
Dokter Arif sedang duduk di kursi yang ada di ruangannya.
Tok-tok-tok-tok.
" Masuk!" sahut Arif. Pintu terbuka yang ternyata adalah Toby.
" Toby," sahut Arif, " Mari masuk," ucap Arif mempersilahkan. Toby mengangguk dan duduk di depan Arif.
" Bagaimana keadaaan kamu?" Tanya Arif.
" Baik-baik saja. Saya juga sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. Karena untuk kondisi seperti saya tidak mungkin saya membawa penumpang yang mungkin bisa membahayakan mereka," jawab Toby.
" Ya semoga saja. Kondisi kamu akan membaik. Kamu harus ingat kata-kata saya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia. Kamu lihat Cherry dia penderita jantung sejak kecil dan pasien yang sembuh. Begitu juga dengan kamu jangan patah semangat. Kamu pasti akan sembuh. Kita akan mendapatkan transplantasi jantung secepatnya," ucap Dokter Arif. Toby hanya mengangguk dengan senyuman yang menguatkan dirinya sendiri.
" Kita mulai periksa?" tanya Arif. Toby mengangguk.
" Ya sudah mari," sahut Dokter Arif yang mempersilahkan Toby dan Toby pun akhirnya mengangguk. Toby berdiri dan langsung berbaring di ranjang rumah sakit.
Arif juga mulai mengecek kesehatan Toby. Di mana Toby telah di vonis mengalami kelainan jantung beberapa bulan belakangan ini.
" Sasy pernah menyukai Dokter Arif. Dia akan bahagia jika bersama Dokter Arif. Aku tau Sasy kamu dengan mudahnya menemukan Pria lain. Itu karena kamu sedang marah. Sasy aku memang marah melihatmu dengan Pria itu. Tetapi mungkin aku akan bahagia. Jika kamu bersanding dengan Dokter Arif," batin Toby dengan air matanya menetes.
" Apa pemeriksaannya sakit Toby?" Tanya Dokter Arif.
" Tidak Dok," sahut Toby.
" Soalnya saya melihat kamu menangis. Siapa taukan sangat sakit," sahut Dokter Arif.
" Air mata saya hanya reflek keluar," sahut Arif.
" Kamu jangan terlalu banyak sedih. Hidup harus semangat. Jangan di sia-siakan ya," ucap Dokter Arif memberikan semangat kepada Toby.
" Terima kasih Dokter," sahut Toby tersenyum.
" Aku merasa Pria itu tidak baik. Aku tidak mungkin meninggalkan Sasy dengan laki-laki yang tidak tepat. Ya Allah mungkin ini sudah takdirku. Aku mengalami semua ini. Seandainya kau berikan aku umur panjang dan penyakit ini tidak ada mungkin aku bisa mewujudkan impian Sasy. Dia tidak akan terluka seperti kemari. Dia tidak akan menjadi orang lain yang membenci teman-temannya. Ini semua salahku. Maafkan aku Sasy aku tidak bisa menjadi sempurna untukmu," batin Toby yang merasa bersalah pada Sasy.
Toby harus menahan tangisnya. Agar Dokter Arif tidak bertanya lagi kepadanya. Takdir tidak ada yang tau. Sama halnya dengan apa yang terjadi hari ini. Toby di hadapkan pada kenyataan yang mana tidak akan bisa membahagiakan orang yang di cintainya.
" Sudah selesai Toby," ucap Dokter Arif. Toby menganggukkan matanya dan perlahan duduk.
" Saya akan berikan kamu resep obat. Nanti kamu tebus ya," ucap Dokter Arif.
" Iya Dokter," sahut Toby yang berdiri merapikan kemejanya.
" Dokter. Tetap pada kesepakatan kita. Anak-anak jangan tau masalah ini," ucap Toby yang memberi ingat Arif.
" Baiklah Toby. Itu masalah pribadi kamu. Jika kamu tidak ingin mereka tau. Sebisa saya akan merahasiakannya. Tapi saran saya alangkah baiknya mereka tau. Supaya mendapatkan dukungan dan tukar pikiran. Kamu harus ingat Toby stres bisa membuat tubuh kamu lemah," ucap Dokter Arif menyarankan.
