
Pagi hari di kamar Azizi dan Vandy. Ternyata benar. Malam yang hanya modus anak itu berlanjut dengan kangen-kangenan dalam adegan romantis di atas ranjang.
Azizi yang bangun terlebih dahulu sudah mandi dan sekarang keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Sementara Vandy masih tertidur nyenyak tanpa pakaian dan hanya tertutup selimut.
Azizi tersenyum tipis dan mendekati ranjang duduk di samping Vandy dengan mengusap-usap rambut Vandy. lalu mencium lembut kening Vandy.
" Vandy bangun sudah pagi. Kamu harus Kerumah sakit," ucap Azizi membangunkan lembut suaminya itu. Mendengar suara indah itu langsung membuat Vandy terbangun.
Vandy langsung tersenyum melihat istrinya yang cantik yang pagi-pagi sudah membangunkannya dan ini yang pertama kali untuknya di bangunkan dengan lembut seperti itu.
" Kenapa malah tersenyum ayo bangun. Ini sudah siang nanti kamu terlambat," ucap Azizi.
" Bagaimana aku tidak tersenyum saat bangun langsung melihatmu dan bahkan mendengar suara lembut mu," jawab Vandy. Azizi tersenyum mendengarnya.
" Ya sudah sekarang bangun," ucap Azizi. Vandy meraih tangan Azizi dan mencium lembut tangan itu.
" Terima kasih Azizi. Kamu sudah menerima ku kembali. Aku tidak percaya jika hal ini datang juga," ucap Vandy yang merasa begitu bahagia. Azizi mengangguk tersenyum.
" Vandy aku rasa semuanya sudah cukup. Aku istrimu. Ego harus kita hilangkan. Aku tidak ingin berpikir panjang-panjang lagi. Aku hanya ingin. Kita berdua menjalin rumah tangga dengan penuh kebahagian," ucap Azizi yang benar-benar menerima Vandy kembali.
" Makasih ya. Aku janji aku akan menjadi suami yang baik untukmu menjadi ayah untuk Iqbal dan calon bayi kita nanti," ucap Vandy.
" Amin, kamu jangan membuatku kesal ya dengan berhubungan dengan guru Iqbal," ucap Azizi dengan wajah kesalnya. Vandy hanya tertawa mendengarnya.
" Ishhhh, kenapa tertawa," sahut Azizi kesal.
" Seharusnya huru Iqbal datang lebih awal dalam kehidupan kita supaya kita bisa seperti ini," sahut Iqbal.
" Ishhhh," desis Sasy kesal. " Sudah ah kamu sana mandi, aku mau buat sarapan dulu," ucap Azizi yang langsung berdiri. Namun Vandy menarik tangannya dan menarik Azizi kedalam pelukannya. Memeluknya erat.
" Ishhh, Vandy!" ucap Azizi kaget dengan berada di atas tubuh Vandy.
" Sebentar saja. Aku ingin memelukmu," ucap Vandy dengan manja.
" Tapi kami harus kerumah sakit. Kamu bisa telat nanti," ucap Azizi mengingatkan.
" Aku tidak peduli," sahut Vandy. Azizi pun pasrah dengan Vandy yang masih memeluknya dengan erat.
Hubungan mereka benar-benar membaik. Semuanya juga berkat kesabaran Vandy terhadap Azizi. Dan semuanya berhasil. Sekarang hanya kebahagian yang pasangan dapatkan itu. Sudah saling berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan itu.
************
__ADS_1
Fiona berada di dalam mobil yang terparkir di depan rumah sakit.
" Verro sudah siuman, sebaiknya aku menemuinya. Verro masih peduli padaku. Aku yakin dia akan melupakan apa yang terjadi dan Verro tidak akan percaya dengan kata-kata teman-temannya itu. Jadi aku harus menemuinya," batin Fiona yang memang tidak ada jeranya.
" Aku harus cepat menemuinya," ucapnya yang langsung keluar dari mobil yang langsung memasuki rumah sakit.
Fiona masih saja berusaha untuk mendekati Verro. Kalau memang orang obsesinya sudah tinggi mau gimanapun akan tetap seperti itu. Ketika mendengar Verro sudah sadar dengan entengnya Fiona datang kerumah sakit untuk melihat Verro dengan harapan yang banyak.
Verro dan Cherry sedang berada di luar di mana Cherry yang duduk di atas kursi roda dan Verro duduk di salah satu kursi di taman rumah sakit dan kursi roda Cherry menghadap Verro.
Mereka ber-2 sedang menikmati spageti yang tadi di bawakan Vandy untuk mereka dan di sini Cherry pasti menyuapi suaminya untuk menikmati spageti yang lekat itu.
" Enak?" tanya Cherry.
" Hmm, ini enak. Vandy mentang-mentang sudah menikah, sudah punya anak dan istrinya hamil sekarang makin pelit. Masa iya kita ada 2 tapi hanya membelikan 1 apa dia begitu pengiritan sekarang," oceh Verro yang menggibahi suaminya itu.
" Ya namanya juga sudah berkeluarga. Kan kamu tau sendiri biaya anak itu mahal. Jadi harus belajar untuk berhemat demi masa depan anak," sahut Cherry.
