DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 374 Akhirnya mengetahui.


__ADS_3

Mendengar kata nama Toby membuat Sasy heran. Namun Sasy juga terlihat tidak ingin membahas pria yang bernama Toby itu. Mungkin karena hatinya yang masih begitu sakit yang akhirnya membuatnya tidak ingin mendengarkan nama itu.


" Kenapa dengan dia?" tanya Sasy yang melihat ke arah makanannya dan mengaduk makanan itu menggunakan sendok.


" Toby sakit Sasy," jawab Arif yang langsung to the poin yang mengatakan Toby benar-benar sakit. Sasy menghentikan sendoknya ketika mendengar kata sakit.


" Kalau masalah sakit. Saya rasa saya jauh lebih sakit," sahut Sasy. " Dokter, dokter tidak tau apa terjadi kepada saya dan juga Toby. Jika mengatakan masalah sakit. Hatiku jauh lebih sakit di bandingkan dia. Mungkin iya aku yang salah. Aku sudah datang kepadanya marah-marah padanya demi membela Bagas yang pada nyatanya apa yang di katakannya benar. Bagas bukan Pria yang baik. Tetapi walau seperti itu, aku juga tidak mungkin memaafkan nya. Karena rasa sakit hati yang aku terimah jauh lebih sakit," tegas Sasy dengan matanya yang berkaca-kaca.


Kata-kata itu memang mungkin tidak akan mengubah apapun tentang hubungannya dengan Toby. Dia berniat untuk meminta maaf kepada yang lainnya. Namun untuk Toby Sasy tidak berpikiran sampai sejauh itu.


" Hanya karena Toby tidak menikahi kamu. Kamu begitu membencinya?" tanya Sasy. Toby langsung melihat ke arah Arif dengan Sasy yang tersenyum tipis.


" Dia menceritakan semuanya pada Dokter. Apa dia ingin merendahkanku. Karena hanya pernikahan aku dan dia berpisah dan dia mengatakan itu pada Dokter. Agar semua orang menyalahkanku atau agar simpatik kepadaku," sahut Sasy yang pikirannya sudah kemana-mana.


" Iya. Dia mengatakannya dan juga mengatakan alasan tidak bisa menikah denganmu," sahut Arif membuat Sasy mendengus kasar dengan senyum terpaksa.


" Dia benar-benar ingin mempermalukan ku. Membuatku seperti wanita yang sangat gila akan pernikahan," desis Sasy yang tidak percaya.


" Dia tidak pernah mempermalukanmu. Justru dia sangat mencintaimu dan hanya menginginkan kamu bahagia," sahut Arif. Sasy menanggapinya hanya degan senyum terpaksa.


" Dia tidak mencintaiku. Dia laki-laki yang tidak punya komitmen," sahut Sasy menegaskan.


" Kamu salah dia juga ingin menikah denganmu. Tetapi keadaan membuatnya tidak bisa menekan denganmu," sahut Arif.


" Keadaan apa karena memang pada dasarnya dia tidak punya komitmen dan hanya memberikan harapan palsu pada anak orang saja!" ucap Sasy yang mulai menguatkan volume suaranya.


" Toby menderita kelainan jantung," sahut Dokter Arif yang langsung to the point. Sasy yang mendengarnya langsung terkejut bahkan matanya melotot mendengar 3 kata itu.


" Itu alasannya kenapa dia tidak menikahimu. Alasannya adalah karena dia tidak bisa hidup bersamamu. Dia mencintaimu tapi tidak bisa menikahimu karena penyakit yang ada di tubuhnya, komitmen dan alasan lainnya yang di lontarkan Toby padamu bukanlah kebenarannya. Yang kebenarannya adalah. Tidak menikah dengan mu karena penyakit itu," jelas Dokter Arif.


" Apa maksud Dokter?" sahut Sasy dengan dadanya terasa sesak dan bahkan air matanya sampai menetes.


