
Nadya dan Varell pun tiba di rumah sakit dan langsung mencari di mana sang mama di rawat, Nadya dan Varell terlihat begitu terburu-buru dengan paniknya mereka yang begitu takut jika sang mama sampai kenapa-kenapa.
" Sayang di sana!" tunjuk Varell yang menurutnya tempat mamanya di rawat. Nadya mengangguk saja dan mengikuti kemana suaminya itu membawanya sampai mereka melihat asisten sang mama dan Varell pun langsung kesana bersama Nadya.
" Bagaimana mama?" tanya Varell panik kepada Pria paru baya yang berkaca mata itu.
" Nyonya masih kritis tuan," sahut Pria itu. Mendengar kata kritis membuat Varell dan Nadya terkejut dan semakin panik.
" Mama," lirih Varell yang ingin masuk. Namun langsung di tahan oleh asisten tersebut.
" Jangan tuan. Dokter sedang menangani nyonya," cegah Pria itu menahan tangan Varell yang ketakutan dan benar-benar ingin melihat kondisi mamanya.
" Sayang kamu tenang ya," ucap Nadya yang berusaha untuk menenangkan suaminya itu.
" Nadya mama, mama!" lirih Varell yang benar-benar ketakutan. Nadya langsung memeluk suaminya yang berusaha menguatkan suaminya itu.
" Sayang mama akan baik-baik aja. Percaya padaku. Kamu jangan khawatir Dokter sedang menangani mama. Percayalah sayang mama pasti baik-baik saja," ucap Nadya yang terus berusaha untuk menenangkan suaminya yang sudah menagis.
Walau marahan pada mamanya atau semenjak menikah memilih untuk memutus hubungan. Karena memilih wanita yang di cintainya. Kabar kecelakaan itu membuat Varell begitu khawatir dan pikirannya yang sudah entah kemana-mana.
***********
Cukup lama Dokter menangani Helena. Namun Helena belum siuman dan masih dalam perawatan yang serius. Varell, Nadya dan asisten Helena sudah di perbolehkan melihat Helena yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan hidungnya yang di beri alat pernapasan.
Luka yang di alami Helena sepertinya cukup parah dengan kepala yang di perban dan juga kaki terlihat menggunakan alat yang tidak tau apa namanya. Tetapi kaki kiri itu terlihat di penuhi perban. Nadya dan Varell berdiri di samping Helena dengan Varell yang menatap sendu Helena.
" Kenapa mama bisa seperti ini?" tanya Varell pada Asisten mamanya itu.
" Menurut keterangan polisi, mobil nyonya mengalami rem blong tuan, saya tiba di lokasi nyonya masih di dalam mobil yang hampir terbakar dan untungnya nyonya masih bisa di keluarkan sebelum mobilnya meledak tuan," jawab Asisten tersebut dengan sedikit penjelasan.
" Astagfirullah Al Azdim, untung saja mama masih bisa di keluarkan dengan selamat," sahut Nadya.
" Apa mobil mama tidak di periksa saat ingin pergi. Kenapa tiba-tiba jadi rem blong," sahut Varell.
" Seperti biasa tuan. Jika hendak berpergian mobil selalu di periksa," jawab Asisten tersebut.
" Kalau di periksa kenapa bisa terjadi seperti ini!" gertak Varell menaikkan volume suaranya.
" Sayang sudah, kamu jangan menyalahkan dia. Sayang ini itu musibah, kamu tenangkan diri dan jangan mikir apa-apa. Kita sebaiknya mendoakan mama," ucap Nadya yang berusaha membuat suaminya itu mengerti.
" Aku takut mama kenapa-kenapa," ucap Varell.
" Mama tidak akan apa-apa. Percaya padaku. Kita akan menjaga mama sampai mama sembuh. Kita akan di sisinya menjaganya dan juga mendoakannya. Percayalah sayang mama pasti baik-baik saja," ucap Nadya yang terus menenangkan suaminya itu.
" Pak sebaiknya bapak pulang. Biar mama kami yang jaga," ucap Nadya menyuruh Pria yang di marah-marahi itupun pulang.
