DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 389 Kritis.


__ADS_3

Acara terus berlanjut dan sekarang Cherry dan Verro sedang mendengarkan arahan dari MC yang ingin menusuk balon untuk menentukan jenis kelamin anak mereka. Orang-orang sudah berdiri yang juga tidak sabaran dengan jenis kelamin itu.


Namun tiba-tiba Toby yang berdiri di samping Sasy tiba-tiba merasa tidak enak. Wajahnya terlihat pucat dan seperti sedang ada sesuatu yang di rasakannya.


Bahkan beberapa kali menghembus napas perlahan yang seperti merasa kelelahan dan juga terlihat beberapa kali mengusap keringat di dadanya. Pandangannya pun semakin tidak jelas. Namun dia hanya berusaha untuk tetap tenang dan kuat. Agar acara temannya tidak berantakan.


" Kira-kira apa ya Toby jenis kelaminnya?" tanya Sasy yang melihat ke arah Toby. Toby langsung tersenyum untuk menutupi rasa sakit yang di rasakannya.


" Kita lihat aja dulu," sahut Toby. Sasy mengangguk dan kembali fokus pada Cherry dan juga Verro.


" Baiklah kita hitung ya, langsung balonnya di tusuk," sahut MC memberikan arahan.


1 2 3


MC memberikan arahan yang di hitung sama-sama dengan para penonton dan Cherry dan Verro langsung menusuk balon itu dengan bersamaan dan langsung keluar balon pink.


" Cewek!" teriak Sasy yang paling heboh dan sampai-sampai lompat dengan bergenggaman tangan dengan Raquel. Toby hanya tersenyum dengan melihat hal itu yang kembali berpura-pura kuat.


Sementara Cherry dan Verro sama-sama tersenyum dengan Verro yang memeluk Cherry dan sebelumnya juga mengusap-usap perut buncit Cherry dan juga menciumnya yang mana mereka pasti lebih bahagia dengan kehadiran bayi dengan jenis kelamin perempuan.


" Alhamdulillah anak Cherry perempuan," sahut Azizi.


" Hmmm, semoga anak kalian cowok. Jadi bisa di comblangi," sahut Raquel.


" Belum juga lahir sudah main jodoh-jodohan," sahut Aldo.


" Tau nih," sahut Vandy.


" Nggak apa-apa kali," sahut Raquel.


Nadya tiba-tiba melihat ke arah Toby dan melihat Toby yang menahan rasa sakit yang membuatnya panik seketika.


" Toby kamu baik-baik saja?" tanya Nadya yang merasa khawatir.


" Iya aku baik-baik saja," jawab Toby.


" Yakin tidak apa-apa?" tanya Varell. Toby mengangguk yang seperti berusaha untuk kuat.


" Aku mau ketoilet sebentar," ucap Toby.


" Aku temani," sahut Sasy.


" Tidak usah aku sendiri saja," sahut Toby yang langsung pergi.


Sasy hanya melihat punggung Toby yang seketika Sasy merasa tidak enak yang merasa Toby tidak baik-baik saja.


" Sasy apa kondisi Toby memang tidak apa-apa jika lama-lama di sini?" tanya Nadya yang tiba-tiba khawatir.


" Iya Sasy aku melihat kondisi Toby tidak baik," sahut Azizi.


" Aku sudah melarangnya untuk tidak datang. Tapi dia tetap kekeh untuk datang," sahut Sasy yang memang sudah berdebat terlebih dahulu dengan Toby sebelum datang ke acara Cherry.


" Ya sudah sebaiknya kalian kembali Kerumah sakit saja. Dari pada nanti Toby kenapa-kenapa," sahut Raquel memberi saran.


" Ya sudah kalau begitu. Aku susul Toby dulu. Biar kami langsung kerumah sakit. Aku kayaknya nggak akan sempat pamitan sama Cherry dan juga Verro. Tolong kalian bilangin ya," ucap Sasy.


" Kamu santai aja nanti kami sampaikan, kamu sana susulin Toby aja," sahut Nadya.


Sasy mengangguk dan langsung memilih untuk menyusul Toby karena takut terjadi sesuatu pada Toby.

__ADS_1


" Semoga memang kondisi Toby tidak apa-apa," sahut Azizi yang begitu khawatir.


" Kita doakan saja," sahut Vandy.


