DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 373 Kecewa pada Toby.


__ADS_3

" Cherry kamu kenapa sebenarnya?" tanya Verro semakin bingung yang melihat istrinya diam tanpa ada kata sama sekali.


" Verro Cherry mari masuk!" sahut Dokter Arif mempersilahkan. Cherry mengusap air matanya dan menuruti untuk masuk yang akhirnya di susul oleh Verro yang juga masih kebingungan dan Toby pasrah. Air mata Cherry sudah menjelaskan jika Cherry sudah tau semuanya.


" Apa benar yang aku dengar Toby. Bahwa kamu selama ini punya penyakit jantung. Kamu menderita kelainan jantung?" tanya Cherry dengan dadanya yang sesak yang begitu sulit untuk bicara. Verro yang mendengarnya langsung terkaget-kaget.


" Apah!" pekik Verro dengan wajah terkejutnya yang tidak percaya mendengar apa yang di katakan istrinya. Sementara Toby menunduk yang sudah tidak bisa menyangkal semuanya lagi.


" Toby jawablah," sahut Cherry dengan menekan suaranya yang suara itu mulai berteriak.


" Cherry tenanglah," sahut Arif.


" Dokter Arif tau semua ini dan Dokter juga ikut merahasiakannya," sahut Cherry yang marah pada Arif.


" Sayang kamu tenangkan diri kamu dulu. Jangan marah-marah sayang. Kamu harus tenang," ucap Verro yang mengusap-usap pundak Cherry.


" Bagaimana aku bisa tenang, kamu lihat Verro dugaan aku benar selama ini. Toby merahasiakan hal serius ini dari kita. Dia juga putus dari Sasy karena masalah ini dan menyuruh Dokter Arif untuk mendekatinya. Aku mendengar semuanya dengan telingaku Toby. Jadi kenapa diam bicaralah," ucap Cherry yang sudah penuh emosi yang sama sekali tidak terkendalikan.


" Kamu tidak menganggap kami ada hah! kamu bisa menyembunyikan semua ini. Kamu ingin kita semua menebak-nebak apa yang terjadi pada kamu ingin kita semua menyesal. Kamu ingin kita berpikiran seperti Sasy. Kenap masih diam bicaralah!" teriak Cherry yang tidak bisa mengendalikan dirinya


Toby mengangkat kepalanya dan melihat temannya itu yang sudah penuh air mata yang membuatnya juga merasa bersalah.


" Iya Cherry. Aku memang punya kelainan jantung," sahut Toby yang akhirnya jujur pada Cherry dengan tetes air mata Toby. Verro terkejut mendengarnya dengan dia yang begitu kesulitan bernapas mendengar apa yang di katakan Toby.


Suara napas berat Verro terdengar jelas dan langsung merangkul istrinya dan Cherry pun memeluk Verro menagis di dada bidang suaminya itu.


" Ada kelainan di jantungku dan itu di vonis sejak 3 bulan lalu," jelas Toby. Air mata Cherry Cherry semakin tidak terkendalikan yang menagis di pelukan suaminya.


" Lalu kenapa merahasiakannya dari kami?" tanya Verro dengan wajah seriusnya.


" Maafkan aku Verro. Aku hanya tidak ingin kalian semua memikirkan hal ini. Aku hanya tidak ingin kalian haru berpikiran mengenai aku. Hanya itu saja alasanku," sahut Toby dengan tenang.


" Dan kamu pikir itu benar. Bagaimana Toby jika tiba-tiba terjadi hal yang tidak di inginkan. Kamu pergi tiba-tiba dan kami baru mengetahuinya. Kamu saja membuat kami akan menyesal seumur hidup dengan pola pikiran kamu yang sangat pendek," sahut Cherry dengan suara isak tangisnya.


" Toby ini bukan masalah yang spele dan tidak seharunya kamu merahasiakan semua ini. Ini sama saja kamu tidak menganggap kita ada," sahut Verro yang benar-benar kecewa dengan Toby. Toby terdiam dan tidak menjawab lagi.