" Baiklah Bu," sahut Pria itu yang langsung pergi. Varell duduk di samping mamanya dan Nadya mengusap-usap punggung Varell yang selalu memberikan kekuatan untuk suaminya. Varell meraih tangan Nadya dan melihat kearah Nadya dengan kepalanya yang terangkat.
" Tidak apa-apa kan. Jika kamu menemaniku untuk menjaga mama," ucap Nadya.
" Tidak apa-apa sayang. Aku kan sudah bilang tadi. Kalau kita ber-2 akan menjaga mama bersama-sama. Aku sangat bahagia. Jika berdua benar-benar akan menjaga mama," ucap Nadya yang sangat tulus pada ibu mertuanya itu.
" Makasih Nadya," ucap Varell. Nadya tersenyum dengan mengusap-usap punggung suaminya lagi.
" Ya Allah semoga mama cepat sembuh. Hilangkan rasa di alaminya dan berikan di kesehatan dan panjang umur," batin Nadya yang menatap nanar ibu mertuanya itu.
" Mah lihatlah menantu mama. Tanpa membenci mama sedikit pun. Lihat dia ma, dia begitu panik dan ingin menjaga mama. Dia tidak memperdulikan apa yang mama katakan dan yang mama lakukan kepadanya. Baginya yang terpenting kesehatan mama. Dia yang ada di sini untuk menemani Varell ma," batin Varell yang salut dengan kebesaran hati istrinya.
***********
" Sayang!" panggil Cherry memasuki kamar dengan terburu-buru dan melihat Verro yang sedang membuka lemari untuk berganti pakaian untuk pergi kerumah sakit.
" Ada apa sayang," sahut Verro yang melihat istrinya yang terlihat terburu-buru dan wajah istrinya itu terlihat panik.
" Aku baru dapat telpon dari Nadya. Katanya Tante Helena mengalami kecelakaan tadi malam dan sekarang ada di rumah sakit," ucap Cherry yang berbicara terlihat terburu-buru.
" Astagfirullah," sahut Verro yang tidak kalah kagetnya, " lalu bagaimana kondisi Tante Helena?" tanya Verro.
" Sampai saat ini masih belum sadar," jawab Cherry.
__ADS_1
" Di rumah sakit mana Tante Helena di rawat?" tanya Verro.
" Di rumah sakit tempat kamu bekerja," jawab Cherry.
" Ya sudah kita kesana aja," sahut Verro yang langsung memutuskan.
" Tapi kita ketempat ibu Nadya dulu ya. Tadi Nadya minta tolong untuk mengambilkan pakainnya dan Varell yang sudah di siapkan Bu Nani. Karena mereka tidak bisa meninggalkan Tante Helena," ucap Cherry.
" Ya sudah sayang. Kamu langsung siap-siap aja. Biar nanti kita mampir kerumah mereka untuk mengambil pakaian Nadya dan juga Varell," ucap Verro. Cherry mengangguk dan langsung buru-buru untuk siap-siap.
***********
Seperti biasa Sasy akan kerumah sakit untuk melakukan aktivitas dari pagi sampai malamnya dan karena kekasihnya sudah sembuh jadi bisa di anter deh sekalian. Dan bukan hanya itu memang Toby bersengaja datang kerumah sakit untuk menjenguk Helena. Karena Nadya juga mengabari Toby dan juga Sasy.
Begitu mobil yang di kendarai Toby sampai mereka langsung keluar dari dalam mobil dan langsung pergi memasuki rumah sakit dengan tangan yang pasti tidak akan bisa di lepas genggamnya.
" Ternyata di sana juga sudah ada Cherry, Verry, Raquel, Aldo, Vandy, Azizi, yang sudah datang lebih awal untuk memberikan semangat Varell.
" Pagi," sapa Sasy.
" Pagi sahut semuanya serentak. Sasy dan Toby langsung mendekati Helena yang masih kritis.
" Bagaimana Tante Helena?" tanya Toby.
" Beginilah, mama belum juga sadar," jawab Varell yang sejak tadi malam tidak tidur. Karena ingin memantau perkembangan sang mama.
" Sabar ya Varell," sahut Sasy. Varell hanya mengangguk. Kedatangan teman-temannya memang membuatnya lebih semangat.
