
Nadya, Cherry, Raquel dan Sasy sedang bersama Azizi. Azizi sudah selesai di introgasi dan memang sangat di sayangkan keputusan yang di ambil kepala sekolah membuatnya harus di keluarkan.
" Are you oke?" tanya Cherry duduk di samping kiri Azizi mengusap pundaknya. Azizi menoleh ke arah Cherry tersenyum menyimpan kesedihan.
" Aku baik-baik saja. Memang itu sudah jadi resikonya, jadi aku tidak apa-apa," sahut Azizi berlapang dada.
" Maafkan aku. Aku sudah membohongi kalian. Aku menutup identitas penampilan ku. Agar bisa sekolah dengan baik. Tetapi akhirnya ketahuan dan kalian pasti kecewa," ucap Azizi merasa bersalah. Yang lain dengan cepat menggeleng.
" Tidak Azizi, apapun itu. Itu hak kamu. Kamu jelas punya alasan melakukan semua itu. Seperti yang kamu katakan. Kamu hanya ingin sekolah," sahut Nadya memegang tangan Azizi yang duduk di kanan Azizi.
" Lalu apa rencana kamu?" tanya Sasy yang duduk di depan Azizi di atas lantai.
" Aku tidak tau, mungkin aku akan cari sekolah yang jauh. Yang bisa mengubur aib ku. Sebenarnya aku sudah lelah. Banyak sekolah yang aku datangi dan aku harus keluar seperti ini. Karena pihak sekolah tidak bisa menerima ku," jelas Azizi dengan matanya yang bergenang.
" Pekerjaanku memang salah dan itu sudah resiko. Tetapi aku tidak menyangka ketika aku masuk sekolah ini. Ketika aku keluar dari ruang kepala sekolah. Masih ada yang mendukungku dan bahkan tidak mempertanyakan apa itu benar apa tidak. Aku tidak tau terbuat dari apa hati kalian sampai sebaik ini kepadaku," ucap Azizi meneteskan air matanya.
Dia sangat bahagia memiliki sahabat yang memang ada saat dia sangat hina dan dia anggap sampah oleh semua orang.
" Jangan nangis," sahut Sasy langsung mewek mengusap air mata Azizi.
" Makasih ya untuk semuanya, kalian sangat baik," ucap Azizi melihat satu persatu temannya itu.
" Raquel," tegur Azizi melihat Raquel yang berdiri di depannya.
" Maaf, jika apa yang aku lakukan, membuat kamu kesulitan. Aku juga lupa berterima kasih atas batalanya tuntutan kamu dan juga aku berterima kasih karena tindakan kamu yang masih memebela ku saat ini," ucap Azizi dengan tulus meminta maaf.
" Lupakan semuanya. Anggap saja itu juga sebagai balasan apa yang gue lakuin sama lo, gue juga minta maaf, pernah jahat sama lo," ucap Raquel dengan santai.
" Iya aku memaafkan," sahut Azizi.
" Makasih untuk kalian semua. Aku sangat bahagia bisa menghabiskan banyak moment bersama kalian. Termasuk kamu Cherry. Kamu sangat baik. Sasy kamu juga. Kalau beli barang kembaran sama Cherry dan Toby pasti aku juga dibelikan makasih ya," ucap Azizi membuat Sasy mewek dan meletakkan kepalanya di paha Azizi.
" Jangan bilang kayak gitu, aku jadi sedih," sahut Sasy.
" Nadya, makasih juga ya kamu selalu ajari aku kalau kesulitan mengerjakan soal," lanjut Azizi. Nadya mengangguk dan langsung merangkul Azizi.
" Sama-sama, aku yang makasih karena kamu sudah baik sama aku. Kamu mau berteman denganku," ucap Nadya.
__ADS_1
" Azizi meski tidak sekolah di sini, kamu jangan putus ya bersahabat dengan kita," ucap Cherry memeluk Azizi.
" Benar kamu harus kabari kita. Kamu sekolah di mana agar kita bisa kunjungi," ucap Azizi.
" Kamu juga jangan ganti nomor handphone," sahut Nadya
" Pasti, aku akan selalu mengabari kalian," sahut Azizi tersenyum lebar.
Merekapun memeluk sahabat mereka yang terakhir kalinya. Karena Azizi tidak akan bersekolah lagi ditempat mereka.
Raquel yang berdiri di depan mereka tersenyum melihat kehangatan itu. Dia sangat bahagia bisa diberikan kesempatan melihat kehangatan itu.
********
Azizi untuk yang sekian kalinya di keluarkan dari sekolah karena masalah dirinya. Keadaan memang membuatnya menjadi wanita malam. Padahal dia masih anak di bawah umur.
Tidak tau juga pastinya seperti apa kronologinya benar atau tidaknya. Karena Azizi juga tidak menceritakannya. Mungkin Azizi punya masalah dalam hidupnya yang memang tidak harus semua orang tau.