" Saya pasti akan memberitahu mereka. Kalau saya sudah benar-benar siap. Tetapi tidak untuk sekarang. Karena saya juga tidak ingin membuat mereka khawatir atau kepikiran," ucap Toby.
" Baiklah, kamu punya hak untuk itu. Saya berdoa saja. Semoga semuanya baik-baik saja," ucap Dokter Arif.
" Makasih Dokter," sahut Toby.
" Sama-sama," sahut Dokter Arif.
" Hmmm, kalau begitu saya permisi dulu Dokter, sekali lagi terima kasih," sahut Toby berjabat tangan dengan Arif. Arif menyambut dengan ukuran tangan itu dan menepuk bahu Toby memberikan Toby semangat. Tidak menunggu lama Toby pun akhirnya pergi dari ruangan Dokter Arif.
" Hidup memang tidak ada yang mulus. Semoga Toby bisa melewati semuanya," batin Arif yang berharap banyak.
***********
Aldo mengantarkan Raquel ke rumah sakit seperti biasanya. Aldo dan Raquel sama-sama keluar dari mobil. Berdiri saling berhadapan dengan Raquel mencium punggung tangan Aldo.
__ADS_1
" Aku kerja dulu ya," ucap Raquel. Aldo mengangguk dengan mencium kening Raquel pipi Raquel.
" Kamu hati-hati, nanti makan siang aku jemput," ucap Aldo. Raquel mengangguk. Wajahnya hari ini tidak begitu semangat.
Tidak lama mobil Sasy sampai di depan rumah sakit. Sasy langsung keluar dari mobilnya mematikan mesin mobilnya. Lalu berjalan begitu saja memasuki rumah sakit yang seolah tidak mengenal Raquel.
Raquel dengan wajah sendunya hanya bisa melihat sahabatnya itu yang benar-benar pergi tanpa menyapa dan seperti tidak mengenal dirinya. Aldo mengusap-usap pundak Raquel.
" Tidak apa-apa, berikan dia waktu. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Aldo memberikan semangat untuk istrinya. Raquel hanya mengangguk saja.
" Ya sudah aku masuk dulu," sahut Raquel. Aldo mengangguk dengan lemas Raquel memasuki rumah sakit.
" Kenapa sifat seperti anak kecil seperti ini," ucap Aldo geleng-geleng. Dia menyadari kesalahannya. Tetapi jelas sikap Sasy tidak akan menyelesaikan masalah yang ada bertambah besar.
**********
Sasy berjalan dengan juteknya. Sasy bahkan berpapasan dengan Vandy dan sama saja. Sasy tetap jutek seakan tidak mengenal orang itu. Vandy pasrah. Dia juga tidak mau mencari keributan yang membuat semakin besar.
Sama halnya dengan Verro yang kelihatan ingin bertanya atau menyuruh Sasy. Namun mengurungkan niatnya. Karena memang mode Sasy lagi mode marah. Jadi harap di maklumi.
Terakhirnya Vandy, Verro, dan Raquel berdiri berbaris yang melihat kepergian Sasy begitu saja.
" Sampai kapan semuanya akan seperti ini?" tanya Raquel.
" Masalah tidak akan selesai. Jika Sasy tidak mencoba untuk mendewasakan dirinya," sahut Vandy yang lama-kelamaan kesal dengan Sasy.
" Kamu benar. Cherry bahkan nangis semalaman hanya karena ini. Apa salahnya coba Sasy bicara baik-baik. Kayak anak kecil," sahut Verro yang juga ikutan kesal.
Dia jelas sangat khawatir dengan istrinya yang sedang hamil dan pikiran istrinya yang kemana-mana yang pasti berpengaruh pada kandungannya.
" Ini semua bukan salah Sasy, Cherry, Nadya, atau Azizi. Tapi aku. Aku yang menjadi satu-satunya yang mengangkat telponnya langsung malam itu. Aku yang bicara dan mengatakan yang tidak-tidak. Sementara, Cherry dan Azizi atau Nadya. Mereka bahkan tidak tau jika Sasy menelpon. Aku lah yang harus di salahkan untuk hal ini," ucap Raquel yang wajahnya terlihat begitu sendu.
