
Azizi sedang berada di rumah sakit. Karena memang kondisi anaknya yang memburuk dan harus di rawat di rumah sakit. Azizi keluar dari ruang perawatan Ikbal.
" Aku harus mengurus semua biaya operasi Iqbal. Dia harus segara di operasi," gumam Azizi dan langsung melanjutkan langkahnya untuk menuju kasir rumah sakit untuk membayar operasi anaknya.
Tidak berapa lama Azizi sudah sampai di depan kasir dan menemui suster yang ada di sana.
" Permisi suster!" sapa Azizi.
" Iya, ada apa ya apa yang mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Suster.
" Saya ingin menanyakan biaya anak saya," ucap Azizi.
" Baiklah, bisa saya lihat datanya?" tanya suster tersebut. Azizi menunjukkan kertas yang sedari tadi di pegangnya. Memberikan pada suster tersebut.
" Kalau begitu tunggu sebentar ya. Saya akan cek dulu," ucap Suster tersebut. Azizi mengangguk.
" Semoga saja. Biayanya tidak mahal," batin Azizi yang sangat takut. Jika biaya pengobatan anaknya mahal.
" Mbak Azizi," tegur suster tersebut membuat Azizi menoleh kepadanya.
" Iya suster," sahut Azizi.
" Iqbal putra ibu akan dioperasi dalam Minggu ini dan untuk biaya keseluruhan bisa di lunasi sebelum operasi di laksanakan," ucap Suster.
" Silahkan di lihat rincian biayanya," ucap Suster memberikan 1 lembar kertas pada Azizi. Azizi langsung mengambil dan membaca rinciannya. matanya melotot melihat Angga yang sangat besar itu.
" 140 juta," pekik Azizi kaget dengan nominal yang sangat besar itu dan hal itu tidak pernah terpikir olehnya jika akan mengeluarkan biaya sebanyak itu
" Iya Bu, itu sekalian dengan semua perawatan anak ibu, obat, penginapan dan yang lainnya yang sudah di jelaskan di sana," sahut suster memberi penjelasan sedikit.
" Ya ampun kenapa biayanya banyak sekali. Aku tidak punya uang sebanyak itu. Dari mana aku akan mendapatkan uang," batin Azizi yang mulai kepanikan.
" Ibu mau bisa membayarnya sekarang. Agar nanti tidak terlalu terburu-buru," ucap Suter memberi saran. Tetapi Azizi masih bengong memikirkan biaya yang sangat besar itu.
" Bu Azizi," tegur Suster yang melihat Azizi bengong. Azizi pun tersentak kaget.
" Iya suster," sahut Azizi.
" Bagaimana apa ingin di bayar sekarang?" tanya Suster.
" Suster apa biayanya memang sebanyak ini. Apa ini sungguhan?" tanya Azizi merasa ada kesalahan.
" Iya memang biayanya sebesar itu. Karena operasi tulang belakang itu bukan biaya yang sedikit," jawab suster menegaskan.
" Apa tidak bisa. Jika di kurangi?" tanya Azizi.
__ADS_1
" Maaf Bu. Tetapi tidak bisa," jawab suster.
" Apa boleh, saya membayar, 10 % dulu dan sisanya nanti setelah anak saya di operasi. Saya harus mencari uang dulu," ucap Azizi mencoba bernegosiasi.
" Maaf Bu. Tetapi tidak bisa. Itu sudah ketentuan rumah sakit dan kebijakan di rumah sakit ini. Tidak bisa di ganggu gugat. Jika ibu tidak membayar uang operasinya. Maka anak ibu tidak bisa di operasi. Karena berjalannya operasi ketika semua prosedur termasuk pembiayaannya beres," jelas Suster menegaskan membuat Azizi terdiam.
" Apa yang harus aku lakukan," batin Azizi mulai kebingungan.
" Bagaimana apa ibu ingin melunasi sekarang?" tanya suster lagi.
" Tidak sus. Nanti saja. Uangnya belum terkumpul," jawab Azizi yang sudah dengan mata berkaca-kaca.
" Ya sudah kalau begitu. Yang jelas. Harus di lunasi. Sebelum operasinya dilaksanakan," ucap suster sekali lagi mengingatkan. Azizi hanya mengangguk saja.
" Saya permisi!" ucap Azizi pamit. Suster mengangguk. Azizi pun melanjutkan langkahnya dengan tidak bersemangat.
" Iqbal tidak mungkin di biarkan seperti itu. Tetapi dari mana aku akan mendapatkan uang sebanyak itu. Tabungan ku saja tidak mencukupi," batin Azizi kebingungan masalah biaya. Sampai air matanya menetes karena merasa gagal sebagai orang tua.
Ternyata dari ujung sana Vandy memperhatikan gerak-gerik Azizi dan bahkan melihat Azizi menyeka air matanya.
" Kenapa dia?" tanya Vandy yang penasaran. Karena penasaran akhirnya Vandy pun menghampiri kasir.
" Suster!" tegur Vandy.
" Dokter Vandy, ada yang bisa saya bantu?" tanya Suster.
" Ohhh Bu Azizi. Tadinya ingin membayar biaya operasi anaknya. Tetapi tiba-tiba berubah pikiran. Seperti melihat nominalnya. Ibu itu berubah pikiran," jawab Suter.
