DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 53 perasaan yang di akui.


__ADS_3

" Ada apa?" tanya Verro yang sudah berhadapan dengan Fiona.


" Aku ingin mengajakmu, olah raga bersama, bukankah itu sangat bagus," jawab Fiona.


" Aku bisa olahraga sendiri tanpa bersamamu," jawab Verro ketus. Verro yang ingin pergi tangannya langsung di tahan Fiona.


" Ada apa lagi?" tanya Verro dengan ketus.


" Kenapa kau begitu cuek kepadaku, apa aku ada salah?" tanya Fiona.


" Apa aku harus ada alasan untuk ramah kepadamu, seharusnya aku yang mengatakan kepadamu, apa maumu sebenarnya. Kenapa kau mendekatiku, bahkan sok dekat denganku. Apa kau menyukaiku?" tanya Verro pada intinya. Membuat Fiona menelan salavinanya mendengar pertanyaan Verro.


" Katakan, apa kau menyukaiku?" tanya Verro sekali lagi.


" Jika iya apa yang akan kau lakukan," jawab Fiona membuat Verro mendengus.


" Jadi benar kau menyukaiku," sahut Verro sinis.


" Aku tidak akan menjawab untuk ke-2 kalinya," sahut Fiona.


" Aku tidak menyangka, jika wanita sepertimu tergila-gila padaku. Bukannya kau dulu mengatakan, jika kau tidak seperti murid-murid lainnya yang menggilaiku. Tetapi ternyata apa, diam-diam kau menyukaiku," ucap Kevin lagi.


" Perasaan orang bisa berubah. Dan aku juga punya alasan untuk merubah perasaanku, dan jangan samakan aku dengan wanita-wanita lainnya yang menyukaimu dengan terang-terangan mengejarmu," ucap Fiona dengan wajah seriusnya.


" Apa dia sungguh menyukaiku," batin Verro yang cukup kaget. Jika seorang wanita seperti Fiona menyukainya.


" Benarkah jika seperti itu," ucap Verro.


Verro yang tidak ingin lama-lama berada di depan Fiona memilih pergi meninggalkan Fiona yang sudah menyatakan perasaannya kepada Verro.


" Verro aku akan menunggu jawabanmu," teriak Fiona. Verro tidak merespon dan tetap melanjutkan langkahnya.


" Apa aku terlalu cepat mengatakannya," batin Fiona yang merasa salah yang telah menyatakan perasaannya secepat itu kepada Verro.


Mata Fiona, melihat ke arah atas yang ternyata Cherry masih melihat Fiona. Sehingga Cherry dan Fiona saling melihat.


" Dia tidak ada hubungan apapun dengan Verro," batin Fiona yang terus melihat ke arah Cherry.


" Apa yang mereka bicarakan dan kenapa Fiona sampai melihatku seperti itu," batin Cherry semakin penasaran dengan Fiona dan Verro.


" Cherry kau tidak ikut turun?" tanya Azizi melihat Cherry yang bengong di pinggir jendela. Cherry diam dan sepertinya tidak mendengar ucapan Azizi. Sampai akhirnya Azizi dan Nadya saling melihat.


" Cherry," tegur Nadya sekali lagi.

__ADS_1


" Ha, iya kenapa tadi," sahut Cherry gugup.


" Kau tidak ingin turun, Pak Sony ingin memberikan arahan," ucap Azizi.


" Oh kalian duluan saja, aku akan menyusul sama Sasy, aku membangunkan Sasy terlebih dahulu," sahut Cherry.


" Oh yasudah kita menunggu di bawah ya," sahut Azizi.


Cherry mengangguk senyum. Akhirnya Nadya dan Azizi pun ke luar dari kamar. Sementara Cherry masih bengong dan bukan malah membangunkan Sasy.


**********


Sore hari Cherry duduk-duduk di taman Villa. Wajah Cherry tampak sendu. Entah apa lagi yang mengganggu pikirannya tetapi dia merasa butuh sendiri.


" Aku menyukai Verro," tiba-tiba kalimat itu terdengar dari mulut seorang wanita yang membuat Cherry kaget. Cherry langsung mencari suara tersebut. Saat membalikkan tubuhnya Cherry kaget melihat Fiona.


Ternyata suara lantang itu berasal dari mulut Fiona yang dengan wajah seriusnya mengatakan hal itu pada Cherry.


" Kenapa dia harus mengatakan itu ke padaku, apa urusannya denganku," batin Cherry dengan debaran jantungnya yang mulai tidak menentu. Cherry bahkan takut alarmnya tiba-tiba berbunyi.


Memang tidak ada hubungannya dengannya karena dia juga tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Verro. Tetapi Cherry merasa sedikit sakit saat mendengarnya.


" Bukannya semua orang menyukainya. Dan tidak ada yang mengatakan itu kepadaku, jika ada orang yang menyukainya, jadi kenapa harus melaporkannya," jawab Cherry yang sudah berdiri dihadapan Fiona. Cherry hanya berusaha tenang dan santai.


" Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Cherry seperti menantang.


" Jangan halangi aku. Jika dekat dengannya," jawab Fiona. Cherry tersenyum miring mendengarnya.


" Aku tidak pernah menghalangimu, menghalangi siapapun, Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh," sahut Cherry dengan santai.


" Kalau begitu lepaskan dia," sahut Fiona. Cherry langsung kaget mendengar ucapan Fiona dan justru dia semakin kesal mendengarnya.


" Apa maksudmu, apa kau pikir aku mengikatnya," sahut Cherry kesal.


" Iya selama ini kamu mengikatnya. Kamu hanya memanfaatkan Verro untuk kepentingan kamu sendiri. Kamu memanfaatkan kekayaan orang tuamu agar Verro menurut dan tidak lepas darimu," jelas Fiona tanpa main-main bicara.


" Apa maksudmu?" tanya Cherry kaget mendengar ucapan Fiona.


" Apa yang di katakannya kenapa dia seperti tau sesuatu," batin Cherry mulai gelisah.


" Aku tau, Verro mendekatimu hanya karena sebuah bisnis. Meski kalian berteman sejak kecil. Tetapi Verro tidak pernah menyukaimu, semua yang di lakukannya kepadamu hanya karena terpaksa. Hanya karena sebuah bisnis. Orang tuanya memanfaatkan orang tuamu dan harus mengorbankan Verro," jelas Fiona yang seakan mengetahui semuanya.


Sementara Cherry semakin Shock mendengarnya. Tidak menyangka Fiona mengetahui hal itu.

__ADS_1


" Jangan kaget aku mengetahuinya. Tetapi aku memang tau semuanya. Kalian di sekolah di awasi oleh anak buahnya Om Hariyanto. Makanya Verro tidak bisa meninggalkan mu," lanjut Fiona lagi membuat Cherry semakin kaget.


" Apa dia tau, kenapa dia bisa tau, sementara Verro saja tidak tau. Jika aku dan dia di awasi," gerutu Cherry di dalam hatinya.


" Kau pasti bertanya kenapa aku bisa tau semuanya, karena orang yang mengawasi kau dan Verro adalah orang tuaku," tegas Fiona membuat Cherry membulatkan matanya sempurna melihat Fiona.


" Apa," lirih Cherry tidak percaya.


" Iya, karena kebodohanmu, Verro selalu mendapat masalah dari papanya. Dia selalu dianggap tidak bejus. Padahal kau yang mencari masalah. Kau harus tau Cherry jika kau hanya parasit untuk Verro. Kau mencuri kebebasan Verro. Bahkan kau sudah mengetahui semuanya jika Om Hariyanto hanya memanfaatkan keluarga mu. Tetapi kau malah diam. Demi mendapatkan ke untungkan dari Verro," Fiona terus merocos dengan kata-katanya yang jujur menyakitkan hati Cherry.


" Cukup Fiona," bentak Cherry yang tidak tahan mendengar ucapan Fiona.


" Kenapa, apa yang aku katakan salah. Kau memang wanita yang memanfaatkan Verro. Wanita yang mencuri kebebasan Verro. Kau memanfaatkan sakitmu demi keinginanmu. Kau egois Cherry," lanjut Fiona dengan sinis. Membuat mata Cherry berkaca-kaca.


" Aku tidak pernah memanfaatkan sakitku untuk bisa dekat dengan Verro, aku tidak serendahan itu," sahut Cherry menekan suaranya dengan menahan dadanya yang sesak.


" Jika seperti itu, kenapa kau tidak melepaskan Verro. Jika kau mengatakan kepada papamu tentang kebenarannya. Seharunya semuanya selesai. Verro tidak perlu berpura-pura lagi kepadamu. Dan dia bisa hidup normal. Tetapi apa, kau hanya benar-benar menikmati semuanya dan memanfaatkan keadaan, kau sengaja membuat Verro tersiksa," ucap Fiona dengan sinis.


" Kau wanita jahat Cherry sangat jahat. Seharusnya kau sadar. Jika kau wanita sakit. Apa kau harus mengambil kebahagian orang lain. Karena kau tidak bisa bahagia," kecam Fiona dengan sinis.


Tidak sadar air mata Cherry jatuh. Tetapi Cherry langsung menghapusnya dengan cepat. Dia tidak ingin Fiona melihatnya sangat lemah walau kata-kata Fiona sangat menyakitkan.


" Banyak di luar sana wanita yang penyakitan. Tapi tidak seperti dirimu. Seharusnya kau berpikir jika hidupmu akan bisa berhenti kapanpun. Seharusnya kau memperbaiki diri, menjadi wanita yang lebih baik jangan menyusahkan orang lain. Apa orang lain harus berkorban demi wanita seperti dirimu. Apa mereka akan melakukan itu terus sampai kau benar-benar mati," lanjut Fiona dengan kejam mengatai Cherry.


Membuat Cherry semakin merasakan sesak.


" Kau benar aku memang wanita yang memiliki kekurangan. Tetapi aku tidak pernah memanfaatkan keadaanku untuk bersama Verro. Jadi berhenti berpikiran seperti itu kepadaku," tegas Cherry dengan sedikit berteriak. Fiona tersenyum mendengarnya.


" Jika kau tidak ingin di sebut wanita seperti itu. Maka lepaskan dia. Jangan buat dia menanggung kesarakahan papanya. Kecuali kau benar-benar ingin memilikinya," sahut Fiona dengan sinis. Cherry tersenyum palsu mendengarnya.


" Jangan khawatir, aku melakukannya. Tetapi kau harus bertanggung jawab atas semuanya," sahut Cherry dengan sinis dan langsung meninggalkan Fiona.


Dada Cherry semakin sesak. Dia takut jika pingsan di depan Fiona. Saat berjalan alarmnya terus berbunyi. Pertanda kondisinya benar-benar lemah.


" Tenanglah Cherry," bentak Cherry yang berjalan cepat menetralkan suasana hatinya yang benar-benar buruk.


Karena kesal dengan alarmnya yang berbunyi. Cherry langsung membuka jam tangannya dan melemparnya jauh. Cherry berlari memegang dadanya yang sangat sakit.


💝💝Bersambung


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2