DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 384 Yakin dengan mendonorkan.


__ADS_3

Fiona melakukan pemeriksaan dengan Dokter Arif, pemerikasaan jantung yang di janjikan Dokter Arif. Fiona sudah berada di atas tempat tidur untuk melakukan periksaan tersebut. Dari wajah Fiona cukup memperlihatkan jika sebenarnya dia begitu gugup dan ada rasa ketakutan yang tidak bisa di jelaskan apa itu.


" Ya Allah semoga saja jantungku baik-baik saja. Hanya itu harapanku satu-satunya, yang bisa aku lakukan sebelum aku mati. Jadi aku mohon berikan aku kesempatan untuk berguna sebelum aku tiada," batin Fiona yang terus berdoa.


" Sudah selesai Fiona," ucap Dokter Arif. Fiona mengangguk pelan dan perlahan mencoba untuk duduk.


" Untuk hasilnya beri saya waktu ya untuk beberapa jam kedepan," ucap Dokter Arif yang ternyata belum bisa memberikan hasil apa-apa pada Fiona.


" Baiklah Dokter," sahut Fiona.


" Kamu bisa kembali ke kamar kamu. Kamu istirahat saja. Ingat kamu jangan kelelahan ya," ucap Dokter Arif memberi saran.


" Baik Dokter. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Fiona yang pamit dengan Dokter Arif. Dokter Arif mengangguk dan membantu Fiona untuk bangkit dari rajang.


" Makasih ya Dokter," ucap Fiona. Arif mengangguk dan Fiona langsung pergi.


" Kenapa dia tiba-tiba ingin periksa jantung, apa mungkin Fiona. Ahhhh itu tidak mungkin Tetapi jika iya itu juga adalah haknya," batin Arif yang penuh dengan kebingungan.


************


Fiona berjalan dengan langkah yang pelan melewati kamar-kamar rumah sakit. Tiba-tiba Fiona melihat Toby yang duduk di atas kursi roda di mana Toby memegang infus. Fiona pun memilih untuk menghampiri Toby.


" Toby!" sapa Fiona.


" Eh, Fiona, ada apa?" tanya Toby sedikit kaget dengan Fiona yang tiba-tiba menyapanya.


" Kamu ngapain?" tanya Fiona basa-basi.


" Oh aku lagi nungguin Sasy. Dia sedang ke toilet sebentar," jawab Toby.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Fiona.


" Kamu sendiri ngapain. Kok tumben-tumbennya menyapaku?" tanya Toby yang pastinya juga heran.


" Tidak apa-apa. Aku hanya habis dari ruangan Dokter Arif dan mau kembali kekamar dan melihat mu. Jadi aku rasa tidak ada salahnya menyapamu," jelas Fiona. " kamu baik-baik saja?" tanya Fiona.


" Hmmm, aku jauh lebih baik," jawab Toby. Kamu sendiri bagaimana apa kamu baik-baik saja?" tanya Toby yang juga mempertanyakan kesehatan Fiona.


" Baik dan tidak baik rasaku sama saja. Ada kala tiba-tiba merasa sakit dan ada kala bisa seperti ini berjalan dan berbicara dengan lancar. Ya namanya juga sudah sakit. Tidak ada yang perlu di harapkan. Hanya menunggu waktu saja," ucap Fiona yang terlihat pasrah dengan kondisinya.


" Kamu jangan bicara seperti itu Fiona. Kita itu sama. Sama-sama punya penyakit. Aku juga sepertimu awalnya yang pasrah dan sudah menyerah. Tapi ternyata tidak aku salah berpikiran seperti itu. Sekarang aku malah lebih semangat dari pada biasanya melakukan hal-hal yang positif. Jadi jangan menyerah untuk hal apapun. Karena kematian itu hanya milik Allah. Selagi kita masih bisa berusaha maka alangkah baiknya kita benar-benar berusaha dan terus berdoa," ucap Toby yang memberikan penerangan untuk Fiona.


Mendengarnya membuat Fiona tersenyum yang merasa kata-kata Toby bentuk semangat untuknya.


