DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 316 Menolak.


__ADS_3

Kehamilan Azizi membawa kebahagian untuk keluarga besar Vandy. Azizi sudah menjadi menantu kesayangan dan apa lagi ini dia hamil Lina begitu bahagia dengan kabar dari menantunya itu.


Sekarang lihatlah, bagaimana Lina yang sedari tadi memotongkan Azizi buah dan terus memanjakannya.


" Mah, sudah cukup, Azizi sudah kenyang," ucap Azizi.


" Tidak apa-apa Azizi, kamu harus makan banyak. Agar kamu dan bayi kamu sehat," ucap Lina.


Vandy hanya tersenyum melihat mamanya yang sangat excited dengan kehamilan itu. Rudi sang papa juga hanya senyum-senyum saja. Tapi tidak dengan Arif yang juga ada di ruang tamu. Tetapi wajah Arif seperti banyak beban pikiran.


" Kenapa Raquel, tidak menjawab telponku. Apa dia marah karena kemarin aku menyatakan perasaanku," batin Arif yang memikirkan Raquel.


" Kak Arif," tegur Vandy yang melihat sang kakak bengong.


" Hah, iya kenapa?" tanya Arif.


" Kakak kenapa?" tanya Vandy.


" Oh, tidak tidak apa-apa," jawab Arif bohong. Padahal jelas sedang terjadi sesuatu padanya.


" Yakin!" tanya Vandy tidak percaya.


" Iya. Ya sudah aku keluar sebentar," ucap Arif Vandy menganggukkan kepalanya. Arif pun pergi dari ruang tamu. Bukan tidak bahagia dengan kabar bahagia dari adik iparnya. Hanya saja dia memang sedang mempunyai beban pikiran.


**********


Verro terlihat gelisah duduk di sofa di ruang tamu. Dia terlihat frustasi bahkan beberapa kali memijat kepalanya yang terasa berat. Verro terus mengingat-ingat kata Cherry yang kemarin malam.


" Aku harus menyelesaikan semuanya. Aku jelas tidak ada apa-apa dengan Fiona. Aku tidak bermaksud Cherry untuk mengabaikan mu. Tetapi memang sungguh aku tidak ada apa-apa Cherry dengan dia," batin Verro yang terasa berat pemikirannya yang mempermasalahkan masalah Fiona.


" Iya memang sebaiknya aku harus mengambil keputusan. Aku tidak bisa seperti ini terus. Hubungan ku bisa berantakan dengan Cherry. Aku harus menyelesaikannya," ucapnya yang menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Lalu mengambil kunci mobilnya dan langsung pergi.


Cherry yang berada di kamarnyaendengar suara mesin mobil dan langsung melihat dari jendela mobilnya di mana Verro yang mengendarai mobilnya.


" Mau kemana dia malam-malam begini," batin Cherry yang penuh kebingungan melihat mobil suaminya itu pergi.


Cherry menghela napasnya dan mengusap perutnya yang mulai terlihat membesar.


" Aku tidak tau apa yang aku katakan kemarin. Akan membuat kamu bijak Verro. Aku melakukan ini hanya untuk keselamatan rumah tangga kita," batin Cherry yang sebenarnya perasaannya tidak tenang.


" Tapi dia mau kemana. Apa dia mau menemui Fiona," batin Cherry yang malah was-was melihat kepergian suaminya yang begitu saja.


" Biarlah, dia pergi. Kau berharap Verro tidak akan menemui Fiona. Fiona memang sakit. Tapi apa sakitnya, harus menjadi urusanku. Sakit tapi apa harus aku mengorbankan pernikahanku," Cherry terus bergerutu di dalam hatinya.


**********

__ADS_1


Di kediaman Raquel.


Raquel berada di kamarnya dan tadi akhirnya Raquel mendapatkan hasil medis dari milik Fiona yang akhirnya di temukan Sasy dan tadi Sasy menyempatkan diri datang kerumahnya untuk mengantarkan barang penting itu.


