
Akhirnya Clara melewati masa kritisnya. Clara sekarang sudah di pindahkan keruang perawatan. Dengan selang infus di tangannya dan juga di hidungnya.
Clara membuka matanya perlahan dan pandangannya langsung pada langit kamar ruangan itu yang masih samar-samar. Clara berusaha mengerjap-ngerjapkan matanya yang sulit terbuka dan penglihatannya masih belum jelas.
" Clara!" terdengar suara wanita yang khas. Membuat Clara mencari suara itu dan ternyata melihat sahabatnya Tari yang ada di sana.
" Tari," lirih Clara yang sudah minat jelas. Jika itu memang tari. Tari tersenyum padanya dan mengusap lengan Clara.
" Kamu baik-baik saja?" tanya Tari.
Clara yang masih belum bisa berbicara banyak mengangguk kan kepalanya pelan. Tangannya langsung memegang kepalanya yang terasa sakit. Bahkan terlihat dari wajahnya. Clara sedang menahan sakit.
Clara mengingat dia bertengkar hebat dengan Bayu dan mengendarai mobil dan mengingat ada mobil di depannya. Setelah itu dia tidak tau apa yang terjadi lagi. Tari berdiri dan memegang tangan Clara menjauhkan dari kepalanya.
" Jangan memaksakan diri, kondisi kamu bisa semakin parah," ucap Tari yang tidak ingin sahabatnya kenapa-napa.
" Apa aku tertidur lama?" tanya Clara dengan pelan. Dia merasa lama tertidur.
" Kamu tidak sadarkan diri selama 2 hari," jawab Tari.
" Tari aku bermimpi sangat aneh," ucap Clara yang ternyata mengingat apa yang terlintas di pikirannya saat dia koma.
" Memang apa yang kamu mimpikan?" tanya Tari. Clara terdiam dia bahkan tidak bisa menjelaskan bagaimana mimpi itu. Karena dia tidak tau harus memulai dari mana mimpi itu.
" Cherry, kenapa nama itu yang malah terlintas. Kenapa aku memimpikan suara panggilan itu," batin Clara memegang kepalanya kembali. Semakin berusaha mengingat apa yang ada di dalam mimpinya. Kepalanya semakin sakit.
" Clara sudah cukup," cegah Tari lagi, " Kamu tidak boleh memikirkan banyak hal. Kepala kamu tidak sanggup menerimanya. Jadi jangan memikirkan apa-apa," ucap Tari mengingatkan temannya.
" Tapi kenapa kepala ku sakit sekali," keluh Clara yang sudah memegang kepalanya dengan ke-2 tangannya.
Sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi dan bahkan bayangan samar-samar itu kembali teringat membuatnya kesakitan sampai meneteskan air mata.
" Aaaaaaa," teriak Clara yang tidak tahan dengan sakit yang dia rasakan.
" Clara kamu kenapa?" tanya Tari panik melihat temannya yang kesakitan.
..." Cherry, Cherry, Cherry,"...
..." Verro terima kasih sudah ada di dalam hidupku. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan cinta dari kamu,"...
..." Aku sangat mencintaimu Cherry,"...
__ADS_1
..." Aku juga mencintaimu Verro,"...
..." Pa, Cherry sayang banget sama papa. Cherry tidak mau kehilangan papa,"...
..." Kamu adalah anak papa satu-satunya. Kamu tidak akan pernah tergantikan di hati papa," ...
..." Makasih Ya Cherry kamu sudah baik kepadaku. Kamu sudah membantu pengobatan ibuku,"...
..." Cherry pulang sekolah nanti temani aku ke moll ya,"...
..." Cherry aku akan menaraktirmu nanti, dan dia tidak,"...
..." Saya terima nikahnya Cherry Casandra Laskarta dengan mas kawin tersebut di bayar tunai,"...
" Clara kamu kenapa, kamu kenapa Clara! Dokter! Dokter!" Tari berteriak memanggil Dokter karena kondisi sahabatnya yang sangat memprihatinkan. Dia takut dengan sahabatnya yang tidak biasanya.
..." Aku mencintaimu, Cherry "...
..." Aku mencintaimu Cherry,"...
..." Aku mencintaimu, Cherry,"...
Cherry terus kesakitan dan bahkan sampai duduk dengan lututnya yang meneguk dan kepalanya yang di remasnya kuat. Dia ingin mengetahui siapa yang berbicara kepadanya. Tetapi semakin ingin di ketahuinya. Semakin kepalanya sakit.
Mendengar teriakan Tari. Akhirnya Verro dan suster datang kedalam ruangan itu.
" Dokter tolong," ucap Tari dengan panik.
" Apa yang terjadi padanya?" tanya Verro yang juga panik dengan Clara yang berteriak-teriak dengan memegang kepalanya wajahnya sudah tidak terlihat lagi. Karena tertunduk.