" Makasih ya Toby dari perkataan kamu. Kamu sudah memberiku semangat yang banyak. Jujur aku tidak pernah mendengar orang-orang berkata seperti ini. Aku jadi menganggap kesalahan ku dulu telah termaafkan olehmu," ucap Fiona yang begitu lega.


" Jangan membahas masa lalu Fiona. Kita lupakan saja masalah itu. Jika kamu ada salah kepadaku. Maka aku sudah memaafkannya dan itu sudah cukup. Aku tidak ingin mengingat apa-apa lagi," ucap Toby dengan ketulusan hatinya membuat mata Fiona berkaca-kaca mendengar kata-kata Toby.


" Terima kasih Toby," sahut Fiona yang benar-benar begitu bahagia.


" Jangan berterima kasih, aku rasa tidak ada yang perlu di terima kasihkan. Kamu harus berjuang terus ya. Kamu pasti sembuh aku percaya itu," ucap Toby memberikan semangat.


" Makasih untuk doanya. Kamu juga harus lebih semangat. Aku juga sangat yakin jika kamu pasti juga akan sembuh," ucap Fiona yang mendoakan Toby juga.


" Toby!" panggil Sasy yang sudah selesai dari toilet dan langsung menghampiri Fiona dan juga Toby.


" Kamu sudah selesai?" tanya Toby.


" Iya. Kalian sedang bicara apa, keliatannya serius amat?" tanya Sasy yang terlihat kurang menyukai Toby yang akrab dengan Fiona.

__ADS_1


" Tidak apa-apa Sasy. Kami hanya Sharing dan saling mendoakan," jawab Toby.


" Ohhhh, begitu. Ya sudah ayo kita pergi," sahut Sasy yang langsung mengajak Toby untuk pergi.


" Iya. Ya sudah Fiona kami pergi dulu. Kami mau jalan-jalan di taman. Kamu jaga kesehatan ya dan Ingat banyak-banyak melakukan hal yang positif," ucap Toby yang memberi saran.


" Iya Toby. Makasih untuk masukannya. Kau akan melakukan hal yang positif sebelum aku tiada," sahut Fiona.


" Kami pergi dulu," ajak Sasy yang langsung pergi. Fiona hanya mengangguk tersenyum yang melihat kepergian Sasy dan juga Toby.


" Kamu benar Toby. Jika selama ini aku tidak berguna, selalu menyakiti orang. Maka sebelum aku mati. Aku akan berguna untuk kali ini," batin Fiona yang terlihat memikirkan sesuatu.


" Sasy kamu jangan takut kehilangan Toby. Dia tidak akan pergi darimu. Kalian akan tetap bersama," batin Fiona yang tersenyum tipis.


*************


Sasy mendorong kursi roda Toby di taman. Dan begitu sampai di taman Sasy memberhentikan kursi roda itu dan memeluk Toby dari belakang dengan pipinya yang menempel di pipi Toby. Toby tersenyum dengan mengusap-usap lengan Sasy yang ada di lehernya.


" Aku ingin kita seperti ini terus," ucap Sasy yang terlihat begitu manja.


" Kalau seperti ini terus. Apa itu artinya aku tidak akan sembuh-sembuh dan terus berada di rumah sakit," sahut Toby.


" Kenapa bicara seperti itu," sahut Sasy heran.


" Bukannya kamu mengatakan ingin seperti ini terus yang artinya aku akan ada di kursi roda dan kamu akan memelukku dari belakang yang itu artinya tidak akan sembuh," jelas Toby.


" Bukan seperti itu maksudku," ucap Toby.


" Baiklah, aku mengerti aku hanya bercanda. Jika kamu ingin seperti ini terus maka aku juga ingin. Aku ingin sembuh cepat-cepat. Supaya bisa membahagiakan mu, mengabulkan impianmu, menikah dengan mu, mempunyai anak yang lucu-lucu," ucap Toby dengan matanya berkaca-kaca.


" Aku sudah bahagia. Dan pernikahan tiba-tiba saja aku tidak kepikiran untuk hal itu," sahut Sasy yang tidak Toby sedih yang tertekan hanya karena keinginannya kemari yang ingin menikah dan menjadi pemicu rusaknya hubungan mereka.


