
Fiona berada di dalam mobil. Yang terparkir di depan rumah sakit. Tampaknya Fiona sedang mengawasi rumah sakit. Karena sedari tadi Fiona sibuk melihat di sekitarnya.
" Bagaimana ini, kalau aku masuk nanti Sasy, Raquel atau yang lainnya akan melihatku. Mereka pasti akan marah-marah. Apa lagi mereka sudah tau kalau aku hanya pura-pura sakit yang ada mereka akan mempermalukan ku di depan umum. Jadi aku tidak mungkin masuk kedalam, itu sama saja aku mencari masalah," batin Fiona yang tampak ragu untuk masuk kedalam rumah sakit.
Jarinya terus mengetuk-ngetuk stir mobil dan kepalanya terus melihat-lihat ke arah dalam. Dia benar-benar ingin masuk kedalam. Tetapi juga seakan tau resiko apa yang akan di hadapinya.
" Apa yang harus aku lakukan, bagaimana caranya aku masuk ke dalam. Tetapi tidak ada yang melihatku. Aku harus memastikan kondisi Verro baik-baik saja. Aku harus tau keadaan Verro. Verro mengalami kecelakaan dan aku tidak mau kehilangannya. Aku harus tau keadaannya," Fiona terus bergerutu di dalam hatinya, kebingungan caranya masuk kedalam.
Tiba-tiba Raquel keluar dari rumah sakit dan langsung memasuki mobilnya. Yang sepertinya Raquel begitu buru-buru.
" Raquel. Dia sedang pergi, kayaknya Raquel akan lama pulangnya. Tapi mau kemana dia," batin Fiona yang penasaran yang melihat mobil Raquel melaju kencang.
" Ahhhhh, sudahlah Fiona untuk apa juga kamu memikirkannya yang penting dia sudah pergi. Berarti di dalam tinggal ada Sasy dan Vandy di dalam. Kayaknya mereka juga sibuk. Bukannya mereka harus mengurusi pasien. Berarti tidak ada orang yang menjaga Verro. Aku harus melihat ke adaannya," ucap Fiona.
Ting.
Tiba-tiba pesan wa masuk ke handphon Fiona dan dia langsung membukanya.
..." Fiona bagaimana ini. Kamu harus menolongku. Aku di jadikan tersangka penyebaran Vidio itu. Tolong aku," Tari....
" Ishhh, dia lagi-lagi, selalu menyusahkan," desis Fiona tampak emosi.
" Ahhhh, masa bodo, mau dia bagaimana, itu salahnya sendiri. Sebaiknya aku pergi menemui Verro saja. Masalah Tari itu bukan urusanku," ucap Fiona yang langsung memutuskan untuk memasuki rumah sakit dan mengabaikan pesan dari Tari yang sepertinya sedang mengalami kesulitan.
Fiona pun buru-buru membuka seat beltnya dan langsung keluar mobilnya. Caranya pun masuki rumah sakit seperti mengendap-endap layaknya seperti maling. Dia memang sangat takut, jika dia sampai berpapasan dengan orang-orang yang membencinya itu.
********
" Sasy!" panggil Vandy yang melihat Sasy keluar dari ruangannya.
" Hah! iya kenapa?" tanya Sasy menghentikan langkah.
__ADS_1
" Kamu mau kemana, kok kelihatan buru-buru amat?" tanya Vandy.
" Aku mau kebandara, aku mau jemput Toby. Soalnya Toby nggak ada yang jemput," jawab Sasy.
" Toby pulang?" tanya Vandy. Sasy mengangguk.
" Ya sudah aku jemput Toby dulu. Dia pasti sudah nungguin. Kamu cek ya kondisi Cherry dan Verro," ucap Sasy pamit dengan berpesan pada Vandy.
" Iya," jawab Vandy. Sasy pun langsung secepatnya. Dia memang harus menjemput pacarnya yang baru pulang bertugas. Gantian biasanya Toby yang selalu menjemput Sasy sekarang gantian.
" Astaga aku kelupaan sesuatu," ucap Vandy menepuk jidatnya.
" Ya sudahlah, sebaiknya aku pergi nanti saja aku memeriksanya kondisi Verro dan juga Cherry," ucap Vandy yang tidak jadi memasuki ruangan ke-2 sahabatnya itu.
Ternyata Fiona berada di balik tembok. Yang mengawasi Vandy dan juga Sasy.
