DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 387 Akhirnya menemui keluarga Arif.


__ADS_3

Tidak lama akhirnya mobil Arif berhenti di depan rumah Arif. Selina yang di dalam mobil semakin gugup dengan kepalanya yang langsung menoleh ke arah istana itu. Hal itu jelas membuatnya semakin minder. Arif memegang tangan Selina yang berada di pahanya, tangan itu begitu dingin yang memang mengadakan kegugupan di dalam diri Selina.


" Aduk kenapa jantungku tidak bisa di kondisikan sedari tadi," batin Selina yang semakin gugup dengan pertemuan untuk pertama kali itu.


" Kita masuk ya!" ucap Arif dengan lembut. Selina menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Yakin tidak yakin dia sudah sampai di rumah itu dan mau tidak mau harus memasuki rumah itu.


" Baiklah," sahut Selina. Arif mengangguk dan keluar dari mobil terlebih dahulu.


" Huhhhhh, semoga saja keluarga kak Arif benar-benar menerimaku. Semoga saja mereka menghinaku dan banyak memberikan pertanyaan yang tidak bisa aku jawab," batin Selina yang penuh dengan doa dan harapannya.


" Aku harus dengarkan kata Nadya. Aku harus percaya diri. Aku tidak boleh minder," batinnya lagi yang terus bergerutu sendiri.


Arif pun sudah membukakan pintu mobil untuk Selina. Selina kembali menarik napasnya dan membuangnya perlahan kedepan.


" Ayo sayang," ajak Arif dengan mengulurkan tangannya. Selina mengangguk dan menyambut uluran tangan itu dan perlahan keluar dari mobil. Selina terus mengatur napasnya dengan benar untuk tenang. Dengan tangannya yang terus di genggam oleh Arif.


Mereka pun akhirnya memasuki rumah yang di buka sendiri oleh Arif. Jantung Selina semakin tidak aman ketika kakinya sudah menginjak di rumah itu.


" Ya Allah, semoga semuanya seperti apa yang di katakan Cherry dan yang lainnya. Semoga keluarga kak Arif benar-benar menerimaku," batin Selina yang terus berdoa.


" Selina santai, santailah kamu harus percaya diri Selina. Kamu harus percaya diri. Jangan gugup," Selina terus bergerutu di dalam hatinya dengan kaki yang terus melangkah menuju ruang tamu yang dari kejauhan Selina sudah melihat Azizi, Vandy dan sepasang suami istri yang bisa di tebaknya itu adalah orang tua Vandy.


Jantungnya semakin menggila dan hampir saja copot. Padahal mama Arif terlihat tersenyum.


" Assalamualaikum," sapa Arif mengucapkan salam.


" Walaikum salam," sahut mereka dengan serentak yang mana matanya langsung fokus pada Selina.


" Ini Selina ma," sahut Arif yang to the point memperkenalkan kekasihnya itu.


" Oh jadi ini yang namanya Selina, cantik sekali," puji Lina yang begitu ramah.


" Makasih Tante," sahut Selina dengan gugup yang langsung mencium punggung tangan Lina dan juga Rudi. Biasa calon mantu memang harus terlihat baik-baik.


" Apa kabar kamu Selina?" tanya Rudi.


" Baik Om," sahut Selina yang kelihatan sudah mulai tenang.


" Ayo duduk jangan berdiri saja," sahut Lina yang begitu ramahnya memperlakukan Selina dengan baik.


" Makasih Tante," sahut Selina yang langsung duduk di samping Arif.


" Kamu teman sekolahnya Vandy?" tanya Lina.


" Iya Tante aku teman sekolahnya Vandy dan juga Azizi," jawab Selina.


" Ya ampun nggak nyangka banget bisa ketemu sama Arif. Bahkan kalian sudah berhubungan sangat lama. Sampai-sampai Tante tidak di beritahu," sahut Lina.


" Maaf Tante," sahut Selina.


" Sudah tidak apa-apa. Yang penting sekarang Tante senang kamu biasa datang kerumah Tante," ucap Lina.


" Ayo Selina kamu minum dulu," sahut Azizi menawarkan minum yang sudah di buatkannya, sebelum Selina datang.


