
Cherry terus menangis tersedu-sedu. Sampai akhirnya Vandy melepas tangan Cherry dari pinggangnya dan berjongkok di depan Cherry. Melihat wajah Cherry yang penuh air mata.
Vandy memegang ke-2 bahu Cherry dan mengusap air mata yang merusak wajah cantik Cherry.
" Cherry apa yang kamu katakan, ada apa? Siapa yang mengatakan itu kepadamu. Cherry aku dan yang lainnya berteman denganmu tanpa ada memikirkan hal seperti yang kamu katakan, bahkan aku tidak pernah punya pikiran jika kamu wanita yang memiliki kekurangan. Hey kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh itu. Kematian itu bukan kamu yang menentukan. Bisa saja aku yang terlebih dahulu mati. Kamu wanita yang baik yang jauh lebih sempurna. Jadi jangan merasa berbeda," ucap Vandy yang ingin memberi Cherry pengertian.
" Tetapi selama hidup bukannya aku selalu menyusahkan, aku menyusahkan kamu dan juga yang lainnya," sahut Cherry yang merasa membebankan orang lain.
" Siapa yang mengatakannya, Cherry kamu tau bahwa aku dan yang lainnya tulus kepadamu. Kamu bisa merasakannya. Bisa merasakan mana yang tulus dan yang tidak tulus. Katakan siapa yang bicara kepadamu. Sampai kamu punya pikiran sejelek itu. Katakan," desak Vandy yang merasa ada yang aneh.
" Aku tidak mungkin mengatakan Fiona yang adanya Fiona akan menghinaku lagi, dia akan berpikiran jika aku suka mengadu," batin Cherry yang mulai kebingungan.
" Cherry katakan, aku ingin tau kenapa dia sangat lantang berbicara," desak Vandy menatap wajah Cherry serius. Tetapi Cherry menggelengkan kepalanya.
Vandy tersenyum dan kembali mengusap air mata Cherry. Vandy merasa Cherry hanya butuh waktu dan nanti pasti akan mengatakan semuanya kepadanya.
" Ya sudah jika tidak ingin mengatakannya. Aku akan menunggunya. Yang jelas kamu harus tau aku tulus berteman dengan mu. Dan aku tidak mau mendengar soal kematian dari mulutmu. Dengar Cherry tidak ada yang mengatakan jika kamu menyusahkan. Kamu justru menjadi sahabat yang sangat terbaik yang pernah aku temui. Jadi jangan membuat aku dan yang lainnya kecewa. Karena hanya kamu putus asa dengan keadaan mu yang baik-baik saja," jelas Vandy dengan ketulusannya.
" Benarkah, jadi aku tidak menyusahkan?" tanya Cherry memastikan. Vandy tersenyum menggeleng.
" Jadi jangan punya pikiran buruk lagi, jangan menangisi hal yang tidak penting, aku tidak menyukainya. Lihat diri kamu matamu sampai bengkak, wajahmu memerah dan aku yakin kamu pasti lapar," sahut Vandy mencairkan suasana membuat Cherry tersenyum walau wajahnya cemberut.
" Benarkan kamu lapar?" tanya Vandy.
Cherry mengangguk pelan. Ternyata menangis juga menguras tenaganya sehingga dari tadi membuat perutnya keroncongan.
" Ya sudah jika memang benar kamu lapar, sekarang berhenti menangis dan kita makan siang," ucap Vandy.
" Apa masih bisa makan?" tanya Cherry yang sudah membaca peraturan. Jika telan makan. Maka tidak akan ada makanan lagi.
" Pasti, pasti masih bisa, mana mungkin tidak bisa," sahut Vandy dengan yakin.
" Vandy, aku harus menjauhi Verro," ucap Cherry tiba-tiba. Membuat Vandy mengkerutkan dahinya.
" Ada apa dengannya. Sepertinya Cherry tidak ribut dengan Verro. Karena kalau dengan Verro Cherry pasti langsung cerita. Dan dia juga berniat menjauhi Verro, sepertinya ada yang tidak beres dengan Cherry.
" Aku ingin lepas darinya, aku tidak ingin dia merasa terbebani padaku," ucap Cherry yakin. Vandy tersenyum mengangguk.
" Iya tapi kita makan dulu. Nanti kak Arif akan memarahiku. Kalau kamu sampai tidak makan," sahut Vandy.
" Apa kak Arif juga membuatmu kesulitan?" tanya Cherry. Vandy langsung menggeleng cepat.
" Tidak ada yang mengatakan itu. Jadi yang terpenting kamu harus makan," sahut Vandy.
" Ayo!" ajak Vandy yang membujuk Cherry. Cherry mengangguk.
__ADS_1
Vandy berdiri dan mengulurkan tangannya. Cherry meraihnya dan berdiri lalu mereka meninggalkan tempat itu.
