
Varell dan Nadya yang makan bersama saling mengobrol, bahkan mereka saling tertawa yang sepertinya apa yang mereka ceritakan begitu lucu sampai tertawa-tawa.
Keduanya memang terlihat sangat dekat dan tidak seperti biasanya. Jika bertemu akan saling menghindar. Tetapi kali ini tidak sama sekali. Memang banyak hikmahnya dari komanya Verro dan Cherry yang semakin membuat mereka dekat.
" Kamu bisa aja," sahut Nadya yang tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit. Varell juga tertawa dan sangat dalam melihat wajah Nadya yang tertawa tanpa beban.
Mata Varell turun pada ujung bibir Nadya yang terdapat 1 butir nasi yang ada di sana.
" Maaf Nadya," ucap Varell dengan spontan mengusap kotoran itu dengan jarinya. Nadya yang merasakan sentuhan itu dek-dekan.
Bagaimana tidak dek-dekan, Varell begitu dekat dengannya dan bahkan menatapnya sangat dalam.
" Andai kita bisa selamanya seperti ini," batin Varell yang pasti sangat berharap banyak untuk hubungannya dengan Nadya kembali seperti awal lagi.
" Ya, Allah engkau yang perasaan ku kepadanya. Aku selalu bergetar saat dia menatapku. Aku selalu bergetar saat tangannya yang lembut itu menyentuhku," batin Nadya.
Ke-2 pasangan itu saling melihat tanpa mengedipkan mata masing-masing dengan perasaan mereka yang saling bicara.
Ceklek.
Pintu tiba-tiba di buka dan karena sibuk saling melihat dan sama-sama melamun sampai tidak menyadari pintu yang di buka. Yang ternyata seorang wanita paru baya yang tak lain adalah Helena mama Varell.
Helena sangat kaget melihat pemandangan yang mengusik mata itu. Matanya melotot dengan wajahnya yang memerah. Bahkan tangannya yang memegang kenopi pintu terlihat mengepal.
" Varell!" bentak Helena. Membuat Varell dan Nadya tersentak kaget. Dan Varell juga Nadya sama-sama terkejut saat melihat wanita yang menggertak mereka.
" Mama," lirih Varell.
" Tante Helena!" batin Nadya yang langsung panik.
" Bagus ya kamu. Jadi kamu masih berhubungan dengan anak saya," sahut Helena yang langsung marah-marah dan melangkah memasuki ruangan itu yang pasti ingin menarik Nadya. Namun Varell langsung berdiri untuk mencegah mamanya.
" Mama cukup," ucap Varell berdiri di depan mamanya, mencegah perbuatan mamanya dan Nadya langsung berdiri dan menunduk di belakang Varell.
" Apa-apaan sih kamu Varell, lepasin mama. Kamu masih menemui wanita ini. Jadi ini alasan kamu kerumah sakit hanya untuk wanita miskin ini," geram Helena yang marah-marah.
" Mah, cukup! jaga bicara mama. Jangan teriak-teriak di sini. Ini rumah sakit," ucap Varell mengingatkan.
" Mama tidak akan berteriak. Jika bukan karena dia!" tunjuk Helena pada Nadya, " kamu pasti sengajakan memanfaatkan kesempatan ini. Hanya untuk mendekati anak saya. Kamu itu memang perempuan tidak tau diri. Perempuan miskin. Kamu sadar tidak. Kamu tidak pantas untuk anakku," maki Helena penuh hinaan kepada Nadya. Nadya yang menunduk hanya menahan air matanya yang mendengar kata-kata pedas itu.
" Ma cukup!" bentak Varell
" Kamu membentak mama," sahut Helena yang menatap serius Varell dengan matanya yang melotot.
__ADS_1
" Ini bukan salah Nadya. Varell yang menemuinya. Jadi mama jangan menyalahkannya!" tegas Varell.
" Kamu membelanya. Kamu sadar tidak apa yang kamu lakukan!" geram Helena.
" Maaf Tante," sahut Nadya.
" Diam kamu!" bentak Helena membuat Nadya tersentak.
" Keluar kamu dari sini. Jangan pernah kamu menemui Varell lagi. Itu berarti kamu juga tidak bisa datang kerumah sakit ini. Kamu seharusnya sadar level kamu itu sangat rendah dan tidak pantas ada di sini," tegas Helena. Nadya hanya bersabar dengan kata-kata itu.
" Pergi dari sini sekarang!" usir Helena yang menunjuk pintu.
" Baiklah!" sahut Nadya yang langsung pergi melewati Varell dan mamanya.
" Nadya tunggu!" panggil Varell yang ingin mengejar Nadya.
" Mau kemana kamu!" cegah Helena menahan tangan Varell.