" Makasih Azizi. Seharunya tidak perlu repot-repot," sahut Selina merasa tidak enak.


" Tidak ada yang repot. Tamu harus di kasih minum," sahut Vandy. Selina mengangguk dan langsung meminumnya perlahan.


" Kamu begitu cantik ternyata. Arif sangat pintar mencari calon istri," puji Lina.


" Ya namanya papanya juga pandai mencari istri. Anaknya ya pasti meniru papanya," sahut Rudi yang mengundang tawa kecil orang-orang di ruang tamu itu.


" Ya apa yang di katakan papa memang benar sih," sahut Vandy yang tertawa-tawa bersama keluarga itu.


Selina yang awalnya tadi tegang. Jadi tidak tegang lagi. Dia sudah merasa tenang. Karena keluarga itu terlihat baik dan tidak banyak pertanyaan.


" Ya ampun jadi mamanya kak Arif memang se humble ini benar kata Azizi ternyata," batin Selina yang tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


" Hmmmm, ada sebaiknya kita makan. Tidak enak kalau makanannya dingin," sahut Azizi yang mengingatkan.


" Hmmmm, benar kata Azizi. Mari kita makan," sahut Lina.


" Ayo Selina!" ajak Arif. Selina mengangguk dan ikut berdiri menyusul orang-orang yang sudah menuju meja makan terlebih dahulu.

__ADS_1


Tiba di meja makan. Banyaknya jenis makanan yang sudah terhidang di sana. Dari makanan yang berat sampai makanan yang ringan ada semuanya di sana.


Arif menarik kursi untuk Selina dan Selina langsung duduk dengan mengucapkan terima kasih pelan pada Arif. Arif juga duduk di samping Selina.


" Mari Selina kamu nikmati makanannya. Bilang sama Tante yang mana makanan yang tidak enak. Biar Tante bisa belajar lagi untuk membuatnya," sahut Lina dengan ramahnya pada Selina.


" Iya Tante, semuanya pasti enak-enak," jawab Selina yang terlihat malu-malu.


" Belum di coba juga kamu sudah bilang enak-enak aja," sahut Lina.


" Ini semua masakan Tante kamu dan juga Azizi. Sedari tadi mereka itu sibuk di dapur," sahut Rudi.


" Maaf Tante sudah merepotkan, maaf Azizi," sahut Selina yang merasa tidak enak.


" Tidak apa-apa. Namanya juga untuk menyambut calon ipar," sahut Azizi yang mengundang senyum pada orang-orang yang di meja makan itu. Selina dan Arif saling melihat dengan sama-sama terukir senyum tipis di wajah mereka.


" Jangan saling lihat-lihatan. Di halalin dulu," sahut Vandy yang langsung menggoda. Selina dan Arif semakin malu dengan kelakuan Vandy.


" Sudah-sudah mari kita nikmati makannya. Kita doakan saja yang terbaik untuk Selina dan kakak kamu. Kamu ini juga suka banget goda-goda kakak kamu," sahut Lina.


Mereka pun mulai menikmati makanan itu dan beberapa kali Lina selalu menyodorkan yang ini itu pada Selina dia benar-benar baik dan sangat jelas menerima Selina apa adanya tanpa melihat Selina dari sisi yang lain.


" Apa yang aku takutkan selama ini. Sungguh tidak ada yang perlu di takutkan. Pantesan kak Arif begitu baik dan tulus kepadaku. Keluarganya juga seperti itu. Orang tuanya begitu baik dan sama sekali tidak menanyakan hal-hal yang tidak perlu. Mereka benar-benar menerimaku. Aku merasa bersalah dengan kak Arif. Kau sudah menekannya selama ini. Aku hanya takut dengan hal yang tidak perlu di takutkan," batin Selian yang hatinya benar-benar plong.


" Aku berharap setelah pertemuan keluarga ini. Selina benar-benar di kukuhkan hatinya. Dan pikirannya di jauhkan dari segala apa-apa yang tidak baik. Terima kasih mah pah, yang telah menerima calon istriku dengan baik," batin Arif yang terharu dengan memperkenalkan Selina pertama kali dengan keluarganya.