" Varell kamu sebaiknya istirahat," sahut Aldo memberi saran.
" Benar sayang kamu tidur dulu ya. Nanti kalau mama bangun aku pasti langsung bangun kamu," sahut Nadya yang mulutnya sudah berbusa menyuruh suaminya istrirahat.
" Iya Varell. Kamu jangan cuma-cuma gara-gara ego, kondisi kamu sampai menurun," sahut Vandy.
" Iya istirahatlah Varell," sahut Cherry menambahi. Akhirnya Varell mengangguk yang membuang keras kepalanya. Varell berdiri dan di bantu Nadya untuk membawa kesofa yang lumayan nyaman di sana, membatu suaminya untuk rebahan dan ketika sudah rebahan. Nadya langsung menyelimuti suaminya itu.
" Kamu tidur ya. Nanti kalau mama bangun aku akan bangunkan kamu," ucap Nadya. Varell mengangguk. Nadya mengusap rambut suaminya itu dan mencium keningnya dengan lembut. Ya suami istri memang harus seperti dalam keadaan apapun harus romantis no satu.
" Aku berangkat ya sayang," ucap Aldo pamit pada istrinya.
" Iya, kamu hati-hati ya," ucap Nadya mencium punggung tangan Varell dan juga Varell mencium kening Raquel, wajah Raquel seperti biasa. Sasy melihat hal itu tersenyum dan Toby menangkap Sasy yang begitu memperhatikan Sasy.
" Semuanya aku berangkat dulu," sahut Aldo.
" Hati-hati sahut semuanya serentak.
" Hmmm, ya sudah aku juga harus cek pasien," sahut Vandy.
" Iya aku juga," sahut Raquel.
" Ya sudah kalian bekerja lah. Lagian yang jagain mama juga banyak," sahut Nadya.
" Sayang kalau ada apa-apa, kamu panggil aku ya," ucap Vandy yang juga pamitan sama istrinya.
" Iya," jawab Azizi dan Vandy langsung keluar bersama Raquel.
" Ya sudah Nadya, ada Cherry, Azizi yang Nani kamu. Kalau ada apa-apa. Nanti biar Cherry panggil aku. Kamu jangan khawatir semuanya pasti baik-baik aja," ucap Verro.
" Iya Verro," sahut Nadya.
" Ya sudah aku cek pasien dulu," sahut Verro yang juga pamitan pada istrinya, seperti biasanya adegan cium sana cium sini dan lagi-lagi Sasy memperhatikan hal itu dan Toby selalu melihat ekspresi Sasy.
" Aku duluan Toby," sahut Verro menepuk bahu Toby.
" Iya Verro," sahut Toby. Verro pun akhirnya keluar.
" Hmmm, kamu tetap di sini?" tanya Sasy.
" Iya sayang, kalau kamu mau kerja. Kerjakan," jawab Toby.
__ADS_1
" Hmmm, ya sudah kalau begitu aku pergi dulu. Nanti aku akan sering-sering mengecek kemari kok," sahut Sasy.
" Iya Sasy, makasih," sahut Nadya. Sasy mengangguk dan langsung pergi.
" Hmmm, aku kekamar mandi dulu ya mau ganti pakaian," sahut Nadya.
" Ya sudah Nadya. Kami akan jaga Tante Helena," sahut Azizi. Nadya mengangguk dan langsung mengambil tas yang di bawakan Cherry dan langsung menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
" Aku cari makan sebentar. Kalian mau makan apa?" tanya tanya Toby.
" Apa aja deh Toby," sahut Cherry.
" Baiklah, aku keluar sebentar cari makanan," sahut Toby. Azizi dan Cherry mengangguk. Lalu Toby pun pergi untuk mencari makanan. Tinggal Azizi dan Cherry yang di samping Helena dan Varell sudah tertidur di sofa
" Kasian Tante Helena," ucap Azizi.
" Kita doakan aja supaya kondisinya baik-baik saja.
" Iya," sahut Azizi.
**********
Ternyata sampai malam hari Helena belum juga siuman. Nadya dan Varell tetap berada di sana. Sementara yang lainnya satu persatu pulang karena sudah malam juga.
