DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 95 Firasat.


__ADS_3

Verro memeluk erat, sambil mengusap rambut Cherry dia sangat bahagia hari ini. Bisa benar-benar membuat banyak kenangan indah bersama Cherry.


Semua sesuai rencananya dia bisa memberi kebahagian untuk wanita yang di cintainya. Wanita yang sejak dulu ada bersamanya. Wanita. Wanita yang membuatnya marah. Wanita yang membuatnya terus berpikir keras dan wanita yang membuatnya ketakutan.


Verro melepas pelukannya dan mencium lembut kening Cherry. Cherry tersenyum menatap 2 Verro dengan dalam-dalam penuh cinta.


" I love you," ucap Verro mengusap lembut pipi Cherry.


" I love you to," jawab Cherry.


" Ya sudah. Aku ketoilet sebentar," ucap Verro.


" Iya," sahut Cherry.


Verro berdiri melangkahkan kakinya menuju toilet. Cherry tersenyum memandangi punggung laki-laki yang membuat malamnya begitu bahagia.


" Aku harus menceritakan kepada Siska semuanya. Jika aku bahagia dengan pacar baru ku. Aku belum pernah bercerita kepadanya mengenai Verro yang di katakannya kuyup es. Tidak Siska salah. Verro Pria yang sangat manis," gumam Cherry terus memegang kalungnya.


Dia tidak sabar pulang ke Jakarta. Supaya bisa pamer kepada Siska temannya yang sekarang berjuang di meja operasi.


Di tengah pemikirannya tiba-tiba Cherry bernapas mulai tidak beraturan. Tiba-tiba debaran jantungnya lumayan berdetak tidak karuan.


ting-ting-ting-ting. Alarm di pergelangan tanganganya berbunyi. Dia semakin kesulitan bernapas.


" Aku mohon jangan sekarang," ucapnya dengan suara serak. Cherry yang semakin kesakitan meremas bagian dadanya. Dia lupa membawa obat daruratnya. Debarannya semakin kencang membuat dia semakin kesakitan.


Cherry berusaha berdiri memegang kuat pinggir meja. Tetapi seketika Cherry berdiri malah terjatuh di lantai kapal. Meja yang di senggol nya menjatuhkan gelas sehingga berguling di atas meja.


Semua airnya tumpah ke baju Cherry bahkan gelasnya juga sampai kelantai dan pecah.


" Verro! lirih Cherry dengan air matanya yang jatuh di pipinya menahan sakitnya yang luar biasa yang tidak bisa di ucapkan.


Verro akhirnya selesai dari kamar mandi. Masih dari kejauhan Verro menghentikan langkahnya karena tidak melihat Cherry duduk di tempatnya


" Kemana dia?" batin Verro heran.


Mata Verro turun kebawah dan melihat Cherry sudah terkapar di lantai dengan napas tersengal-senggal.


" Cherry," teriak Verro berlari sekencang-kencangnya. Verro langsung terduduk melihat Cherry yang sudah pucat dan terus meremas dadanya.


Cherry mendengar nama itu. Melihat Verro dengan pandangan yang sudah tidak jelas.

__ADS_1


" Apa yang terjadi?" tanya Verro paniknya luar biasa. Cherry masih menggeleng seakan dia baik-baik saja.


" Ayo kita kerumah saki," ucap Verro meletakkan tangannya di bawah leher Cherry dan kedua lutut Cherry untung menggendongnya. Tetapi Cherry menahannya.


" Aku tidak mau," ucap Cherry dengan sesak di dadanya.


" Apa yang kamu katakan Cherry. Kondisi kamu memburuk. Kamu harus di bawa ke dokter," ucap Verro semakin panik.


" Verro aku mohon. Kali ini jangan bawa aku kerumah sakit. Biarkan aku di sini bersamamu. Aku tidak apa-apa. Sakitnya akan hilang hilang sebentar lagi. Aku ingin sampai pagi di sini. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Aku takut tidak bisa melakukannya lagi," ucap Cherry dengan kesulitan berbicara. Tetapi sangat puas bisa menyampaikan keinginannya.


" Apa yang kamu katakan. Apa kamu gila," teriak Verro yang kehilangan kendali dengan tindakan Cherry yang akan membahayakan Cherry.


" Jangan membentakku. Aku tidak ingin melihatmu marah-marah. Aku mohon sekali ini saja. Aku mohon," Cherry yang benar-benar tidak ingin di bawa pergi memohon kepada Verro.


Verro langsung memeluknya dengan erat. Wajahnya penuh ketakutan. Tubuhnya bergetar memeluk wanita yang sekarang menahan sakit.