" Jangan main-main salah-salahan sekarang. Itu sama sekali tidak ada gunanya. Tetap ini hanya salah paham," sahut Verro menegaskan.
Ternyata di sisi lain Toby yang dari kejauhan 30 meter berdiri melihat teman-temannya yang sedih karena di juteki oleh Sasy.
" Aku yang salah. Aku yang sudah membuatnya seperti itu. Maafkan aku kalian semua menjadi korban karena hubunganku dan juga Sasy," batin Toby yang penuh dengan merasa bersalah.
Melihat kesedihan di wajah teman-temannya membuatnya ikut sedih dan menumpahkan semua kesalahan terjadi karena dirinya. Padahal kurangnya komunikasi yang membuat semakin tidak terkendalikan. Baik dari Toby yang tidak jujur pada teman-temannya sama dengan Sasy yang ego nya terlalu tinggi.
***********
Setelah menebus obatnya di apotik yang ada di rumah sakit. Toby pun langsung pulang. Toby berjalan kurang fokus yang melihat-lihat kantung yang berisi obat itu sampai Toby tidak menyadari jika Cherry berjalan di depannya dan Cherry yang juga sibuk merogoh tasnya sehingga tidak melihat jalan.
Yang sampai akhirnya mereka semakin dekat dan akhirnya menimbulkan saling tabrak yang membuat kantung di pegang Toby jatuh kelantai dan ada beberapa obat yang keluar dari jantungnya.
" Sorry, Sorry," sahut Cherry merasa bersalah, " Toby!" lirih Cherry yang baru menyadari jika Pria yang di tabraknya adalah Toby.
" Cherry," sahut Toby yang juga terkejut.
" Ya ampun maaf ya," sahut Cherry melihat kebawah dan berjongkok membereskan obat-obatan yang berjatuhan itu.
" Tidak apa-apa. Biar aku saja," sahut Toby yang langsung berjongkok mencegah Cherry membereskan obat-obatan itu. Namu Cherry memegang satu obat di botol kecil yang merasa tidak asing dengannya. Toby yang melihat Cherry begitu serius langsung menarik obat itu dari tangan Cherry dan memasukkannya ke kantung itu kembali.
" Kamu tidak apa-apa kan Cherry?" tanya Toby yang mengalihkan situasi dan membantu Cherry untuk berdiri.
" Tidak aku tidak apa-apa. Kamu kok tumben ada di sini?" tanya Cherry heran.
" Oh, itu. Biasalah aku cek kesehatan rutinitas," jawab Toby yang kelihatan gugup.
" Dan itu obat-obatan kamu?" tanya Cherry memastikan.
" Hanya vitamin," sahut Toby dengan cepat.
__ADS_1
" Vitamin. Tidak itu bukan vitamin. Itu seperti obat jantung," batin Cherry yang mengingat obat itu yang jelas sering di konsumsinya dulu.
" Apa Cherry curiga ya. Cherry tidak boleh curiga," batin Toby yang terlihat panik.
" Toby boleh aku lihat obatnya," ucap Cherry yang membuat mata Toby membulat sempurna panik dengan permintaan Cherry.
" Tidak aku tidak mungkin memberinya. Di dalam masih ada resepnya dan sepertinya Cherry pasti curiga makanya dia memintanya tiba-tiba," batin Toby yang begitu kepanikan.
" Cherry!" Tiba-tiba terdengar suara Verro yang memanggil istrinya dan menghampiri istrinya dan Toby. Toby bernapas sedikit lega dengan ke hadiran Toby.
" Kamu sudah sampai sayang," ucap Verro dengan merangkul istrinya.
" Hmmm, aku sudah sampai," sahut Cherry tersenyum.
" Hmmm, Toby kita ngobrol sebentar yuk," ucap Verro.
" Oh, boleh. Tapi aku ke mobil sebentar ya," ucap Toby yang mencari alasan apa lagi jika tidak ingin menyembunyikan obat yang di bawanya.
" Ya sudah aku tunggu di ruanganku," sahut Verro. Toby mengangguk dan langsung pergi dengan bernapas lega. Namun Cherry terus memperhatikan temannya itu yang dia merasa tetap ada yang tidak beres.
" Ayo sayang!" ajak Verro. Cherry mengangguk.