" Memang berapa nominalnya?" tanya Vandy.
" 140 juta," jawab Suster.
" Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Vandy.
" Sepertinya Bu Azizi mengalami masalah biaya. Karena wajahnya langsung berubah ketika melihat biayanya dan bahkan dia sempat mengajukan untuk membayar 10% dan sisanya setelah anaknya selesai di operasi. Karena Bu Azizi mengatakan masih akan mengumpulkan biaya," Jawa suster dengan penjelasan.
" Jadi dia terkendala masalah biaya. Sebenarnya dengan siapa Azizi tinggal. Apa dia hanya tinggal berdua dengan Iqbal dan hanya menjadi singgel parent," batin Vandy yang penasaran dengan kehidupan Azizi.
" Ada lagi yang ingin Dokter tanyakan?" tanya Suster.
" Tidak ada. Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Vandy pamit. Suster mengangguk.
***********
Clara terlihat murung di dalam ruang perawatannya. Dia masih memikirkan pembahasannya dengan Selina kemarin dan dia bahkan tidak sabaran ingin mendengar lebih banyak lagi informasi tentang Cherry dari Selina.
__ADS_1
" Jika aku keluar dari rumah sakit, Mas Bayu pasti menyuruhku untuk kembali ke Jerman. Tetapi aku tidak mungkin di sini terus. Aku harus mendengarkan semuanya lagi tentang Cherry. Kemarin itu tidak cukup. Aku rasa kepala tidak sakit lagi," batin Clara yang kebingungan harus memilih jalan mana.
" Atau aku suruh saja Selina kemari," ucapnya tiba-tiba mendapatkan ide.
" Tetapi tidak mungkin. Mana mungkin dia mau. Lagian Mas Bayu akan melihat ada Selina dan dia akan bertanya-tanya siapa Selina," Kiara terus bergerutu dengan pemikirannya yang membingungkan harus menempuh jalan yang mana.
Krekkkkkk.
Pemikiran Clara buyar. Ketika melihat ada yang masuk yang ternyata Sasy. Yang mungkin ingin mengecek kondisinya.
" Bagaiman keadaan kamu, apa ada yang di keluhkan?" tanya Sasy seperti biasa bersikap ramah pada pasien.
" Kata Selina. Dia merupakan teman baik Cherry. Jika aku menanyakan sesuatu. Aku yakin dia akan marah. Dia bahkan sama sekali terlihat tidak menyukaiku," batin Clara yang ingin sekali berbicara banyak dengan Sasy tetapi sangat takut seperti ada tembok yang membuat jarak.
" Bukannya yang sakit itu kepalanya. Tetapi kenapa telinganya juga ikut-ikutan sampai tidak mendengarku," batin Sasy yang heran melihat Clara yang malah diam tanpa merespon ucapannya.
" Maaf nona Clara apa ada kelurahan," sahut Sasy sekali lagi dengan penekanan pada Clara. Membuat Clara tersentak kaget.
" Tidak Dokter," jawab Clara yang sudah tersadar dari lamunannya.
" Baiklah jika begitu. Saya akan periksa kamu. Silahkan berbaring dengan benar," ucap Sasy dengan wajah seriusnya.
" Iya Dokter," sahut Clara yang langsung membaringkan tubuhnya dan Sasy pun mulai memeriksa keadaan pasiennya.
" Kenapa aku merasa sangat dekat dengan wanita ini. Padahal aku beberapa kali bertemu dengannya. Aneh sekali perasaanku belakangan ini. Seperti merindukan sesuatu. Tetapi aku tidak tau siapa yang aku rindukan," batin Clara dengan hatinya yang terus bergejolak.
" Clara mungkin saja kamu hanya merindukan mama. Karena mama masih belum sadarkan diri," batin Clara
" Kenapa dia terus melihatku. Apa ada yang salah dengan diriku," batin Sasy yang merasa kurang nyaman dengan Clara yang terus melihatnya.
" Kamu harus menjaga kondisi kamu. Kamu masih dalam proses perawatan. Jadi jangan suka keluar malam. Jika masih di rawat di rumah sakit," ucap Sasy memberi saran membuat Clara kaget.
" Maksud Dokter?" tanya Clara.
" Jangan berpura-pura. Ini rumah sakit. Bukan rumah kamu. Jadi jangan keluar dari rumah sakit. Jika kamu masih di rawat," ucap Sasy dengan penuh penegasan pada Clara.
" Apa dia melihatku," batin Clara.
" Iya aku melihatmu," jawab Sasy seakan tau isi hati Clara. Dia memang melihat Clara turun dari Taxi. Jadi dia tau pasiennya itu sedang keluar.
" Jika terjadi sesuatu pada kamu dan kamu masih seorang pasien rumah sakit ini. Kamu masih menjadi tanggung jawab kami. Jadi jangan ceroboh dalam hal apapun. Ini bukan rumah sakit jiwa yang pasien bisa kabur," ucap Sasy bicara dengan penuh penegasan.
" Maafkan saya," sahut Clara merasa bersalah.
" Baiklah! aku berharap kamu bisa mengambil ini pelajaran. Kamu istirahat lah. Saya permisi dulu," ucap Sasy langsung pergi.
__ADS_1
Bersambung.....