" Aku tidak berbohong, setelah aku pikir-pikir. Aku lebih ingin seperti ini. Aku lebih kepikiran tentang kesehatan kamu," ucap Sasy meyakinkan Toby.


" Maafkan aku ya," ucap Toby tiba-tiba.


" Kenapa minta maaf memang kamu salah apa?" tanya Sasy heran.


" Aku membuatmu susah," sahut Toby. Sasy tersenyum dan langsung berjongkok di depan Toby.


" Aku tidak pernah merasa susah sedikitpun," sahut Sasy dengan mengusap-usap pipi Toby. Sasy menggengam tangan Toby dengan erat.


" Aku adalah wanita yang paling beruntung yang telah memilikimu. Toby aku tidak peduli mau kamu sakit atau tidak. Bagiku aku sangat mencintaimu dan aku sudah memutuskan akan terus bersamamu mendampingimu tidak akan ada batas waktunya," ucap Sasy dengan mata berkaca-kaca bicara dengan Toby. Sasy mengangkat tubuhnya sedikit dan mencium kening Toby.


" Aku mencintaimu," ucap Sasy dengan tulus. Air mata Toby jatuh. Saat wanita yang di cintainya mengorbankan banyak hal untuk dirinya.


" Kenapa tidak menjawab cinta ku. Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Sasy dengan mengusap air mata Toby. Sasy hanya menahan air matanya agar tidak menangis di depan Toby yang padahal dia juga begitu sedih dan bahkan ingin menangis.


" Aku takut Sasy," ucap Toby.


" Takut kenapa?" tanya Sasy.


" Aku takut melihatmu bagaimana kedepannya," jawab Toby.


" Memang kenapa denganku. Apa yang salah denganku dan kamu kenapa harus takut," ucap Sasy heran.


" Sasy kenyataannya tidak bisa di ubah jika akhirnya aku akan tiada dan aku takut bagaimana dengan kamu nantinya. Apa yang terjadi jika aku akan meninggalkanmu," ucap Toby yang terus berderai air mata.


" Apa yang kamu bicarakan Toby. Memang kamu tuhan hah! mungkin saja aku duluan mati. Kamu tidak boleh membahas kematian itu tidak baik dan kenapa dengan aku. Aku sudah dewasa dan walaupun kamu pergi terlebih dahulu. Memang kamu pikir aku tidak bisa jaga diri hah! aku bisa jaga diri. Aku akan baik-baik saja. Jadi jangan berpikiran sejauh itu. Aku tidak mau mendengarnya," ucap Sasy yang menjadi mewek.

__ADS_1


" Toby kita sudah bicarakan ini sebelumnya. Kalau kita tidak akan pernah mengungkit masalah kematian itu bukan hak kita dan tidak seharusnya kita membahas masalah itu. Kamu sudah berjanji denganku," ucap Sasy dengan tangisanya yang pecah.


" Maafkan aku sayang," sahut Toby. Sasy langsung memeluk Toby dengan erat.


" Kamu jangan bicara seperti itu lagi," ucap Sasy yang mewek.


" Iya Sasy aku minta maaf. Aku mencintaimu Sasy," ucap Toby yang mengusap-usap punggung Sasy yang memeluknya erat.


" Ya Allah aku mohon berikan aku kesembuhan. Agar aku bisa memberikan kebahagian untuk Sasy wanita yang aku cintai," batin Toby dengan penuh doa dan harapannya.


" Ya Allah. Aku mohon jangan ambil dua dariku. Hilangkan rasa sakit di dalam tubuhnya. Maaf jika aku egois yang sangat mencintainya dan tidak ingin kau mengambilnya dari hidupku," batin Sasy dengan doanya yang terus menangis memeluk Toby dengan erat.


Ternyata Verro dan Cherry melihat hal itu. Mereka ber-2 juga mendengarkan apa yang di bicarakan Toby dan juga Sasy yang mampu membuat air mata Cherry jatuh. Verro di sampingnya mengusap-usap punggung istrinya yang memberinya kekuatan.


" Aku tau apa yang di rasakannya," sahut Cherry.


