
Vandy, Azizi, Nadya, Sasy, dan Varell berada di tenda yang sama. Untung mereka selesai memasang tenda dan langsung masuk. Meski sempat basah juga.
Varell dan Vandy sama-sama melap tubuh mereka dengan handuk yang di berikan Nadya. Nadya menuangkan air hangat dari dalam termos yang di bawanya ke dalam gelas plastik dan memberinya pada Varell.
" Minumlah!" ucap Nadya, Varell mengambilnya. Meniup sebelum meminumnya. Nadya tersenyum dan juga memberikan kepada Vandy.
Nadya, Sasy dan Azizi memang tidak basah. Karena mereka langsung masuk dan merapikan di dalam ketika hujan turun.
" Astaga Cherry!" teriak Sasy yang baru teringat dengan Cherry. Membuat penghuni tenda menutup telinga mereka mendengar teriakan Sasy mengalahkan suara hujan.
Malah Vandy yang minum kaget dan lidahnya terkena air panas akibat ulah Sasy.
" Berisik banget sih," perotes Vandy kesal mengipas- ngipas lidahnya dengan tangannya.
" Cherry ada diluar," ucapnya panik dan ingin membuka tenda.
" Sudah di bawa Verro," sahut Varell yang memang melihat sendiri.
" Serius?" tanya Sasy ragu.
" Iya, makanya jangan makeup Mulu, lupakan jadinya sama teman, berisik lagi pake teriak-teriak," ucap Varell sinis.
" Ya namanya juga nggak tau, seharusnya kamu belang dari tadi," ucap Sasy malah menyalahkan Varell.
" Sudahlah, jangan ribut, katanya kalau ribut nanti di sambar petir," ucap Azizi entah dapat teori dari mana. Tetapi hal itu membuat Vandy tersenyum tipis.
" Tapi syukurlah Cherry sama Verro berada di dalam tenda yang sama. Supaya mereka bisa mengobrol dan mencairkan hati masing-masing," ucap Sasy tersenyum.
" Memang Verro sama Cherry kenapa ?" tanya Verrel.
" Kenapa? apa mereka tidak baik-baik saja," sahut Nadya.
" Entahlah, aku juga melihat Verro bahkan tidak pernah bicara dengan Cherry," sahut Azizi yang juga bingung.
" Aneh sih, sepertinya ada sesuatu yang membuat Cherry merasa sendiri dan kayaknya bukan Verro penyebabnya. Tetapi berhubungan dengan Verro," ucap Vandy yang juga masih memikirkan curhatan Cherry.
" Maksudnya?" tanya Varell.
" Gue pernah dapetin Cherry nangis dan dia menganggap jika kita semua hanya kasihan kepadanya, bahkan dia seperti putus asa dan ingin mati, agar tidak menyusahkan kita," ucap Vandy baru memberitahukan.
" Cherry bilang gitu, kenapa?' tanya Sasy jadi sedih.
" Aku juga nggak tau," sahut Vandy.
" Pasti Verro. Verro kan sering banget ngomong pedas, sampai membuat Cherry sakit hati, lagi pula siapa juga yang berteman dengannya karena kasihan. Kenapa Cherry bisa beranggapan seperti itu. Pasti ada mulut yang mengatakannya dan pasti si Verro," tuduh Sasy langsung pada Verro dengan geram.
" Jangan asal nuduh, meski Verro sering memarahi Cherry. Verro juga tau batasannya Karena dia yang paling tau bagaimana Cherry," sahut Vandy.
" Lalu kenapa dia sampai seperti itu, bisa-bisanya Cherry berpikir seperti itu, apa dia tidak memikirkan perasaanku. Kapan aku berteman dengannya dengan kasihan. Aku sama Toby berteman tulus kok, dengannya. Kita nggak mikir aneh-aneh, Cherry kenapa jahat sekali berpikiran seperti itu," ucap Sasy yang malah mengeluarkan air mata. Azizi langsung mengusap pundaknya.
