
Semua yang ada di meja makan begitu bahagia melihat pemandangan yang indah di depan mereka yang mana Sasy dan Azizi sama-sama berpelukan dengan tangisan merasa bersalah mereka.
" Begini kan jauh lebih baik, jadi ngapain sih pakai ribut-ribut segala. Kalau masalah Fiona seperti yang kata Vandy tadi orang-orang itu punya hal yang buruk dan pasti akan berubah," sahut Varell, " dulu juga Raquel seperti itu?" lanjut Varell malah menunjuk Raquel.
" Apaan, sih, nggak usah sama-sama in aku sama dia," sahut Raquel tampak kesal.
" Sudah, jangan mulai lagi," sahut Cherry mencegah keributan lagi.
" Sudahlah, sekarang Sasy dan Azizi sudah baikan. Jadi kita jangan memperbesar masalah lagi," sahut Nadya.
" Benar kata Nadya jangan melanjutkan perdebatan lagi," sahut Verro.
" Ya sudah, intinya begini deh kita nggak usah terlalu mengurusi Fiona. Bukannya dia yang menjadi masalahnya. Jadi lain kali kita jangan ribut hanya karena masalah Fiona. Jika dia membuat kita menjadi ribut. Ya sudah kita jangan bicara dengannya, aku juga tidak ingin dia juga berbaur dengan kita," sahut Raquel.
" Sudah jangan membahas masalah Fiona lagi. Aku tau kalian seperti ini. Hanya karena khawatir dengan ku. Tetapi tenanglah aku dan Verro tidak apa-apa. Lagian aku sudah memaafkan Fiona dan sudah itu sudah cukup. Jika aku memaafkannya. Maka kalian juga harus memaafkannya," ucap Cherry menjelaskan.
Semuanya saling melihat mungkin sebagian dari mereka memaafkan dan sebagian mungkin masih berat. Atau memaafkan tetapi tidak ikhlas. Azizi dan Sasy juga sudah melepas pelukan mereka masing-masing dengan air mata mereka yang juga sudah di hapus.
" Benar kata Cherry, kita sudah memaafkannya. Jadi kita juga berharap kalian seperti itu," sahut Verro menambahi.
" Hmmm, memaafkan bukan berarti akan harus berteman dengannya," sahut Raquel dengan santai sambil meneguk minumannya.
" Raquel apa kesalahannya sangat besar sampai kamu tidak bisa memaafkannya?" tanya Arif dengan lembut melihat ke arah Raquel.
" Aku tidak mengatakan kesalahannya besar atau tidak. Jika masalah di maafkan atau tidak aku memaafkannya. Tetapi masalah untuk berteman aku tidak. Sorry aku masih punya banyak teman dan tidak kekurangan teman sama sekali," ucap Raquel to the point.
" Ya sudah masalah itu urusan masing-masing. Siapa yang mau berteman atau tidak. Yang penting sekarang kita tidak ada masalah dengan Fiona," sahut Nadya.
" Ya, kita memang tidak ada masalah dengan Fiona. Tetapi tetap untuk mencegah keributan di antara kita semua seperti kejadian Sasy dan Azizi. Sebaiknya kita tidak memasukkan dia kedalam sircle pertemanan kita. Jangan sampai hanya karena gara-gara dia. Kita sering berbeda pendapat dan akhirnya ribut satu sama lain hanya karena Fiona," ucap Raquel menegaskan.
__ADS_1
" Aku setuju apa yang di katakan Fiona," sahut Sasy masih dengan suara seraknya, " ini hanya untuk mencegah pertengkaran di antara kita semua dan pastinya untuk keamanan rumah tangga Verro dan juga Cherry," lanjut Sasy yang memang sangat mengkhawatirkan temannya.
" Ya apa yang di katakan Sasy dan Raquel benar dan aku setuju. Kita cukup memaafkan. Dan tidak perlu harus berlebihan kepadanya dan juga yang kita lakukan untuk kesembuhannya juga nantinya yang tidak akan menjadi beban pikiran untuknya," sahut Toby menambahi.
" Oke-oke, baiklah, mungkin memang itu yang terbaik. Ya sudah kita deal jangan membahas masalah Fiona lagi atau meributkannya. Untuk masalah pertemanan itu urusan masing-masing, kita tidak bisa memaksakannya dan jika kita bertemu dengannya. Mohon agar kejadian ini tidak terulang lagi," sahut Varell.