" Iya sayang dan aku juga tau apa yang di rasakan Sasy. Karena aku juga dulu seperti itu. Aku sangat takut kehilangan kamu. Dan harus berpura-pura tegar agar kamu baik-baik saja," ucap Verro yang mengingat perjuangannya dan Cherry saat Cherry sakit parah.


" Semoga saja Toby bisa melewati semua ini," ucap Cherry yang hanya bisa berdoa.


" Dia adalah anak yang kuat. Dia akan bisa melewati semua ini. Rasa sakit itu akan di lawannya," sahut Verro yang membawa istrinya kedalam pelukannya. Cherry memang sangat lemah dengan orang-orang yang memiliki penyakit. Karena dia tau rasanya bagaimana itu.


*************


Akhirnya pemeriksaan hasil lab Fiona pun selesai dan memang tidak butuh waktu berjam-jam seperti yang di katakan Dokter Arif sebelumnya. Setelah mendapatkan hasilnya Dokter Arif menyuruh suster untuk membawa Fiona keruangannya dan Fiona pun sudah ada di sana.


Fiona sudah duduk di depan Dokter Arif yang mana Dokter Arif terlihat menulis-nulis sesuatu yang tidak diketahuinya apa itu.


" Bagaimana Dokter dengan jantung saya?" tanya Fiona yang langsung pada intinya.


" Setelah saya periksa jantung kamu normal dan tidak terkomplikasi sama sekali. Alhamdulillah organ jantung kamu sangat baik," jawab Dokter Arif.


" Alhamdulillah," sahut Fiona yang merasa lega dan bahkan tersenyum dengan jantungnya yang benar-benar normal.


" Lalu Dokter apakah jantung saya bisa di donorkan?" tanya Fiona yang langsung pada intinya. Arif mendengarnya kaget yang tiba-tiba Fiona membahas masalah donor jantung.


" Apa kamu punya rencana untuk mendonorkan jantungmu?" tanya Dokter Arif dengan suara beratnya. Fiona mengangguk apa adanya. Memeriksakan jantung tiba-tiba pasti alasannya untuk mendonorkannya.


Arif begitu kaget mendengar pernyataan Fiona yang memang ingin mendonorkan jantungnya. Firasat itu sudah di dapatkan Arif sebelumnya.


" Dokter kenapa diam. Dokter belum menjawab pertanyaan saya, apa jantung saya bisa di donorkan?" tanya Fiona lagi yang masih menunggu jawaban dari Dokter Arif.


" Jantung kamu normal dan jika di donorkan tidak ada masalah sama sekali," jawab Dokter Arif. Fiona tersenyum mendengarnya yang tidak percaya dengan apa yang di katakan Arif sekali.


" Dokter serius?" tanya Fiona yang tidak percaya. Arif mengangguk.


" Fiona apa kamu sungguh ingin mendonorkan jantung kamu?" tanya Dokter Arif.


" Iya Dokter. Jika baik-baik saja dan juga bisa untuk di donorkan. Maka saya akan mendonorkannya," ucap menegaskan.


" Fiona apa kamu yakin untuk mendonorkan jantung kamu?" tanya Dokter Arif dengan suara beratnya yang terus bertanya pada Fiona.


" Jika masih punya kesempatan untuk berguna sebelum kematian. Kenapa tidak Dokter. Dan jika memang tidak ada masalah maka tidak ada keraguan untuk saya. Saya sudah waktunya untuk pergi dan orang lain masih harus hidup karena banyak yang membutuhkannya dan juga menginginkannya untuk hidup," ucap Fiona yang benar-benar yakin dengan keputusannya.


" Dokter, apa yang saya katakan hari ini adalah sungguhan dan saya mengatakan dengan jelas-jelas dan memberi amanah langsung pada Dokter. Saya mendonorkan jantung saya ini. Jadi tolong jalankan amanah saya," ucap Fiona dengan sungguh-sungguh dengan apa yang di katakannya.


" Apa kamu yakin?" tanya Dokter Arif yang terus bertanya lagi. Fiona mengangguk dengan tersenyum lebar.


" Saya yakin. Saya akan bahagian. Jika amanah yang saya berikan di jalankan oleh Dokter. Saya mempercayai Dokter dengan sepenuhnya," ucap Fiona dengan yakin dengan segala keputusan yang di ambilnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2