**********


Sasy pun menuju toilet untuk menunggu Toby dan langsung membawanya pulang. Wajah Sasy terlihat begitu khawatir dengan keadaan Toby yang dia tau Toby pasti tidak baik-baik saja. Belum juga sampai toilet langkah Sasy harus terhenti ketikan melihat Toby yang tiba-tiba terkapar. Sasy terkejut dengan apa yang di lihatnya.


" Toby!" teriak Sasy yang langsung berlari kearah Toby. Sasy langsung duduk dengan melihat Toby yang tidak sadarkan diri.


" Toby bangun! Toby bangun!" teriak Sasy dengan meletakkan kepala Toby di pahanya mencoba membangunkan Toby.


" Tolong! tolong! tolong!" teriak Sasy yang dengan suara keras yang panik melihat kondisi Toby benar-benar tidak sadarkan diri.


" Toby bangun Toby. Bangun Toby!" teriak Sasy dengan air matanya yang mengalir.


************


Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu.


Suara ambulan membawa Toby Kerumah sakit. Di mana Sasy, Raquel, Aldo Azizi dan Vandy berada di dalam mobil tersebut yang membawa Toby Kerumah sakit.


Sasy terus menangis dengan Azizi menenangkannya yang mana Sasy begitu panik dengan kondisi Toby. Sementara Raquel dan Vandy memberikan pertolongan pertama untuk kondisi Toby yang begitu sekarat.


" Toby, bertahanlah, aku mohon bertahanlah Toby," ucap Sasy dengan penuh harapan begitu takut jika Toby sampai kenapa-kenapa.


Sementara untuk Nadya, Cherry, Varell dan Verro menyusul di mobil yang berbeda. Teriakan Sasy memang membuat salah seorang tamu mendengarnya dan langsung memanggil orang-orang untuk membantu Toby.


Hal itu juga mengejutkan Cherry dan yang lainnya dan panik seperti Sasy. Lalu mereka langsung mengambil tindakan untuk membawa Toby kerumah sakit dengan cepat.


" Ya Allah semoga Toby tidak kenapa-kenapa," ucap Cherry yang begitu khawatir.


" Dia pasti memaksakan diri untuk datang," sahut Verro yang merasa bersalah pada Toby. Karena Toby seperti ini karena untuk menghadiri acara bahagia mereka.


************


Tidak lama akhirnya mobil ambulan itu sampai di rumah sakit. Beberapa suster berlari turut membantu. Sasy dan yang lainnya pun langsung keluar dengan buru-buru dari mobil ambulan. Dan memindahkan Toby ke tempat tidur pasien dan langsung mendorong dengan buru-buru.


Tangan Sasy terus memegang tangan Toby dengan air matanya tidak pernah berhenti mengalir.


" Aku mohon jangan ambil dia secepat ini. Aku sangat mencintainya. Aku mohon ya Allah," batin Sasy yang terus menagis melihat wajah pucat yang tidak sadarkan diri itu. Mobil yang di kendarai Varell pun akhirnya sampai juga dan mereka juga buru-buru memasuki rumah sakit dengan buru-buru.


Setiba di depan ruang gawat darurat. Toby di masukkan kesana, di ikuti Vandy dan juga Sasy begitu Verro juga ada di sana. Verro pun ikut menyusul untuk menangani Toby langsung.


Cherry, Azizi, Aldo, Varell menunggu di luar yang hanya bisa berdoa untuk keselamatan Toby.


" Ya Allah selamatkan Toby. Aku mohon ya Allah berikan dia keselamatan," batin Cherry yang terus berdoa.


" Semoga saja Toby baik-baik saja. Aku yakin dia bisa melewati semua ini. Dia adalah orang yang kuat," batin Nadya yang tidak henti-hentinya berdoa.


" Ya Allah angkatlah penyakitnya berikan dia kesembuhan ya Allah," batin Azizi yang turut berdoa untuk keselamatan Toby.


***********


Toby masih saja kritis dengan dada polosnya tanpa pakaian yang penuh dengan tempelan selang. Kondisinya memang separah itu makanya sampai banyak selang di tubuhnya.


Sasy yang berdiri di sampingnya terus menyeka air matanya yang terus saja keluar dengan menatap sendu Toby. Sasy membungkuk dengan mencium kening Toby dengan lembut.


" Aku mencintaimu Toby. Kamu harus kuat. Kamu sudah janji kepadaku untuk kuat. Kita masih banyak mimpi yang akan kita jalani sama-sama. Bertahanlah Toby kamu harus bertahan, demi aku," ucap Sasy yang berbisik di telinga itu. Dia mengusap-usap kepala Toby. Dia begitu hancur dengan kondisi Toby yang tiba-tiba drop.