" 3 bulan yang lalu Toby di vonis mengalami kelainan jantung dan Toby meminta saya untuk merahasiakan ini dari kamu dan juga yang lainnya. Dari 3 bulan Toby juga sudah jarang mengambil penerbangan dia sering mengatakan terbang kesana kemari itu bohong yang pada nyatanya Toby hanya berobat," jelas Dokter Arif yang membuat Sasy benar-benar schok mendengarnya.


" Dan kamu tau apa lagi yang di lakukannya dia menyuruh saya untuk mendekati kamu. Agar kamu bahagia dan dia pergi dengan tenang. Alasan saya datang kerumah kamu malam itu karena mengikuti skenario Toby dan saya belakangan ini dekat dengan kamu juga karena hal itu," jelas Dokter Arif lagi yang tanpa menutupi apapun lagi dari Sasy.


" Tidak mungkin," sahut Sasy yang tidak percaya dengan air matanya yang terus mengalir yang tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


" Itu adalah kenyataan Sasy semuanya kenyataan," sahut Dokter Arif yang membenarkan hal itu.


" Kenapa?kenapa? Toby tidak pernah cerita tentang hal ini," sahut Sasy yang memegang dadanya yang terasa sangat sakit mendengar pernyataan Dokter Arif.


" Semua di lakukannya hanya demi kebahagian kamu. Dia punya alasan tersendiri dan kamu tau saya akhirnya menceritakan ini kepada kamu. Karena saya merasa ini yang terbaik. Karena dia jelas butuh kalian," tegas Dokter Arif.


" Toby, apa yang terjadi. Kenapa Toby? kenapa kamu tidak mengatakan hal ini kepadaku. Kenapa kamu membiarkan semuanya seperti ini," ucap Sasy yang paling menyesal. Dia paling dekat dengan Toby. Tetapi tidak tau hal sebesar ini dari Toby.


" Dokter lalu bagaimana keadaanya. Dia akan sembuhkan?" tanya Sasy dengan bibirnya yang bergetar. Tubuhnya mendesak lemas mendengar penyakit yang di derita Toby.


" Kembali lagi Sasy kita hanya Dokter yang berusaha dan yang menentukan tetap yang di atas dan pasti untuk penyakit jantung. Butuh transplantasi jantung," sahut Dokter Arif menjelaskan.

__ADS_1


Sasy mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya. Air matanya terus keluar yang mendadak begitu mencemaskan Toby.


" Ya Allah Toby, kenapa kamu tidak memberitahuku," lirih Sasy yang ingin berdiri yang masih terlihat schok. Namun tiba-tiba dia begitu lemas sampai ingin jatuh dan Arif langsung berdiri dan dengan cepat menghampiri Sasy menahan tubuh Sasy agar tidak jatuh.


" Sasy tenanglah!" ucap Dokter Arif.


" Dokter, tolong! tolong antar saya, saya ingin menemui Toby," ucap Sasy yang sudah tidak ingin menunggu waktu lama-lama lagi dan ingin pergi menemui Toby.


" Baiklah! kamu harus menemuinya. Karena itu yang terbaik," ucap Arif yang tidak keberatan sama sekali.


***********


Toby yang sudah kembali kerumahnya berada di dalam kamarnya dengan memegang dadanya yang terasa sakit Toby berjalan menuju nakas di samping tempat tidurnya membuka laci dan mengambil obat-obatanya. Karena dirinya yang tidak terkendalikan dan tangannya juga yang terlihat bergetar membuat obat-obatan yang di pegangnya berjatuhan.


" Apa kamu juga akan semakin lemah Toby," batin Toby yang melihat obat-obatan itu bertumpahan.


Toby pun berjongkok dan memungut obat-obatan itu memasukkan butiran pil itu kedalam botol kecil. Di tengah Toby melakukan hal itu tiba-tiba sebuah tangan terlihat ikut menyusun obat-obatan itu yang membuat Toby perlahan mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya Toby saat melihat Sasy yang sudah berada di depannya yang mengambil obat-obatan itu.


