DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 358 Sendiri.


__ADS_3

Toby rasanya tidak mungkin membiarkan Sasy pergi begitu saja. Dia harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Sasy. Toby pun langsung keluar dari mobil dan mengejar Sasy yang berjalan di pinggir jalan di tengah banyaknya kendaraan yang melintas.


" Sasy, dengarkan aku dulu," ucap Toby dengan memegang pergelangan Sasy.


" Lepaskan aku!" bentak Sasuke dengan melepaskan tangannya dari Toby. Dan menghadap Toby, wajah Sasy sudah penuh dengan kemarahan dengan air matanya yang juga terus keluar.


" Sasy kamu tidak bisa memutuskan hubungan kita begitu saja," sahut Toby yang tampak tidak terima.


" Kenapa? apa gunanya aku pacaran dengan laki-laki yang tidak memiliki komitmen untuk menikah," sahut Sasy dengan suaranya yang menggelegar.


" Aku punya alasan untuk semua itu," sahut Toby.


" Apa alasannya, pikiran pendek, tidak mudah untuk menikah dan terlebih lagi kamu hanya menganut budaya Luar Negri. Itu alasan kamu," sahut Sasy dengan marah-marah yang tidak bisa mengendalikan dirinya.


" Sasy, kamu tidak bisa menyamakan pikiran ku, dengan Verro, Varell, Vandy dan Aldo," sahut Toby yang terus mencari pembelaan.


" Dan kamu juga tidak bisa Toby menyamakan pikiran ku dengan pikiranmu yang terlalu panjang dan terlalu mengikuti budaya kebarat-baratan kamu itu," geram Sasy menunjuk tepat di depan wajah Toby.


" Sasy, aku....!


" Cukup!" bentak Sasuke dengan mengangkat tangannya, " kamu dengar ya Toby.


Aku ini wanita dan aku menegaskan kepadamu. Jika kamu tidak bisa memberiku kepastian dalam pernikahan. Maka aku bisa mencari Pria yang memberiku kepastian," sahut Sasy dengan penuh penekanan dan penegasan.


" Semudah itu Sasy, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi," sahut Toby dengan suara rendahnya.


" Aku sangat kecewa kepadamu dan memang seharusnya kita tidak berpacaran. Jika aku tau seperti ini. Aku sangat menyesal berhubungan denganmu. Tidak ada wanita Toby yang mau hanya di jadikan sebagai pacar. Aku tidak bisa hanya seperti itu," ucap Sasy menegaskan.


" Lalu semua ini akan berakhir?" tanya Toby memastikan.


" Iya, aku rasa sudah cukup, kamu cari saja wanita yang sepemikiran dengan mu dan bukan aku orangnya," sahut Sasy. Mata Toby juga berkaca-kaca dengan mendengar berakhirnya hubungan mereka.


" Aku permisi, terima kasih untuk semuanya, makasih sudah ada untukku, makasih, sudah pernah mencintaiku, kita masing-masing saja, permisi Toby," ucap Sasy meneteskan air matanya lalu perlahan pergi dari hadapan Toby.


Air mata Toby menetes saat berakhirnya hubungan mereka dalam sekejap. Bahkan kakinya sama sekali tidak bisa melangkah untuk mengejar Sasy kembali. Di mana Sasy sekarang sedang memberhentikan Taxi.


Sasy memasuki Taxi dengan aliran air matanya yang deras yang beberapa kali di hapusnya. Sasy masih menengok kebelakang di mana Sasy melihat Toby yang meremas rambutnya dengan ke-2 tangannya yang mana Toby pasti juga stress dengan berakhirnya hubungannya dengan Sasy.


" Aku kecewa Toby, kamu sungguh keterlaluan. Kamu benar-benar keterlaluan Toby," lirih Sasy yang sudah tidak malu menangis senggugukan di dalam Taxi. Supir Taxi bahkan melihat Sasy dari kaca spion seakan ingin bertanya apa yang terjadi. Tetapi tidak mungkin supir Taxi harus bertanya kepadanya.


*********


Malam hari Sasy tidak pulang kerumahnya entah di mana dia berada. Dia duduk di salah satu kursi dengan menagis senggugukan, dengan ke-2 tangannya yang menutup wajahnya.

__ADS_1


" Hiks, hiks, hiks, Sasy kamu tidak salah, kamu tidak salah Sasy, ini keputusan yang tepat kamu tidak salah mengambil keputusan itu, kamu tidak salah Sasy," ucapnya yang berbicara sendiri yang merasa tindakannya benar.


Sasy yang merasa butuh seseorang untuk curhat mencoba mengambil handphonenya di mana Sasy melihat kontak dan mencoba menelpon Cherry. Dia harus bertukar pikiran dengan Cherry karena dia butuh teman. Sasy langsung menelpon Cherry.


Dratt-dratt-drattt.


Ponsel Cherry berdering di atas nakas dan sementara Cherry sedang tertidur pulas bersama dengan Verro. Cherry yang berada di dalam pelukan Verro.


Ponsel Cherry yang terus berdering akhirnya membuat Verro terbangun. Verro meraba-raba nakas dan mengambil handphone Cherry. Matanya yang terbuka sipit melihat panggilan masuk itu yang ternyata dari Sasy dan Verro langsung mengangkatnya.


" Ada apa Sasy?" tanya Verro dengan suara seraknya.


" Cherry di mana Verro?" tanya Sasy.


" Lagi tidur, memang ada apa?" tanya Verro.


