
Verro yang duduk di depan Clara mulai membuka perban itu. Mata Verro fokus pada pekerjaannya. Dengan profesional dia memang melakukan semua.
" Jadi selama ini dia melihatku dengan tatapan berbeda. Karena aku sangat mirip dengan istri- nya. Dia mencintai istrinya. Bahkan sudah meninggal sangat lama. Tetapi dia tidak bisa menggantinya. Seperti apa yang di katakannya kepadaku. Kenapa aku sangat bahagia. Jika dia mencintai istrinya. Apa itu sangat penting untukku," batin Clara yang terus menatap Verro.
Mata Clara tiba-tiba turun pada jari Verro yang terpasang cincin.
" Kenapa aku merasa seperti pernah melihat benda itu. Tetapi di mana," batin Clara yang mengingat-ingat, sampai tiba-tiba dia menggerakkan kepalanya yang tiba-tiba sakit seperti kesetrum.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Verro yang melihat perubahan sikaf Clara yang seperti kesakitan.
" Kepala ku tiba-tiba sakit," jawab Clara yang memijat kepalanya. Verro langsung meraih tangannya Menyinggirkan tangan Clara dari kepalanya.
" Jangan lakukan itu. Itu sangat berbahaya," ucap Verro yang tampak khawatir.
" Aku tidak tau kenapa kepala ku sering sakit. Dan semua itu secara tiba-tiba saat aku seperti mengingat sesuatu," sahut Clara yang berbicara dengan napas sesak.
" Memang apa yang kamu lihat?" tanya Verro. Verro tau pertanyaannya akan membuat Clara kesakitan. Tetapi dia juga sangat penasaran.
Dan benar saja. Lintasan itu kembali lagi. Sampai Clara memegang kepalanya lagi karena menahan sakit. Dan air matanya menetes.
" Clara!" Verro memegang pundak Clara.
Sampai akhirnya Clara yang menunduk melihat ke arah Verro dan dia memaksakan untuk kembali mengingat walau dia sudah pucat. Tetapi semakin melihat jelas. Pria yang ada di dalam ingatannya semakin jelas.
" Tidak mungkin!" lirih Clara dengan air matanya yang menetes. Saat jelas melihat seorang pria yang berdiri di depannya dan Pria itu sama dengan pria yang sekarang di hadapannya.
" Ada apa Clara?" tanya Verro yang melihat Clara menahan sakit.
" Ahhhhhh," tiba-tiba Clara memegang dadanya yang seketika jantungnya sakit.
" Clara apa yang terjadi?" tanya Verro panik dan akhirnya Clara yang tidak kuat langsung pingsan. Dipelukan Verro.
" Clara," teriak Verro yang benar-benar panik. Ternyata karena berusaha mengingat Darah keluar dari hidung Clara. Karena pendarahan di otak Clara semakin parah dan menyebabkan Clara juga mengalami pendarahan.
" Apa yang aku lakukan," ucap Verro yang tidak sadar dengan perbuatannya yang sudah membahayakan nyawa pasiennya.
*************
Tari sedang bertemu dengan Verro. Verro memanggilnya untuk memberi tahu kondisi Clara. Dan sekarang mereka sudah berhadapan.
" Apa Clara mengkonsumsi obat?" tanya Verro yang merasa ada yang tidak beres dengan Clara.
" Obat. Apa itu juga vitamin?" sahut Tari bingung.
" Vitamin. Vitamin apa?" tanya Verro.
" Yang aku tau. Clara selalu meminum Vitamin. Selama aku berteman dengannya dia selalu meminum Vitamin," jawab Tari. Membuat Verro penuh pikiran.
__ADS_1
" Apa kamu tau Vitamin apa itu?" tanya Verro yang menanggapi serius.
" Clara bilang itu Vitamin kesehatan yang memang di minum rutin keluarganya. Aku juga tidak tau vitamin apa itu. Tetapi aku sama sekali tidak pernah melihat Bayu meminumnya bahkan Tante Karina. Hanya Clara yang meminumnya dan hanya itu obat yang di konsumsinya," jelas Tari sepengetahuannya.
" Apa kamu tau jenisnya seperti apa?" tanya Verro penasaran. Tari menggeleng.
" Apa itu sangat penting. Jika sangat penting aku akan coba mengambilnya," ucap Tari yang tidak masalah jika melakukannya.
" Apa tidak akan merepotkan?" tanya Verro yang merasa tidak enak.
" Tidak sama sekali," jawab Tari yang ingin membantu.
" Kalua begitu terima kasih. Untuk sementara Clara harus di rawat dulu. Kondisinya belum pulih," ucap Verro.
" Iya. Aku berterima kasih. Karena kamu benar-benar merawatnya," sahut Tari yang langsung berdiri.
" Aku seorang Dokter dan itu sudah kewajibanku," sahut Verro yang ikut berdiri.
" Apapun itu. Aku sangat berterima kasih," sahut Tari lagi. Verro mengangguk.
" Ya sudah kalau begitu. Aku permisi dulu," ucap Tari mengulurkan tangannya untuk di jabat. Verro menyambut jabatan tangan itu.
" Mari! ucap Tari berpamitan. Verro mengangguk.
Setelah kepergian tari Verro kembali duduk dan membuka kembali isi dokumen yang ternyata hasil lap Clara.