" Aku tidak tau. Tiba-tiba dia seperti ini," jawab Tari panik.
" Silahkan, ibu tunggu di luar," ucap Suster yang menghantarkan Tari keluar dari ruangan itum
" Tapi sus teman saya bagaimana?" tanya Tari panik.
" Kami akanengurusnya," jawab suster membawa Tari keluar dan Verro langsung mendekati Clara. Mencoba melepaskan tangan Clara dari kepalanya. Tetapi Clara menahannya Karena memang kepalanya sangat sakit.
" Clara tenanglah. Lepaskan tanganmu, lepaskan Clara," ucap Verro berusaha menenangkan dan berusaha melepaskan tangan Clara.
" Sakit, sakit, sakit," keluh Clara menahan sakit.
__ADS_1
" Beri dia suntikan!" perintah Verro. Suster mengangguk dan langsung memberi suntikan pada tangan Clara agar Clara tenang dan akhirnya Clara melenturkan tangannya dan kepalanya jatuh di pelukan Verro.
" Verro," lirih Clara sangat pelan. Suara itu dapat di dengar Verro.
" Apa yang di katakannya," batin Verro kaget mendengar kata itu keluar dari mulut Clara sebelum Clara pingsan. Meski pelan. Tetapi pendengaranya masih sangat normal. Dan dia jelas mendengar Clara memanggilnya.
Verro yang tersadar dari pemikirannya langsung membaringkan Clara dengan benar. Wajah Clara memucat dengan keringat yang membasahi wajahnya. Dengan spontan Verro mengusap keringat itu dengan tangannya. Sendiri.
" Periksa luka di kepalanya!" perintah Verro pada suster.
" Baik Dok," jawab Suster. Verro menarik selimut sampai kedada Clara dan melihat wanita itu dengan lama. Seakan dia sangat mencemaskan wanita itu.
*********
Tari menemui Dokter karena sudah selesai memeriksa sahabatnya. Dan sahabatnya juga sudah beristirahat. Jadi Tari menemui Verro di ruangannya.
" Sejak kapan dia berteriak-teriak?" tanya Verro pada tari.
" Saat dia sadar. Dia sudah mulai memegang kepalanya. Aku juga tidak kenapa. Dia hanya bertanya berapa hari dia tertidur dan setelah itu dia mengatakan bermimpi panjang, aku menanyakan mimpinya. Tetapi dia terdiam dan seperti berusaha mengingatnya dan terakhirnya Clara histeris dengan mengeluh sakit di kepalanya," jawab Tari menjelaskan pada Dokter dengan kronologi kejadian sahabatnya
" Aneh sekali. Kenapa dia memang sangat berusaha ingin mengingat sesuatu. Apa yang terjadi kepadanya. Benturan di kepalanya jelas tidak membuatnya amnesia. Tetapi kenapa dia seperti penderita amnesia," batin Verro yang merasa janggal dengan kondisi Clara.
" Apa sebelumnya Clara pernah mengalami koma?" tanya Verro.
Tari terdiam. Meski bersahabat dekat dengan Clara dia bahkan tidak tau banyak dengan sahabatnya. Clara seperti seseorang yang datang tiba-tiba dan dekat dengannya.
" Tari!" tegur Verro yang melihat tari bengong.
" Saya rasa tidak pernah," jawab Tari yang juga tidak bisa menjelaskan apa-apa dengan kondisi sahabatnya sebelumnya.
" Kenapa aku tidak tau apa-apa tentang Clara dan Bayu kenapa Clara bisa menjadi saudaranya dengan tiba-tiba," batin Tari yang baru memikirkan ke anehan itu sekarang. Setelah bertahun-tahun mengenal keluarga itu.
" Lalu bagaimana kondisi Clara selanjutnya?" tanya Tari yang mengkhawatirkan sahabatnya.
" Pendarahan di kepalanya memang menyebabkan dia seperti ini. Saya akan coba melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada Clara dan kita akan temukan apa yang mengganggu pikirannya," ucap Verro yang belum bisa menjelaskan apa-apa.
" Dan saran saya sebaiknya. Clara jangan di tanyai dulu tentang apapun. Apa lagi kenapa dia bisa kecelakaan. Karena takutnya kondisinya akan semakin parah," ucap Verro memberi saran pada Tari.
" Baik Dok, terima kasih untuk sarannya," ucap Tari. Verro mengangguk.
" Sangat aneh. Apa yang berusaha diingatnya. Aku tidak mungkin menanyakan kepadanya. Itu akan membahayakan kondisinya," batin Verro yang masih kepikiran dengan kejanggalan yang ada pada Clara.
__ADS_1
Bersambung