
Perkataan Fiona membuat 1 kelas sontak kaget. Apa yang di katakan Fiona jelas menunjukkan dia menyukai Verro dan malah menantang Cherry untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya kepada Verro.
" Hey, berani sekali kau bertanya kepadanya?" Sahut Sasy kesal dan langsung berdiri.
" Kau pikir kau siapa," sambung Toby yang juga tidak terima Fiona malah memojokkan temannya.
Semetara Cherry meremas tasnya yang di letakkan di atas meja. Dengan debaran jantungnya yang mulai tidak membaik. Jangan tanya matanya sudah bergenang dan wajahnya memucat.
Aldo dan Nadya saling melihat ketika melihat ke gaduhan hanya masalah asmara. Tetapi Aldo juga menengok ke arah Cherry yang menundukkan sedikit kepala dengan wajah yang memucat.
" Kenapa kalian yang marah, kenapa jika Verro menyukai orang lain dan bukan dia. Apa kalian semua yang memiliki hati Verro sehingga kalian harus memaksakan diri. Jika Cherry harus bersama dengan Verro. Apa kehidupan Verro ada di tangan kalian semua," tegas Fiona yang memang jarang bicara sekali bicara membuat orang kaget.
" Terus menurutmu Verro menyukaimu. Paling tidak kau tau Verro dan Cherry sudah bertunangan," ucap Sasy menegaskan.
" Apa kau melihatnya, apa kau mendengarnya dari Verro atau dari Cherry?" tanya Fiona.
Sasy terdiam dan melihat ke arah Cherry. Sasy tidak tau lagi harus berbicara apa.
" Ayo Cherry katakan masalah hubunganmu yang sebenarnya dengan Verro. Jika selama ini Verro dekat denganmu. Hanya karena dia kasihan denganmu," Desak Fiona. Hal itu membuat Cherry melebarkan matanya dengan napasnya yang naik turun.
" Katakan Cherry kepada mereka semua. Verro hanya kasihan kepadamu. Karena kau wanita yang memiliki lemah jantung," kecam Fiona tanpa merem mulutnya.
" Woyyy, " teriak Varell yang mendengarkan hal itu langsung berdiri ingin rasanya menyayat mulut Fiona. Seketika air mata Cherry jatuh ketasnya. Ketika dia di sadarkan oleh Fiona.
" Heh, Fiona jaga bicaramu, kau sadar tidak apa yang kau katakan," sahut Vandy yang tidak terima dengan perkataan Fiona.
" Nih anak, lantam juga ya," batin Raquel yang tidak percaya jika Fiona bisa mengeluarkan kata-kata itu.
" Kenapa? memang itu kenyataannya. Dia hanya beruntung dengan penyakit yang di milikinya. Selalu mendapat ke istimewaan. Semua orang merasa iba kepadanya. Dan harus mendewakannya. Kalian jangan munafik di sini. Kalian hanya simpatik kepadanya karena penyakit yang di milikinya," tegas Fiona tanpa ampunan menatap sinis ke arah Cherry yang terus bercucuran air mata.
" Apa kau berbicara seperti itu karena kau benar-benar menyukai Verro?" tanya Raquel memastikan.
Fiona melihat murid-murid satu persatu yang sangat menunggu jawabannya. Dia juga melihat ke arah Cherry yang pasti lebih menunggu jawabannya.
" Iya aku memang menyukai Verro, itu tidak salahkan. Iya kan Cherry, Verro tidak menyukaimu dan kalian juga tidak memiliki hubungan apa-apa. Dan aku rasa kamu sadar. Jika Verro hanya kasihan melihatmu. Wanita yang mempunyai kelainan pada jantung, jadi jangan mengekang Verro. Aku menyukainya biarkan dia bahagia," jawab Fiona menatap dengan tajam.
Mendengar hal itu deru napas Cherry semakin naik turun tidak tau harus melakukan apa.
" Fiona," terdengar suara lantang.
Ternyata Verro yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu. Semua mata tertuju pada Verro
Termasuk Cherry yang juga melihat ke arah Verro yang berdiri di depan pintu.
" Akhirnya Verro datang juga," batin Sasy.
__ADS_1
" apa yang kau katakan? tanya Verro.
" Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan, jika aku menyukaimu. Sangat menyukaimu," sahut Fiona mengulangi sekali lagi ucapannya.
" Tidak salahkan Verro aku menyukaimu. Katakan kepada semua 1 kelas jika kau dekat dengan Cherry karena hanya kasihan dengannya," lanjut Fiona lagi.
" Hey, Fiona apa menurutmu Verro akan menyukaimu. Kau tidak sadar Verro hanya milik Cherry," sahut Sasy dengan geram.
" Kalau begitu tanyakan saja kepada Verro Dia memilih siapa aku apa Cherry," sahut Fiona menantang melihat ke arah Verro.
Cherry yang juga sangat dek-dekan dengan ucapan Fiona dia sangat takut jika Verro akan memilih Fiona.
" Katakan Verro, jika kau juga menyukaiku, dan semua itu terhalang, karena rasa simpatik mu dengan Cherry. Kau hanya kasihan kepadanya. Katakan kalau kau masih menyukaiku," desak Fiona yang terus-menerus mengulang kata-kata nya.
Cherry dan Verro saling melihat. Cherry menggenggam erat tangannya yang sudah dingin sedari tadi. Sangat takut dengan jawaban Verro.
