
Jakarta.
Mendengar berita buruk tentang Iqbal. Vandy dan Azizi langsung kembali ke Indonesia saat itu juga. Bukan hanya Vandy dan Azizi. Teman-temannya yang juga tidak tenang memilih ikut kembali walau Azizi dan Vandy melarang.
Tetapi yang namanya sahabat sejati apalah arti liburan sementara temannya sedang mendapatkan kesulitan sehingga mereka memilih untuk ikut pulang bersama.
Tibanya sampai di Bandara mereka memilih untuk langsung pergi ke rumah sakit di mana Iqbal yang kondisinya memburuk langsung di bawa ke rumah sakit.
Di depan ruangan UGD, terlihat Lina dan Rudi suaminya yang duduk dengan wajah gelisah yang mana Rudi terus merangkul pundak istrinya yang memberikan kekuatan yang tidak tau kapan istrinya akan berhenti menangis.
Vandy dan Azizi memasuki rumah sakit dengan langkah yang terburu-buru di mana yang lainnya menyusul ke belakang.
" Itu mama," tunjuk Vandy panik. Azizi dan Vandy pun mendatangi Lina dan Rudi dengan tangan bergetar Azizi yang terus di genggam Vandy.
" Ma!" lirih Vandy.
" Vandy, Azizi," sahut Lina yang langsung berdiri.
" Bagaimana, Iqbal apa yang terjadi padanya?" tanya Azizi dengan suara bergetarnya yang ketakutan di mana teman-teman mereka akhirnya juga sampai.
" Azizi, maafkan mama, Iqbal masih kritis, dia belum sadar dari kemarin," sahut Lina dengan bibir bergetar dan tangisan untuk menjawab pertanyaan Azizi. Azizi mendengarnya langsung kaget dengan air matanya yang tidak kalah mengalir derasnya.
" Iqbal, Iqbal, maafin mama," lirih Azizi menangis terisak-isak dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya. Mata Vandy juga berkaca-kaca mendengar kabar anaknya yang kritis. Begitu juga yang lainnya yang pasti ikut cemas dengan berita itu.
Vandy langsung membawa Azizi kedalam pelukannya untuk memengankan Azizi. Di mana Azizi menangis masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang menangis di menunduk di dada Vandy dan Vandy mengusap-usap pundak Azizi memberikan Azizi ketenangan.
" Semuanya akan baik-baik saja, percayalah padaku," ucap Vandy memeluk tubuh yang bergetar itu.
" Ya Allah, aku tau bagaimana rasanya melawat sakit kanker, aku mohon berikan kesembuhan pada Iqbal," batin Cherry yang meneteskan air mata yang juga pundaknya di rangkul suaminya.
__ADS_1
Yang lainnya juga ikut terharu dengan kabar Iqbal yang mana kondisinya memburuk dan melihat Azizi yang begitu hancur. Azizi melepas diri dari Vandy dan melihat Verro lalu menghampiri Verro berdiri di depan Verro dengan menyatukan ke-2 tangannya.
" Verro aku mohon tolong selamatkan anakku, aku mohon Verro," ucap Azizi yang memohon pada Verro.
" Azizi, apa yang kamu lakukan," sahut Verro menurunkan tangan memohon itu, " Kamu tidak perlu memohon, aku akan berusaha, aku akan berusaha untuk menyelamatkan Iqbal," ucap Verro yang mencoba meyakinkan Azizi.
" Azizi, kita berdoa ya untuk keselamatan Iqbal. Kamu harus kuat agar Iqbal bisa bisa kuat, dia hanya akan kuat. Jika mamanya juga kuat," sahut Cherry mengusap air mata Azizi yang menangis terisak-isak. Cherry pun langsung memeluk Azizi dengan erat.
Raquel, Sasy dan Nadya pun akhirnya mendekati Azizi dan Cherry dan juga memberikan pelukan kekuatan.
" Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Iqbal akan sembuh," ucap Nadya.
" Benar, kamu jangan khawatir kita semua ada di sini. Jadi jangan takut, semuanya akan baik-baik saja," sahut Sasy.
" Iqbal anak yang kuat dia akan bisa menghadapi semuanya. Percayalah dia akan bisa sembuh dan akan melawan kankernya," sahut Raquel.
************
Malam hari tiba Azizi duduk di samping tempat tidur Iqbal dengan kursi yang ada di sana. Azizi terjaga hingga tertidur untuk menunggu putranya siuman. Matanya masih sangat sembab dengan anaknya yang benar-benar sekarat. Tangannya terus menggenggam tangan kecil anaknya.