" Toby kenapa kamu bodoh sekali. Kamu membiarkan semuanya. Dengan pola pikir kamu yang terlalu pendek kamu membiarkan Sasy membencimu. Kamu sadar tidak jika Sasy tau semua ini dia yang akan paling merasa bersalah. Kenapa Toby melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kamu lakukan. Efek dari kamu yang merahasiakan semua ini. Kamu sadar tidak kamu juga sudah membuat Sasy kehilangan arah," sahut Cherry yang marah-marah dengan terus menangis.


" Aku tidak punya pilihan Cherry. Aku hanya ingin pergi dengan tenang dan melihatnya bahagia dan kalian juga tidak susah itu saja," sahut Toby.


" Itu yang kamu inginkan. Lalu kamu tidak berpikiran bagaimana nasib kami setelah itu. Kami akan merasa teman yang bodoh, teman yang jahat yang bisa-bisanya tidak tau apa-apa yang bisa-bisanya membiarkan teman kami sendirian mengalami masa-masa berat itu," sahut Cherry. Toby terdiam dan Arif juga sedari tadi tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun.


" Toby aku juga dulu penderita jantung. Dari kecil aku mengalami semua itu. Aku juga baru kenal dengan mu saat itu. Tetapi apa, aku tidak merahasiakan apapun. Bahkan bukan hanya dari kamu dari yang lainnya. Aku tidak merahasiakannya. Dan aku menjalani semuanya. Aku tidak sepengecut kamu. Aku tidak menyerah. Lalu kenapa kamu yang berpikiran sangat pendek yang seolah-olah kamu besok akan mati dan kamu seakan mempersiapkan segalanya dan Sasy apa kamu sudah merasa paling hebat dengan menyuruh Dokter Arif untuk bersamanya. Kamu tidak memikirkan perasaan Sasy hah!" ucap Cherry yang terus marah-marah yang membuka pikiran temannya itu.


" Dokter Arif juga," lanjut Cherry yang sekarang giliran Arif. " Kenapa bisa Dokter diam dengan semua ini. Dokter merahasiakan ini dengan kami semuanya dan Dokter menuruti saja apa kata dia. Dokter adalah Dokter kepercayaan saya. Lalu kenapa bisa mengikuti Toby. Penyakit bukan main-main dan perasaan anak orang juga bukan permainan. Lalu kenapa mengikuti skenario pengecut dari Toby," ucap Cherry yang tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak marah-marah pada Arif. Arif diam yang menyadari seharusnya memang itu tidak di rahasiakannya.


" Kamu benar-benar keterlaluan Toby. Aku benar-benar sangat kecewa kepadamu. Kamu pikir kamu Tuhan hah!" ucap Cherry yang benar-benar begitu kecewa.


" Maafkan aku Cherry," sahut Toby merasa bersalah.


" Kalau kamu meminta maaf maka beritahu semua orang tentang semua ini. Kamu butuh kami Toby," sahut Cherry.


" Cherry, aku rasa cukup kamu yang tau. Aku tidak ingin mereka semua tau," sahut Toby.


" Toby, kamu jangan menyembunyikan ini lagi," sahut Verro.

__ADS_1


" Benar Toby, untuk apa menyembunyikan ini. Ini hanya akan membuat kamu semakin tertekan," sahut Dokter Arif menambahi.


" Tidak apa-apa. Mungkin ini sudah takdirku. Jadi tidak apa-apa. Jika aku harus mengalami semua ini yang terpenting tidak ada yang tau hanya kalian yang cukup tau dan aku mohon tetap rahasiakan ini termasuk pada Sasy," tegas Toby yang tidak akan mengubah keputusannya.


" Egois!" bentak Cherry. " Kamu lebih egois dari pada Sasy. Kamu lebih jahat dari pada Sasy. Kamu pikir bisa melewati semua ini sendirian. Kamu itu sok hebat Toby," ucap Cherry yang marahnya tidak henti-henti.


" Maafkan aku Cherry. Tapi ini keputusanku. Dokter Arif, Verro dan kamu Cherry. Aku mohon tolong hargai keputusanku. Ini adalah permintaan terakhirku untuk kalian jadi mohon untuk menurutinya. Kalian sudah tau maka tetaplah seperti biasa. Jangan berlebihan kepadaku. Kalian tetaplah menganggapku aku Toby yang sehat bukan yang sakit," tegas Toby dengan wajahnya yang serius.


