
Cherry dan Sasy berjalan menuju sungai. Sasy membawa 1 ember kecil dengan handuk di letakkan di pundaknya.
Sementara Cherry hanya berjalan di sampingnya dengan ke-2 tangannya berada di dalam saku sweater nya. Tetapi dia malah senyum-senyum.
" Ciuman pertama, apa Verro yang akhirnya nanti memberikannya," batin Cherry malah teringat perkataan Siska.
" Kok bisa sih, aku kepikiran seperti itu, aduh Cherry kamu aneh-aneh aja. Kamu berpikiran terlalu jauh, sadar Cherry, sadar," Cherry terus bergerutu merasa aneh dengan kelakuannya yang menghayal terlalu jauh.
Sasy menoleh kesampingnya melihat ke arah Cherry. Heran dengan Cherry yang senyam-senyum seperti orang gila.
" Kenapa Cherry?" tanya Sasy heran. Cherry malah semakin tersenyum dan geleng-geleng. Membuat Sasy mengkerutkan dahinya heran dengan temannya itu.
" Apaan sih aneh banget, kayak kesambet deh," ucap Sasy heran melihat Cherry yang masih tersenyum.
" Tidak apa-apa, ayo pergi," ajak Cherry menggandeng tangan sahabatnya yang penuh kebingungan.
Sasy hanya geleng-geleng dengan kelakukan Cherry yang tampak aneh. Ya sebenarnya apa yang di khayakan Cherry akan terjadi. Kalau saja Sasy tidak datang sebagai perusuh.
**********
Akhirnya Cherry dan Sasy sampai ke sungai untuk mandi. Tetapi mereka malah berpapasan dengan Fiona yang baru selesai mandi.
Dengan cepat Sasy langsung berdiri di depan Cherry pasang badan untuk temannya membuat Cherry kaget dengan perilaku spontan Sasy.
" Ngapain lo berhenti! jalan sana!" ucap Sasy dengan ketus.
" Nggak usah melihat kayak gitu, gue congkel entar mata lo, sana jalan!" ucap Sasy lagi dengan ketus melihat Fiona yang menatapnya tajam.
" Sudah, Sasy, ayo," Cherry menarik tangan Sasy pergi dari depan Fiona.
" Awas lo kalau macam-macam sama teman gue," teriak Sasy menengok kebelakang mengancam dengan serius.
Sementara Fiona tidak menanggapi dan tetap melanjutkan langkahnya.
" Sudah Sasy, biarkan saja dia," Cherry terus menarik Sasy.
Dia tidak ingin temannya itu ribut dengan Fiona. Karena Cherry juga tidak ingin berurusan dengan Fiona.
*********
" Di mana ya ember nya," gumam Raquel yang membutuhkan ember kecil. Karena di suruh Pak Lucky.
" Oh itu dia," tunjuk Raquel melihat ember hitam itu di antara tong-tong air. Raquel pun mendekati ember itu.
" Ada airnya lagi," gumamnya, " aku pindahkan saja," Raquel yang menemukan ide langsung mencoba untuk mengangkat ember itu memindahkan airnya ke dalam tong.
" Kenapa berat sekali," keluh Raquel yang kesulitan mengangkatnya.
__ADS_1
" Kenapa sih, harus aku yang disuruh, ini pekerjaan laki-laki. Pak Lucky ada-ada saja," Ocehnya yang terus memperotes dia sudah mengumpulkan tenaga mengangkatnya. Tetapi tidak bisa juga.
" Ahhhh, sangat berat," ocehnya lagi.
Sampai akhirnya tangan kekar mengangkat ember itu dan langsung menumpahkan isinya ke dalam tong. Yang ternyata orang itu adalah Aldo. Aldo memang sangat enteng mengangkat ember yang berat itu.
" Ini pekerjaan laki-laki," sahut Aldo memberikan ember tersebut kepada Raquel. Raquel malah diam mematung melihat Aldo dengan penuh kekesalan.
" Aku tidak percaya jika dia memang pelakunya," batin Raquel menatap Aldo dengan tajam. Wajah Raquel memang penuh kemarahan, rasa kecewa yang menjadi satu.
" Ada apa, kau tidak mau ember nya?" tanya Aldo heran melihat Raquel.
" Jangan pura-pura sok baik," ketus Raquel menarik kasar ember itu dari tangan Aldo lalu pergi dengan langkah yang cepat. Tetapi Aldo malah bingung dengan sikaf Raquel yang sangat ketus.
" Kenapa dia seperti itu," batin Aldo heran.
Seharusnya Aldo memang tidak perlu mempertanyakan tingkah Raquel. Karena sebelumnya Raquel memang seperti itu sangat judes.