Krekkk.
Vandy memasuki kamar perawatan itu dan melihat Azizi yang terjaga dalam tidurnya. Vandy melangkah perlahan dengan membawa kantung plastik. Meletakkan kantung plastik yang berisi kotak makanan itu di atas meja di samping Iqbal. Lalu Vandy membuat jaketnya dan menutupkan pada tubuh Azizi.
Ternyata apa di lakukan Vandy membangunkan Azizi. Azizi mengangkat kepalanya dan melihat Vandy.
" Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu mu," ucap Vandy dengan pelan.
" Tidak apa-apa, jam berapa sekarang?" menghapus pipinya yang masih terdapat banyak bekas air mata.
__ADS_1
" Sudah jam 11," jawab Vandy, " Azizi kamu makan dulu ya. Ini sudah malam. Kamu dari tadi belum makan," ucap Vandy lembut membujuk Azizi.
" Aku tidak lapar," jawab Azizi menolak.
" Aku tau, kamu hanya mencemaskan Iqbal. Tetapi percayalah kepadaku, semuanya akan baik-baik saja. Kalua kamu tidak makan. Kamu akan sakit dan Iqbal akan sedih ketika dia bangun mamanya sakit," ucap Vandy yang terus membujuk Azizi. Karena dia juga khawatir dengan kesehatan Azizi.
" Bagaimana aku makan. Jika kondisi Iqbal masih seperti ini," ucap Sasy yang kembali menangis.
" Kondisinya akan membaik, makanya kamu harus makan ya," ucap Vandy lagi. Vandy meraih tangan Azizi dan mengajaknya berdiri. Azizi menurut dan Vandy membawanya ke sofa dan mengambil makanan yang tadi di bawanya. Lalu langsung menghampiri Azizi dan memberikan Azizi makanan itu.
" Ayo di makan," ucap Vandy. Azizi perlahan mengambil kotak nasi itu dari tangan Vandy dan membukanya. Dengan perlahan dia menyendokkan nasi kemulutnya.
Tetapi baru sekali kunyahannya. Azizi menundukkan kepalanya dan menangis terisak-isak yang sepertinya tidak kuat. Dia hanya akan mengingat putranya. Verro langsung mendekatinya dan memeluknya dengan erat.
" Aku tau perasaan kamu. Kamu sangat ketakutan dengan kondisi Iqbal. Aku juga Azizi. Aku adalah ayahnya. Aku juga sangat takut dengan kondisi Iqbal. Tetapi kita sebagai orang tuanya harus terus berdoa. Agar Iqbal benar-benar sembuh," ucap Vandy yang mencoba memberikan Azizi pengertian.
" Kenapa harus Iqbal, kenapa harus anak seperti dia. Dia masih sangat kecil. Dia belum tau apa-apa. Tetapi kenapa harus dia yang menderita. Kenapa bukan aku saja. Kenapa bukan aku yang merasakan sakit itu," ucap Azizi yang menangis terisak-isak di pelukan Vandy.
" Karena Allah tau, jika Iqbal anak yang kuat. Makanya Allah memberikan dia cobaan ini. Dia istimewa Azizi, dia akan bisa melewati semuanya," ucap Vandy yang terus memberikan Azizi semangat. Vandy melepas pelukan itu dari Azizi dan mengusap air mata Azizi dengan ke-2 tangannya.
" Jangan menangis terus. Iqbal pasti akan sembuh. Kamu dan aku adalah orang tuanya. Kita harus lebih kuat di bandingkannya jadi jangan menangis lagi ya. Iqbal hanya akan sedih. Kalau kamu menangis. Dia tidak ingin melihat mama yang di cintainya menangis," ucap Vandy dan kembali memeluk Azizi.
Pelukan Vandy cukup nyaman untuk Azizi. Mungkin saja Iqbal hanya ingin mempersatukan orang tuanya agar kembali saling mencintai.
Karena dulu dia ada di dunia ini juga karena cinta. Walau hubungan itu salah yang tidak seharusnya di lakukan tanpa pernikahan. Tetapi ke-2nya sama-sama menyadari itu kesalahan dan mengambil hikmah pembelajaran dan menjadi orang yang lebih baik.
Karena pada dasarnya manusia tidak ada yang bersalah. Tetapi manusiawi yang hebat adalah berani mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab. Juga menjadi orang yang jauh lebih baik.
Bersambung
__ADS_1