
Sebelum pulang dari rumah Cherry mereka semua membersihkan rumah Cherry terlebih dahulu. Seperti janji mereka di awal yang yang membuat rumah itu bersih kembali seperti awal.
" Akhirnya selesai juga," ucap Raquel yang bernapas lega setelah selesai mengepel lantai.
" Hmmm, ternyata jika di kerjakan dengan beramai-ramai sangat mudah selesainya dan hasilnya juga sangat memuaskan," sahut Sasy.
" Ya namanya juga kerja sama," sahut Nadya.
" Makasih untuk kalian semua yang sudah repot-repot membersihkan rumah kami," sahut Cherry.
" Nggak apa-apa kali Cherry kan tadi kita semua sudah janji. Kalau sebelum pulang kita akan bersihkan rumah kamu seperti semula lagi," sahut Azizi.
" Kita yang recoki, makanya kita juga yang beresin," sahut Nadya. Mereka tertawa kecil.
" Hmmm, ya sudah ini sudah malam. Acaranya semuanya sudah selesai. Kita juga sudah makan-makan, dan sudah sudah beres juga rumahnya. Jadi kita harus pulang kerumah masing-masing," sahut Sasy.
" Ya sudah, ayo kita hampiri para pria-pria yang tidak ikut membantu itu," sahut Raquel. Mereka sama-sama mengangguk dan Nadya mendorong kursi roda Cherry mengajak menghampiri para Pria yang menunggu di luar.
Tidak lama merekapun sampai pada pria-pria yang sudah menunggu mereka.
" Kami sudah selesai," sahut Raquel. Membuat, Vandy, Aldo, Toby, Verro dan Varell melihat kebelakang dan melihat para wanita menghampiri mereka.
" Ya sudah kalau sudah selesai ada sebaiknya kita pulang. Sudah malam juga," sahut Aldo.
" Ya sudah ayo," ajak Raquel.
" Verro, Cherry kami pulang dulu ya," ucap Vandy yang berpamitan.
" Thanks ya untuk hari ini," sahut Verro.
" Sama-sama. Kalian jangan berantam-berabtam lagi. Ingat kalian sebentar lagi akan menjadi orang tua," ucap Varell mengingatkan.
" Makasih ya Varell kamu sudah mengingatkan kami. Makasih juga untuk kalian semua yang sudah membantu aku sama Verro saat kami di rumah sakit. Kalian semua sudah mengurus kami, aku nggak akan bisa balas apa yang kalian lakukan," sahut Cherry dengan yang tidak bisa berkata banyak untuk kebaikan orang-orang di sekitarnya.
" Ya ampun Cherry. Kamu nggak perlu kepikiran kali untuk membalasnya. Lagian kamu juga baik sama kita," sahut Azizi.
" Itulah namanya teman. Saling membantu sudah dan senang dan bukannya itu sudah biasa," sahut Vandy.
" Benar, yang penting kita semua saling mengambil pelajaran dan hikmah dari semua kejadian," sahut Nadya.
" Ya, apapun itu aku benar-benar berterima kasih untuk kalian," sahut Cherry yang tidak bisa berkata-kata banyak.
" Benar kata Cherry kami memang berterima kasih untuk kalian semua dan untuk Aldo dan Raquel selamat untuk pernikahan kalian, semoga acaranya lancar," sahut Verro menambahi.
" Amin," sahut Raquel dengan cepat.
" Cepat amat bilang aminnya," sahut Sasy.
" Ya, namanya juga doa baik. Jadi harus di aminkan," sahut Raquel.
__ADS_1
" Ya, aku juga beri doa yang terbaik untuk kamu Raquel," sahut Nadya.
" Makasih Nadya, semoga nyusul ya," sahut Nadya. Nadya hanya tersenyum. Namun Varell melihat ke arah Nadya.
" Ya sudah kapan nih kita pulangnya," sahut Toby.
" Iya benar dari tadi saling terimah kasihnya. Nggak akan siap-siap kalau begitu. Kita nggak akan jadi pulang," sahut Raquel.
" Ya sudahlah, kami pulang dulu," sahut Toby.
Verro dan Cherry sama-sama mengangguk dan mereka berpelukan secara bergantian sebelum pulang.
" Daaa," sahut semuanya serentak melambaikan tangan. Verro dan Cherry ikut melambaikan tangan melihat mobil temannya itu pergi satu persatu.
" Ayo sayang kita masuk," ajak Verro.
" Hmmm, ayo," sahut Cherry mengangguk. Verro pun mendorong kursi roda istrinya memasuki rumah.
*********
Sasy dan Toby berada di dalam mobil yang menunggu di lampu merah.
