
" Kalian juga suka saling mencemburui, kau jelas sangat cemburu dengan apa yang terjadi dan viona. Belakangan ini Verro sangat cemburu melihat kedekatanmu dengan Aldo," sahut Vandy si tukang analisa.
" Aldo, ada apa dengan Aldo?" tanya Cherry bingung.
" Apa kau tidak sadar jika Verro tidak menyukai kau dekat-dekat dengan Aldo," sahut Vandy.
" Aku mana tau, lagi pulan memang kenyataan aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa dan masalah Fiona itu hanya kebetulan saja masuk kedalam mimpiku," sahut Cherry yang terus mengelak.
" Benarkah," ucap Vandy tidak percaya. Cherry menganggukkan matanya memastikan dia memang tidak cemburu hanya kesal dengan karena di mimpinya Fiona menghinanya.
" Sudahlah Cherry, jika tidak cemburu kau tidak mungkin sampai kepikiran," ucap Vandy yang memang tidak mempercayai Cherry.
" Terserahmu, aku tidak pernah memikirkannya, aku hanya memikirkan tentang......," Cherry terdiam dan tidak berani melanjutkan kata-katanya.
" Tentang apa?" tanya Vandy penasaran.
" Anak-anak di sekolah, aku merasa mereka mulai mencibirku, karena kejadian itu," jawab Cherry.
" Katanya tidak kepikiran," sahut Vandy tersenyum. Cherry mendesis, Vandy selalu saja bisa membuatnya untuk jujur.
" Oke baiklah, apa yang kau pikirkan?" tanya Vandy yang siap membantu. Cherry terdiam menutup matanya dan tidak ingin berbicara. Membuat Vandy juga tidak bertanya lagi dan melanjutkan pekerjaannya mengkompres mata Cherry.
" Memang Verro tidak memberi penjelasan kepadamu?" tanya Vandy yang memang tidak tahan jika tidak membahas hubungan Cherry dan Verro.
" Kenapa juga dia harus memberi penjelasan, belakangan ini dia memang sering dekat dengan Fiona," sahut Cherry.
" Benarkah, kau memperhatikannya?" tanya Vandy.
" Tidak sengaja beberapa kali, aku melihat mereka sangat akrab," jawab Cherry apa adanya.
" Dan itu membuatmu tidak nyaman," tebak Vandy. Cherry kembali membuka matanya melihat Vandy kembali tersenyum. Seakan tau apa isi hatinya.
" Aku tidak mengatakan mengatakan apapun jangan menebak asal-asalan," sahut Cherry kesal.
" Wajar sih jika kamu tidak nyaman. Perasaan kamu terlalu besar untuk Verro, terbukti jantung mu berdebar tidak menentu karena berdekatan dengan Verro," sahut Vandy membuat Cherry merapatkan giginya.
Vandy mengingatkan Cherry saat kejadian di rumah sakit yang sangat memalukan.
" Vandy," pekik Cherry, " Ahhhhhhh, sudahlah jangan membahas itu lagi," ucap Cherry yang ada semakin emosi.
" Lanjutkan pekerjaanmu agar mataku kembali normal, biar aku bisa kembali kekelas. Aku tidak mau jadi pusat perhatian," oceh Cherry dengan tegas.
" Baiklah Cherry aku, tidak akan mengganggu mu lagi," ucap Vandy yang tidak mau menggoda Cherry lagi. Yang ada Cherry akan semakin kesal.
Vandy pun melanjutkan pekerjaannya mengkompres mata Cherry dengan lembut.
__ADS_1
" Kasiannya mata ini," ucap Vandy semakin mempercepat wajahnya pada Cherry agar mempermudah pekerjaannya.
Tidak berapa lama Verro yang datang kesekolah. Langsung menuju ruangan V3. Saat memasuki ruangan tersebut.
Verro yang Masih di depan pintu. Verro sudah di kejutkan dengan pemandangan yang tidak mengenakkan.
Di mana Verro melihat Cherry yang tertidur di sofa dan Vandy menunduk seperti ingin mencium Cherry. Karena Verro tidak dapat melihat wajah Vandy yang membelakanginya.
Blakk.
Verro membanting pintu kuat membuat Vandy dan Cherry kaget, Vandy langung melihat kebelakang begitupun dengan Cherry yang langsung membuka matanya dan mengangkat kepalanya melihat apa yang terjadi.
" Verro," lirih Vandy.
" Apa yang kalian lakukan?" tanya Verro dengan suara keras langsung memasuki ruangan itu dan menghampiri Cherry dan Vandy berdiri di depan mereka yang masih tetap dengan posisi masing-masing.
" Memang apa," sahut Vandy heran.
Verro menurunkan pandangannya ke arah Cherry dan melihat mata Cherry yang bengkak.
" Berdiri!" perintah Verro pada Vandy dengan menatap sinis.
" Iya," sahut Vandy.
" Apa kau tidak bisa duduk dengan benar," oceh Verro kesal dengan Cherry.
" Memang kenapa?" sahut Cherry Cherry bingung.
" Kau masih mau tidur di situ," ucap Verro menekan suaranya. Perlahan dengan terpaksa Cherry pun duduk.
" Jangan memamerkan diri, tutup," pekik Verro. Cherry yang mengerti mengambil jas yang sudah jatuh kelantai.
" Kau pikir cuma kau saja yang mempunyai paha," desis Verro sinis membuat Vandy di sampingnya tertawa kecil yang mengerti maksud Verro.
" Kenapa kau tertawa?" tanya Verro kesal melihat ke arah Vandy. Vandy hanya menggeleng.
" Aku yang bertanya, kau kenapa datang-datang langsung heboh," sahut Vandy.
" He, aku yang seharusnya bertanya apa yang kalian lakukan berduaan di sini yang satu tiduran nggak jelas, memang kau tidak bisa tidur di UKS, yang satu duduk, memang tidak ada tempat duduk," oceh Verro yang marah-marah tidak jelas membuat Vandy dan Cherry saling melihat bingung.
" Apa kalian harus saling menatap, apa tadi tidak cukup," bentak Verro membuat Cherry dan Vandy tersentak kaget serba salah.
" He, Verro aku hanya membantu Cherry mengkompres matanya," sahut Vandy. Verro melihat ke arah mata Cherry.
" Kenapa matamu?" tanya Verro sinis.
__ADS_1
" Oh, ini aku kurang tidur," jawab Cherry memegang matanya
" Lalu apa harus dia yang melakukan," ucap Verro kesal menatap Vandy.
" Ada apa denganku, kenapa aku yang di salahkan," sahut Vandy heran.
" Diam! aku tidak menyuruhmu berbicara," bentak Verro.
" Dan kau Ikut denganku," ajak Verro menarik tangan Cherry dan membawanya pergi dari ruangan itu.
" hey Verro," ucap Vandy yang tidak bisa melakukan apa-apa saat Verro sudah membawa Cherry pergi.
" Apa dia sedang cemburu, memang apa yang aku lakukan, dasar yang satu cemburu yang satu lagi cemburu, keduanya penuh salah paham. Tepi tidak mau mengakui perasaan masing-masing. Pasangan aneh," batin Vandy menggaruk-garuk kepalanya.
Verro terus menarik tangan Cherry sampai kehalaman belakang.
" Verro lepasin sakit," protes Cherry pergelangan tangannya yang mulai sakit. Verro pun melepasnya dan mereka berhadapan. Cherry memegang-megang pergelangan tangannya yang sakit.
" apa yang kau lakukan dengannya? apa sekarang berteman dengan banyak pria menjadi hobimu?" tanya Verro marah-marah.
" Ada apa denganmu, memang apa yang aku lakukan. Bukannya tadi kau sudah mendengar apa kata Vandy, lagi pula itu bukan urusanmu," jawab Cherry kesal dengan Verro.
" Apa katamu," sahut Verro tidak terima.
" Apa kau benar-benar tidak ingin di urusin lagi, apa mereka sudah bisa Mengurusmu iya. Oh aku tau kau berbicara seperti ini. Karena banyak orang di belakangmu, yang mendewakan mu seperti ratu," ucap Verro.
" Bukannya itu kata-kata Fiona di dalam mimpiku," batin Cherry mengingat mimpi buruknya.
" Kau merasa paling hebat dengan kekuasaan yang kau punya. Siapa benteng paling besarku. Papa ku iya. Setelah kau berbicara yang tidak-tidak dengannya semalam dan sekarang kau berani mengatakan seperti itu, biar apa, biar setelah ini kau mengadukan ku lagi iya," ucap Verro yang terus mengomeli Cherry dan menuduhnya yang tidak.
" Kau selalu menuduhku," bentak Cherry yang tidak tahan di tuduh oleh Verro.
" Menusuk kau bilang itu kenyataan," sahut Verro tidak kalah keras.
" Apa kau punya buktinya?" tanya Cherry. Verro mendengus mendengarnya dan berkacak pinggang.
" Kau bertanya bukti," sahut Verro mulai kesal. Cherry yang adanya semakin kesal dengan Verro yang pasti memarahinya tentang masalah aduan nggak jelas dan mungkin di tambah di ruangan V3 tadi.
Tiba-tiba mata Cherry melihat kearah ujung dan melihat orang yang selalu mengawasinya dan Verro.
💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya
__ADS_1