" Mama keterlaluan, tidak pantas mama mengatakan itu pada Nadya. Mama benar-benar sangat keterlaluan," geram Varell.
" Terus saja kamu membelanya. Jangan sampai Varell mama melakukan kejadian beberapa tahun lalu," ucap Helena dengan mengancam Varell. Dan Varell sama sekali tidak bisa berkutik lagi.
Nadya menyeka air matanya keluar dari ruangan itu. Dan sesaat itu juga. Sasy, Toby, Raquel, dan Vandy datang yang ingin memasuki ruangan Cherry dan Verro.
" Aku tidak apa-apa, aku pulang dulu," jawab Nadya bohong dan langsung pergi.
" Nadya!" panggil Raquel yang melihat Nadya lari.
" Apa yang terjadi?" tanya Sasy heran. Toby pun langsung membuka pintu dan melihat Helena dan Varell yang sedang berdebat di dalam sana.
" Tante Helena!" ucap Toby.
" Apa, Tante Helena ada di dalam!" pekik Sasy. Toby mengangguk.
" Ya berarti jelas. Semuanya karena Tante Helena," sahut Raquel.
" Pasti Tante Helena bicara yang tidak-tidak sama Nadya. Makanya Nadya sampai nangis gitu," sahut Vandy.
" Kasihan Nadya," sahut Sasy.
" Tante Helena kenapa sih. Tidak merestui hubungan mereka saja. Apa baginya status sosial sangat penting," ucap Toby yang terlihat berpikir keras.
" Kita harus bantuin Nadya dan juga Varell. Kasihan mereka. Mereka itu saling mencintai. Namun harus berpisah. Karena Tante Helena yang tidak memberi restu," ucap Sasy.
__ADS_1
" Aku setuju. Kita harus pikirkan untuk menyatukan hubungan mereka," sahut Raquel yang dengan cepat langsung setuju. Vandy dan Toby saling mengangguk. Mereka juga jelas setuju yang penting sahabat mereka baik-baik saja.
***********
Raquel berlari menaiki anak tangga yang sepertinya ada hal penting.
" Aldo! Aldo!" teriak Raquel yang memanggil-manggil nama Aldo yang pasti ada sesuatu yang ingin di sampaikan Raquel. Tanpa mengetuk pintu Raquel langsung membuka kamar Aldo dan ternyata Aldo sedang berganti pakaian dan dengan cepat Raquel membalikkan tubuhnya.
" Ada apa Raquel?" tanya Aldo. Raquel yang berbalik badan sudah malu yang masuk sembarangan dan hasilnya melihat hal itu.
" Raquel, kamu kenapa?" tanya Aldo.
" Pakai saja bajumu dengan cepat!" ucap Raquel dengan kesal.
" Sudah selesai. Berbalik lah," ucap Aldo dan dengan perlahan Raquel langsung berbalik dan matanya masih terpejam.
" Benar sudah selesai!" tanya Raquel yang tidak percaya.
" Iya, bukalah matamu," ucap Aldo dan Raquel pun perlahan membuka matanya.
" Kebiasaan tidak mengunci pintu," desis Raquel.
" Lalu kenapa kamu tidak mengetuknya?" tanya Aldo dengan tenang membuat Raquel salah tingkah yang tidak tau harus menjawab apa.
" Ini kan rumahku jadi terserahku," sahut Raquel yang langsung menjawab cepat.
" Oh, iya benar," sahut Aldo yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, " ada apa kamu memanggil ku?" tanya Aldo.
Raquel mendekati Aldo dan berdiri di depan Aldo.
" Ada kabar bahagia," ucap Raquel dengan wajahnya yang sudah bahagia.
" Apa itu?" tanya Aldo penasaran.
" Aldo, memang benar bukan kamu. Bukan kamu yang ada di vidio itu. Temanku sudah bisa membuktikannya dan sekarang Sasy sama Toby sedang di kantor Polisi untuk mengurus masalah itu. Kamu tidak bersalah Aldo. Bukan kamu Aldo," ucap Raquel dengan matanya berkaca-kaca memberikan kabar bahagia itu.
Aldo masih bengong yang pasti schock jika kebenaran akan terungkap secepat itu.
" Aldo, aku bilang juga apa. Bukan kamu. Kamu tidak bersalah. Bukan kamu pria itu," ucap Raquel lagi.
" Kamu serius Raquel?" tanya Aldo yang masih tidak percaya. Raquel bisa membuktikan semua itu.
" Aku serius. Ayo kita kekantor Polisi, kita harus menyelesaikan semuanya. Nama baik kamu akan kembali. Karena pada dasarnya kamu tidak bersalah," ucap Raquel. Aldo meneteskan air matanya yang akhirnya kebenaran berpihak kepadanya.
__ADS_1
Bersambung