" Akhirnya Selina mau juga datang kerumah ini. Aku yakin dia tidak akan mengubah keputusannya setelah ini. Selina tidak tau aja jika punya calon mertua begitu baik. Pasti dia nyesal sudah sembunyi-sembunyi selama ini," batin Azizi.


" Huhhhhh, nggak nyangka banget cewek super heboh dan tingkahnya ada-ada saja dulu di sekolah, yang selalu bikin onar, sering ribut sama Sasy sekarang bakal jadi kakak ipar ku. Ya ampun tipe kak Arif memang unik," batin Vandy yang masih tidak menyangka dengan kenyataan di depannya.


Tapi apapun itu dia pasti menerima pilihan kakaknya itu. Karena yang tau yang paling terbaik ya pasti si pemilik tubuh.


**********


Akhirnya makan siang di keluarga Arif selesai juga dan Selina juga banyak mengobrol dengan keluarga kekasihnya yang memang baiknya minta ampun.


Sudah sore hari Selina sekarang sedang duduk pinggir kolam renang bersama Azizi dengan ke-2 kaki mereka yang di masukkan kedalam kolam renang.


" Kamu beruntung Azizi bisa berada di keluarga ini," sahut Selina.


" Kamu benar aku memang sangat beruntung yang tidak percaya akan berada di keluarga ini. Sama dengan kamu yang pastinya juga beruntung," sahut Azizi.


" Tante Lina dan Om Rudi sangat baik. Mereka bukan menakutkan seperti apa yang aku pikir. Justru mereka seperti peri yang hatinya bagai malaikat," ucap Selina yang memuji perilaku orang tua dari kekasihnya itu.


" Jika ada nama lain yang jauh lebih baik dari pada peri dan juga malaikat. Pasti nama itu paling cocok untuk mereka. Mereka itu memang sangat tulus Selina tidak memandang manusia dengan sebelah mata. Contohnya aku yang di terima dengan baik bersama Iqbal. Mereka semua sangat baik," ucap Azizi yang tidak kalah memuji kebaikan mertuanya itu.


" Hmmmm, aku jadi merasa bersalah pada meraka. Mereka pasti kecewa dengan apa yang sudah aku lakukan. Aku tidak percaya diri yang akhirnya membuat membuat aku dan kak Arif harus menyembunyikan hubungan kami," ucap Selina yang merasa bersalah.


" Sudahlah Selina tidak ada gunanya lagi mengungkit hal itu. Yang penting sekarang kamu sudah menyadarinya dan kedepannya harus jauh lebih baik," ucap Azizi..


" Hmmm, kamu benar," sahut Selina yang tersenyum lebar yang benar-benar begitu bahagia dengan apa yang sudah di dapatkannya.


" Hmmmm, kandungan kamu sudah memasuki berapa bulan?" tanya Selina.


" 6 bulan," jawab Azizi.


" Berarti Cherry," sahut Selina.


" Cherry pasti sudah 7. Dia mungkin sebentar lagi akan mengadakan acara 7 bulanan," ucap Azizi.


" Hmmm, semoga kandungan kamu sehat-sehat ya. Kamu nya juga," ucap Selina memberikan doanya.


" Makasih Selina," sahut Azizi tersenyum lebar.


" Selina!" panggil Arif yang tiba-tiba menghampiri mereka.


" Iya," sahut Selina.


" Ayo pulang, sudah sore," ucap Arif. Selina mengangguk dan sama-sama berdiri dengan Azizi dan Selina juga membantu Azizi berdiri.


" Ya sudah ayo," sahut Selina. Azizi juga ikut untuk mengantarkan kepulangan Selina.


************

__ADS_1


Selina pun akhirnya berpamitan pada keluarga Arif. Yang sudah berdiri di depan pintu.


" Terimakasih ya Selina. Kamu sudah datang kerumah Tante," ucap Lina yang memegang tangan Selina.


" Aku yang makasih Tante dengan penyambutan Tante yang sangat baik. Makanannya juga sangat enak-enak," ucap Selina.


" Sama-sama, makasih untuk pujiannya," sahut Lina.