" Cherry Verro sudah menikah, Azizi Vandy sudah menikah, sekarang Raquel dan Aldo tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba udah menikah- menikah aja," sahut Sasy yang sedari tadi bicara dengan matanya melihat-lihat ke luar jendela. Sepertinya Sasy sedang memberi kode untuk Toby.
Namun dari tadi sama sekali tidak ada respon dari Toby. Dia tetap menatap lurus kedepan dengan jarinya yang mengetuk-ngetuk di stir mobil.
" Iya, nggak nyangka memang," sahut Toby datar.
" Apaan sih, si Toby dari tadi aku bicara nanggapinya datar terus. Dia nggak peka apa. Apa yang aku bicarakan," batin Sasy kelihatan mulai kesal.
" Ehmmm, lagian sih apa yang di lakukan Aldo dan Raquel itu udah yang paling tepat. Ngapain coba pacaran lama-lama mending langsung nikah aja," ucap Sasy lagi. Toby hanya mengangguk.
" Hmmm, menurut kamu Aldo gentelment banget ya," ucap Sasy mulai kesal dan sudah mengeluarkan sindirannya.
" Ya namanya juga laki-laki. Ya harus gentelment," sahut Toby dengan santai. Sasy sudah beberapa kali membuang napas kasar dengan sikat Toby yang tidak konek-konek sedari tadi.
" Ya selain gentelment dia juga tau diri dan bertanggung jawab. Anak orang nggak di ajak pacaran mulu. Tapi di nikahi dengan statusnya yang jelas," sahut Sasy yang tiba-tiba marah. Sampai membuat Toby heran.
" Kamu lapar?" tanya Toby dengan santainya bicara. Memang kalau Sasy tiba-tiba ngegas pasti dia lapar dan dengan polosnya Toby hanya bertanya.
" Iya lapar dan ingin makan kamu," sahut Sasy geram dengan wajahnya yang cemberut dengan tangannya di letakkan di dadanya.
" Kok makan aku," sahut Toby heran.
" Ahhhh, sudah nggak tau," sahut Sasy kesal dengan wajahnya yang cemberut. Toby memang terlihat tidak peka-peka dan malah menganggap Sasy ngambek karena lapar. Padahal Sasy dari tadi memberi kode untuk di nikahi.
" Dasar menyebalkan. Lihatlah dia malah diam lagi," batin Sasy kesal dengan santainya Toby.
*************
__ADS_1
Di sisi lain Varell sudah sampai mengantarkan Nadya pulang kerumahnya.
" Makasih ya Varell kamu sudah mengantarkan ku," ucap Nadya.
" Sama-sama," sahut Varell tersenyum.
" Ya, sudah kalau begitu aku masuk dulu," sahut Nadya membuka sabuk pengamannya.
" Hmmm, tunggu Nadya," cegah Varell.
" Ada apa?" tanya Nadya heran.
" Hmmm, begini besokkan hari Minggu dan kamu libur kerja. Kamu mau tidak besok jalan sama aku?" tanya Varell yang terlihat ragu. Nadya juga terlihat sangat ragu. Dia bahkan tidak langsung menjawab.
" Nadya!" tegur Varell.
" Varell tapi aku takut mama kamu akan tau," ucap Nadya apa adanya yang takut ketahuan Helena mamanya Varell.
" Maaf ya Nadya. Mama sudah membuat kamu takut," ucap Varell merasa bersalah.
" Tidak apa-apa. Kau hanya tidak ingin mencari masalah," sahut Nadya.
" Nadya aku janji tidak akan ada masalah. Aku janji mama tidak akan tau," ucap Varell meyakinkan Nadya.
" Tapi...," sahut Nadya yang masih ragu.
" Please," bujuk Varell, " tidak akan lama,sebentar aja," ucap Varell lagi menyakinkan Nadya.
" Ya sudah," sahut Nadya mengalah.
" Serius?" tanya Varell tidak percaya. Nadya mengangguk membenarkan.
" Makasih ya," sahut Varell.
" Iya. Kalau begitu aku masuk dulu," ucap Nadya pamit.
" Iya, besok aku akan menjemputmu. Makasih ya," ucap Varell lagi. Nadya mengangguk tersenyum dan keluar dari mobil perlahan.
" Yess," ucap Varell kesenangan dengan Nadya yang menerima tawarannya.
" Makasih Nadya, untuk kesempatan yang kamu berikan. Aku janji akan memberimu kebahagian," ucap Varell dengan wajah bahagianya yang bisa mengajak Nadya jalan-jalan.
Hubungan tanpa restu memang sulit dan Varell benar-benar harus memperjuangkan wanita yang di cintainya itu.
...Jangan lupa mampir ke Novel terbaru aku ya. Mohon suportnya, like, koment, vote, makasih para readers setia ku....
Bersambung
__ADS_1