************
Verro, Cherry, Raquel, Vandy, dan Toby berada di ruangan Verro yang mana mereka ngobrol bersama di sana.
" Toby jadi kalian memang bertengkar malam itu?" tanya Cherry yang memastikan kembali.
" Iya Cherry, sebelumnya memang hubungan kami sedikit renggang di mulai dari pernikahan Aldo dan Raquel. Sasy sudah mulai memperlihatkan kode-kode. Mungkin Sasy marah kesal yang menganggap aku tidak peka. Aku mengerti maksudnya. Tapi aku memang diam saja dan tidak menanggapi. Dari situ kami mulai jarang berkomunikasi dan bahkan saat aku ada penerbangan sebelum pernikahan Nadya dan Varell. Aku sempat bertengkar kecilnya dengannya dan Sasy ngambek saat itu. Aku memang tidak langsung membujuk atau melakukan apapun. Selain aku buru-buru Sasy juga moodnya tidak naik yang aku tau itu akan menyebabkan semuanya semakin kacau. Jadi aku memilih untuk memberinya waktu,"
" Aku selesai penerbangan dan datang kepernikahan Nadya dan Varell. Sasy masih marah saat itu. Tapi aku berhasil membujuknya. Dan saat malam ingin mengantarkannya pulang Sasy membahas masalah pernikahan yang ku hindari dan akhirnya kami bertengkar hebat dan Sasy memutuskan segala hubungan kami saat itu juga," jelas Toby tanpa ada yang di tutup-tutupinya.
" Jadi kalian bertengkar. Karena kamu tidak ingin menikah dengannya," sahut Raquel. Toby mengangguk jujur apa adanya.
" Apa alasannya Toby. Apa tidak siap atau apa?" tanya Cherry dengan lembut.
" Karena aku tidak ingin mencuri kebahagiannya. Aku tidak tau kapan aku mati. Dan Sasy bisa hancur. Jika di saat dia bahagia aku pergi tanpa kembali," batin Toby dengan yang menahan air matanya agar tidak keluar.
" Toby," tegur Cherry.
" Kamu benar Cherry. Aku tidak siap untuk menikah. Aku mengakui aku salah dan terlalu egois. Ya aku memang pantas di maki dan semua yang terjadi adalah kesalahanku," ucap Toby yang membohongi teman-temannya dengan alasan yang simple itu.
" Toby. Pernikahan itu tidak menakutkan. Apa salahnya bicara baik-baik dengan Sasy dan mungkin Sasy akan mengerti," sahut Vandy menyarankan.
" Tapi semuanya sudah terlanjur hubungan kami sudah berakhir dan Sasy sudah menemukan pilihannya dan mungkin ini yang terbaik," sahut Toby.
" Kamu masih mencintainya kenapa tidak memperjuangkannya?" tanya Cherry. Toby hanya menjawab dengan senyuman.
" Maafkan aku ya. Gara-gara masalah pribadi ku. Kalian menjadi korbannya," sahut Toby dengan menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan
" Huhhhhhh. Ya sudah aku rasa semua sudah aku sampaikan. Ini yang terbaik untuk hubungan kami makasih untuk suport kalian dan iya aku juga akan ke Luar Negri. Jadi aku titip Sasy pada kalian. Kalian yang paling tau dia. Jadi jaga dia baik-baik," ucap Toby yang seolah menyampaikan pesan terakhir.
Toby tersenyum lalu berdiri. Melihat teman-temannya sebentar.
" Aku pulang dulu, mari," sahut Toby yang langsung pergi begitu saja. Saat keluar dari ruangan itu Toby meneteskan air matanya. Air mata yang sudah di bendungnya sedari tadi.
" Maafkan aku. Aku tidak ingin membuat kalian susah. Aku tidak jujur dengan apa yang aku alami. Maafkan aku," batin Toby yang berjalan dengan menyeka air matanya.
" Kenapa aku merasa Toby menyembunyikan sesuatu. Ada apa dengan Toby apa yang terjadi," batin Cherry yang perasaannya mengatakan ada yang tidak beres dengan temannya itu.
Sementara yang lainnya. Juga terlihat kecewa dengan tidak adanya juga penyelesaian dalam masalah teman-temannya.
Bersambung
__ADS_1