********
Akhirnya Cherry dan Vandy kembali ke Villa. Saat ingin memasuki lokasi dapur. Cherry dan Vandy berpapasan dengan Verro.
" Dari mana kamu?" tanya Verro dengan suara dingin. Verro bisa melihat wajah Cherry yang kusam, seperti habis menangis.
" Ada apa dengannya, apa dia sedang menangis," batin Verro yang penasaran.
" Vandy, ayo makan!" ajak Cherry yang tidak ingin menjawab Verro.
" Oh iya," sahut Vandy. Cherry dan Vandy pun pergi, tanpa mempedulikan sampai Verro semakin kesal dengan Cherry.
" Cherry aku belum selesai bicara," cegah Verro menarik memegang pergelangan tangan Cherry.
" Verro, bukannya Cherry harus makan dulu," ujar Vandy. Verro malah menatap Vandy sinis.
" Jadi tolong, jangan kayak anak kecil," lanjut Vandy lagi yang langsung melepas tangan Verro dari tangan Cherry.
Lalu Vandy langsung mengajak Cherry. Tanpa mempedulikan Verro yang sekarang diam mematung.
" Ada apa dengannya, bukannya menjawab, malah pergi, dan kenapa Vandy, berani-beraninya dia mengatakan itu di depanku," batin Verro kesal melihat kepergian Cherry.
Vandy pun akhirnya mengambilkan nasi untuk Cherry lengkap dengan lauk-pauknya yang memenuhi piring. Sementara Verro yang benar-benar kesal dengan kelakuan Cherry langsung ke dapur.
" Makanlah!" ucap Vandy.
" Makasih," jawab Cherry mulai menyendokkan nasi.
Tiba-tiba Sasy, Toby datang ketika melihat Cherry yang makan bersama Vandy.
" Cherry kau dari mana saja, kenapa baru muncul sekarang?" tanya Sasy dengan suara cemprengnya yang berdiri di samping Cherry.
" Benar Cherry, kita khawatir tau," sambung Toby.
" Bohong, kau tidak ikut mencarinya, kau malah makan dengan tenang," sahut Cherry sewot.
" Aku mencarinya sambil makan," sahut Toby membela diri.
" Hmmmm, sudah-sudah kalian ini apa-apaan, sih malah berisik. Cherry kapan makannya," sahut Vandy geram dengan Toby dan Sasy yang malah bertengkar.
" Dia nih duluan," Sahut Sasy yang pasti akan menyalahkan Toby.
" Enak aja, kau tuh," sahut Toby yang tidak mau kalah.
__ADS_1
" Ihhhh, sudahlah kalian jangan berisik, aku mau makan dulu," sahut Cherry dengan wajah cemberutnya.
" Baiklah Cherry, sayang kamu makan saja," ucap Sasy duduk di samping Cherry. Dan Cherry pun mulai makan.
" Cherry, kau tidak apa-apa kan?" tanya Sasy yang melihat wajah Cherry kusam dan bahkan matanya memerah.
Cherry menggeleng bohong. Dia malas menjawab banyak pertanyaan Sasy.
" Tapi kenapa matamu, apa kau habis menangis," tebak Sasy.
" Benar Cherry matamu bengkak," tambah Toby.
Vandy menarik napas melihat Sasy dan Toby yang hanya bisa mengganggu saja.
" Kalau kalian banyak tanya, kapan Cherry akan makan," sahut Vandy.
" Iya aku lapar, aku tidak apa-apa,kok," jawab Cherry bohong.
" Oh ya sudah baiklah kamu makan saja," sahut Sasy.
*************
Sementara Varell dan Nadya berjalan berdampingan. Mereka hanya berjalan di taman Villa tanpa ada obrolan.
" Hmmm, ada yang ingin kamu katakan?" tanya Nadya menoleh ke arah Varell.
" Tidak ada," jawab Varell singkat.
" Lalu kenapa memanggilku?" tanya Nadya.
" Apa tidak boleh," sahut Varell. Nadya terdiam dan melanjutkan langkahnya. Nadya tiba-tiba berjongkok ketika menemukan benda.
" Jam milik siapa ini?" tanya Nadya memegang jam tangan pink. Varell yang mengenali benda itu langsung mengambilnya dari tangan Nadya.
" Ini punya Cherry," jawab Varell. Nadya langsung berdiri.
" Benarkah! kok bisa ada di sini?" tanya Nadya heran. Sementara Varell juga bingung kenapa jam yang milik Cherry ada di taman.
" Entahlah, mungkin terlepas. Nanti aku akan kembalikan," jawab Varell.
" Tetapi sepertinya rusak," ucap Nadya yang melihat kaca jam tersebut rusak.
" Aneh, kenapa sampai rusak, seperti habis di banting," batin Varell merasakan ada yang tidak beres.
💝💝Bersambung
__ADS_1
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.