DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 372 Penyesalan.


__ADS_3

" Aku mohon hentikan Bagas, aku mohon!" pinta Sasy dengan terus memberontak. Tetapi Bagas seakan menutup kupingnya yang tidak peduli pada Sasy. Bagas bahkan bermain kasar pada Sasy, sampai memukul Sasy.


Tenaga Sasy semakin habis. Lelah memberontak, lelah segalanya dan pasrah dengan semuanya yang mungkin sudah menjadi takdirnya.


" Bruk!" tiba-tiba kaca mobil di pecahkan dan hal itu membuat Bagas kaget. Yang ternyata Dokter Arif yang datang tepat waktu. Dokter Arif langsung membuka pintu mobil dan dan menarik Bagas keluar dari mobil. Tanpa ampunan Arif langsung melayangkan pukulan pada Bagas.


" Kurang ajar kamu!" teriak Arif dengan penuh emosi yang kembali memukul Bagas, menghajar Bagas habis-habisan sampai Bagas sudah tersungkur di tanah. Arif tidak memberi ampunan sama sekali. Sementara Bagas sama sekali tidak bisa melawan dan benar-benar babak belur di tangan Arif.


Setelah Bagas benar-benar sudah babak belur. Arif mengontrol emosinya. Dia mana mungkin membunuh anak orang.


" Dasar brengsek, pengecut," ucap Arif dengan menunjuk Bagas yang sudah babak belur.


" Aku tidak akan mengampuni orang sepertimu. Kau akan bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan!" teriak Arif dengan rahang kokoh mengeras yang benar-benar marah pada Bagas. Bagas hanya bisa menahan sakit di bagian wajah dan perutnya.


Arif menengok kebelakang nya, melihat mobil yang di dalamnya masih ada Sasy. Bagas langsung menghampiri mobil itu. Pecahan kaca dari mobil itu juga berserakan di dalam mobil dan bahkan di pangkuan Sasy.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Arif panik dengan memegang ke-2 pipi Sasy. Wajah itu penuh dengan air mata dan juga luka. Sasy tidak mampu menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya. Arif tidak ingin bertanya lagi pada Sasy dia langsung menggendong Sasy ala bridal style dan memasuki mobilnya.


Sasy pasti trauma dengan kejadian itu. Hatinya pasti begitu hancur dan tidak akan membayangkan jika tidak ada Arif tadi. Dia tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya kepadanya.


*************


Polisi pun mengurus Bagas. Arif memang langsung melaporkannya pada polisi. Memang dia tidak akan mengampuni Bagas sedikitpun dan biarkan pihak yang berwajib yang akan melanjutkan kasus Bagas.


Sementara Sasy. Arif mengantarkannya pulang di mana mereka sudah sampai di depan rumah Sasy. Sepenjang perjalanan Sasy hanya terus menangis dengan tubuhnya yang sekarang sudah memakai jas Arif. Arif begitu simpatik dengan Sasy yang pasti tau dia pasti begitu sangat hancur.


Dokter Arif keluar dari mobil terlebih dahulu dan langsung membuka pintu mobil untuk Sasy.


" Ayo kita turun!" ucap Arif lembut. Sasy mengangguk. Arif membantu Sasy membuka sabuk pengaman dan juga meraih tangan Sasy membantunya untuk turun dari mobil. Arif merangkulnya dan membawanya memasuki rumah.


Mereka berjalan menuju ruang tamu di mana Arif mendudukkan Sasy di sofa. Sasy tidak henti-hentinya menangis. Dia pasti terpukul dengan apa yang terjadi.


Arif berdiri menuju dapur. Di mana Arif langsung mengambil segelas air putih dan kembali menghampiri Sasy.


" Kamu minum dulu!" ucap Arif. Tangan Sasy begitu bergetar memegang gelas itu dan butuh Arif untuk membantunya menghantarkan gelas itu kemulut Sasy, sampai akhirnya Sasy sudah selesai minum.


" Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Arif. Sasy mengangguk pelan. Arif mengusap-usap kepala Sasy dengan melihat Sasy yang begitu perihatin.


" Kamu punya kotak obat?" tanya Arif.


" Di sana!" tunjuk Sasy. Arif pun langsung berjalan menuju kotak obat itu dan langsung mengambil kotak obat itu. Arif kembali menghampiri Sasy duduk di samping Sasy dan dengan cepat mengambil tindakan untuk mengobati luka Sasy.


Arif mengambil kapas dan menuangkan alkohol. Lalu mengoles pada ujung mata Sasy yang terlihat lebam.


" Ahhhhhhh," lirih Sasy yang kesakitan.


" Maaf," ucap Arif. Sasy hanya menganggukan matanya. Arif melanjutkan untuk mengobati Sasy dengan lembut dan begitu sangat hati-hati. Sementara Sasy hanya menahan sakit dan pasti air matanya tidak berhenti mengalir seperti tadi.


" Jangan menangis terus Sasy. Semuanya sudah baik-baik saja. Dia tidak akan berani mengganggu mu lagi. Aku sudah melaporkannya kepada Polisi," ucap Arif sembari mengobati Sasy.


" Makasih Dokter hiks, Dokter sudah membantu aku. Aku tidak tau apa yang terjadi hiks. Jika Dokter tidak datang hiks," ucap Sasy.


" Anggap ini adalah pelajaran untuk kamu. Lain kali berhati-hati dalam berteman. Dalam menjalin hubungan. Jangan asal-asal percaya saja dengan orang baru," ucap Arif memberi ingat.


Sasy hanya mengangguk yang sekarang baru menyadari. Jika Pria yang dengan sekejap di pacarinya itu adalah Pria yang tidak baik. Bahkan hampir saja. Hidupnya hancur jika tidak ada Arif mungkin memang Sasy sudah tidak ada harga dirinya lagi.

__ADS_1


Arif sudah selesai mengobati Sasy dan merapikan kotak obat tersebut.


" Kamu sudah merasa jauh lebih baik?" tanya Arif.


" Iya Dokter, saya sudah merasa lebih baik," jawab Sasy.


" Hmmm, kalau begitu saya pulang dulu. Ini sudah larut malam," sahut Dokter Arif yang berdiri.


" Dokter," sahut Sasy memegang tangan Arif.


" Ada apa?" tanya Arif.


" Aku takut, aku takut sendirian di rumah," ucap Sasy dengan wajah takutnya.


" Sasy dia sudah di kantor Polisi dia tidak akan datang lagi. Percayalah," ucap Arif.


" Tapi Dok, aku, aku, aku," Sasy benar-benar ketakutan. Sangat wajar jika Sasy trauma. Karena memang hal itu tidak bisa di anggap main-main. Dan pasti Sasy akan terbayang-bayang terus.


" Sudah,sudah," sahut Arif mengusap- usap pundak Sasy.


" Kamu jangan khawatir ya Sasy tidak akan terjadi apa-apa. Saya tidak akan meninggalkan kamu," ucap Arif yang tidak tega meninggalkan Sasy sendirian apalagi melihat Sasy seperti itu membuat Arif begitu prihatin.


" Makasih Dokter," sahut Sasy. Arif mengangguk dengan mengusap-ngusap lembut kepala Sasy dan memeluk Sasy untuk menenangkan Sasy.


************


Azizi menghampiri Vandy yang bermain HP di atas tempat tidur yang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Azizi langsung mendekat dan bermanja pada Vandy. Vandy merangkulnya dan mencium pucuk kepala Azizi.


" Kamu lagi ngapain?" tanya Azizi.


" Hmmm, lihatlah aku sedang melihat beberapa nama untuk calon anak kita nanti," jawab Vandy.


" Aku tebak sih perempuan. Karena mamanya begitu cantik," puji Vandy menggoda istrinya.


" Sok tau kamu," sahut Azizi.


" Aku serius sayang, lihatlah mama begitu cantik. Apa lagi kalau marah. Hmmmm benar- sangat cantik," goda Vandy.


" Oh, jadi kamu mau aku itu marah-marah terus iya," sahut Azizi mulai cemberut.


" Hanya bercanda. Masa iya harus marah-marah," sahut Vandy yang mencium pipi Azizi gemas, bahkan sampai menggigitnya.


Krekkk Tiba-tiba pintu kamar mereka terbuka. Iqbal memang kalau masuk tidak pernah mengetik pintu dulu.


" Ada apa sayang?" tanya Azizi.


" Tante Sasy lagi ada di bawah," jawab Iqbal. Vandy dan Azizi saling melihat heran dengan apa yang di katakan Iqbal.