" Tapi aku tidak," sahut Verro, " walau nanti anak kita sudah lahir. Aku tetap tidak akan pelit. Aku akan lebih bekerja keras. Supaya bisa royal pada istriku. Aku tidak mau melihat istriku kekurangan sedikitpun," ucap Verro. Cherry tersenyum mendengarnya.
" Iya deh, maunya kamu," sahut Cherry mengangguk-angguk saja.
" Kamu mau minum?" tanya Verro. Cherry mengangguk cepat.
" Ya sudah. Kamu tunggu di sini dulu. Aku akan mengambilkan minum untukmu," ucap Verro.
" Ambil di mana?" tanya Cherry.
" Di dekat sini kan ada mini market. Jadi aku akan membelikannya," ucap Verro yang langsung berdiri.
" Tunggu!" Felly langsung menahan suaminya itu.
" Ada apa?" tanya Verro heran.
" Boleh request minum apa?" tanya Cherry. Verro mengangguk tersenyum.
" Mau susu strawberry," ucap Cherry.
" Baiklah sayang. Kamu tunggu di sini ya. Aku akan membawakan susu strawberry yang banyak untukmu," ucap Verro.
Cherry langsung mengangguk dengan senyum cerianya. Dan akhirnya Verro pun pergi untuk mengambilkan permintaan istrinya. Maklumlah Cherry sudah lama tidak menikmati minuman kesukaannya itu.
__ADS_1
Cherry menunggu Verro di tempatnya semula dan tiba-tiba Fiona yang melihat Cherry langsung menghampiri Cherry.
" Cherry!" panggil Fiona. Cherry langsung melihat kearah suara memanggilnya dengan memutarkan kursi rodanya. Betapa terkejutnya Cherry saat melihat siapa yang memanggilnya yang tak lain adalah Fiona.
" Fiona!" lirih Cherry dengan wajah kagetnya dengan kehadiran Fiona.
" Di mana Verro?" tanya Fiona dengan tidak tau malunya menanyakan hal itu.
" Apa katamu. Kamu menayakannya. Kamu tidak tau diri ya Fiona. Bisa-bisanya kamu datang kemari. Setelah apa yang kamu lakukan. Kamu masih berani menemuiku," geram Cherry yang langsung naik pitam.
" Cherry. Aku tau kamu marah kepadaku. Tapi kamu juga tau. Aku mencintai Verro dan kamu harus ingat saat di Yayasan. Di mana di dalam kamarku aku dan Verro sedang berduaan. Jadi kamu seharusnya bisa menarik kesimpulan. Bukan hanya aku yang mencintai Verro. Tetapi Verry juga sudah mulai menyukaiku," ucap Fiona dengan percaya dirinya yang mulutnya benar-benar sangat enteng bicara.
Cherry sampai mengepal tempat makanan spageti yang masih ada isinya itu. Dengan penuh kemarahan dan emosi. Cherry langsung melempar spageti tersebut ke wajah Fiona. Sehingga wajah Fiona penuh dengan spageti.
" Tutup mulutmu!" bentak Cherry yang penuh amarah. Namun Fiona terlihat shock dengan perbuatan Cherry.
" Cherry kau!" Fiona tampak tidak terima dengan perbuatan Cherry dan ingin menampar Cherry. Namun tangannya tertahan dan ternyata Verro datang tepat waktu mencengkram kuat tangan Fiona.
" Verro!" lirih Fiona yang melihat Verro. Dengan penuh kemarahan Verro langsung menjatuhkan tangan Fiona dengan kasar, saking kasarnya sampai Fiona terjatuh dan terduduk di kaki Cherry.
" Berani sekali kau datang kemari!" tunjuk Verro menekan suaranya melihat tajam Fiona.
" Verro, aku...."
" Jangan menyebut namaku!" bentak Verro yang membuat Fiona tersentak.
" Kau dengar aku Fiona. Aku tidak akan bicara 2 kali kepadamu. Jika kau berani sekali lagi menyentuh istriku sedikitpun. Maka kau siap-siap saja. Aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan yang lebih parah dari ini," ucap Verro memberikan ancaman yang tegas kepada Fiona.
" Kau itu farasit, sampah yang sudah menghancurkan keluargaku. Jadi jangan berani-berani menyebut namaku dan juga datang menemuiku!" tegas Verro pada Fiona.
Fiona mendengarnya kelihatan diam saja tanpa bisa berkata apa-apa. Matanya hanya melotot dengan berkaca-kaca yang mendapat penghinaan besar dari Verro.
" Ayo sayang kita pergi dari sini!" ucap Verro mengajak istrinya. Cherry mengangguk. Verro pun langsung mendorong kursi roda istrinya meninggalkan wanita yang benar-benar sudah sakit jiwa itu.
" Verro tunggu!" panggil Fiona yang masih berusaha. Namun Verro memang tidak akan goyah lagi oleh Fiona.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Tiba-tiba Fiona batuk-batuk dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan saat membukanya tiba-tiba keluar darah.
" Verro! tolong aku!" panggil Fiona yang terus batuk-batuk. Namun sorry Verro sama sekali tidak menengok sedikitpun.
Bersambung
__ADS_1