" Sasy!" lirih Toby. Sasy tidak menjawab. Namun air matanya menetes dan terus mengutip obat-obatan tersebut.


" Yang mana yang harus kamu minum?" tanya Sasy yang sudah melihat Toby.


" Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Toby dengan suara seraknya.


" Aku bertanya yang mana yang harus kamu minum!" sahut Sasy dengan menekan suaranya.


" Kamu mengetahui semuanya. Siapa yang memberitahumu Dokter Arif, Cherry atau Verro?" tanya Toby dengan suara pentingnya.


" Kamu benar-benar jahat Toby. Kenapa kamu tidak membunuhku sekalian saja hah! bisa-bisanya kamu merahasiakan semua itu dariku. Apa kamu tidak memikirkan apa yang terjadi hah! kamu sengaja melakukan semua ini. Agar aku menjadi wanita yang penuh penyesalan!" teriak Sasy yang marah-marah dengan wajahnya yang di banjiri air mata.


" Kamu sungguh brengsek Toby, kamu itu pengecut. Kamu tidak pernah menganggapku ada. Kamu membiarkan aku membencimu. Siapa kamu yang tau kebahagian ku dia mana. Siapa kamu Toby yang bisa mengatur perasaanku. Kamu benar-benar sudah mempermainkanku!" teriak Sasy. Toby hanya diam dengan air matanya yang juga terakhirnya menetes.


" Kamu jahat Toby kamu sungguh jahat," ucap Sasy memukul-mukul dada Toby. Toby menahan tangan itu dan langsung membawa Sasy kedalam pelukannya. Pelukan yang pasti begitu merindukan wanita yang di cintainya.


" Gara-gara kamu, aku dan anak-anak bermusuhan, gara-gara kamu aku mengenal laki-laki berengsek dan percaya sepenuhnya kepadanya. Gara-gara kamu aku juga hampir di lecehkan. Kamu benar-benar sangat jahat Toby yang sudah mengahancurkan ku berkeping-keping. Kamu benar-benar jahat Toby," ucap Sasy yang menagis di pelukan itu.


" Kamu benar-benar tidak menganggapku ada Toby, aku sangat mencintaimu. Apa kamu pikir aku akan bahagia dengan semua ini. Tidak Toby. Aku tidak akan bahagia dengan semua ini. Aku tidak mungkin bisa bahagia Toby!" Sasy terus menagis di pelukan itu. Toby hanya diam dan memeluknya terus yang mana dia sendiri bahkan tidak rela jika Sasy harus bersama orang lain.


Memang benar apa yang di lakukan Toby hanya mempermaikan perasaan Sasy. Itu sangat salah dan justru semakin membuat Sasy sakit.


Arif yang berdiri di depan kamar Toby merasa lega dengan apa yang di lihatnya. Ya memang itu yang di inginkannya.


" Kamu membutuhkan mereka Toby. Hanya mereka yang menjadikan kamu lebih kuat. Kamu hanya butuh mereka Toby," batin Arif yang tersenyum melihat Sasy dan juga Toby.


*********


Bukan hanya Sasy, Cherry dan Verro yang tau. Akhirnya semuanya tau tentang apa yang diderita Toby selama ini. Cherry dan Verro pun menceritakan semua kepada teman-temannya yang mana mereka berkumpul di rumah Cherry yang lama yang masih di tempati Varrell dan juga Nadya.


" Mendengar apa yang di lontarkan Cherry membuat, Vandy, Azizi, Varell, Nadya, Aldo dan Raquel kaget.

__ADS_1


" Apa ini sungguhan?" sahut Nadya yang mengeluarkan suaranya.


" Ini sungguhan, aku sama Cherry juga kaget saat mengetahui hal ini. Awalnya Cherry sudah menebak-nebak. Alih-alih ingin menemui Toby dan menanyakan hal itu. Tetapi ternyata jalannya di permudah yang mana pada akhirnya Cherry mendengar semuanya dengan jelas dan pengakuan Toby dan Dokter Arif juga menjelaskan kenyataan yang sebenarnya," sahut Verro yang menjelaskan lagi.


