
Akhirnya Aldo membantu Raquel mengobati tangan Raquel yang sudah melepuh. Mereka duduk berhadapan dengan Aldo mengolesi salap pada punggung tangan Raquel yang memerah dan anehnya Raquel malah diam dan tidak mengomel.
" Makanya kalau apa-apa itu, lampu di nyalakan supaya tau apa yang kita kerjakan dan kejadian ini tidak akan terjadi," ucap Aldo memberi mengoceh memberi saran.
" Bagaimana denganmu, kau juga ada di dapur dan bukannya menyalakan lampu, malah membiarkan lampu mati," sambar Raquel sambil mendesis menahan perih.
" Aku masih bangun dan sadar apa yang akan aku lakukan. Sementara kau masih belum seutuhnya bangun," sahut Aldo membela diri.
" Ya namanya aku haus," sahut Raquel yang masih membela diri tidak mau kalah dari Aldo.
Aldo geleng-geleng dan melanjutkan mengolesi salep dengan lembut. Raquel sampai harus menelan salavinanya melihat perlakuan Aldo yang terkesan manis dan memang Raquel tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu.
" Jangan melihatku, nanti kau jatuh hati," celetuk Aldo membuat Raquel reflex memukul lengan Aldo.
" Enak aja siapa juga melihatmu, jangan kegeeran," sahut Raquel salah tingkah yang ketahuan oleh Aldo.
" Menyebalkan bisa-bisanya dia mengatakan itu," batin Raquel jadi malu.
Membuat Aldo tersenyum miring. Apalagi wajah Raquel memerah.
" Kenapa kau tersenyum, apa ada yang lucu?" tanya Raquel kesal. Aldo melihat Raquel dan menatap mata itu.
" Tidak ada, aku hanya ingin tersenyum, apa salah," jawab Aldo dengan santai.
" Ishhhh," Raquel menarik tangannya dari Aldo, " Kau pasti mengejekku, dasar," lanjut Raquel berprasangka buruk.
" Jangan menuduh, siapa yang mengejekmu," sahut Aldo.
" Sudahlah, aku malas berlama-lama dengan orang sepertimu," Raquel langsung berdiri.
" Kau tidak akan mengucapkan terima kasih?" tanya Aldo menaikkan 1 alisnya.
" Menolong saja pakai Pamrih," desis Raquel dengan dongkol langsung pergi
" Aneh," gumam Aldo yang melihat kepergian Raquel dengan buru-buru dan masih sempat membalikkan tubuhnya melihat ke arah Aldo.
**************
Akhirnya, Vandy, Azizi, Nadya dan Toby sampai kerumah sakit. Setelah berjuang mencari tumpangan mereka akhirnya bisa bertemu Cherry.
" Maaf sudah merepotkan kalian," ucap Cherry merasa bersalah saat teman-temannya sudah berdiri di sekitar tempat tidur rumah sakit.
" Siapa bilang, kita justru senang, apalagi datang penuh perjuangan dan ketika sampai sudah melihatmu bangun," ucap Azizi dengan senyumnya.
" Kalian sosweet banget, aku senang bisa punya teman seperti kalian," ucap Cherry merasa haru saat teman-temannya berusaha datang untuk melihat ke adaannya.
" Santai saja Cherry, kami tidak masalah kok," sahut Vandy lagi.
" Oh, iya papa tidak tau kan, kalau aku masuk rumah sakit?" tanya Cherry batu teringat hal itu. Dia tidak ingin sang papa khawatir dan ujung-ujungnya Verro pasti akan mendapat masalah.
" Memang kenapa jika papa kamu tau?" tanya Nadya.
" Aku tidak ingin papa Khwatir dan nanti malah menjemputku," jawab Cherry was-was.
__ADS_1
" Kondisi kamu sudah membaik, aku rasa Verro juga tidak memberitahu om Laskarta," sahut Vandy.
" Syukurlah kalau begitu," ucap Cherry merasa lega.
" Cherry, makanya kamu harus banyak istirahat, biar kejadian ini tidak terulang lagi," ucap Toby mengingatkan.
" Iya Makasih ya Toby, kamu sudah mengingatkanku," sahut Cherry yang benar-benar akan mendengarkan saran dari teman-temannya.
Kehadiran teman-temannya membuat keadaannya jauh lebih membaik. Cherry pun beristirahat di kamar rumah sakit. Setelah teman-temannya sudah kembali ke Villa.
Cherry yang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, merasa lega. Karena mendengar dari Dokter besok pagi dia sudah bisa pulang.
Krekkk.
Suara pintu kamar rumah sakit mengagetkan Cherry yang ternyata Verro. Cherry lupa pasti Verro tidak akan pulang dan Cherry seharusnya pura-pura tidur. Selama di rumah sakit Cherry dan Verro belum pernah saling bicara.
" Kau belum tidur?" tanya Verro menutup pintu kamar membuat Cherry gugup. Apalagi Cherry mendengar perkataan Verro yang membuatnya bingung. Bahkan Verro menciumnya.
" Apa suaraku tidak kedengaran," ucap Verro yang tidak mendapat jawaban dari Cherry.
" Iya aku mau tidur, maka pergilah!" usir Cherry.
Verro berjalan mendekati tempat tidur Cherry.
" Apa lagi yang harus katakan lagi, kenapa Verro tidak pergi saja," batin Cherry yang semakin gugup.
" Kenapa menghindariku?" tanya Verro. Membuat Cherry semakin bingung harus menjawab apa.