__ADS_1


Sementara di luar di depan ruangan Toby. Cherry, Azizi, Nadya, masih ada di sana yang setia melihat perkembangan Toby. Sementara Raquel harus menangani Fiona yang juga sedang drop. Raquel bersama Dokter Arif menanganinya. Yang pasti Verro tidak karena Verro juga ada pasien lain.


" Apa kondisi Fiona juga sedang kritis?" tanya Cherry.


" Aku dengar dari Raquel seperti itu. Aku juga tidak tau mana yang pastinya," sahut Azizi.


" Hmmm, semoga saja. Fiona juga baik-baik saja," sahut Cherry yang tetap mendoakan Fiona.


" Amin, kita doakan saja yang terbaik," sahut Azizi.


Tidak lama Sasy pun keluar dari ruangan Toby. Azizi, Cherry dan Nadya langsung berdiri menghampiri Sasy.


" Sasy are you oke?" tanya Cherry mengusap-usap pundak Sasy memberikan semangat.


" Ini salahku. Seharusnya aku lebih tegas kepadanya. Agar dia tidak pergi tadi. Aku juga ceroboh yang tidak memperhatikan kondisinya," ucap Sasy yang menyalahkan dirinya sendiri dalam tangisannya.


" Apa yang kamu katakan. Ini bukan kesalahan kamu," sahut Cherry.


" Benar kata Cherry, Sasy kamu jangan merasa bersalah. Justru kita harus dukung semangat Toby. Dia mungkin ingin sembuh dan tidak terlihat sakit. Makanya tadi memaksakan diri," sahut Nadya.


" Tapi sudah tidak tau apa yang harus di lakukan lagi. Donor jantung tidak kunjung ada. Aku bingung harus berbuat apa," sahut Sasy yang terlihat putus asa.


" Kita berserah pada Allah Sasy. Aku tau perasaan kamu. Aku juga pernah di posisi kamu," sahut Azizi.


" Benar kata Azizi yang paling terpenting adalah kita berdoa dan percayalah semua akan baik-baik saja," sahut Cherry menambahi. Sasy hanya mengangguk dan teman-temannya langsung memeluknya untuk memberikan ketenangan kepadanya.


**************


Sementara Raquel dan Dokter Arif sedang menangani Fiona yang benar-benar kritis dengan komplikasi di tubuhnya.


" Keadaannya memburuk Dokter," sahut Raquel.


" Kita lakukan operasi," ucap Dokter Arif.


" Baiklah Dokter saya akan bicara pada keluarganya untuk menandatangani berkas operasi," sahut Raquel. Arif mengangguk kepalanya. Setelah kepergian Raquel Arif melihat wajah Fiona dengan nanar.


" Kamu ingin mendonorkan jantung kamu?" tanya Arif.


" Benar Dokter. Jika kondisi saya sudah sangat parah saya ingin Dokter donorkan jantung saya," ucap Fiona.


" Untuk siapa?" tanya Arif.


" Untuk Toby," jawab Raquel yang membuat Arif terkejut.


" Banyak orang orang yang menyayanginya dan dia lebih hidup dari pada saya. Saya tidak pantas untuk hidup lama-lama," ucap Fiona yang sudah bulat dengan keputusannya.


" Apa kamu yakin Fiona mendonorkan jantung kamu untuk Toby?" tanya Dokter Arif lagi.


" Saya yakin Dok. Jadi Dokter yang lebih paham kapan itu waktunya. Jadi ini amanah saya untuk Dokter dan jangan beritahu pada yang lainnya. Saya takut mereka tidak setuju karena membenci saya," ucap Fiona. dengan air matanya yang menetes.


" Saya percayakan semua kepada Dokter. Terimakasih Dokter untuk semua bantuan Dokter selama ini kepada saya," ucap Fiona.


Kata-kata Fiona teringat di kepala Dokter Arif.


" Kondisi Toby juga sedang kritis dan Toby membutuhkan donor jantung secepatnya untuk menyelamatkan nyawanya. Apa ini waktunya aku harus bertindak. Dan Fiona sudah memberi amanah ini kepadaku," batin Arif yang terus melihat wajah Fiona dengan nanar.


Fiona emang sudah bertekad akan mendonorkan jantungnya pada Toby. Yang mungkin satu-satunya cara yang di lakukannya untuk menebus kesalahannya kepada Toby dan teman-temannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2