" Ya Allah Toby. Selama ini dia menanggung semua ini sendirian," sahut Azizi yang terasa sesak bicara, sangat sulit bicara mendengar kenyataan itu.


" Kenapa dia menyembunyikan masalah ini," sahut Vandy dengan mengusap kasar wajahnya yang tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.


" Lalu bagaimana dengan Sasy apa dia tau semua ini?" tanya Raquel.


" Aku rasa dia tidak tau," sahut Azizi.


" Tunggu dulu, atau jangan-jangan ini alasan Toby tidak mau menikahi dengan Sasy," sahut Aldo yang langsung menebak me arah sana.


" Iya itu kamu benar itu memang alasan sebenarnya dan lebih parahnya Toby menyuruh Dokter Arif untuk mendekati Sasy. Seakan ingin menggantikan posisi Sasy," sahut Verro yang membuat mereka semakin kaget.


" Kak Arif!" pekik Vandy. Verro mengangguk.


" Pantesan selama ini aku melihat mereka dekat," sahut Raquel.


" Lalu bagaimana dengan penyakit Toby. Sampai mana tahap perkembangannya?" tanya Varell.


" Kami belum bicara serius dengan Dokter Arif," sahut Cherry. " Tapi yang jelasnya apa yang di derita Toby pasti tidak bisa di anggap remeh. Aku tau rasanya. Apa lagi selama ini dia menjalani semuanya sendirian," sahut Cherry yang terlihat begitu panik. Verro mengusap-usap pundak istrinya yang kembali menenangkan Cherry yang sedari tadi cemas.


" Seharusnya Toby tidak merahasiakan ini dari kita," sahut Azizi yang terlihat begitu kecewa.


" Kita sebaiknya temui Toby. Kita harus memberi dukungan kepadanya. Dia harus kuat dan bersama-sama dengan kita untuk melawan penyakit ganas itu," sahut Varell.


" Benar apa kata Varell. Jangan kita biarkan dua menghadapi semuanya sendirian," sahut Nadya yang setuju.


Mereka semua mengangguk yang sama-sama sependapat untuk memberikan dukungan keras kepada sahabatnya yang sekarang terkena musibah.


***********


Sementara di tempat lain di rumah Toby Sasy dan Toby sudah berada di atas tempat tidur di mana Sasy yang berada di bidang dada Toby dan Toby memeluknya dengan erat. Dengan mengusap-usap pucuk kepala Sasy.


Sasy sudah lumayan lebih tenang sekarang. Dia sudah tidak marah-marah lagi walau dia masih begitu sedih.


" Maafkan aku Sasy," ucap Toby yang merasa bersalah.


" Aku yang meminta maaf atas semua ini terjadi karena kesalahan ku. Aku yang salah," sahut Sasy yang mengakui kesalahannya dan memeluk Toby dengan erat.


" Aku yang salah yang seharunya menceritakan semua ini kepada kamu. Benar kata Cherry yang seharunya aku memberitahumu. Aku membutuhkanmu dan seharusnya aku menceritakan kepadamu," sahut Toby yang akhirnya menyadari semuanya.


" Toby kamu pasti sembuh aku yakin itu. Kamu pasti sembuh," sahut Sasy yang memberikan semangat pada Toby. Toby mengangguk dengan tersenyum dan mencium pucuk kepala Sasy.


" Aku akan merawatmu Toby. Aku akan terus merawatmu sampai kapanpun, aku tidak akan meninggalkan mu," ucap Sasy.


" Terima kasih Sasy, maaf Sasy aku tidak bisa memberimu kebahagian," sahut Toby.

__ADS_1


" Jangan bicara seperti itu Toby aku hanya bahagia bersamamu," sahut Sasy.


Bersambung


__ADS_2