" Ayo Verro katakan. jika kau justru bahagia karena mendapat ciumanku, katakan Verro," desak Fiona lagi.
" Katakan Verro, katakan lah, katakan Verro," Fiona terus mendesak Verro.
" Iya, aku menyukaimu dan aku sangat bahagia mendapat ciuman darimu," jawab Verro menatap Cherry membuat Cherry melebarkan matanya
" Kalian semua dengar sendiri," ucap Fiona dengan senyum miring.
" Fiona terima kasih sudah menyukai ku. Aku bahagia mendapat ciuman dari mu, Aku membalas ciuman itu nanti," lanjut Verro tersenyum lebar kepada Fiona.
" Ya ampun sosweet banget," sahut salah satu murid tersenyum kegirangan.
" Aku tidak perlu menunggumu membalasnya. Aku akan melakukannya," sahut Fiona berjalan menghampiri Verro.
" Kau menyukaiku?" tanya Fiona sekali lagi yang susah berdiri di depan Verro.
" Iya, aku sangat menyukaimu," jawab Verro.
" Cium-Cium-Cium-Cium," sorak murid-murid dengan tepuk tangan menunggu Fiona dan Verro berciuman.
Verro dan Fiona saling tersenyum. Kepala Fiona dan Verro sama-sama sudah miring dan Cherry semakin takut ketika bibir ke-2 manusia itu hampir bersentuhan. Cherry terus menatap dengan ketidak relaan.
" Tidakkkkkkk! teriak Cherry langsung terduduk dari tidurnya.
Ternyata Cherry mimpi buruk. Suara deru napas Cherry yang ngos-ngosan terdengar sangat kuat. Bahkan wajahnya di basahi keringat.
" Apa yang aku pikirkan, apa tadi itu, tidak mungkin Verro dan Fiona," gumamnya mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya dengan napas yang belum stabil.
" Aissshhh, bagaimana jika benar, jika Verro juga menyukainya," gumam Cherry yang tiba-tiba merasa khawatir. Cherry mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
" Terus kenapa, biarlah bukankah itu lebih baik dengan begitu. Dia akan menjauhiku dan memberi ketenangan untukku. Aisss kenapa juga aku harus memimpikan mereka. Kenapa aku harus memimpikannya," Cherry terus bergerutu dengan hatinya yang bingung.
" Tapi bagaimana jika semua kenyataan, Fiona mempermalukan ku dan berciuman dengan Verro di depanku. Harga diriku akan hilang, walau aku tidak menyukai Verro. Tetapi tetap saja itu pasti menyakitkan," batin Cherry yang seakan tidak rela semua itu terjadi.
Dia tidak menyangka bisa memimpikan Verro dan Fiona yang berciuman di depannya.
" Mungkin aku sudah gila. Tidak Cherry kamu tidak khawatir, kamu hanya sakit hati dengan kata-kata Fiona, bukan karena Verro dan Fiona yang berciuman. Percayalah hanya itu yang membuat kamu khawatir," gerutunya mencoba menenagkan dirinya sendiri.
" Lupakan semua itu, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa dan aku tidak akan membiarkan Fiona menghinaku. Dan masalah Verro terserah," ucapnya terus menenangkan dirinya.
Cherry kembali merebahkan dirinya. Berusaha memejamkan matanya dan melupakan mimpi buruk yang menyebalkan itu. Tetapi tetap tidak bisa.
Dia terus gelisah, sebentar-sebentar membalikkan posisi tidurnya. Kadang kekiri kadang kekanan. Sudah berubah tidur ke bawah bahkan Cherry sudah tidur di sofa.
Cherry seperti tidak sabar untuk besok kesekolah. Melihat apa yang terjadi, benarkah mimpinya kenyataan atau bagaimana. Cherry terus memikirkan semua itu.
**********
SMA high Internasional
Mobil Cherry sudah sampai di depan gerbang sekolah.
" Non Cherry sudah sampai!" ucap Pak Yatno menegur Cherry yang tertidur di mobil.
" Non Cherry," tegur pak Yatno lagi.
" Hah, iya," sahut Cherry tersentak kaget dan jadi linglung.
" Sudah sampai non," ucap Pak Yatno sekali lagi.
" Ahhhhhhh," Cherry menguap panjang dengan menutup mulutnya " aku mengantuk sekali, kenapa cepat sekali sampainya," keluhnya membuka pintu mobil dengan tidak bersemangat.
Bagaimana tidak mengantuk setelah mimpi buruk dia bahkan tidak tertidur karena memikirkan isi dari mimpinya.
Cherry berjalan dengan rasa kantuk yang sangat berat. Beberapa orang yang berpapasan dengannya melihatnya heran.
" Kenapa mereka melihatku, apa yang aku mimpikan kemarin, benar-benar keyatakan. Jika mereka sedang simpatik kepadaku. Karena Verro dan Fiona," batinnya merasa was-was karena murid-murid melihatnya dengan heran bahkan ada murid yang tertawa seperti menyerupai mimpinya.
" Bagaimana ini jika mimpiku benar-benar keyataan. Apa yang harus aku lakukan. Tidak aku harus terlihat biasa saja. Aku tidak boleh menangis. Biar harga diriku sebagai wanita tetap ada. Aku tidak boleh lemah," ucap Cherry di dalam hatinya sudah mempersiapkan mentalnya sendiri ketika mimpinya menjadi ke nyataan.
💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya
__ADS_1