
Pagi hari seperti biasanya Cherry berangkat ke sekolah. Saat turun dari mobil Cherry berpapasan dengan Verro. Cherry menghentikan langkahnya sebentar dan kembali berjalan melewati Verro.
Iya dia memang kesal karena Verro menuduhnya. Bukannya mencari tau kebenarannya tetapi langsung menuduhnya tanpa memikirkan perasaannya.
" Ada apa dengannya, seharusnya aku yang marah kepadanya," desis Verro melihat kebelakang melihat punggung Cherry yang semakin jauh.
Memang dia ada niat mengomeli Cherry. Karena Cherry mengadukan hal yang tidak penting itu. Tetapi Verro malah di acuhkan.
Cherry berjalan di halaman sekolah menuju kelasnya. Ternyata 1 sekolah sedang heboh. Bahkan beberapa murid melihatnya dengan sinis.
Cherry hanya melirik bingung apa yang salah dengan dirinya. Kenapa dia di tatap seperti itu tidak seperti biasanya.
Tanpa memperdulikan Cherry melanjutkan langkahnya dengan cepat. Cherry melewati koridor-Koridor sekolah.
Mata Cherry mulai melihat kekiri dan kekananya yang ternyata sepanjang jalan Cherry melihat di setiap tembok ada foto Fiona yang mencium pipi Verro dan hal itu membuat murid-murid heboh.
" Bukannya dia pacarnya?"
" Tapi kenapa wanita itu menciumnya,".
" Mungkin saja, Verro memang terpaksa bersamanya,"
" Benar selama ini, kan Verro sering memarahinya, sangat terlihat bahwa Verro tidak menyukainya,"
" Kasian sekali pasti cintanya bertepuk sebelah tangan,"
" Verro juga boleh kali pacaran dengan wanita lain.
" Mungkin Verro juga bosan,"
Cibiran itu membuat kuping Cherry panas sepanjang perjalanan yang terus membicarakan dirinya dengan kata kasihan. Cherry harus mendapatkan nyinyiran dari beberapa murid yang tidak di kenalnya.
Yang mungkin seniornya atau siapa dia juga tidak tau. Tetapi murid-murid itu tampak tidak menyukainya. Cherry mempercepat kan langkah karena semakin panas jika berada di tempat itu.
Jika di tanya sakit, pasti iya. Seakan harga dirinya sebagai wanita hilang. Cherry dianggap wanita yang mengejar-ngejar Verro dan kejadian semalam ternyata berdampak hebat.
Tetapi malah Cherry yang di salahkan, yang dia anggap mengekang Verro. Cherry kembali seperti wanita yang putus asa. Mungkin beberapa perkataan murid-murid itu memang benar. Jika Verro hanya terpaksa bersamanya.
" Cherry," panggil guru yang berpapasan dengan Cherry.
__ADS_1
" Iya Bu," jawab Cherry pelan, menahan rasa sakit di hatinya.
" Ibu minta tolong! Kamu tolong ya tempelkan ini di Mading! perintah guru memberikan Cherry tempelan kertas.
" Hmmmm, baik Bu," jawab Cherry mengambilnya dan langsung mading.
Tidak berapa lama. Cherry sampai ke mading dan menempelkan yang di bawanya tadi. Tetapi matanya harus melihat kesamping kertas yang ternyata ada juga foto Varell dan Fiona yang sama dengan seperti tadi. Cherry terus melihat foto itu dengan dekat
" Ihhhh, dasar Fiona gatel, sudah tau Verro punya pacar, masih saja di sosor,"
" Benar, keliatannya aja diam, ternyata asyik main sosor, permainanya hebat sih,"
Cherry kembali mendengar nyinyiran murid yang berlewatan dari belakanggnya. Seketika ada yang sesak di dadanya. Entahlah perasaan apa yang ada di hatinya.
Dalam kediaman nya sebuah tangan tiba-tiba menarik foto tersebut. Cherry melihat orang yang menarik foto itu dari mading yang ternyata Verro.
Dengan cepat Verro merobek foto itu di depan Cherry. Cherry hanya melihat biasa saja. Orang-orang yang berlewatan menutup mulut mereka pasti sambil bergosip. Apa lagi Verro menginjak foto itu setelah di buang ke lantai.
Cherry pun memilih pergi dari hadapan Verro. Sebenarnya dia bisa melihat Verro sedang marah.
