
Cherry masih menumpahkan perasaannya dengan yang bercampur aduk dalam pelukan suaminya. Mendengar apa kata Fiona membuatnya takut kehilangan Verro. Dia tau Verro hanya mencintainya. Namun sangat wajar jika dia juga ketakutan kalau suaminya akan pindah kelain hati.
" Jangan menangis lagi. Aku tidak mengulanginya lagi," ucap Verro. Cherry mengangkat kepalanya dan melihat wajah Verro. Mata Verro berkeliling melihat wajah istrinya.
Dia sangat tidak tega dengan keadaan Cherry yang sekarang. Di mana mata Cherry bengkak dengan wajah yang penuh air mata.
" Kamu menangis lagi," ucap Verro mengusap air mata itu. Cherry mengangguk kan matanya. Lalu Verro mencium keningnya dengan lembut. Lalu mata Verro turun pada pipi bibir Cherry dan langsung ingin mengecupnya. Tetapi Cherry tampak menghindar.
" Verro!" ucap Cherry.
" Ada apa sayang?" tanya Verro.
" Aku tau kamu adalah Dokter. Tetapi aku juga tidak ingin jika kamu harus melebihi batas sebagai Dokter terhadap pasien kamu," ucap Cherry membuat Verro bingung.
" Maksud kamu?" tanya Verro heran.
" Aku istrimu Verro. Bukankah aku yang harus menjadi froritsmu," sahut Cherry.
" Iya kamu benar. Kamu proritasku. Aku tidak mungkin menggantikan kamu dengan orang lain," sahut Verro.
" Berjanjilah padaku. Jika kamu akan terus ada di sisiku. Berjanjilah dalam keadaan apapun kamu tidak akan mengabaikan mu, aku tidak ingin apa yang terjadi akan terulang lagi. Aku punya siapa-siapa Verro untuk mengadu. Aku anak yatim piatu dan kamu tau. Jika hanya kamu yang aku miliki di dunia ini," ucap Cherry dengan serius bicara pada Verro dan air matanya kembali menetes dan Verro kembali mengusapnya.
" Jangan pernah bicara seperti itu. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Apapun itu. Bagiku kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai dan itu tidak akan pernah tergantikan. Kamu adalah froritasku keutamaan ku dan masalah pekerjaanku itu hanya sebatas pekerjaan yang tidak akan bisa di gantikan dengan apapun lagi. Kamu wanita yang paling aku cintai," sahut Verro. Cherry tersenyum mendengarnya.
" Aku berharap apa yang kamu katakan. Bisa kamu tepati Verro. Aku tidak akan membiarkan orang lain merebutmu dari ku. Aku tidak akan membiarkan hal itu," batin Cherry yang masih saja was-was.
Namun Verro yang menatap dalam-dalam istrinya kembali meraih bibir Cherry. Di mana Cherry masih melamun. Verro mengangkat kepalanya sedikit lalu mencium dengan dalam dan Cherry langsung memejamkan matanya menerima ciuman dari suaminya.
Untuk menumpahkan rasa kerinduan di antara mereka berdua. Di mana mereka yang saling mencintai dan saling merindukan. Melepas kerinduan ke-2nya dengan hasrat yang tinggi. Dengan Verro mengusap-usap pundak Cherry dan semakin mendekatkan Cherry kepadanya agar ciumannya semakin dalam.
**********
Sasy sedang menikmati makan siang sendiri di kantin rumah sakit dan tiba-tiba Raquel datang dengan membawa nampan yang berisi dengan makanan.
__ADS_1
" Tumben sendirian," ucap Raquel yang langsung menarik kursi dan mengambil tempat duduk.
" Ya elo, kelamaan," sahut Sasy kesal dengan mengunyah makanannya.
" Ya sorry, namanya juga banyak kerjaan," sahut Raquel mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan dan mata Raquel melihat map biru di samping Sasy.
" Apaan, itu?" tanya Raquel meneguk minumannya. Sasy menoleh kesampingnya.
" Hhhh, apa lagi kalau bukan hasil medis dari Fiona," sahut Sasy tampak kesal.
" Lalu kill bisa ada sama kamu?" tanya Raquel heran.
" Ya Verro, lah pake acara suruh buat periksa-periksa," sahut Sasy.