" Kamu benar-benar ya Toby," sahut Cherry.


" Aku rasa sudah cukup. Aku permisi dulu," sahut Toby yang langsung berdiri dan keluar begitu saja dari ruangan itu.


" Toby!" panggil Cherry yang berdiri ingin mengejar Toby. Namun Verro menghentikannya.


" Sayang sudah," sahut Verro yang langsung memeluk Cherry untuk menenangkan Cherry.


" Toby mana mungkin melewati semua ini sendirian kenapa begitu bodoh. Dia mana mungkin bisa sendirian menghadapinya. Di butuh kita," ucap Cherry yang menangis terisak-terisak di dalam pelukan Verro.


" Aku tau Verro bagaimana rasanya, dia mana mungkin melewati semuanya aku tau rasanya," lanjut Cherry yang ikut sakit yang mendengar penderitaan temannya.


Verro juga tidak tau harus berbuat apa yang bisa dilakukannya hanya menenangkan istrinya.


" Kamu tenang ya. Dia tidak akan sendirian kita ada bersamanya. Kita akan terus berjuang bersama Toby untuk melewati semauanya. Tidak akan ada rahasia-rahasian," ucap Verro yang memberi ketenangan pada istrinya.


" Maafkan saya Cherry. Saya tidak harus merahasiakan ini dari kalian. Saya pasti bertanggung jawab," sahut Dokter Arif.


" Bertanggung jawab bukan dengan menuruti Toby," sahut Cherry. Arif juga menjadi serba salah.


Dia memang salah karena sudah mengikuti Toby. Toby hanya tidak ingin teman-temannya tau apa yang terjadi padanya yang takut membuat teman-temannya sedih.


************


Karena kejadian kemarin Sasy tidak kerumah sakit hati ini dia masih berada di rumah keluarga Vandy untuk menenangkan dirinya. Yang pasti apa yang terjadi kemarin membuatnya masih terbayang-bayang dan pasti penuh dengan ketakutan yang pastinya.


Karena bosan di dalam kamar Sasy pun akhirnya keluar dari kamar. Sasy mendengar aktivitas di dalam dapur membuat Sasy menuju dapur yang ternyata Azizi yang berada di dalam dapur.


" Sasy!" sapa Azizi dengan tersenyum ketika melihat sahabatnya itu. Sasy menunduk sedikit dengan tersenyum tipis.


" Ayo kemari duduk, kamu belum makan kan," sahut Azizi yang begitu ramahnya mengajak Sasy. Azizi menarik kursi dan mempersilahkan Sasy untuk duduk.


" Kamu makan ya," sahut Azizi yang langsung heboh menyiapkan makanan untuk Sasy. Mengambil piring mengisi nasi dan lauk.


" Azizi itu sudah cukup jangan banyak-banyak," sahut Sasy yang merasa tidak enak.


" Tidak apa-apa Sasy. Kamu dari tadi malam belum makan. Kamu ini kan Dokter kamu seharusnya tau kesehatan perut seperti apa. Jadi jangan menolak ya," ucap Azizi yang terus mengisi piring Sasy dengan lauk yang banyak.


" Makasih ya Azizi," ucap Sasy. Azizi tersenyum dan menuangkan air putih untuk Sasy. Setelah itu duduk di depan Sasy dengan memotong buah.


" Makanlah!" pinta Azizi. Sasy mengangguk dan akhirnya memakan dengan perlahan. Sementara Azizi tetap melaksanakan pekerjaannya mengupas dan memotong buah.


" Aku minta maaf Azizi," sahut Sasy tiba-tiba yang menunduk yang tidak berani melihat Azizi. Azizi hanya tersenyum mendengarnya.


" Sudahlah lupakan masalah itu. Masalah itu tidak penting. Kamu tidak harus minta maaf. Lagian itu hanya salah paham dan anggap saja itu pelajaran untuk kita semua yang saling mendewasakan diri kita," sahut Azizi dengan bijak bicara.