" Jangan begini Cherry, ini akan membuatku takut," ucap Verro. Yang sudah di banjiri air mata. Verro benar-benar tidak siapa jika harus kehilangan Cherry sekarang.


" Aku hanya ingin bersamamu," lirih Cherry yang benar-benar tidak ingin kerumah sakit.


*********


Jakarta.


Laskarta sedang berjongkok membereskan retakan kaca pada foto Putri kesayangannya.


" Papa tidak sanggup. Jika kamu pergi duluan. Papa ingin bersamamu sampai papa tua. Papa tidak memiliki siapa-siapa lagi selain kamu. Apa gunanya semua yang papa dapatkan. Jika putri kesayangan papa meninggalkan papa," Air mata Laskarta jatuh pada foto Putri cantiknya.


" Papa menyayangimu. Kamu harus tetap hidup," ucapnya dengan penuh harapan.


Flassback.


" Pa Cherry jangan di operasi," ucap Cherry gadis kecil yang masih berusia 10 tahun.


" Sayang kamu harus dioperasi supaya kamu cepat sembuh," ucap Laskarta membujuk putrinya yang berada di atas tempat tidur rumah sakit.


" Cherry tidak mau pa, kemarin Cherry melihat ada orang yang masuk ruangan itu. Ketika keluar. Keluarganya menangis dan katanya selesai di operasi dia sudah bangun lagi," ucap Cherry yang ketakutan untuk tidak membuka matanya.


" Cherry tidak mau kalau nanti Cherry tidak bangun. Lalu siapa yang menemani papa. Cherry tidak mau," ucap Cherry menangis di depan papanya.


" Iya sayang, kamu tidak akan dioperasi. Kamu akan di operasi ketika kamu benar-benar siap," ucap Laskarta meneteskan air matanya.

__ADS_1


" Papa harus janji sama Cherry," ucap Cherry mengajukan jari kelingkingnya.


" Iya sayang papa janji sama kamu," sahut Laskarta yang juga memberikan jari kelingking nya berjanji pada putrinya.


Flassaon


" Kamu selalu takut jika dioperasi. Tapi semua demi kebaikan kamu. Kamu harus di operasi Cherry. Harus, semua demi kebaikan kamu sayang. Papa menyayangi kamu," ucap Laskarta yang di penuhi air mata terus memandangi foto putrinya yang terlihat Ceria.


Cherry yang memang sejak dulu selalu ceria. Bahkan tidak pernah mengeluhkan sakit kepadanya. Dia tau putrinya itu memang selalu semangat dan hidup seperti orang normal pada umumnya.


*******


Sementara di kamar Nadya, Azizi dan Sasy membereskan kamar tersebut. Karena besok kepulangan mereka ke Jakarta. Mereka hanya membereskan beberapa barang-barang yang belum di bereskan.


" Apa Cherry akan menginap di sana?" tanya Nadya yang melihat sudah pukul 12 malam dan Cherry belum pulang juga.


" Mungkin saja, lagian kan hari bebas," sahut Azizi.


" Lagi pula dia bersama Verro. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan," sahut Sasy merasa aman jika temannya bersama Verro.


" Benar kata Sasy. Dia bersama Verro jadi kita tidak usah khawatir," sahut Azizi membenarkan.


Sebenarnya pikiran Azizi juga sedang tidak baik-baik saja. Dia memikirkan banyak hal. Pikirannya bercabang yang terbagi kemana-mana.


Fiona yang selalu sok tau. Belum lagi Vandy yang secara terang-terangan menghindar darinya. Padahal dia berharap. Vandy bisa menghabiskan waktu kepadanya di hari kebebesan. Tetapi semua jauh dari apa yang di pikirkannya.


" Hmmm, bagaimana jika kita keluar, mengikuti acara kembang api," ajak Sasy yang memang ada acara kembang api yang di adakan di belakang Villa sebagai acara perpisahan.


" Kalian saja, aku mau istirahat saja," sahut Nadya langsung menolak.


" Aku juga Sasy ingin istirahat saja," sahut Azizi yang memang tidak bersemangat.


" Kok gitu sih," sahut Sasy lesu. Bahkan tidak semangat. Karena teman-temannya yang tidak ikut.


" Kamu pergi saja. Bukannya ada anak-anak yang lain di sana," ucap Azizi.


" Ya sudah deh kalau kalian tidak mau ikut. Aku pergi dulu," ucap Sasy yang memang kepingin untuk melihat kembang api.


" Iya," jawab Azizi dan Nadya serentak.


Sasy pun langsung pergi keluar dari kamar. Dia memang harus sendiri. Temannya pada mager dan Cherry sendiri sibuk dengan pacaran. Jadi mau tidak mau dia harus gerak sendiri.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2