DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 275 Kecanggungan ber-2.


__ADS_3

Nadya dan Varell pun pulang bersama-sama. Varell berjalan di depan dengan ke-2 tangannya yang berada di saku mantel hitamnya yang panjangnya di bawah lututnya dan Nadya berjalan 2 meter di belakangnya dengan dengan memeluk tubuhnya yang merasakan kedinginan.


Jalanan juga sangat sepi. Tidak ada orang atau siapapun yang ada di sana. Jalanan yang di kelilingi pohon-pohon yang di tanam rapi di pinggir-pinggir jalan dengan daunnya yang berguguran yang mengiringi langkah 2 manusia itu.


Tidak ada yang mulai bicara. Tidak Nadya dan juga Varell. Tetapi pasti mereka merasakan gugup satu sama lainnya.


" Kenapa juga aku bisa sampai terpisah dari Raquel. Kalau tidak kan aku tidak perlu pulang sama Varell. Kalau tidak pulang dengan Varell. Aku juga tidak tau harus pulang siapa. Aku juga tidak tau jalan pulang," batin Nadya yang bergerutu sendiri dengan melangkah berjalan tidak fokus.


Varell menghentikan langkahnya ketika memperbaiki tali sepatunya yang terlepas. Varell berjongkok untuk mengikat tali sepatu itu. Tetapi Nadya yang berjalan menunduk dengan bergerutu di dalam hatinya. Tidak menyadari Varell dan alhasil Nadya yang tidak menabrak jalan menabrak Varell.


" Aaaaa," teriak Nadya melotot saat ingin tersungkur jatuh. Varell menoleh kebelakang dan langsung menangkap Nadya yang hampir jatuh dan Al hasil Nadya berada di pangkuan Varell.


Nadya dan Varell saling menatap dengan debaran jantung mereka yang tidak menentu di dalam sana. Mata mereka saling berkeliling untuk mengamati wajah masing-masing.


" Nadya, kamu dari dulu tidak pernah berubah, kamu tetap Nadya yang memiliki wajah yang sangat teduh. Kamu tidak pernah berubah Nadya," batin Varell yang terus menatap dalam-dalam Nadya.


" Ya Allah, kenapa engkau harus mempertemukan aku dengannya jika apa yang aku rasakan sangat sakit. Aku tidak tau ya Allah apa aku masih mencintainya apa tidak ya Allah. Takdir sedang tidak bersama kami. Dia berasal dari keluarga yang jauh berbeda dengan ku," batin Nadya yang selalu tidak pantas untuk Varell.


" Apa kah aku masih mempunyai kesempatan untuk kembali mendapatkan hati wanita ini. Aku masih mencintainya. Apa tidak bisa aku tetap menginginkannya untuk bersamaku," batin Varell.


Mereka sama-sama berbicara dengan hati mereka masing-masing dengan perasaan mereka yang tidak bisa di jelaskan. Dari tatapan mata itu jelas ke-2nya masih saling mencintai. Masih sama-sama ingin bersama tetapi ada tembok yang menjadi penghalang dari ke-2 pasangan itu.


Nadya mengerjap-ngerjapkan matanya menyadarkan dirinya.


" Maaf," lirih Nadya yang seketika menjadi gugup saat berada di pangkuan Varell. Nadya yang semakin gugup dan langsung berusaha untuk duduk. Varell menelan salavinanya dan membantu Nadya untuk yang ingin beranjak dari tubuhnya.


Sampai mereka ber-2 akhirnya sama-sama berdiri dengan kegugupan dan rasa canggung masih-masing.


" Sekali lagi maaf, aku tidak sengaja," sahut Nadya yang merasakan kegugupan.


" Iya, aku juga yang salah. Seharusnya tidak menghalang jalanmu," sahut Varell. Nadya hanya mengangguk saja.


" Hmmm, ya sudah bagaiman, sepatumu sudah terikat dengan baik?" tanya Nadya melihat menunjuk sepatu Varell.

__ADS_1


" Hmmm, sudah, kalau begitu ayo kita kembali pulang," sahut Varell. Nadya mengangguk. Namun ke-2nya malah tetap diam tidak ada yang mauenggerakkan kaki masing-masing yang malah saling canggung.


" Kamu kenapa tidak jalan?" tanya Nadya heran.


" Kamu saja yang duluan," sahut Varell mempersilahkan.


" Kamu saja, aku kan tidak tau jalan," sahut Nadya.


" Kamu saja. Kalau kamu di belakang nanti kamu jatuh lagi," sahut Varell yang kembali mempersilahkan.


" Kamu saja," sahut Nadya yang tidak mau berjalan dahulu.


" Kamu saja,"


" Kamu saja,"


Mereka berdua malah sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Baik Nadya atau Varell sama-sama keras kepala yang tidak mau melangkah terlebih dahulu.