" Aku salah Azizi. Aku tidak bisa berpikir dengan baik dan apa yang terjadi sekarang adalah teguran untukku. Aku minta maaf Aziz," ucap Sasy yang mengakui kesalahannya.

__ADS_1


" Iya aku sudah memaafkan kamu. Aku juga minta maaf ya karena aku tidak mengangkat telponmu malam itu," sahut Azizi memegang tangan Sasy yang juga dengan murah hati meminta maaf. Sasy meneteskan air matanya mengangguk.


" Apa yang lain begitu membenciku?" tanya Sasy.


" Tidak Sasy, tidak ada yang membencimu, semua sangat menyayangimu. Jadi tidak ada satupun yang membencimu," sahut Azizi.


" Lalu bagaimana aku meminta maaf pada mereka apa mereka akan memafkanmu?" tanya Sasy yang tidak percaya diri.


" Pasti, mereka akan memaafkanmu, kamu percayalah. Semua hanya salah paham dan tidak ada yang membencimu. Jika kamu mempunyai niat tulus untuk meminta maaf maka mereka akan memaafkanmu," ucap Azizi dengan yakin.


" Kamu maukan menemani ku untuk meminta maaf pada yang lain. Aku sungguh menyesal dengan semua ini. Aku kekanak-kanakan. Aku tidak dewasa, aku wanita egois yang hanya memikirkan diri sendiri," ucap Sasy yang mengakui kesalahannya.


" Sudahlah Sasy, kamu jangan menangis lagi. Aku pasti menemanimu, aku dan Vandy pasti mendampingimu dan mereka semua akan memaafkanmu. Karena seperti yang aku kita semua hanya salah paham. Tuhan sedang menguji persahabatan kita," ucap Azizi yang berusaha untuk menenangkan Sasy.


" Makasih Azizi. Terima kasih untuk kebaikan kamu. Maafkan aku sekali lagi yang sudah mengungkit-ungkit apa yang aku lakukan," sahut Sasy.


" Iya. Sudah ya kamu jangan bersedih lagi. Sekarang kamu makan. Jangan menangisi makanan, itu tidak baik," ucap Azizi. Sasy mengangguk dengan menyeka air matanya.


Dia sedikit merasa lega dengan Azizi yang mau membantunya untuk meminta maaf pada teman-temannya yang pasti hatinya sudah di sakitnya.


" Alhamdulillah ya Allah inilah hikmah dari semua kejadian ini. Terimakasih ya Allah yang sudah membukakan pintu hati Sasy," batin Azizi yang merasa lega.


" Assalamualaikum," sapa Arif yang tiba-tiba datang.


" Walaikum salam," sahut Azizi dan Sasy serentak.


" Kak Arif, kok tumben siang sudah pulang?" tanya Azizi heran.


" Iya, kebetulan saja jadwal lagi kosong. Jadi memilih untuk pulang," jawab Dokter Arif.


" Kakak sudah makan?" tanya Azizi.


" Belum," jawab Arif apa adanya.


" Mau makan tidak, biar Azizi siapkan," sahut Azizi menawarkan.


" Nanti saja Azizi. Kakak ingin bicara dengan Sasy sebentar," sahut Arif yang melihat ke arah Sasy.


" Oh, begitu. Ya sudah kalau begitu Azizi pergi dulu sekalian Azizi juga mau menjemput Iqbal. Sebentar lagi dia pulang sekolah," sahut Azizi. Arif mengangguk.


" Sasy kamu lanjut makan ya, aku tinggal sebentar," sahut Azizi.


" Iya. Makasih ya Azizi," sahut Sasy. Azizi mengangguk dan langsung pergi membiarkan Arif dan Sasy bicara. Setelah kepergian Azizi Dokter Arif langsung duduk di depan Sasy.


" Bagaimana kabar kamu?" tanya Dokter Arif.


" Saya sudah baik-baik saja Dokter," jawab Sasy.


" Alhamdulillah jika seperti itu," sahut Dokter Arif, " Sasy ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan kamu," ucap Dokter Arif dengan serius.


" Masalah apa Dokter?" tanya Sasy penasaran dan perasaannya bahkan mendadak tidak enak apalagi melihat Arif yang terlihat begitu serius.


" Masalah Toby," sahut Arif.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2