" Ya sudah Tante aku pulang dulu ya," ucap Selina yang berpamitan.


" Iya sayang kamu hati-hati ya. Arif kamu antar sampai rumah," sahut Lina mengingatkan anaknya.


" Iya pastilah mah," sahut Arif.


" Om, Selina balik dulu," ucap Selina pamit dengan Rudi.


" Iya Selina. Jangan bosan-bosan ya datang kerumah kami," sahut Rudi. Selina hanya mengangguk.


" Azizi aku pulang ya. Vandy aku pulang," Selina juga pamitan pada Azizi dan juga Vandy. Mereka hanya mengangguk.


" Ya sudah mah, kami pergi dulu," sahut Arif. Mereka mengangguk yang melihat Arif dan Selina memasuki mobil.


" Ayo ma kita masuk!" ajak Vandy.


" Iya ayo kita masuk. Mama senang akhirnya pacar kakak kamu bisa juga datang kerumah kita. Semoga hubungan mereka akan benar-benar serius lagi. Ya mama berharap akan sampai pada pernikahan," ucap Lina.


" Amin," sahut semuanya dengan serentak.


" Azizi yakin semuanya akan tercapai. Mama jangan khawatir," sahut Azizi.


" Ya sudah ayo kita masuk," ajak Vandy lagi. Mereka sama-sama mengangguk dan akhirnya memasuki rumah setelah mengantarkan Selina dan juga Arif.


***********


Malam hari Arif mengantarkan Selina untuk pulang kerumah. Bahkan Arif mampir sebentar ke rumah Selina yang pasti hanya sepetak saja. Arif duduk bersandar pada dinding. Setelah mengganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai. Selina menghampiri Arif dengan membawakan segelas air putih.


" Minum dulu!" ucap Selina yang duduk di samping Arif.


" Makasih," sahut Selina. Arif mengangguk dan langsung meneguknya.


" Makasih ya kamu sudah mau menemui keluargaku," ucap Arif yang menatap Selina.


" Sama-sama, keluargamu begitu baik. Aku tidak percaya jika bisa menemui mereka," sahut Selina.


" Kamu tidak menyesalkan?" tanya Arif yang bicara terus menatap Selina dalam-dalam.


" Aku mana mungkin menyesal," jawab Selina. Arif tersenyum mendengarnya dan mendekati Selina dengan mencium kening Selina dengan lembut.


" I love you," ucap Arif dengan menatap dalam-dalam mata itu dengan dahi mereka yang saling menempel dan mata Selina yang terangkat untuk melihat Arif.


" I love you to," sahut Selina.


" Jika pertemuan kali ini berhasil apa itu artinya kamu bersedia menikah dengan ku?" tanya Arif yang langsung melamar Selina saat itu juga.


" Aku tidak punya alasan untuk menolaknya," ucap Selina tersenyum. Arif lebih tersenyum lagi dengan lamarannya yang simple itu yang langsung di terima Selina. Arif langsung mencium bibir Selina yang membuat Selina memejamkan matanya.


Bukan hanya kecupan. Bahkan ciuman itu semakin dalam. Yang begitu lembut dan sangat romantis. Di mana Selina pasti menikmatinya.


Setelah beberapa detik ciuman itu Arif melepasnya dan mereka sama-sama membuka mata mereka dengan perlahan dan mereka saling melihat kembali. Arif mengecup bibir itu. Dan setelah itu mencium kening Selina dengan lembut.


" Terima kasih untuk hari ini," ucap Arif.


" Sama-sama," jawab Selina.


" Hmmm, ya sudah kamu tidak pulang?" tanya Selina.


" Kamu mengusirku," sahut Arif. Selina mengangguk.


" Tidak boleh laki-laki malam-malam di rumah wanita," sahut Selina membuat Arif tersenyum.


" Baiklah aku akan pulang. Sekarang aku memang tidak boleh lama-lama di sini. Tapi nanti kamu akan selamanya menjadi penghuni kamarku," ucap Arif membuat Selina hanya tertawa-tawa kecil saja. Dengan manisnya hubungan mereka yang terlihat simpel itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2