" Ya terus, sudah kamu periksa?" tanya Raquel.
" Ahhhh, masa bodo males tau, biarin aja situ. Tuh juga nggak akan berubah-ubah kan, apa yang di tulis," sahut Sasy.
" Issss, awas lo entar Verro bisa marah kalau dia tau kamu tidak memeriksanya," sahut Raquel menakut-nakuti.
" Hmmmm, iya sih kamu benar. Lagian kan bisa Fiona di rawat di rumah sakit. Orang juga ada yang menanggungnya," sahut Raquel.
" Dia pasti hanya alasan saja. Aku yakin dia pasti hanya pengen dekat-dekat sama Verro. Aku tetap nggak bisa terima dengan apa yang dia lakukan," ucap Sasy.
" Atau jangan-jangan Cherry sama Verro lagi ada masalah gara-gara Fiona lagi," sahut Raquel tiba-tiba.
" Maksud kamu?" tanya Sasy.
" Kamu dengar dong apa kata Nadya kemarin.
Dia juga merasa Verro dan Cherry ada sesuatu dan kamu tau tidak Fiona itu tinggal di yayasan kanker milik Verro dan Verro sering banget kesana. Aku punya pikiran lain. Kalau Fiona memanfaatkan sakitnya untuk mendekati Verro dan menjauhkan Verro dari Cherry. Buktinya Verro bisa-bisanya terus berada di yayasan," jelas Raquel dan membuat Sasy terlihat berpikir.
" Hmmm, bisa jadi sih. Aku juga punya pikiran seperti itu. Aku sudah mengingatkan Cherry di awal untuk tidak membuka akses untuk pelakor," ucap Sasy.
__ADS_1
" Ya namanya juga Cherry hatinya terbuat dari kapas. Mau gimana lagi," sahut Raquel.
" Kalau begitu ini akan menjadi tugas kita untuk mewanti-wanti Fiona agar tidak mendapat sedikit kesempatan untuk dekat-dekat dengan Verro. Jika Cherry tidak mau melakukannya. Maka kita harus bertindak," ucap Sasy.
" Aku setuju," sahut Raquel.
" Gimana kalau nanti kita ke Yayasan. Kita coba lihat dia di sana seperti apa," ucap Sasy tiba-tiba mendapatkan ide.
" Boleh-boleh," sahut Raquel yang langsung setuju dan mereka berdua kembali melanjutkan makan mereka.
***********
Verro, Cherry, Nadya sedang berada di depan pintu. Berbaikan dengan Verro yang akhirnya membuat mereka kembali pulang kerumah mereka dan berpamitan pada Nadya yang sudah menjaga Cherry selama 2 hari ini.
" Kalian yakin mau pulang sekarang. Padahal kan sudah malam. Kenapa tidak menginap lagi di sini," ucap Nadya memberi saran.
" Tidak apa-apa, Nadya, aku pulang kerumah aja. Tapi kamu jangan pulang ya. Kamu tetap menginap di sini," sahut Cherry.
" Iya, Cherry kamu sudah mengatakan itu beberapa kali. Aku mendengarnya dan aku tidak akan pulang," sahut Nadya. Verro dan Cherry saling melihat dan tersenyum.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu kami pamit ya Nadya. Makasih ya kamu sudah menemani Cherry. Kamu sudah menjaganya," ucap Verro.
" Sama-sama Verro lagian aku tidak melakukan apa-apa. Yang aku lakukan hanya biasa saja. Jadi tidak ada masalah sama sekali," sahut Nadya.
" Apapun kamu sudah menjaganya," sahut Cherry.
" Iya deh, kamu juga jagain Cherry terus. Cherry lagi hamil dan sangat butuh perhatian. Jadi jangan sampai lengah sedikitpun," ucap Nadya.
" Iya pasti. Aku pasti akan menjaganya terus. Makasih sudah mengingatkan ku," ucap Verro. Nadya mengangguk tersenyum.
" Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu," ucap Verro pamit. Nadya mengangguk.
" Daaaaa," ucap Cherry melambaikan tangannya dan di balas oleh Nadya dan Verro dan Cherry pun langsung pergi.
__ADS_1
" Semoga rumah tangga mereka tetap utuh," batin Nadya.
Bersambung