" Aku coba memeriksa medisnya. Aku merasa banyak keganjalan pada Fiona. Vandy juga mengatakan Dokter itu hanya memeriksanya. Fiona menolak dan malah menuduh melecehkan. Aku juga pernah mencoba memeriksanya. Tetapi dia juga menolak dan bahkan saat meminum obat. Fiona pun terlihat mengulur waktu. Ya sangat aneh memang," batin Raquel yang membuka dokumen bagian pertama.


Tingnong.


bel rumah Raquel berbunyi membuat Raquel menutup kembali dokumen itu.


" Siapa yang bertamu malam-malam begini," batin Raquel yang langsung bangkit dari duduknya dan keluar dari kamarnya. Ya dia tidak jadi melihat hasil medis Fiona dan langsung keluar kamarnya untuk membuka pintu.


Raquel berdiri di depan pintu dan membuka pintu yang ternyata Arif yang bertamu kerumahnya.


" Kak Arif," ucap Raquel yang kaget melihat kehadiran Arif.


" Raquel, maaf mengganggu," ucap Arif.


" Hmmm, tidak apa-apa kak. Memang ada apa kakak datang malam-malam begini," ucap Raquel heran.


" Aku mau bicara sebentar. Apa kamu sibuk?" tanya Arif yang tampak gugup di depan Raquel.


" Hmmm, memang masalah apa?" tanya Raquel pelan.


" Oh, ya sudah," jawab Raquel. Arif tersenyum tipis.


*************


Raquel dan Arif pun bicara di taman belakang di mana mereka berdiri berhadapan dengan Raquel sedikit menunduk dengan tangannya yang saling menggenggam di bawah sana yang tampak gugup dengan Arif di depannya.


" Sampai kapan kamu menunduk Raquel. Apa aku menakutkan?" tanya Arif. Raquel mendengarnya perlahan mengangkat kepalanya.


" Oh, tidak kak," sahut Raquel berusaha tenang.


" Aku hanya gugup saja. Tiba-tiba kakak datang kerumahku. Aku jadi tidak bisa berkata apa-apa," ucap Raquel dengan kata-katanya yang terbata-bata.


" Apa kamu gugup karena masalah kemarin?" tanya Aldo. Raquel diam dan tampak mengatur napasnya.


" Kak, Arif, aku tidak percaya dengan apa yang kakak katakan kemarin. Aku tidak menyangka jika kakak menyukaiku," ucap Raquel yang bicara memberanikan diri menatap Arif.


Arif langsung meraih tangan Raquel memegang ke-2 tangan itu dengan erat.


" Tapi aku memang menyukaimu. Aku tidak tau kapan. Tetapi perasaanku timbul begitu saja. Aku harus mengakui kehadiranmu membuatku sangat nyaman. Aku bukan pria remaja atau yang berusia 25 tahunan Raquel. Aku tidak mengajakmu untuk berpacaran. Aku ingin serius menjalin hubungan dengan mu kejenjang pernikahan," ucap Arif yang kembali mengungkapkan perasaannya.


Raquel masih diam terpaku mendengarnya. Dia merasakan ketulusan Arif yang mengungkap isi hatinya dan pasti sangat yakin orang yang mendengarnya pasti sangat bahagia.

__ADS_1


Arif memegang pipi Raquel mengusap-usapnya dengan lembut menatap mata itu dalam-dalam.


" Aku tidak bisa tidur Raquel semenjak mengetahui perasaanku kepadamu. Aku ingin menyelesaikan apa yang aku rasakan padamu," ucap Arif lagi yang mana Raquel tetap diam.


Ternyata di kamar di mana Aldo istirahat di atas melihat dari jendela Raquel dan Arif. Dari pandangannya hal itu menunjukkan betapa dekatnya Raquel dan juga Arif. Ada rasa cemburu di dalam sana saat melihat pemandangan yang membuat hati terkoyak-koyak di dalam sana.