" Eh, Sasy, mungkin aja ada yang mengganjal dalam hati Cherry, makanya dia seperti itu," sahut Vandy. Sasy malah terus menangis mengusap terus air matanya.
" Aku dan Nadya juga menemukan jam tangan Cherry yang menjadi alaramnya di taman. Dan itu seperti di lempar, sehingga rusak, aku juga belum bicarakan itu sama Verro," sahut Varell mengingat benda yang menemani Cherry.
" Pantesan aku tidak melihat Cherry memakainya lagi," sahut Azizi.
" Bukankah, itu juga salah satunya pengingat Cherry untuk minum obat," sahut Nadya.
" Hmmm, benar, terus bagaimana kalian sekamar dengannya, kalian memperhatikannya minum obat?" tanya Varell.
__ADS_1
" Tidak sih, kita justru tidak pernah lihat," sahut Azizi.
" Apa Cherry tidak meminum obatnya," sahut Sasy semakin panik dan dengan cepat membongkar tas Cherry yang sudah ada di dalam tenda.
" Sasy mau ngapain?" tanya Azizi.
Dengan buru-buru Sasy membongkar tas itu menemukan obat Cherry.
Flass back
" Cherry, obatmu di bawa juga kan?" tanya Sasy yang membantu Cherry berkemas.
" Iya, tapi pindahkan ke sini aja tempat lebih kecil biar tidak makan tempat," jawab Cherry memberi Sasy botol kecil.
" Seberapa banyak?" tanya Sasy.
" Karena 30 hari. 3 kali sehari. Berarti 1 macam 90 butir," jawab Cherry menghitung-hitung.
" Oke aku akan siapkan," sahut Sasy. Cherry tersenyum melihatnya.
Flassaon
Mengingat hal itu Sasy langsung mengambil tisu dan menyerakkan 1 botol obat Cherry.
" Mau ngapain?" tanya Azizi bingung. Sasy menghitung obat tersebut dengan cepat, sementara yang lain heran dan hanya menunggu Sasy. Sampai akhirnya Sasy selesai menghitungnya.
" Hanya berkurang 2 berarti dalam 5 hari ini Cherry tidak meminum obatnya," ucap Sasy.
" Itu berarti dia tidak meminum obatnya. Saat alarmnya di buang," sahut Vandy.
" Dan Cherry membuang alarm itu saat aku menemukannya menangis," sahut Vandy lagi.
" Dia juga bahkan mengatakan, dia tidak ingin dekat-dekat dengan Verro dan ingin menjauh dari Verro," tambah Vandy lagi.
" Apa ini ada hubungannya dengan Fiona," batin Azizi seakan mengetahui sesuatu.
" Verro juga belakangan gak respect sama lo, kenapa lo sama dia?" tanya Varell pada Vandy membuat mata melihat kearah Vandy.
" Tidak mungkin," ucap Vandy membuat semuanya heran.
" Maksud lo," sahut Varell bingung.
" Varell, kau tau sendirikan, aku sering becandain Verro tentang Cherry, aku cuma ingin menguji perasaannya kepada Cherry. Beberapa kali Verro nangkap gue berduaan sama Cherry. Tapi dia masih biasa aja, ya aku bisa lihat, kalau dia kesal. Tetapi nggak seserius itu," jelas Vandy.
" Maksud kamu, Verro cemburu sama kamu," tebak Nadya.
" Lebih tepatnya salah paham," sahut Varell.
" Berarti ada sesuatu yang besar, sehingga salah paham itu terjadi," sahut Azizi.
" Benar, tapi apa," sahut Vandy.
" Kita nggak akan tau kalau tidak tanyak langsung sama Verro, dan masalahnya juga sangat serius. Cherry seperti orang putus asa sehingga mengabaikannya kesehatannya. Dan aku melihat Cherry mementingkan egonya," sahut Nadya.
" Setuju, kita harus tanya Verro," sahut Varell.