" Aku ingin bicara dengannya, aku ingin cerita dengannya," jawab Sasy. Verro melihat istrinya yang masih tertidur pulas.


" Besok aja ya Sasy. Cherry sudah tidur, dia kelihatan lelah kan kamu tau sendiri dia sedang hamil, jadi besok aja ya," ucap Verro yang tidak tega membangunkan istrinya.


" Hmmm, begitu rupanya, ya sudah," sahut Sasy tampak kecewa. Verro hanya berdehem dan langsung menutup telpon.


" Apa sih malam-malam yang mau di ceritakan. Kayak nggak ada hari esok aja," batin Verro geleng-geleng dan mengembalikan handphone Cherry ke tempatnya semula. Lalu kemabli tidur dengan memeluk Cherry.


Dratt-dratt-drattt ponsel Azizi berdering di atas nakas di dalam kamar di mana Iqbal yang di atas tempat tidur yang sedang bermain game mendengar bunyi ponsel itu dan langsung mengangkatnya.


" Hallo Tante Sasy ada apa?" tanya Iqbal yang mengangkat telpon itu.


" Iqbal, mama ada di mana?" tanya Sasy yang sebagai penelpon.


" Hmmm, mama dan papa lagi di kamar mandi," jawab Iqbal melihat ke arah kamar mandi.


" Hmmm, begitu ya, bisa di panggilan mama tidak?" tanya Sasy.


" Hmmm, bentar ya Tante," sahut Iqbal yang langsung turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


Tok-tok-tok-tok.


" Ma pah!" ucap Iqbal mengetuk-ngetuk pintu.


" Ada apa Iqbal?" tanya Vandy dan Sasy yang menelpon kau di sana mendengar suara Vandy.


" Tante Sasy mau bicara sama mama," jawab Iqbal yang masih di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


" Besok aja Iqbal, lagian ini sudah malam, ngapain juga nelpon malam-malam. Sudah tau suami istri pribadinya kalau malam banyak. Malah ganggu aja," sahut Vandy yang bicara asal-asalan. Namun Sasy yang menelpon jelas mendengar suara itu dan membuat air matanya menetes.


" Tante Sasy papa bilang mama tidak bisa," sahut Iqbal dengan polos.


" Hmmm, iya Toby, tidak apa-apa. Makasih ya," ucap Sasy yang menurunkan handphone itu dari telinganya. Sasy menyeka air matanya yang berusaha untuk tidak sakit hati dengan kata-kata Vandy yang jelas menyakitkan. Vandy juga tidak ada maksud bicara seperti itu. Mungkin saja dia dan Azizi memang lagi Private di dalam kamar mandi makanya Iqbal saja tidak boleh masuk.


Sasy yang masih pada tempanya kembali melihat kontaknya dan menelpon Raquel. Tidak lama telpon itu pun terangkat.


" Hallo Sasy kenapa?" tanya Raquel.


" Kamu lagi di mana?" tanya Sasy.


" Di rumah, memang ada apa?" tanya Raquel.


" Bisa bicara tidak aku mau cerita," ucap Sasy.


" Hmm, memang ada apa?" tanya Raquel.


" Raquel...."


" Sayang lagi apa?" tiba-tiba terdengar suara Aldo yang memeluk Raquel dari belakang yang mana Raquel duduk di pinggir ranjang.


" Lagi telpon Sasy!" jawab Raquel.


" Hmmm, lalu aku bagaimana?" tanya Aldo yang tampaknya menuntut sesuatu.


" Isssh kamu ini benar-benar ya," sahut Raquel menatap kesal Aldo. " Hmmm, Sasy besok aja ya, maklumlah kalau sudah punya suami jadi ada-ada saja permintaannya. Jadi besok aja ya," ucap Raquel dengan nada yang sambil tertawa-tawa.


" Iya," sahut Sasy dengan suara serak.


Belum mematikan telpon Sasy malah mendengar Aldo dan Raquel yang bercanda dengan Raquel yang tertawa cekikikan yang mana Aldo sedang menggelitiki nya. Sasy hanya mendengarkan keromantisan pasangan yang pasti sedang perang di atas ranjang. Maklum Raquel dan Aldo juga pengantin baru.


Sasy langsung mematikan telpon itu yang tidak mungkin mendengarkan lebih banyak tentang keintiman Raquel dan Aldo.


Sasy menekan kontak Nadya. Saat ingin menelpon dia langsung mengurungkan niatnya.


" Aku tidak mungkin menelpon Nadya. Dia juga sudah menikah dengan Varell dan malam ini adalah hari bahagia mereka. Aku mana mungkin menelponnya. Sasy seharusnya kamu sadar diri. Mereka sudah menikah, mereka tidak sama sepertimu yang mempunyai urusan sendiri. Mereka sudah ada suami yang menjadi prioritas mereka. Sementara kamu. Kamu masih single dan kamu tidak bisa menyamakan diri kamu dan juga mereka," ucap Sasy yang kembali di sadarkan dengan statusnya yang berbeda dengan teman-temannya.


" Aku benar-benar sendirian, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku tidak bisa menceritakan apa-apa. Sasy kamu mulai sekarang harus belajar untuk mendiri dan merepotkan teman-temanmu. Kamu tidak bisa menyamakan kamu dengan mereka," ucap Sasy terisak-isak.


Sasy semakin sedih, dia benar-benar sendirian sekarang, saat dia dan Toby ada masalah teman-temannya sibuk dengan pasangan masing-masing. Hal itu semakin membuat Sasy memang orang yang berbeda.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2