
Cherry lumayan sedikit tenang ketika mengobrol dengan Vandy. Dia juga tidak peduli dengan kata-kata Fiona yang mengatakan jika teman-temannya terpaksa dekat dengannya.
Karena apa yang di katakan Vandy benar. Cherry yang bisa merasakan ke tulusan sahabatnya.
Cherry hanya berusaha menghindar dari Verro. Karena dia tidak ingin mencari masalah dengan Verro. Bahkan seharian Cherry dan Verro tidak saling bicara sampai keesokan harinya.
Pagi ini anak-anak yang mengikuti kegiatan Study tour sedang berkumpul di depan Villa dengan buku dan pulpen.
Mereka duduk di atas rumput dengan bersilah kaki dan sibuk mencatat arahan yang di berikan Bu Asri.
Verro yang berbeda barisan dengan Cherry hanya melihat ke arah Cherry. Yang terus mengacuhkannya.
Jujur Verro sangat kesal. Apalagi Cherry duduk di samping Vandy dan terlihat ke-2nya sangat akrab dan beberapa kali Cherry tertawa seakan apa yang mereka ceritakan begitu lucu.
Tidak tahan dengan pemandangan yang membuatnya panas. Verro langsung berdiri dan menghempaskan buku dengan kasar di atas rumput sehingga membuat para murid-murid melihat ke arah Verro. Tidak ketercuali Cherry yang langsung mendapat tatapan tajam dari Verro.
" Ada apa Verro?" tanya Bu Asri.
" Kepala saya sakit, saya mau istirahat," jawab Verro terus melihat tajam Cherry.
" Oh ya sudah, naiklah," ujar Bu Asri yang memberi izin.
Dengan mengepal tangannya Verro langsung meninggalkan perkumpulan tersebut. Cherry hanya diam dan kembali fokus pada catatannya tanpa mempedulikan Verro.
Sementara Vandy dan Varell hanya melihat heran kepergian Verro. Yang perasaan temanya itu baik-baik saja.
" Baik anak-anak, kita lanjutkan!" ujar Bu Asri.
" Bu," sahut Fiona tiba-tiba yang mengangkat tangannya.
" Ada apa Fiona?" tanya Bu Asri.
" Saya mau ketoilet Bu," jawab Fiona. Cherry hanya melirik Fiona sebentar.
" Ya sudah, jangan lama-lama," sahut Bu asri. Fiona langsung berdiri dan pergi.
Cherry membalikkan kepalanya dan melihat punggung Fiona yang berjalan. Seakan Cherry tau jika itu hanya alasan Fiona pasti Fiona menemui Verro.
" Kamu juga ingin permisi Cherry?" tanya Bu Asri yang melihat Cherry masih menengok kebelakang.
" Tidak Bu," jawab Cherry pelan dan kembali fokus pada catatannya.
Sementara Raquel yang sepertinya tau sesuatu. Hanya menggedikkan bahunya. Dengan tersenyum miring.
**********
Verro membanting pintu kamar, meremas rambutnya duduk di pinggir ranjang.
" Kenapa dia, kenapa sekarang dia benar-benar diam. Dia bahkan tidak peduli dengan omonganku?" tanya Verro yang benar-benar bingung dengan sikap Cherry.
" Verro," tegur Fiona yang sudah berdiri di depan pintu.
" Ngapain kau di situ?" tanya Verro tambah kesal dengan adanya Fiona. Seharusnya dia berharap Cherry yang ada di situ.
__ADS_1
" Bisa kita bicara sebentar," ucap Fiona. Verro berdiri dan menghampiri Fiona yang di depan pintu.
" Aku tidak ingin bicara denganmu, dengar ya Fiona. Bukan cuma kau yang menyukaiku. Jadi jangan berharap banyak dari ku," tegas Verro yang langsung menutup kasar pintu sampai membuat Fiona benar-benar kaget.
" Aku tidak akan menyerah. Untuk perasaanku," ucap Fiona dengan yakin.
***********
Hari-hari di lalu dengan kegiatan Study tour yang masih ringan-ringan saja. Mereka sudah berada 4 hari di Villa dan mengikuti kegiatan dengan sebaik-baiknya tanpa ada masalah.
Tetapi Verro dan Cherry masih bertahan dalam diam-diaman mereka. Sekarang para murid-murid itu sedang tidak ada kegiatan. Mereka sibuk dengan kegiatan sendiri-sendiri.
Ada yang bergosip duduk di bawah pepohonan yang asri. Ada juga yang rebahan di kamar. Cherry, Azizi, Sasy, juga bercerita di salah satu bangku.
Sementara Nadya yang membaca buku di bawah pohon duduk sendirian. Dan geng Raquel sedang berdiri menatap sinis ke arah Nadya.
" Sudah lama kita nggak ngerjain dia," ucap Mitha.
" Benar juga, ayo kita kerjain," sahut Selina seakan setuju.
" Ayo Raquel," ajak Mitha yang Raquel sibuk mengscroll ponselnya.
" Malas, aku lagi liati tiktok," jawab Raquel yang malas mencari masalah dengan Nadya. Jelas hal itu membuat Mitha dan Selina heran. Tidak biasanya Raquel seperti itu.
" Tumben banget," sahut Selina.