Sementara Sasy tidak bisa berbicara lagi. Dia hanya semakin panik dengan keadaan Cherry.
Di tenda Verro. Cherry masih tertidur miring dengan meringkukkan kakinya. Sementara Verro yang rebahan di sampingnya juga memiringkan tubuhnya. Menghadap Cherry.
__ADS_1
Verro terus menatap Cherry yang tertidur lelap dan bahkan tidak terbangun sama sekali. Mungkin derasnya hujan membuat Cherry semakin lelap.
Verro meminggirkan rambut Cherry ke belakang telinga Cherry dan mengusap lembut pipi Cherry dengan jarinya.
Verro tidak berbicara sama sekali. Hanya melihat terus bagaimana Cherry. Sampai akhirnya Cherry membuka matanya perlahan, Cherry melihat Verro yang sudah ada di depannya dan mata Verro tidak berhenti menatapnya.
" Kenapa dia ada di sini?" batin Cherry mengalihkan pandangannya dan melihat keatas melihat dia ada di tenda dan hanya ada dia dan Verro yang ada di dalam tenda itu.
Verro juga meluruskan tubuhnya dan menatap langit tenda.
" Aku di tenda siapa?" tanya Cherry gugup.
" Aku dan anak-anak," jawab Verro.
" Lalu kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Cherry yang sudah duduk.
Verro tidak menjawab dan malah memejamkan matanya, Cherry melihat Verro sebentar dan membuka res tenda ingin keluar.
Dia hanya semakin canggung jika berduaan dengan Verro. Semenjak Fiona berbicara perasaan. Cherry memang tidak biasanya, akan sangat gugup dekat-dekat dengan Verro.
" Di luar hujan jadi tetaplah di sini!" ucap Verro.
" Tidak apa-apa, hanya berlari sedikit akan sampai," jawab Cherry.
" Apa kau tau. Teman-temanmu ada di tenda mana?" tanya Verro.
" Aku akan memanggil satu persatu," jawab Cherry kembali membuka res tenda. Membuat Verro kesal dan berdesis. Dengan kesal Verro yang masih berbaring menarik tangan Cherry.
" Auhhh," teriak Cherry pelan dengan kaget dan lebih kaget saat tubuhnya di atas Verro. Ke-2 tangan Cherry berada di dada Verro dengan wajah mereka yang sangat dekat.
" Apa kau tidak bisa mendengarkan sekali saja," ucap Verro dengan menekan suaranya. Membuat Cherry gugup.
" Aku harus pergi," ucap Cherry.
Bergerak dari Verro. Verro semakin menarik Cherry sampai akhirnya wajah mereka lebih dekat bahkan hidung mereka bersentuhan.
" Aku sudah mengatakan tetap di sini," ucap Verro dengan suara serak. Membuat Cherry semakin gugup. Bahkan jantungnya berdebar tidak menentu.
" Verro aku harus,,," mulut Cherry berhenti berbicara saat Verro mencium pipinya.
Sontak hal itu membuat mata Cherry membulat sempurna. Debaran jantung nya semakin tidak menentu, saat Verro menciumnya. Pipinya juga pasti sangat memerah.
Verro melepas kecupan di pipi itu dan melihat wajah Cherry yang benar-benar Schok dengan apa yang di lakukannya.
" Selesai hujan baru pergi, jika kau masih membantah, aku akan melakukan hal yang lain," ucap Verro dengan suara serak penuh ancaman.
Verro melepas tangannya dari Cherry, Cherry yang masih Schok bangkit dari tubuh Verro dan langsung merebahkan dirinya di samping Verro dan membelakangi Verro.
" Apa itu, apa Verro menciumku, kemarin keningku dan tadi pipiku," batin Cherry yang tidak mengerti dengan dirinya.
Verro juga berbaring membelakangi Cherry.
" Apa yang aku lakukan, kenapa aku bisa senekat itu," batin Verro merasa pengecut saat mencium Cherry dengan perasaannya yang belum jelas kepada Cherry.
💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.
__ADS_1