DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 320 Mengadu.


__ADS_3

Tidak tau jam berapa di malam yang gelap di bawah hujan yang deras. Kuatnya suara petir yang menyambar. Cherry melarikan diri ke makam ke-2 orang tuanya.


Di mana dia sudah terduduk di makam itu menangis terisak-isak yang layaknya mengadu kepada orangtuanya. Suara tangisnya tetap terdengar walaupun suara hujan tetap terdengar kuat.


" Dia sudah mencintaiku pa, dia sudah tidak mencintaiku ma. Aku tidak ingin melihatnya lagi pa, aku membencinya. Dia membentakku di depan wanita itu. Dia juga mendorongku. Dia lebih memilih Fiona di bandingkan aku. Dia sudah tidak mencintaiku lagi. Dia telah menghiyanatiku," ucap Cherry menangis senggugukan yang mengadu kepada orang tuanya.


" Pa, seharusnya papa tidak memberikan jantung papa sama Cherry. Seharusnya papa biarkan Cherry pergi. Papa salah menitipkan Cherry pada Verro. Salah pah. Verro bukan Verro yang dulu lagi, bukan pa, dia sudah berubah pa," ucap Cherry yang merasakan sesak didanya dengan meremas kuat jantungnya.


" Pa, ma, tolong Cherry. Bawa Cherry pergi. Cherry tidak mau di sini terus. Cherry tidak sanggup untuk hidup seperti ini. Cherry mohon bawa Cherry pergi. Cherry tidak punya siapa-siapa lagi di dunia. Hanya Verro yang Cherry miliki. Tapi dia sudah tidak mencintai Cherry lagi. Dia sudah tidak mencintai Cherry lagi. Jadi Cherry mohon bawa Cherry pergi. Bawa Cherry pergi dari dunia ini ma, pa, Cherry tidak ingin berada di sini," Cherry terus menangis senggugukan.


Sakit di hatinya membuatnya seakan putus asa. Tidak sanggup tinggal di tempat yang baginya sudah seperti musim panas yang membuat gersang sehingga tanaman bermatian karena kekurangan air. Itu yang di rasakan Cherry.


Tidak ada harapan untuk hidup. Ketika baginya Pria yang di cintainya. Verro telah pergi dari hidupnya, menghiyanatinya yang membuatnya sangat terluka dan putus asa.


*********


Lain Cherry yang tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini yang harus mengadu pada orang tuanya yabg sudah tiada. Verro sekarang berada di rumah Vandy. Vandy membawanya pulang masih dalam ke adaan pingsan.


Di kamar tamu. Sasy, Toby Nadya, Varell, Vandy, Azizi dan Raquel berada di dalam kamar itu berdiri melihat Verro yang masih tidak sadarkan diri. Karena di luar hujan mereka memang berhenti mencari Cherry.


Verro mengkerutkan dahinya lalu perlahan membuka matanya, memejamkan lagi dan membuka lagi sampai pandangannya normal yang melihat teman-temannya berdiri di sekitarnya, sebagian menatapnya sinis dan sebagian menatapnya khawatir. Verro memijat kepalanya yang berat dengan matanya yang terus berkeliling.


" Di mana aku?" tanya Verro dengan suara seraknya. Masih lemas mungkin karena baru siuman juga.


" Kamu ada di rumahku," jawab Vandy.


" Apa yang terjadi kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Verro.


" Kamu pingsan, karena keracunan obat dari penghirupan," jawab Vandy.

__ADS_1


" Kenapa bisa?" tanya Verro.


" Ya gara-gara Fiona lah, apa lagi," sambar Raquel yang tampak ketus.


" Shutttt, Raquel sudah," tegur Nadya pelan yang melihat Raquel tampak emosian.


" Di mana Cherry?" tanya Verro yang langsung fokus pada istrinya.


" Untuk apa mencarinya, kalau kamu sendiri saja tidak peduli kepadanya dan lebih mementingkan pelakor itu," sahut Sasy melihat tajam Verro dengan tangan Sasy di letakkan di dadanya.


" Keterlaluan ya kamu Verro, bisa-bisanya kamu kasar sama Cherry. Hanya karena membela wanita itu," sahut Toby yang sedari menahan diri. Rasanya dia ingin sekali memukul Verro habis-habisan.


" Aku tidak sengaja melakukannya," sahut Verro yang masih lemas dan berusaha untuk duduk yang di bantu Vandy.