" Tuh, pawangnya sudah datang, sana kalian kalau masih mau gangguin dia," ucap Raquel mengarahkan matanya pada Nadya yang sekarang sudah bersama Varell duduk berduaan dengan bersilah kaki.
" Menyebalkan," desis Selina.
" Setuju," sahut Selina. Raquel hanya berdecak kesal dengan ke-2 temannya.
" Ishhhh, sudahlah, kalian mendingan duduk santai saja, nggak usah cari gara-gara, yang adanya kita akan di marahi," sahut Raquel memberi saran. Membuat Selina dan Mitha semakin bingung dengan Raquel.
" Lo kenapa kok, aneh banget, tumben-tumbennya kayak gitu. Biasanya paling semangat dengan masalah itu?" tanya Mitha heran. Raquel menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
" Ahhhhh, sudahlah.. gue malas ngapain-ngapain, kalau kalian mau kesana. Kalian aja gue nggak ikut-ikutan," sahut Raquel yang berdiri dan langsung pergi.
" Mau kemana qel?" teriak Selina.
" Kedapur ambil minum," sahut Raquel berteriak.
" Aneh banget sih, dia nggak kayak biasanya?" ucap Selina yang benar-benar bingung.
" Tau tuh, belakangan memang sifatnya sangat aneh. Dia lebih layak serius gitu dalam kegiatan. Dan bahkan saat kita ngomongin Nadya di kamar. Dia kayak cuek banget," ucap Mitha yang menyadari perubahan temannya.
" Tau ah, mungkin dia lagi sakit," sahut Selina yang juga bingung dengan perubahan sahabatnya.
*********
" Aku kekamar dulu ya," ujar Cherry pamit. Dia merasa kurang enak badan dan ingin istirahat.
" Oh, ya sudah aku temani ya," sahut Sasy.
__ADS_1
" Tidak usah, aku sendiri saja," jawab Cherry menolak.
" Yakin, kita ngobrol di kamar aja," sahut Azizi mendapatkan ide.
" Tidak, aku mau tidur, kalau ngobrol kapan aku istirahatnya," sahut Cherry.
" Oh, iya benar, ya udah, kamu istirahat aja," ucap Azizi.
" Iya aku pergi dulu," ucap Cherry pamit. Sasy dan Azizi hanya mengangguk.
Cherry menaiki anak tangga dan berpapasan dengan Verro yang ingin turun. Cherry dan Verro sama-sama berhenti. Tetapi Cherry yang tidak ingin ribut melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.
Saat melewati Verro. Verro memegang tangan Cherry sehingga membuat langkah Cherry terhenti.
" Ada apa Cherry?" tanya Verro dengan lembut. Cherry menarik napasnya dia diam tanpa bisa menjawab.
" Aku mau kekamar, kepalaku sakit?" jawab Cherry tanpa menoleh kearah Verro dengan rasa gugupnya.
" Bukan itu yang aku tanya, kenapa menghindariku?" tanya Verro lagi. Cherry menelan salavinanya.
" Verro, ini kegiatan Study tour, aku sudah berjanji dengan papa agar baik-baik saja. Aku tidak mau melakukan kesalahan sedikit saja. Dan membuat papa menghilangkan kepercayaannya padamu," jawab Cherry dengan alasan yang menurutnya masuk akal.
" Apa maksud mu, bukannya kamu memang sudah terbiasa membuat kesalahan. Dan aku sudah terbiasa mendapatkan resikonya dan apa ini kenapa kamu seakan-akan tidak membutuhkanku?" tanya Verro menatap Cherry tajam.
" Aku hanya tidak ingin. Kamu terbebani oleh ku Verro. Kami berhak bersama orang yang menyukaimu," batin Cherry yang melihat ke-2 bola mata Verro yang penuh pertanyaan.
" Jika aku berbicara, maka jawablah Cherry. Aku rasa kau tidak lupa. Jika aku yang membuatmu berada di sini," ucap Verro mengingatkan Cherry.
" Iya aku tidak lupa, makanya aku ingin hati-hati," sahut Cherry melepas tangannya dari Verro. Kepalanya begitu sakit. Cherry juga menahan sesak didadanya.
Tidak tau kenapa tubuhnya sangat lemah. Cherry tidak memakai jam tangannya. Sehingga tidak terdengar suara alarm itu yang menandakan kondisinya yang menurun.
" Aku belum selesai bicara," ucap Verro menahan tangan Cherry.
" Lepas Verro, aku ingin istirahat!" pinta Cherry dengan suara semakin lemah.
" Bicaralah denganku, dan katakan ada apa," bentak Verro yang mulai emosi dengan Cherry.
Mendengar suara bentakan Verro membuat Cherry kaget dan sontak kakinya benar-benar lemah. Pandangannya yang mulai rabun dan akhirnya Cherry tidak sanggup menahan tubuhnya.
Untuk Verro sigap dan menopang tubuh Cherry yang hampir terguling di tangga.
" Cherry," ucap Verro panik melihat Cherry yang sudah tidak sadarkan diri.
Verro menepuk-nepuk wajah Cherry yang sangat pucat, membangunkan Cherry.
" Cherry, bangun, bangun Cherry," Verro berkali-kali membangun kan Cherry. Akhirnya Verro menggendong Cherry ala bridal style.
Menuruni anak tangga dengan buru-buru. Verro benar-benar sangat khawatir dengan Cherry yang sudah tidak sadarkan diri di pelukannya.
💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.