Dan Sasy dan Toby Rencananya yang akan menemani Nadya dan juga Varell. Namun tadi Sasy pamit untuk ganti pakaian dulu dan sekarang sudah di jemput Toby dan mereka sedang di jalan menuju rumah sakit yang masih terjebak macet.
" Hmmm, Tante Helena belum siuman juga. Kasian Varell, dia pasti kepikiran terus," gumam Sasy.
" Apa kondisi Tante Helena parah?" tanya Toby.
" Bagian kakinya mengalami luka parah dan mengakibatkan kelumpuhan. Tapi tidak tau juga nanti bagaimana kalau sudah siuman," jawab Sasy.
" Semoga saja kondisinya baik-baik saja," sahut Toby.
" Amin," sahut Sasy.
" Macetnya lama sekali," keluh Sasy yang mulai bosan.
" Sabar sebentar lagi juga akan lancar jalannya," sahut Toby. Sasy mengangguk dan menyandarkan punggungnya di Jok mobil.
Tok-tok-tok-tok tiba-tiba jendela mobil di bagian Sasy di ketuk dan melihat anak kecil yang memberikan tangkai bunga. Sasy langsung menurunkan kaca mobilnya dan mengambil tasnya.
" Bentar ya dek," sahut Sasy yang mengambil uang untuk membayar setangkai bunga itu.
" Ini," ucap Sasy memberi uang dan mengambil bunga itu. Namun anak tersebut bukannya mengambilnya dan malah lari.
" Loh, kok lari dek ini bayarannya!" teriak Sasy heran.
" Aneh banget kan belum di bayar dia sudah pergi. Malah jauh lagi larinya," ucap Sasy melihat ke arah Toby. Toby mengangkat ke-2 bahunya.
" Kak!" tiba-tiba anak kecil memanggil lagi dan juga memberikan bunga lagi untuk Sasy lari begitu saja.
" Hey!" teriak Sasy sampai melihat kebelakang melihat anak itu lari kemana. Hal itu terus ada saja anak-anak kembali berdatangan dan memberikan Sasy setangkai mawar lagi dan Sasy benar-benar heran
" Kalian ini apa-apaan sih lagi sedalam bunga ya," sahut Sasy heran. Namun tangannya mengambil terus bunga mawar itu dari anak-anak yang berbeda-beda.
" Kak itu kak!" tunjuk salah satu anak yang menunjuk papa iklan Billboard dan anak itu langsung lari yang juga anak terakhir dan Sasy melihat kedepan yang di tunjuk anak tersebut pada papa iklan Billboard tersebut.
Betapa terkejutnya Sasy saat melihat papa iklan itu di mana foto-foto dirinya sejak SMA dan juga beberapa rekaman dirinya yang lari-lari tertawa.
Mata Sasy sampai melotot yang tidak percaya dengan iklan yang berdurasi 3 menit ternyata belum selesai di mana terlihat Toby yang berdiri dan membuka lipatan kertas besar
" Sasy Mau kah kamu menikah dengan ku!" tulisan yang jelas dan yang besar itu membuat Sasy terkejut sampai-sampai menutup mulutnya yang menganga yang tidak percaya Jika Toby akan melamarnya. Sasy langsung menoleh kesamping dan melihat Toby sudah membukakan kotak cincin untuknya.
Sasy semakin terkejut bahkan sampai air matanya menetes. Ternyata bunga-bunga itu adalah pemberian Toby untuk melamarnya di tengah macet.
" Maukah kamu menikah denganku?" tanya Toby lagi. Sasy menganggukkan kepalanya dengan tersenyum haru. Toby tersenyum dan langsung mengambil cincin itu memasangkan pada jari manis Sasy. Sasy benar-benar terharu yang tidak percaya yang akhirnya di lamar oleh kekasihnya itu.
" Terima kasih sudah menerima lamaran ku. Makasih sudah menungguku. Terima kasih untuk semuanya," ucap Toby. Sasy mengangguk dan langsung memeluk Toby dengan erat. Dia memang tidak pernah lagi menyinggung-nyinggung masalah pernikahan lagi dan pada akhirnya dia di lamar juga dengan cara yang begitu unik.
__ADS_1
Bersambung