" Ya memang keberuntungan berpihak kepadaku. Sekarang waktunya aku untuk masuk kedalam untuk melihat ke adaan Verro," batin Fiona yang kesenangan. Karena dia bisa masuk tanpa ada yang akan menghalanginya.
Ceklek.
" Mau ngapain kamu!" belum sempat ruangan itu terbuka tiba-tiba terdengar suara yang membuat Fiona tersentak kaget dan membalikkan tubuhnya perlahan dan melihat Nadya yang menegurnya.
" Hanya Nadya, untung saja hanya dia. Kalau Nadya sangat mudah, hanya bersandiwara sedikit aku yakin dia akan memberiku izin masuk," batin Fiona yang merasa tenang sedikit.
" Hmmm, Nadya, maaf jika kedatangan ku sangat mengganggu. Tetapi aku hanya ingin melihat keadaan Cherry, aku sangat khawatir pada Cherry. Aku terus kepikiran dengan kondisi Cherry. Jadi aku hanya ingin melihat kondisi Cherry," ucap Fiona dengan suara di lembutkannya. Bahkan wajahnya layaknya seperti orang benar terlihat nyata sangat panik.
" Ini semua salahku Nadya, aku hanya ingin melihat Cherry, aku ingin minta maaf padanya, aku..,"
Plakkkkkkk.
Belum sempat melanjutkan kata-katanya. Nadya Fiona sudah mendapat tamparan panas dari Nadya. Ya Fiona sangat terkejut yang tiba-tiba di tampar oleh Nadya. Sampai-sampai matanya melotot yang tidak percaya dengan Nadya yang biasanya sangat diam dan santai tetapi berani menamparnya.
__ADS_1
" Nadya, kamu menamparku," ucap Fiona dengan suara seraknya yang masih memegang pipinya.
" Itu pantas untukmu. Aku tidak tau Fiona sebenarnya kamu itu manusia atau bukan. Karena sepengetahuanku manusia itu masih memiliki hati dan juga rasa malu. Tapi kamu sungguh tidak memiliki semua itu. Setelah ala yang kamu lakukan. Kamu masih berani datang kemari dengan kata-kata manis mu yang seperti sampah itu," ucap Nadya yang berbicara dengan pedas yang membuat Fiona begitu terkejut sampai tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi.
" Sebaiknya kau pergi dari sini!" usir Nadya. Fiona mendengarnya mendengus kasar.
" Kau mengusirku. Kau pikir kau siapa dan kau berani menamparku. Tanganmu itu sangat tidak pantas menamparku dan aku harus membalasnya," ucap Fiona yang tidak terima di tampar Nadya dan Fiona mengangkat tangannya yang ingin menampar Nadya.
Namun beruntung tidak jadi karena tangan Fiona tertahan dan sementara Nadya sudah pasrah. Fiona pun melihat siapa yang menahan tangannya yang ternyata adalah Varell.
" Varell!" lirih Fiona. Varell langsung menghempaskan tangan Fiona dengan kasar. Sampai tubuh Fiona bergeser dan hampir saja terjatuh.
" Jangan berani-beraninya kau menyentuhnya," ucap Varell dengan matanya yang memerah seakan ingin menerkam Fiona.
" Kurang ajar, kenapa semuanya jadi begini," batin Fiona yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
" Sebelum aku memanggil polisi, sebaiknya kau pergi dari sini!" usir Varell dengan penuh ancaman.
" Kau masih diam!" gertak Varell yang penuh emosi.
" Pergi, aku bilang,!" gertak Varell lagi. Fiona merapatkan giginya,melihat Varell dan Nadya secara bergantian dengan menatap tajam pasangan itu.
" Aku akan membalas kalian," ucap Fiona yang memberikan ancaman dan pergi dengan penuh kemarahan.
" Dasar wanita gila, beraninya mengancam, sudah tau bersalah, masih mau coba-coba memberi ancaman," ucap Varell yang menenangkan dirinya. Ya emosinya terpancing oleh Fiona.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Varell mendekati Nadya.
" Tidak, aku tidak apa-apa. Makasih ya," jawab Nadya.
" Sama-sama, ya sudah ayo kita masuk!" ajak Varell. Nadya mengangguk dan akhirnya masuk bersamaan ke dalam ruangan Verro dan Cherry.
__ADS_1
Bersambung