Arif terlihat mendekatkan wajahnya pada Raquel seolah ingin mencium Raquel. Tidak ingin melihat hal itu lebih lanjut. Aldo memutuskan menutup tirai dan membelakangi ke-2 orang yang di bawah sana.


" Aku yang sudah melepasmu Raquel. Dan kamu punya hak untuk bahagia bersama orang pilihanmu. Dokter Arif memang pantas untukmu. Dan aku tidak pantas berharap banyak lagi kepadamu," batin Aldo berusaha untuk melepas. Tapi sangat terasa sakit di dalam sana.


Arif memang tampaknya ingin mencium Raquel yang masih kebingungan. Namun sejenak Raquel tersadar dan menjauhkan sedikit dan melepas tangannya dari Dokter Arif.


" Maaf kak, aku tidak bisa," sahut Raquel yang menolak perasaan Arif.


" Maksud kamu?" tanya Arif dengan suara beratnya yang dengan wajahnya penuh kekecewaan.


" Aku, aku tidak bisa menjadi istri kakak. Aku menghargai perasaan kak Arif kepadaku. Jujur aku juga sangat nyaman belakangan ini dekat dengan kakak. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku hanya seakan memaksakan diriku untuk dekat dengan kakak. Seakan hanya untuk pelarian, maaf kak Arif aku tidak bermaksud untuk mengecewakan kakak," jelas Raquel yang bicara jujur apa adanya.


" Apa kamu masih menyukai Aldo?" tanya Arif.


" Kak, Arif aku 7 tahun dengan Aldo. Selama ini Aldo yang tau aku dan selalu ada bersamaku melewati banyaknya permasalahan keluarga ku yang sebelumnya aku pernah ceritakan kepada kakak. Aku tidak mengatakan aku masih menyukainya atau tidak. Tapi waktu 7 tahun. Aku rasa belum bisa untuk menetralkan perasaanku. Atau membuka hati pada orang lain. Aku hanya ingin menenangkan perasaanku dan mengikuti waktu berjalan. Aku tidak tau bagaimana kedepannya nanti tapi untuk saat ini aku tidak bisa menerima kakak," ucap Raquel dengan jujur.


" Iya, aku tau Raquel, dari bicara kamu kamu masih mencintainya," sahut Arif tersenyum.


" Aku hanya lega sudah mengungkap perasaanku kepadamu. Aku tidak memaksa apa-apa. Jika kamu tidak bisa menjadi istriku. Maka kamu akan tetap menjadi adikku. Seperti Vandy dan Cherry yang sudah menjadi adikku," ucap Arif dengan berbesar hati menerima penolakan Raquel.


" Kakak tidak marah kepadaku?" tanya Raquel. Arif menggeleng dan mengusap-usap pucuk kepala Raquel.


" Aku hanya berharap. Suatu saat nanti aku bertemu dengan wanita sepertimu. Yang tidak pernah meninggalkan orang lain yang menyakitimu," ucap Arif tersenyum. Membuat Raquel tersenyum juga.


" Aldo tampaknya mengintip kita," ucap Arif dengan melirik ke arah kamar.


" Serius?" tanya Raquel panik. Arif mengangguk.


" Dia akan salah paham setelah ini," ucap Arif menakut-nakuti. Raquel melirik dengan ekor matanya dan melihat bayangan di tirai dan Raquel langsung memeluk Arif membuat Arif heran.


" Biarkan saja aku sudah putus dengannya," sahut Raquel yang tampaknya sengaja. Atif hanya tersenyum geleng-geleng.


" Kalau kamu memelukku. Aku bisa baper," ucap Arif.


" Mana ada baper pada adikknya," sahut Raquel yang masih memeluk. Arif hanya geleng-geleng tersenyum dan juga memeluk Raquel.


Dia memang menerima keputusan Raquel dengan berbesar hati yang penting hatinya sekarang sudah lega. Jauh lebih tenang karena sudah di keluarkan semuanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2