Tetapi melihat belakangan ini sikap Raquel yang bisa di katakan sangat baik. Jadi Aldo merasa aneh saja.
************
Akhirnya makan siang dapat di mulai juga. anak-anak mengikuti antrian mengambil makan siang yang sudah di siapkan secara bergotong royong.
Cherry makan berdua dengan Verro duduk berhadapan bersilah kaki di atas rumput. Semenjak kejadian di hutan ke-2 nya memang kerap berduaan.
" Ini ikan yang di bersihkan tadi?" tanya Cherry. Verro mengangguk.
" Kenapa di ambil aku makan apa?" tanya Cherry heran.
" Letakkan piringmu!" ucap Verro. Cherry masih heran mengangguk dan meletakkan seperti Verro, meletakkan di tanah. Verro mengambil daging ikan tersebut.
" Ini berduri," ucap Verro meletakkan daging ikan yang sudah terpisah dari duri-duri halus ke piring Cherry.
" Benarkah!" tanya Cherry. Verro mengangguk. Dan tetap melakukan pekerjaannya.
" Durinya bisa sangkut di tenggorokanmu," ucap Verro. Cherry tersenyum saat menerima perhatian dari Verro.
" Ayo makan!" titah Verro. Cherry mengangguk dan makan.
Verro terus memisahkan daging ikan dari duri-duri halus itu.
" Makasih ya," ucap Cherry.
" Hmmmm," jawab Verro dengan berdehem.
Sementara di sisi lain. Raquel, Selina, dan Mitha juga makan duduk di atas rumput.
__ADS_1
" Kenapa juga makanan harus seperti ini, ini namanya ingin membunuh," protes Selina yang kesulitan makan.
" Benar, ada-ada saja. Bukannya Study tour itu sangat enak, ini enak apaan, makan aja ribet," sambung Mitha yang juga ikut kesal.
Sementara Raquel malah melamun, tidak mendengarkan keluhan dari ke-2 temannya.
" Apa aku cerita sama mereka. Kalau Aldo yang sudah merekam kejadian itu dan juga menyebarnya," batin Raquel yang sangat dendam dengan Aldo.
" Kenapa juga Aldo harus melakukan itu. Selama ini dia sangat bijak, aku tau dia memang akan menjadi pahlawan kesiangan untuk Nadya. Tetapi semua yang di lakukannya ancamannya hanya gertakan dan tidak pernah terdengar oleh guru. Tetapi dia melakukan hal yang lebih parah,"
" Gara-gara dia, aku di permalukan, belum lagi di omeli, di skors, di potong uang jajan sampai detik ini, Issshhh benar-benar menyebalkan," Raquel terus bergerutu di dalam hatinya.
Melihat Raquel yang murung, Selina dan Mitha saling melihat dan menggedikkan bahu masing-masing. Bingung dengan Raquel yang tampak tidak bersemangat.
" Ada masalah Raquel?" tanya Selina. Raquel hanya diam tanpa merespon.
" Raquel," tegur Mitha dengan suara sedikit keras. Raquel langsung kaget
" Ha, iya," sahut Raquel.
" Kenapa sih, melamun mulu?" tanya Selina.
" Nggak apa-apa," jawab Raquel yang memang merasa hal itu tidak perlu di ceritakan.
Dia tau teman-temannya akan murka. Jika mereka tau Aldo adalah di balik skandal yang mereka hadapi.
Raquel meski marah dengan Aldo. Tetapi masih melindungi Aldo. Dia juga tidak tau, kenapa dia harus melakukan hal itu.
**********
Malam hari tiba di perkemahan. Para murid-murid sedang berkumpul mendengarkan arahan guru.
" Anak-anak, malam ini kalian akan memasuki hutan dengan jalur yang sudah di tentukan. Kalian akan mencari bendera merah putih. Kalian akan di bagi tim tetapi 1 tim hanya 2 orang," jelas Pak Sony.
" Di dalam sini," lanjut Bu asri yang memegang tabung kaca, " ada nomor-nomor, jadi kalian akan mengambil 1 dan menyesuaikan dengan nomor yang sama. No yang sama itu yang akan menjadi tim kalian," lanjut Bu Asri.
" Setiap tim yang terdiri dari dua orang harus mengambil bendera. Ingat kalian harus berjalan sesuai arahan tanda yang di berikan, jangan sampai salah arahan," tegas Pak Lucky.
" Apa kalian mengerti?" tanya Pak Lucky.
" Mengerti Pak," jawab murid-murid serentak.
" Baiklah, ayo mulai di ambil nomornya!" perintah Bu Asri.
Para murid-murid mulai berbaris mengambil no yang berada di dalam tabung tersebut.
💝💝Bersambung
__ADS_1
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.