" Kamu laki-laki jadi kamu saja yang duluan, laki-laki kan seorang pemimpin," sahut Nadya tanpa sadar bicara. Varell menaikkan alisnya saat mendengar kata-kata Nadya yang mengatakan masalah pemimpin.


" Apa kamu ingin menjadikan ku sebagai pemimpinmu?" tanya Varell membuat Nadya malah semakin malu dengan wajahnya yang memerah.


" Bukan seperti itu maksudku. Kamu hanya salah paham. Maksudku kamu lebih tau jalan jadi sudah sewajarnya kamu yang duluan," sahut Nadya mengelak dengan mencari banyak alasan. Varell mendengus tersenyum mendengarnya.


" Ya sudah kalau begitu kita jalan bersama-sama. Kamu tidak di depan atau di belakang. Kita sama-sama berjalan melangkah bersamaan," ucap Varell mengambil keputusan. Nadya terlihat berpikir mendengarnya.


" Kecuali kamu memang ingin memulai aku belajar untuk memimpin mu," sahut Varell menggoda Nadya. Dan Nadya semakin canggung mendengarnya.


" Ya sudah, ayo kita jalan bersama," sahut Nadya dengan cepat membuat Varell tersenyum tipis. Dan setelah melakukan perdebatan sedikit Nadya dan Varell pun berjalan sejajar dengan jarak yang berdekatan.


Sampai bahu mereka terkadang bersentuhan dengan kecanggungan di antara keduanya. Tetapi terlihat Varell yang tersenyum tipis yang sepertinya merasa bahagia. Karena berjalan berdekatan dengan Nadya. Sementara Nadya semakin tidak tenang dengan getaran hatinya dan debaran jantungnya yang tidak bisa di ajak kompromi.


" Tenang Nadya, kamu harus tenang," batin Nadya yang beberapa kali membuang napasnya perlahan kedepan.

__ADS_1


***********


Nadya dan Varell seolah kembali mencoba untuk meruntuhkan benteng yang sangat kuat yang menghalangi mereka. Lalu bagaimana dengan benteng Azizi dan Vandy.


Azizi dan Vandy yang juga sedang berada di luar. Mereka makan malam ber-2 di salah satu Restaurant yang terkenal di Jepang. Walau sama-sama memiliki tidak ketengan hati di dalam-dalam hati mereka masing-masing.


Pasangan itu sama seperti yang lainnya yang juga menikmati liburan. Mungkin hanya untuk pencitraan agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan dan lain sebagainya.


Mereka duduk saling berhadapan sambil menikmati makanan yang di pesan mereka. Gugup, canggung, bingung pasti di rasakan ke-2 pasangan itu. Pasangan pengantin baru itu hanya diam tanpa ada obrolan apapun. Tidak ada yang mereka bicarakan.


Mungkin ber-2 berbicara dengan hati mereka masing-masing. Apa yang terjadi kemarin pasti membuat mereka merasa canggung yang lebih luar biasa. Memang semenjak kejadian itu. Azizi atau Vandy tidak pernah bicara sama sekali. Mereka saling diam karena tidak tau mau bicara apa.


" Ehemmm," Azizi berdehem membuat Vandy yang sedang minum melihat ke arahnya.


" Apa kita tidak sebaiknya pulang saja. Ini juga sudah malam," ucap Azizi dengan terbata-bata. Vandy melihat arloji di tangannya.


" Kamu sudah selesai makan?" tanya Vandy.


" Sudah. Aku sudah kenyang kok," sahut Azizi mengangguk. " Lagian ini sudah sangat malam. Yang lain juga pasti sudah pulang. Dan ada sebaiknya kita juga pulang," Lanjut Azizi.


" Hmmm, ya sudah kalau begitu. Kita akan pulang," sahut Vandy yang tidak masalah dengan Azizi.


" Tapi kamu juga sudah selesai makan kan?" tanya Azizi.


" Seperti yang kamu lihat, makanan ku masih ada," sahut Vandy jujur.


" Lalu kamu masih mau makan?" tanya Azizi. Vandy mengangguk apa adanya yang mungkin memang masih lapar.


" Hmm, kalau begitu kenapa mau di ajak pulang," sahut Azizi.


" Bukannya kamu ingin pulang?" ucap Varell dengan santai.


" Ya sudah kalau begitu kamu habiskan makanannya dulu. Baru kita pulang," sahut Azizi memutuskan yang mengurungkan niatnya untuk pulang.

__ADS_1


" Hmmm, Baik lah," sahut Vandy mengangguk dan dengan santai makan kembali. Dan Azizi pun menunggu Vandy menghabiskan makanannya.


Bersambung


__ADS_2