Yang lainnya saling melihat, yang mungkin pendapat Raquel memang ada benarnya. Jelas semuanya hanya untuk keutuhan persahabatan mereka.
" Kita deal kan," sahut Raquel ingin memastikan.
" Ya sudah, itu pun jadi," sahut Vandy yang netral-netral saja. Yang lainnya pun mengangguk-angguk. Cherry dan Verro saling melihat dan Verro menganggukkan matanya pada Cherry.
" Ya sudah, aku setuju. Tapi ingat kita jangan bicara sesuatu yang membuat hatinya sakit atau sengaja untuk bermusuhan kepadanya. Kita sudah memaafkannya dan mungkin sebagian tidak ingin melanjutkan dengan pertemanan. Tetapi bukan berarti akan ada yang memusuhi. Aku tau kalian semua melakukan ini hanya untukku. Jadi kita harus tetap memberikan dia suport dan doa untuk kesembuhannya," sahut Cherry yang memberikan pesan.
" Iya, Cherry kamu santai aja. Kita nggak akan ganggu dia kalau dia tidak menggangu kita," sahut Raquel.
" Ya sudah berarti masalah ini kita anggap selesai dan di tutup," sahut Toby menegaskan dengan mengetuk meja dengan tangannya yang mengepal seakan ketuk palu.
" Biar lebih jelas. Jadi namanya nggak di dengar lagu," sahut Toby. Yang lainnya hanya tersenyum saja.
" Kalau masalah yang di sebarkan sudah selesai. Sekarang kita lanjutkan sarapan yang menganggur ini," sahut Arif.
" Ayo Sasy, Azizi, kalian duduk lagi," ajak Cherry. Sasy dan Azizi mengangguk dengan tersenyum dan langsung duduk kembali ketempat mereka semula untuk melanjutkan sarapan mereka bersama.
***********
Raquel tampak rapi keluar dari kamarnya dan tidak sengaja Dokter Arif juga lewat.
" Dokter," sapa Raquel, Arif menaikkan 1 alisnya dan menutup mulutnya dengan 2 jarinya.
__ADS_1
" Maksudnya, kak Arif," ucap Raquel mengubah panggilannya, " maaf kak soalnya sudah kebiasaan," sahut Raquel merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa, kamu mau kemana?" tanya Arif.
" Oh, ini mau keluar, mau menyusul anak-anak," jawab Raquel " kak Arif sendiri mau kemana?" tanya Raquel.
" Hmmm, sama mau keluar juga. Hanya saja bingung mau kemana," jawab Arif.
" Ya sudah kalau misalnya bingung, ikut sama aku aja. Kita gabung sama anak-anak yang lain," sahut Raquel memberikan ide.
" Hmmm, tidak usah, kalian sepertinya ingin hapy-happy sendiri dan mungkin saya hanya akan mengganggu saja," sahut Arif merasa tidak enak.
" Apaan sih kak, ya nggak lah, apa bedanya. Kita juga sama-sama liburan di sini. Jadi apa masalahnya," sahut Raquel.
" Ya beda dong Raquel kalian sama saya tidak seumuran dan mungkin jalan pikiran kalian berbeda dengan saya," sahut Arif.
" Ishhh, sama aja kali, buktinya kita berdua ngobrol nyambung aja. Nggak ada masalah tuh buktinya. Jadi apa yang beda. Dokter aja yang bicara berlebihan," sahut Raquel.
" Itu kan kamu bukan mereka," sahut Arif.
" Hmmm, ya sudah bagaimana kalau kak Arif tidak mau bersama mereka. Bagaimana kalau kita pergi berduaan saja," sahut Raquel yang memunculkan idenya tiba-tiba.
" Bagaimana?" tanya Raquel memastikan dan Arif tampak sedang berpikir.
" Hmmm, baiklah," sahut Arif yang langsung setuju. Dia tidak mau gabung dengan yang lainnya karena merasa tidak akan nyambung. Tetapi sama Raquel mau. Tampaknya Arif nyaman bersama Raquel dan sepertinya Arif yang kepincut bukan Raquel.
" Kalau begitu ayo kita pergi!" ajak Raquel.
" Hmmm, ayok," sahut Arif dengan senang hati.
__ADS_1
Bersambung