Tetapi dia tidak ingin semakin memperkeruh suasana dan yang adanya semakin lama semakin menjadi tontonan untuk murid-murid sekolah.
Apalagi Verro menuduhnya dan pasti akan membahas masalah itu. Dan pasti setelah itu Verro akan mengomelinya.
Verro juga tidak mengerti dengan dirinya. Dia adalah pria yang cuek dan masa bodo apa yang terjadi.
Tetapi dia seakan ingin menjelaskan kepada Cherry apa yang terjadi. Seakan dia melupakan tentang papanya yang marah karena aduan Cherry.
Cherry bahkan melangkah sangat cepat tanpa mempedulikan Verro memanggilnya berkali-kali. Verro menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Verro pun meninggalkan tempat itu.
Cherry pun memasuki kelasnya. Di dalam kelasnya tidak kalah heboh. Dan yang paling parahnya, anak-anaknya mengerumuni bangku Fiona seakan menggoda Fiona.
Dari wajah Cherry dia terlihat sangat geram
Tetapi kembali lagi Cherry menahan dirinya dan dan duduk di bangkunya.
" Cherry, kau tidak apa-apa?" tanya Sasy duduk di meja Cherry. Cherry menggeleng.
" Ini semua gara-gara mu, Toby, kenapa kau memotret pelakor itu, lihat akibatnya," sahut Sasy dengan kesal menyalahkan Toby.
__ADS_1
" Kenapa aku," sahut Toby mengelak.
" Fiona bagaimana rasanya mencium Verro, apa setelah menciumnya kalian ada pembicaraan," tanya salah satu wanita yang menggoda Fiona dan hal itu membuat Cherry menoleh ke arah Fiona yang Fiona tersenyum malu-malu.
" Ihhhhhh, jadi serius hal itu berlanjut," sahut salah seorang murid tersenyum kecentilan gemes sendiri.
" Ihhhhhh, kenapa bukan aku saja yang melakukan itu. Mencium Verro, apa kalian juga berciuman," sahut wanita tersebut. Seketika hal itu membuat Cherry seakan panas dan ingin menyemburkan amarah yang tiba-tiba saja ada.
Vandy dan Varell yang berada di tempat duduk mereka. Saling melihat dan melihat ke arah Cherry.
" Ishhhh, dasar gatal," desis Sasy kesal.
" Jadi kau menyukainya," tiba-tiba Raquel menghampiri bangku Fiona.
" Bukan urusanmu," sahut Fiona tidak menanggapi.
Mitha dan Selina pun mengikuti Raquel dan sudah berada di sekitar Fiona dan murid-murid yang awal mengerumuninya menyinggir tiba-tiba.
" Ternyata aku tidak menyangka, di balik diam mu, ternyata kau punya bakat menjadi pelakor," desis Raquel melirik ke arah Cherry.
Raquel juga melihat Cherry yang sekarang duduk di kursinya dengan kepala menunduk sedikit seperti tidak mempedulikan apa yang terjadi.
" Apa maksudmu?" tanya Fiona langsung berdiri.
" Kau tidak tau malu, bukannya semua 1 sekolah juga tau. Jika Cherry dan Verro pacaran. Tapi kau malah dengan bangganya menanggapi gosip," sahut Mitha.
" Apa kau se senang itu mencium Verro," sambung Selina lagi.
" Jaga bicara kalian. Bukannya dia ada di sana. Apa salahnya jika bertanya kepadanya apa dia mempunyai hubungan itu," ucap Fiona melihat ke arah Cherry.
" Dia berani sekali," desis Sasy tidak menyangka. Varell dan Vandy kembali saling melihat dan serentak melihat ke arah Fiona yang berbicara keterlaluan.
Sementara Cherry masih diam di tempat dengan perasaan yang semakin menggelegar mendengar ucapan Fiona. Mungkin orang-orang tidak percaya jika seorang Fiona bisa berbicara seperti itu.
" Apa dia benar-benar menyukai Verro," batin Vandy menebak.
" Cherry bukannya kau sering mengatakan jika kau tidak pacaran dengan Verro. Kalau begitu katakan kepada mereka yang sok tau tentang hubungan mu yang tidak ada dengan Verro. Jika Verro bukan pacarmu. Dan siapapun bisa dekat dengannya dan kau juga tidak peduli," ucap Fiona dengan suara lantang.
💝💝Bersambung
__ADS_1
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya