DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 394 Helena yang sadar.


__ADS_3

Setelah melamar Sasy dan di terima Sasy. Toby dan Sasy pun sampai di rumah sakit yang mana ke-2nya terlihat senyum-senyum sendiri yang tampak malu-malu. Ya Sasy lebih malu-malu sebenarnya.


" Kita turun!" ucap Toby yang mengajak Sasy untuk turun. Sasy menganggukkan kepalanya dan dan mereka sama-sama membuka sabuk pengaman dan langsung turun dari mobil begitu turun dari mobil Sasy dan Toby bergandengan tangan dengan wajah mereka yang sama-sama tersenyum dengan penuh kebahagian.


" Kamu bahagia hari ini?" tanya Toby.


" Jelas aku bahagia hari ini. Hari ini adalah hari yang paling bahagia untukku. Karena aku sebentar lagi akan menjadi istrimu," ucap Sasy.


" Benarkah!" tanya Toby. Sasy mengangguk-angguk dengan wajahnya yang memang wajahnya begitu bahagia dan penuh dengan senyuman yang lebar.


" Kalau begitu terima kasih. Karena sudah menerima lamaran ku," ucap Toby.


" Sama-sama Toby," sahut Sasy tersenyum lebar dan mereka terus berjalan menuju ruangan Helena yang mana mereka ikut menjaga Helena malam ini. Bisa di lamar dan akan di nikahi. Adalah kehidupan yang paling terindah untuk Sasy. Pernah bertengkar dengan Toby karena ketidak dewasaan Sasy dan mereka putus.


Tetapi hikmah di balik semuanya adalah pembelajaran untuk Sasy yang mendewasakan diri dan sekarang berhasil melewati semuanya dan hasilnya kekasihnya yang di tunggunya itu sekarang sudah melamarnya dan tinggal perencanaan pernikahan mereka.


***********


Toby dan Sasy masih dalam tahap awal dalam perencanaan pernikahan sementara Arif dan Selina sudah masuk 98 persen dan sekarang menuju pernikahan. Malahan hari ini undangan pernikahan Arif dan Selina akan di sebar di mana pernikahan mereka tinggal 2 Minggu lagi.


Azizi terlihat sangat sibuk dengan ibu mertuanya yang menyusun beberapa undangan yang akan di bagikan kesana kemari dari teman-teman Arif, Selina, dan pasti teman-teman Vandy dan juga Azizi dan terlebih lagi untuk teman-teman orang tuanya.


" Azizi ini yang untuk teman-teman Arif ya," ucap Lina yang sudah mengasingkan 1 tumpukan undangan.


" Baik mah," sahut Azizi yang juga begitu semangatnya untuk mempersiapkan undangan itu.


" Assalamualaikum," sapa Vandy yang baru pulang bersama dengan Dokter Arif.


" Walaikum salam," sahut Lina dan Azizi serentak. Vandy dan Arif mencium punggung tangan mamanya dan Vandy juga langsung mencium kening istrinya.


" Kamu capek?" tanya Azizi.


" Lumayan," sahut Vandy yang langsung duduk di samping Azizi. Arif juga duduk di samping mamanya.


" Apa semuanya sudah selesai ma?" tanya Arif.


" Sudah Arif kamu santai saja. Mama dan Azizi sudah mengatur semuanya," sahut mamanya.


" Makasih mah, makasih Azizi. Kalian sudah banyak membantu persiapan pernikahan ku," sahut Arif.


" Biasa aja kali kak Arif namnya juga untuk kakak ipar sendiri ya harus di siapkan," sahut Azizi yang santai.


" Arif kamu juga jangan lupa untuk ingatkan Selina agar tenang dan santai. Biasanya kalau lagi masa-masa seperti ini dia itu akan stress. Jadi kamu harus ingatkan dia setiap saat untuk tidak stres," ucap Lina memberi saran pada anaknya itu.


" Iya mah, makasih untuk sarannya. Jangankan Selina Arif aja mulai stres," sahut Arif.


" Itu namanya ujian pernikahan dan kamu harus bisa melewatinya," sahut mamanya menegaskan.


" Iya ma," sahut Arif.


" Ya ampun kak Arif ujiannya juga hanya bentar doang. Paling juga nanti kalau dah nikah santai-santai aja," sahut Vandy. Arif hanya mengangguk.


" Nggak nyangka banget ya. Kak Arif akhirnya nikah juga. Hmmm, pacarnya Selina lagi. Hmmmm yang sebentar lagi melepas masa lajang," sahut Vandy yang menggoda kakaknya.


" Udah deh Vandy nggak usah bicara kemana-mana," sahut Arif.


" Ya ampun yang malu-malu," sahut Vandy yang jahilnya menggoda kakaknya.


" Sayang kamu ini ya," tegur Azizi. Lina hanya tertawa-tawa saja melihat 2 putranya yang itu. Ya akhirnya 2 putranya sudah memiliki keluarga masing-masing dan dia sebagai seorang ibu pasti bahagia yang mana ke-2 putranya sudah menemukan wanita yang di cintai.


*************


Akhirnya Helena sudah siuman dan Verro ada di sana memeriksa kondisi Helena, di sana juga ada Nadya dan suaminya Varell.


" Tante harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran. Agar Tante cepat sembuh," ucap Verro memberikan saran.


" Lalu bagaimana dengan kaki Tante apa akan sembuh?" tanya Helena yang mengkhawatirkan kakinya yang mana dia sudah mengetahui akibat kecelakaan membuat sebelah kakinya tidak bisa bergerak.


" Makanya saya bilang Tante harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran. Agar kaki Tante juga pilih. Tante jangan khawatir kaki Tante hanya lumpuh sementara dan percayalah tidak akan ada apa-apa," ucap Verro.


" Mama dengarkan saja apa kata Verro. Jika dia berkata seperti itu maka itu sudah yang terbaik," sahut Vandy.


" Benar mah, mama pasti sembuh kok," sahut Nadya.


" Aku tidak bicara denganmu," sahut Helena dengan ketus.


" Mah," tegur Varell. Nadya mengusap lengan suaminya mengatakan jika dia tidak apa-apa. Karena dia memaklumi ibu mertuanya itu belum menyukainya dan maka dia akan bersabar.


" Hmmm, ya sudah kalau begitu saya permisi keluar dulu. Tante istirahat ya. Jangan lupa makan dan obatnya di minum. Ingat jangan memikirkan hal yang tidak perlu di pikirkan," ucap Verro menegaskan lagi.


" Iya Verro," sahut Helena.


" Aku keluar dulu!" ucap Verro pamit.


" Makasih ya Verro," sahut Varell. Verro mengangguk dan langsung pergi.

__ADS_1


" Ya sudah mama makan dulu ya. Nadya sudah membuatkan mama sup," sahut Varell.


" Mama tidak mau memakan apa yang di buatnya," sahut Helena yang tetap ketus.


" Mah, sudahlah makan aja. Lagian sup yang di buatkan Nadya sudah paling enak dan mama juga harus makan agar bisa minum obat. Ingat kata Verro tidak boleh telat minum obat. Mama mau tidak sembuh-sembuh," ucap Varell yang membuat Helena berpikir.


" Banyak makanan Varell. Kamu tidak bisa apa membelikan yang lain. Kenapa juga harus yang di buatkan ya," sahut Helena.


" Memang banyak makanan, tetapi yang ada hanya ini dan kalau memesan lagi akan lama datangnya. Mama mau telat minum obat. Semakin mama telat minum obat, maka semakin lama mama sembuh," ucap Varell yang memberikan mamanya peringatan.


" Kamu menakut-nakuti mama," sahut Helena.


" Tidak ada yang menakut-nakuti mama tapi apa yang Varell katakan memang benar. Sudah mama menurut saja dan jangan membantah," ucap Varell menegaskan pada sang mama.


" Ya sudah mana makanannya," sahut Helena yang mau tidak mau menuruti Varell. Nadya tersenyum mendengarnya dan mengeluarkan makanan itu dari dalam rantang.


" Lama sekali sih," sahut Helena kesal.


" Ya sabar dong mah," sahut Varell.


" Maaf mah," sahut Nadya yang langsung duduk di samping Helena yang ingin menyuapi Helena.


" Mau ngapain kamu?" tanya Helena dengan ketus.


" Ya mau menyuapi mama," sahut Nadya.


" Aku bisa makan sendiri," sahut Helena yang langsung menarik makanan itu dari tangan Nadya. Nadya melihat suaminya dan menganggukkan matanya pada istrinya yang membiarkan saja dengan apa yang ingin di lakukan mamanya itu.


Namun saat ingin menyendokkan makanan sup itu kemulutnya sendiri tiba-tiba Helena kepanasan.


" Auhhhhh," lirih Helena dengan lidahnya yang menjulur-julur.


" Ya ampun mama tidak apa-apa?" tanya Nadya panik.


" Kamu sengaja melakukan ini," sahut Helena yang menyalahkan Nadya.


" Mama apa-apaan sih kenapa malah menyalahkan Nadya. Tadi Nadya sudah ingin menyuapi mama. Tapi mama menolak. Mama yabg makam tidak hati-hati. Tetapi malah menyalahkan Nadya," sahut Varell.


" Kamu kenapa sih Varell malah memarahi mama terus dan membela istri kamu terus," sahut Helena dengan kesal.


" Ya siapa yang tidak marah, mama yang mencari masalah sendiri," sahut Varell.


" Sayang sudahlah," sahut Nadya yang menegur suaminya agar berhenti bertengkar dengan mertuanya itu.


" Kenapa bukan dari tadi," sahut Helena.


" Mah!" tegur Varell.


" Sayang sudah. Kamu suapin mama jangan berdebat masalah hal ini. Aku keluar sebentar," ucap Nadya.


" Baiklah," sahut Varell yang mau tidak mau menyuapi mamanya dah Nadya pun langsung pergi.


" Ayo di makan nanti keburu dingin," ucap Varell menyuapi mamanya dengan lembut dan Helena pun menerima suapan itu.


" Semenjak mama koma. Nadya yang menjaga mama," ucap Varell.


" Kamu jangan memuji-muji dia di depan mama," sahut Helena yang kesal.


" Hanya memberi tahu mama saja," sahut Varell.


" Tidak perlu mama tau," sahut Helena yang tetap ketus.


" Ya sudah makan lagi. Makannya enak bukan," ucap Varell.


" Biasa aja," sahut Helena.


" Biasa dari mana, sejak awal Varell menyuapi mama. Mama tidak ada komplen. Lidah mama itu sangat teliti masalah makanan dan Varell tau kalau mama sudah tidak menyukai makanan itu saat mencobanya pertama kali. Pasti akan komplen. Buktinya ini mama tidak komplen apa-apa yang artinya mama menyukai masakan menantu mama," ucap Varell yang tau isi hati mamanya.


" Varell mama itu lagi sakit dan orang sakit lidahnya hambar. Jadi mama mana tau rasanya," sahut Helena mencari alasan.


" Oh, begitu, perasaan kaki mama yang bermasalah bukan lidah," sahut Varell senyum-senyum yang membuat Helena kesal.


" Kamu ini ya benar-benar," sahut Helena yang rasanya anaknya itu sedang mengejeknya.


" Ya sudah makan lagi," sahut Varell yang terus menyuapi mamanya. Dan Helena terus memakan apa yang suapi Varell. Karena pasti sebenarnya makanan itu enak. Makanya dia tidak komplen. Helena hanya gengsi saja mengatakannya.


" Semoga saja mama bisa menerima Nadya dengan baik. Semoga apa yang terjadi pada mama bisa memberikan mama hikmah dan bisa mengerti dan menerima Nadya," batin Varell yang berharap banyak terhadap mamanya.


" Kenapa kamu datang melihat mama?" tanya Helena tiba-tiba di tengah makannya.


" Mama itu orang tua Varell. Ya kalau mama sakit atau seperti ini. Mana mungkin Varell tidak datang," sahut Varell dengan santai.


" Bukannya kamu sudah memutus hubungan kita," sahut Helena.


" Terbalik. Mama yang melakukan itu," sahut Varell. Helena diam saja.

__ADS_1


" Sudahlah mah, jangan keras kepala. Varell dan Nadya sudah menikah dan lihat apapun yang terjadi apa yang mama lakukan dan apa yang mama perbuat pada Nadya. Lihat dia, dia tetap ada di sini. Dia bahkan menjaga mama dan lihat apa yang mama makan dia yang membuatnya saking di khawatir kepada mama," ucap Varell.


" Kamu jangan berlebihan, mentang-mentang dia istrimu kamu memujinya terus," ucap Helena.


" Tidak ada yang memujinya. Tapi semuanya kenyataan," sahut Varell menegaskan.


" Sudahlah terserah kamu," sahut Helena yang tidak mau anaknya itu terus-menerus membicarakan Nadya. Namun Varell memang sengaja membicarakan Nadya terus menerus. Supaya meluluhkan hati mamanya.


**********


Nadya duduk di salah satu bangku yang ada di dalam rumah sakit, setelah menebus obat Nadya menunggu di luar saja yang tidak ingin mengganggu ibu mertuanya itu yang sedang menikmati makanan.


" Nadya!" tegur Sasy yang tiba-tiba berdiri di samping Nadya.


" Eh, Sasy," sahut Nadya. Sasy langsung duduk di samping Nadya.


" Kamu ngapain di sini kok tidak masuk?" tanya Sasy heran.


" Aku lagi pengen duduk aja," sahut Nadya santai.


" Kenapa tidak duduk di dalam?" tanya Sasy.


" Mama lagi makan. Jadi biarin aja. Soalnya galak," sahut Nadya dengan nada bercandaan membuat Sasy tersenyum.


" Kamu ini ya, sabar banget, aku doain semoga Tante Helena cepat berubah," ucap Sasy.


" Amin," sahut Nadya yang begitu semangatnya. Tiba-tiba mata Nadya melihat jari manis Sasy yang melingkar cincin yang indah.


" Sepertinya ada yang baru ini," ucap Nadya dengan tersenyum.


" Apa," sahut Sasy heran.


" Kamu cantik sekali menggunakan cincin itu," sahut Nadya. Sasy langsung tersenyum malu yang mengerti maksud Nadya.


" Apa Toby melamar kamu?" tanya Nadya ingin memastikan apa yang di pikirkannya dan Sasy menganggukkan kepalanya membenarkan semuanya.


" Selamat ya," ucap Nadya yang ikut bahagia dengan Sasy yang sudah di lamar.


" Makasih Nadya," sahut Sasy.


" Jangan lupa ajak-ajak aku kalau mau mempersiapkan pernikahan, aku akan menyiapkan tenaga untuk membantumu," ucap Nadya.


" Aman kamu santai aja," sahut Sasy.


" Sayang!" tiba-tiba Varell datang.


" Ya sudah kalau begitu aku balik kerja dulu ya, da Nadya dan Varell," sahut Sasy yang langsung pergi, Nadya dan Sasy hanya mengangguk saja.


" Mama sudah selesai makan?" tanya Nadya. Varell mengangguk dan duduk di samping istrinya.


" Sudah, sekarang sedang istirahat. Kamu sendiri belum makan. Ayo makan bersama," ucap Varell yang langsung mengajak istrinya untuk makan bareng.


" Boleh. Tapi aku mau bilang dulu sama kamu kalau aku sangat bahagia hari ini," ucap Nadya membuat Varell heran.


" Memang ada apa. Apa yang membuat istriku ini bahagia?" tanya Varell heran.


" Kamu tau tidak tadi waktu di dalam mama bilang apa?" tanya Nadya.


" Memang mama bilang apa?" tanya Varell.


" Mama mengatakan kalau dia memanggilku dengan istrimu yang itu artinya dia telah mengakui pernikahan kita," ucap Nadya.


" Jadi hanya karena itu. Kamu sebegitu bahagianya?" tanya Varell.


" Ya memang terlihat simple dan Baisa. Tetapi jujur aku memang sangat bahagia," sahut Nadya.


" Dan kayaknya mama juga suka dengan makanan kamu," ucap Varell.


" Benarkah?" tanya Nadya yang tidak percaya.


" Iya sayang makanannya bahkan sampai habis," ucap Varell. Nadya mendengarnya tersenyum mengembang.


" Syukurlah kalau begitu. Aku akan lebih rajin lagi dalam membuat makanan," sahut Nadya yang bertambah semangat.


" Kita sama-sama berdoa ya sayang, semoga dengan semua dengan kejadian ini mama bisa berubah dan bisa menerima pernikahan kita dengan baik," ucap Varell.


" Amin," sahut Nadya yang semakin bertambah semangat.


" Ya sudah sekarang ayo kita cari makanan. Kita harus isi perut supaya bisa kenyang dan ada tenaga untuk menghadapi kebawelan mama," ucap Varell.


" Kamu ini," ucap Nadya.


" Becanda, ya sudah ayo sayang," ajak Varell. Nadya mengangguk dan mereka pun pergi untuk mencari makanan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2