" Cherry, aku bertanya kenapa menghindariku?" tanya Verro lagi yang masih tidak mendapat jawaban.
" Dan ini tidak masalah namanya. Kau terlalu sibuk dengan dirimu dan juga orang lain sampai kau menjadi seperti ini," ucap Verro. Cherry menarik napasnya panjang.
" Benar kata Verro aku terlalu sibuk memikirkan Fiona sampai aku tidak fokus pada kesehatanku," batin Cherry.
" Kenapa diam?" tanya Verro.
" Verro, aku benar-benar ingin sendiri, aku minta maaf. Jika kejadian ini membuat mu marah. Aku janji tidak menyulitkanmu lagi. Dan masalah ini tidak akan terulang. Tapi aku mohon aku benar-benar ingin sendiri dan fokus pada kegiatan Study tour. Aku tidak akan membuat masalah lagi dan tidak mengaitkan mu, Kau tidak perlu memikirkan diriku. Anggap saja kau tidak memiliki tanggung jawab apa-apa. Dan kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan. Dan aku juga sebaliknya," ucap Cherry membuat Verro heran dengan kalimat yang ke luar dari mulut Cherry.
" Kau benar-benar tidak membutuhkanku?" tanya Verro memastikan.
" Aku sangat membutuhkanmu Verro. Tetapi itu lebih baik. Aku ingin mengembalikan kebebasanmu," Cherry hanya bisa menjawab di dalam hatinya.
" Baiklah, jika itu yang kau inginkan, aku akan melihat siapa yang benar-benar kau butuhkan," ucap Verro dengan penuh kekecewaan. Verro yang merasa kesal dengan Cherry memilih pergi.
" Maaf Verro, ini jauh lebih baik dan aku pasti bisa menjalankan semuanya tanpa dirimu," batin Cherry dengan wajah lesuhnya.
**********
Varell dan Nadya berjalan berdampingan menuju Vila setelah pulang dari rumah sakit.
" Apa Cherry sering masuk rumah sakit?" tanya Nadya yang memang tidak terlalu mengetahui tentang Cherry. Dia hanya tau Cherry di sekolah sering istirahat ke UKS.
" Kalau kondisinya benar-benar menurun?" jawab Vandy.
__ADS_1
" Kalian sudah lama bersahabat?" tanya Nadya penasaran.
" Verro sama Cherry bersahabat sejak mereka 5 tahun. Aku dan Vandy mengenal Cherry dari Verro. Aku dan Vandy dekat dengan Verro 1 team di Club Basket saat masih SMP. Dan malah memasuki Sekolah menengah yang sama. Ya persahabatan kami baru 5 tahun," jelas Varell.
" Begitu, lalu Sasy dan Toby?" tanya Nadya.
" Aku rasa mereka menjadi sahabat sejak SMA," jawab Varell yang tidak terlalu tau.
" Cherry perempuan yang baik, dia beberapa kali menolongku," ucap Nadya.
" Kau tidak pernah mengatakan aku baik. Bukannya aku juga sering menolongmu," sahut Varell mengungkit kebaikan yang pernah di lakukannya.
" Iya kau juga baik," jawab Nadya membuat Varell tersenyum.
" Ohhhh, Ya sudah aku kekamar dulu," ucap Nadya pamitan saat sudah berada di depan kamarnya.
" Iya, istirahatlah," ucap Varell. Nadya mengangguk dan memasuki kamarnya. Varell tersenyum, lalu pergi.
*************
Cherry sudah ke luar dari rumah sakit dan sekarang para murid-murid itu sedang menikmati sarapan pagi. Di meja yang panjang yang memang menampung untuk semua murid-murid.
Verro dan Cherry duduk saling berhadapan. Tetapi ke-2nya sama diam. Bahkan ke-2nya pura-pura tidak melihat. Lain dengan Fiona yang melihat Cherry sinis.
" Aku rasa dia mulai menyadari bahwa dia wanita seperti apa," batin Fiona yang terus melihat Cherry sinis.
Saat Cherry minum. Matanya tidak sengaja melihat Fiona yang menatapnya sinis.
" Wanita jahat, apa dia akan tetap menatapku seperti itu. Ternyata dia pengganti papanya sebagai mata-mata. Dasar wanita jahat," batin Cherry yang masih sakit hati dengan perkataan Fiona.
" Anak-anak, setelah kalian selesai sarapan. Kalian siapkan barang-barang kalian," ucap Pak Sony memberi arahan di tengah sarapan.
" Mau ngapain Pak, kita mau pulang," sahut Toby langsung menebak.
" Kan kita baru sebentar di sini Pak," sambung Beben.
" Toby, Beben bapak belum selesai bicara," sahut Pak Sony membuang napas perlahan.
" Dengarin dulu makanya," celetuk Sasy.
" Anak-anak," sapa Bu Asri, " Kita akan melakukan Camping di ujung desa untuk memperluas pengalaman kita tentang sosialisasi," lanjut Bu Asri menjelaskan.
" Wah seru dong," sahut Sasy.
" Tapi kan kita tidak ada peralatan Camping Bu," ucap Azizi.
" Benar Bu," sambung Sasy.
" Kalian tenang saja. Untuk itu pihak sekolah sudah menyiapkannya. Kalian hanya menyiapkan pakaian kalian secukupnya dan peralatan yang penting-penting. Ingat secukupnya dan jangan banyak-banyak apalagi sampai 1 koper kita hanya 2-3 hari saja," jelas Bu Asri.
" Baik Bu," sahut murid-murid serentak.
💝💝Bersambung
__ADS_1
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.