" Ngapain dia?" tanya Vandy melihat istrinya. Azizi mengangkat bahunya yang juga bingung.


" Kamu kali buat masalah padanya," sahut Azizi.


" Nggak ah, aku nggak ngapa-ngapain," sahut Vandy yang langsung membantah.


" Ya sudah sayang, mama sama papa akan turun," sahut Azizi.

__ADS_1


" Iya mah," sahut Iqbal yang langsung keluar dari kamar.


" Ayo kita lihat!" ajak Azizi Vandy mengangguk dan mereka berdua sama-sama turun dari tempat tidur.


" Sayang tunggu!" panggil Vandy.


" Ada apa?" tanya Azizi.


" Pakai bleajer atau jaket. Masa iya kamu keluar kamar pakai baju seksi gitu," tegur Vandy yang melihat istrinya memang terlalu minim keluar kamar. Pakaiannya yang begitu seksi.


" Hmmm, baiklah," sahut Azizi.


" Hanya aku yang boleh melihat tubuh ini," sahut Vandy mengambilkan jaket dan menutup tubuh sang istri..


" Iyaaaa," sahut Azizi.


Akhirnya Azizi dan Vandy pun keluar kamar dan menuruni anak tangga dan melihat Sasy berada di ruang tamu yang menangis di pelukan ibu mertuanya. Sementara Arif hanya berdiri. Azizi dan Vandy semakin heran dengan kondisi Sasy.


" Sasy," lirih Azizi. Sasy begitu malu untuk mengangkat kepalanya melihat temannya itu.


" Apa yang terjadi mama?" tanya Azizi yang sudah duduk di samping Sasy. Yang melihat Sasy menagis terus.


" Hampir saja, Sasy mendapat kekerasan seksual," jawab Lina.


" Astaga," sahut Azizi yang benar-benar schok dengan menutup mulutnya yang tidak percaya mendengar hal itu. Vandy juga kaget mendengarnya dan melihat ke arah Arif dan Arif mengangguk membenarkan hal itu.


" Ya ampun Sasy kamu tidak apa-apa kan?" tanya Azizi yang langsung memeluk Sasy. Sasy tidak bicara dan hanya semakin menangis di pelukan Azizi.


" Azizi kamu sebaiknya ajak Sasy kekamar, agar dia bisa tenang, dia harus beristirahat," ucap Arif memberikan saran.


" Iya kak," sahut Azizi. " Ayo Sasy kamu ikut denganku ya," ucap Azizi. Sasy mengangguk dan langsung berdiri bersama Azizi. Azizi merangkulnya yang membawa Sasy untuk beristirahat.


" Siapa yang melakukannya?" tanya Vandy setelah kepergian Sasy dan istrinya.


" Pacarnya," jawab Arif.


" Yang kemarin di bawanya waktu ulang tahun Iqbal?" tebak Vandy.


" Aku tidak tau yang di bawanya mana yang jelas pacarnya yang melakukan semua itu. Kalau tidak salah namanya Bagas," jawab Arif singkat.


" Lalu bagaimana Pria brengsek itu?" tanya Lina.


" Dia sudah di tangan pihak yang berwajib. Jadi tidak ada masalah," sahut Dokter Arif.


" Syukurlah kalau begitu. Semoga Sasy tidak kepikiran hal itu," sahut Lina dengan penuh harapan.


" Iya mah. Makanya Arif membawanya kemari. Dia tidak berani sendirian di rumah dan lagian dia juga butuh teman. Dan aku rasa Azizi bisa menengakannya," sahut Arif.


" Aku akan kasih tau anak-anak. Anak-anak harus tau soal ini," sahut Vandy yang mengambil tindakan.


" Nanti saja Vandy, biarkan Sasy tenang dulu," cegah Arif.


" Benar kata kakak kamu," sahut Lina yang setuju.


" Hmmm, baiklah yang penting Sasy sudah di tempat yang aman," sahut Vandy yang merasa lega. Arif hanya mengangguk.

__ADS_1


Dia memang tidak mungkin menemani Sasy di rumahnya. Karena itu tidak pantas dan jalan satu-satunya harus membawa Sasy kerumahnya dan lagian ada Azizi yang pasti bisa menenangkan Sasy.


Bersambung


__ADS_2