" Huhhhh, apa yang aku lakukan tadi. Kenapa aku memaksanya seperti itu. Dia hampir saja celaka. Karena perbuatanku," batin Verro yang masih menyesal dengan apa yang di lakukannya pada Clara. Kejadian yang mencelakan pasiennya.
********
Sasy dan Toby sarapan bersama. Tetapi tetap saja mereka saling diam.
" Ya ampun kenapa lama sekali makanan ini," batin Sasy yang benar-benar akan gila jika terus berhadapan dengan Toby.
" Sasy benar-benar sangat berbeda. Dia terlihat sangat canggung. Ada apa dengannya. Kenapa dia berubah seperti itu. Aku bahkan tidak pernah mendengar suaranya yang cerewet seperti dulu," batin Toby terlihat tersenyum tipis yang sepertinya. Merindukan masa-masa SMA itu.
" Hmmm, Sasy," tegur Toby.
" Hah! iya kenapa?" tanya Sasy langsung gugup.
" Bagiamana keadaan Clara?" tanya Toby.
" Aneh sekali. Kenapa dia malah menanyakan wanita yang sama sekali tidak ada di sini. Apa dia menyukainya?" batin Sasy mengekerutkan dahinya tampak tidak suka dengan pertanyaan Toby.
" Sasy," tegur Toby lagi yang melihat Sasy diam saja.
" Oh, iya. Dia baik-baik saja," sahut Sasy tampak biasa.
__ADS_1
" Mengingat Clara. Aku mengingat om Laskarta," sahut Toby tiba-tiba. Membuat Sasy menoleh ke arahnya.
" Om Laskarta, ada apa dengannya?" tanya Sasy heran.
" Kamu pernah tidak kerumah Cherry?" tanya Toby. Sasy menggelengkan kepalanya. Lagian ngapain juga dia Kesana.
" Aneh sekali. Cherry yang tiada. Tetapi seperti semuanya tiada," sahut Toby membuat Sasy heran dengan pemikiran Toby.
" Maksud kamu apa?" tanya Sasy semakin bingung.
" Masa iya ayah sendiri tidak datang kepemakaman putrinya. Kecuali memang putrinya tidak meninggal," ucap Toby lagi membuat Sasy semakin heran.
" Toby apa yang kamu katakan. Apa kamu ingin mengatakan. Jika Cherry belum meninggal. Karena kamu melihat Clara," sahut Sasy menebak jalan pikiran Toby.
" Iya. Aku tidak tau kenapa aku mempercayai pemikiran itu," sahut Toby memang jujur mengatakan apa yang di pikirannya.
" Tetapi itu tidak mungkin," sahut Sasy yang pasti membantah.
" Dan tidak mungkin juga. Jika ada yang mirip dengan Cherry. Tidak ada membedakan. Yang membedakan dia tidak mengenali kita," sahut Toby.
" Iya aku tau. Tapi itu tidak masuk akal. Clara juga punya keluarga dan kita sama sekali tidak mengenal keluarhannya yang sekarang," sahut Sasy.
" Aku akan ke Jerman," ucap Toby tiba-tiba yang sudah beralih pembahasan. Sasy semakin bingung dengan kata-kata Toby.
" Ke Jerman," untuk apa?" tanya Sasy heran.
" Kemarin aku bertemu Dokter Arif," sahut Toby.
" Dokter Arif. Kakaknya Vandy?" ucap Sasy memastikan.
" Iya, aku menanyakan kepadanya. Rumah sakit waktu Cherry di operasi dan aku ingin kesana memastikan semuanya," ucap Toby yang sudah memikirkan hal itu dari jauh-jauh hari. Sasy mendengarnya sampai kaget.
" Kamu ingin kerumah sakit di mana Cherry di operasi hanya karena kamu tidak percaya. Jika Cherry sudah tiada?" tebak Sasy.
" Kamu benar. Karena tidak ada bukti yang mengatakan jika Cherry sudah tiada dan bahkan Dokter Arif sendiri tidak bisa memberi kepastian Cherry tiada atau tidak," sahut Toby.
" Jika Cherry tidak tiada. Lalu mayat siapa yang kita antarkan?" tanya Sasy.
" Maka aku harus ke Jerman dulu. Agar jawaban kamu bisa terjawab," ucap Toby dengan tegas. Sasy memijat kepalanya sampai tidak bisa mengatakan apa-apa lagi dengan keputusan Toby yang menurutnya berlebihan.
" Lalu bagaimana jika pada akhirnya Cherry benar-benar tiada dan apa yang kamu cari akan sia-sia. Apa kamu tidak akan terluka?" tanya Sasy.
" Aku lebih terluka dengan apa yang sekarang," sahut Toby.
" Baiklah. Terserah kamu saja. Lagian aku tidak punya hak untuk melarang ataupun berpendapat. Aku hanya menyarankan. Jika kamu ingin melakukan itu. Jangan beritahu Verro. Karena aku tidak mau. Verro sampai berharap banyak dengan pemikiran kamu. Kamu harus ingat janji kamu sama Cherry. Kalau kita harus menjaga Verro," ucap Sasy menegaskan pada Toby.
" Iya. Kamu benar. Aku sangat mengingat apapun yang di katakan Cherry," sahut Toby. Sasy tidak bisa berbicara lagi dia pun tidak tau apa harus mendukung rencana Toby.
__ADS_1
Bersambung......