" Tidak sengaja kamu bilang. Lalu bagaimana hatinya. Kamu juga tidak sengaja melukainya. Verro, asal kamu tau. Sekarang Cherry tidak tau di mana dan semua itu gara-gara kamu yang terus membela Fiona. Kamu berseling dengan Fiona di belang Cherry," sahut Sasy menekan suaranya.


" Aku tidak melakukannya Sasy," sahut Verro dengan suara rendahnya.


" Verro. ALM om Laskarta, mengorbankan nyawanya. Hanya demi mempercayai kamu yang akan bisa membahagiakan Cherry. Tapi apa kamu menyia-nyiakannya. Cherry anak yatim piatu yang hanya mempercayai kamu untuk ada di dalam hidupnya. Tapi kamu sudah menghancurkan segalanya," lanjut Sasy yang terus marah-marah pada Verro yang membuat Verro diam yang pasti menyadari semuanya dan bahkan matanya berkaca-kaca.


" Kamu itu sangat jagat Verro, seharusnya kamu itu tidak pernah di berikan kesempatan sekalipun," kecam Sasy.


" Sasy, sudah cukup!" gertak Vandy, " kamu tidak ada gunanya ribut di sini. Kita tidak tau apa yang terjadi. Dan lihat kondisi Verro juga tidak baik. Jadi jangan terus memojokkannya. Masalah tidak akan selesai kalau kita terus memojokkan Verro," sahut Vandy menegaskan.


" Kamu membela dia!" teriak Sasy.


" Aku tidak membelanya. Aku hanya ingin kita tenang. Agar Cherry bisa di temukan secepatnya," sahut Vandy menegaskan.


" Benar Sasy, kamu juga harus tenangkan diri kamu. Agar masalah ini bisa di selesaikan," sahut Azizi.

__ADS_1


" Aku akan mencari Cherry," ucap Verro bangkit dari tempat tidur. Walau kondisinya juga tidak baik.


" Verro kamu masih lemah, biar kami yang mencarinya," sahut Varell menahan temannya.


" Tidak. Aku akan mencarinya," ucap Verro yang langsung bangkit Yanng ingin mencari keberadaan istrinya.


" Verro!" panggil Nadya melihat kepergian Verro.


" Sudah biarkan saja. Biarkan dia mencari Cherry," sahut Sasy.


" Tapi Sasy. Verro juga sedang tidak baik," sahut Nadya.


" Biarkan. Biar dia mati sekalian," geram Sasy.


Vandy hanya geleng-geleng melihat Sasy dia tau Sasy memang yang paling emosian melihat kepergian Cherry dan sampai sekarang tidak di temukan.


**********


Dalam keadaan lemah. Verro mencari keberadaan istrinya. Dia sudah pulang kerumah dan tidak menemukan Cherry sama sekali. Verro memutuskan untuk kerumah Cherry berharap Cherry ada di sana.


" Cherry, di mana kamu, Cherry!" teriak Verro memasuki rumah tersebut mencari-cari keberadaan Cherry. Verro menaiki anak tangga dan terus memanggil-manggil nama Cherry. Verro pun sampai kekamar Cherry dan melihat kamar itu juga kosong.


" Cherry, Cherry!" panggil Verro terus menelusuri kamar itu yang tidak menemukan keberadaan istrinya.


" Di mana kamu Cherry, maafkan aku Cherry," ucap Verro beberapa kali mengusap wajahnya kasar. Saat Verro ingin keluar dari kamar itu. Matanya melihat buku yang terbuka di atas tempat tidur dengan pulpen di tengahnya. Verro langsung mendekati buku itu dan mengambilnya.


..." Aku tidak percaya. Jika akhirnya aku mengalami semua ini. Sakit, sangat sakit Verro. Ketika hatimu harus terbagi. Aku tidak menerimanya Verro. Itu terlalu sakit untukku. Aku membencimu Verro. Aku sudah mengatakan kepadamu. Hanya ada 1 kesempatan. Tetapi kamu lebih memilihnya yang itu artinya kamu melepaskanku. Tadinya aku masih ingin kembali menjadi Clara yang tidak pernah mengenalmu dan mencintaimu. Tetapi aku lupa jika Clara juga jatuh cinta padamu. Dan aku lebih baik pergi untuk selamanya dari pada harus menahan sakit yang kamu berikan," tulis Cherry dalam pesan terakhirnya untuk suaminya. Terlihat putus asa yang di tuliskan Cherry sampai membuat air mata Verro jatuh....


" Tidak Cherry, kamu tidak bisa pergi dariku. Aku tidak pernah menghiyanatimu. Aku sangat mencintaimu," ucap Verro dengan bibirnya yang bergetar yabg membaca pesan dari sang istri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2