Azizi berjalan dengan lesu menghampiri ruangan V3. Sebelum dia meninggalkan sekolah itu. Dia harus menemui Vandy dulu. Karena Verro dan Varell sedang ada di taman bersama anak-anak. Berarti Vandy sedang ada di ruangan itu
Azizi sudah berada di depan pintu ruangan itu. Azizi menarik napasnya dan membuangnya perlahan kedepan. Saat ingin mengetuk pintu itu. Belum sempat pintu sudah dibuka.
Menampilkan sosok Vandy yang kaget melihat Azizi berdiri di sana. Mereka bahkan saling adu pandang dengan hati yang pasti bertanya-tanya.
" Aku ingin bicara," ucap Azizi.
" Aku harus kelapangan," sahut Vandy yang benar-benar tidak ingin bicara dan menutup pintu. Tetapi Azizi menahannya.
" Katakan kenapa menghindari ku. Kau menghindariku setelah malam itu?" tanya Azizi membuat Vandy menelan salavinanya dengan tatapan dinginnya.
Vandy memang menghindarinya dan dengan kejadian yang terjadi di sekolah juga membuat Vandy diam dan tidak melakukan apa-apa. Seakan tidak peduli.
" Aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu. Jadi pergilah," sahut Vandy yang benar-benar terang-terangan mengatakan di depan Azizi dan kembali mendorong pintu.
" Aku hamil," ucap Azizi tiba-tiba.
Sontak hal itu membuat Vandy kaget. Napas Vandy seakan naik turun dengan pengakuan Azizi.
__ADS_1
" Apa maksud kamu?" tanya Vandy dengan tubuhnya bergetar mendengar kehamilan Cherry.
" Aku sudah mengatakan aku hamil," ucap Azizi mengatakan sekali lagi.
" Lalu apa hubungannya dengan ku," sahut Vandy mengnggapi dengan datar.
" Vandy," lirih Azizi seakan sangat kecewa dengan Vandy yang bisa mengatakan hal itu. Bagai hati Azizi teriris mendengar kata-kata Vandy.
Vandy pun menarik Azizi masuk dan menutup pintu. Vandy yang cemas. Mungkin tidak ingin orang lain mendengar pembicaraan itu.
" Jika kamu hamil apa urusannya denganku?" tanya Vandy menegaskan.
" Kamu tidak lupakan Vandy kejadian malam itu?" tanya Azizi menahan sesak di dadanya melihat kesantaian Vandy saat Azizi mengakui dia hamil.
" Iya aku tidak lupa dengan kejadian. Kejadian di mana kamu menjebakku untuk melakukan semua itu," ucap Vandy membuat Azizi melotot tidak menyangka jika Vandy mengatakan bahwa dia menjebak
" Apa maksud kamu menjebak. Kamu sendiri yang datang ke kamarku. Kamu yang yang bolos dari kegiatan dan datang ke kamarku dan membawaku ketempat itu," sahut Azizi sangat kecewa.
" Aku memang membawamu. Tetapi kamu memulai semuanya," sahut Vandy yang benar-benar mengelak dengan kebenaran.
" Aku hanya mengakui perasaanku. Karena suasana yang kamu berikan. Aku mengakui perasaanku karena kamu memberikan peluang kepadaku Dan kamu juga membalas perasaan itu," jelas Azizi.
" Dan sekarang dengan seenaknya kamu mengatakan itu jebakan. Di mana hati kamu Vandy," lanjut Azizi mulai mengeraskan suaranya.
" Apa aku ada mengatakan aku ada membalas perasaanmu. Apa aku ada mengatakan aku menyukaimu. Kau yang menyukaiku Azizi dan kau menyerahkan dirimu kepadaku. Dan itu bukan salahku," tegas Vandy membuat Azizi kaget.
" Vandy tapi aku hamil dan kau tidak akan bertanggung jawab, kau akan lari dari tanggung jawab," sahut Azizi dengan matanya bergenang.
" Kenapa aku harus bertanggung jawab. Asal kau tau saja. Aku juga tidak bodoh Azizi. bukan aku orang yang pertama melakukan itu dan pekerjaan mu yang seperti itu. Mana tau kau hamil anak siapa. Jadi jangan menuntut apapun kepadaku. Karena anak yang kau kandung bisa memiliki banyak ayahnya," tegas Vandy dengan entengnya.
Plakkk.
Azizi dengan kemarahanya langsung menampar Vandy dengan air mata Azizi yang harus jatuh. Matanya yang melebar dengan kata-kata Vandy yang sangat menyakitkan. Vandy yang memang ingin lari dari tanggung jawab.
" Kau sungguh brengsek. Aku tidak percaya jika kau seperti ini. Apa itu juga alasanmu menghindariku. Kau mencampakkanku setelah kau menikmati semuanya," ucap Azizi dengan menekan suaranyanya menunjuk tepat di wajah Vandy.
Bersambung...
__ADS_1