pelajaran buat mulut lo yang nggak bisa di jaga. Lo dengar ya. Sekali lagi. Lo menghina gue. Habis lo gue taruh," ucap Fiona dengan ancaman.
" Lo pikir lo siapa berani-beraninya ngancam gue. Gue nggak takut sama lo," teriak Sasy.
" Lo," geram Fiona.
" Fiona," gertak Vandy yang melihat ulah Fiona dan dengan cepat Vandy langsung menghampiri Sasy dan Fiona dan pasti kaget melihat Sasy.
" Apa yang kau lakukan, kepada Sasy?" tanya Vandy yang membantu Sasy berdiri.
" Dia yang mencari gara-gara duluan. Dia yang sudah berbuat seenaknya," sahut Fiona dengan tegas.
" Lalu apa perlu. Kau sampai seperti ini," ucap Vandy yang marah pasti dengan Fiona. Yang akibat ulah Fiona membuat Sasy sahabatnya terluka.
" Aku tidak akan memulai. Jika dia tidak memulai duluan. Jadi itu bukan salah ku," tegas Fiona menatap Sasy tajam dan Fiona langsung pergi.
" Dasar cewek aneh," desis Vandy kesal.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Vandy yang melihat Sasy terluka parah di bagian keningnya.
" Nggak apa-apa gimana. Ini sakit tau," ucap Sasy kesal dengan memegang keningnya yang luka akibat perbuatan Fiona.
" Makanya, jangan cari gara-gara padanya," ucap Vandy.
" Isssss, apaan sih. Mala belain dia segala lagi," ucap Sasy kesal dengan Verro.
" Nggak ada yang membela sudah ayo!" ajak Vandy memegang tangan Sasy dan membawanya pergi.
Bersambung.......
__ADS_1