
Cherry diam kaku melihat suaminya menggendong wanita lain dan membawa wanita itu masuk kedalam Yayasan yang dia tau wanita itu adalah Fiona.
Tidak tau kenapa tetapi seperti ada sesuatu di dalam sana yang membuat Cherry tidak bisa berpendapat dan hanya diam terpaku tanpa memanggil suaminya.
Cherry duduk sendirian di taman di salah satu kursi dengan beberapa kali membuang napasnya dengan perasaannya yang tidak menentu. Sepertinya apa yang di lihatnya tadi membuatnya tidak nyaman dan makanya diam tanpa bisa memahami apa yang terjadi.
" Sayang!" tegur Verro yang berdiri di samping istrinya. Ketika suster memberi tahunya bahwa istrinya sudah datang. Verro memegang bahu Cherry dan Cherry melihat kearah suaminya.
" Kamu sudah lama sampai?" tanya Verro. Verro hanya menggelengkan kepalanya.
" Kenapa tidak mencariku?" tanya Verro.
" Tidak apa-apa. Lagian kamu juga datang mencariku," sahut Cherry. Verro tersenyum lalu duduk di samping istrinya.
" Iya, tadi suster bilang kamu datang, makanya aku mencarimu," sahut Verro. Verro melihat bekal di samping Felly
" Kamu bawa makanan?" tanya Verro. Cherry mengangguk dia memang kebanyakan diam. Verro tersenyum lalu membuka bekal itu.
" Kamu tau saja aku belum makan," sahut Verro kesenangan di bawakan makanannya dan langsung melahap makanan itu.
" Apa Fiona baik-baik saja?" tanya Cherry saat Verro ingin menyendokkan makanan itu.
" Kondisinya semakin Parah, tadi dia mimisan dan susah berjalan," jawab Verro lalu makan kembali.
" Dan kamu membawanya?" tanya Cherry.
" Iya, aku menolongnya, membawanya kekamar," sahut Verro.
" Begitu rupanya," sahut Cherry datar, " kalau kondisinya parah. Lalu kenapa tidak membawanya Kerumah sakit?" tanya Cherry.
" Aku tadi sudah membujuknya saat mengantarnya. Tetapi dia menolak. Katanya takut. Jika nanti telinganya mendengar kondisinya semakin parah," jelas Verro.
" Oh," sahut Cherry datar dan Verro melihat ke arah Cherry tampaknya seperti ada sesuatu.
" Kamu kenapa, apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanya Verro.
" Tidak apa-apa, aku hanya lelah," jawab Cherry.
" Hmmm, ya sudah sebentar lagi kita pulang. Tadi juga temanku. Ingin menemuimu. Tetapi kamu belum datang," ucap Verro.
" Lain kali saja," sahut Cherry. Verro mengangguk. Cherry memang tidak bersemangat lagi setelah apa yang di lihatnya barusan. Mungkin saja dia cemburu karena suaminya menggendong wanita lain.
********
__ADS_1
Raquel dan Arif berada di dalam mobil dengan lagu slow yang berputar mengisi kekosongan tersebut.
" Kamu mau makan?" tanya Arif.
" Makan!" sahut Raquel menoleh ke arah Arif. Arif mengangguk.
" Hmmmm, memang kak Arif tidak sibuk, atau lelah gitu?" tanya Raquel.
" Tidak, tetapi lapar. Kalau kamu tidak keberatan. Kamu bisa temani saya makan," sahut Arif yang kembali menawarkan Raquel.
" Serius?" tanya Raquel tidak percaya. Arif mengangguk.
" Hmmm, ya sudah, kalau gratis mana mungkin di tolak," sahut Raquel yang tidak menolak rezeki lagi.
" Kalau kamu yang bayar Giman?" tanya Arif menaikkan 1 alisnya. Membuat Raquel memperlihatkan wajah seriusnya.
" Saya, hanya bercanda," sahut Arif yabg ngeprank Raquel.
" Ishhh, kak Arif apa-apaan sih," sahut Raquel yang sedikit kesal. Karena di ajakin bercanda. Sementara Arif tersenyum geleng-geleng yang sepertinya hobi barunya bertambah untuk mengerjai Raquel.
*************
Tidak lama akhirnya mereka sampai di salah satu Restaurant yang tidak jauh dari rumah sakit. Mereka sudah duduk berduaan dengan makanan yang mereka pesan.
" Tempat favorite saya," jawab Arif.
" Hmmm, pasti bareng pacarnya ya?" tanya Raquel menggoda sedikit. Arif mendengus mendengarnya.
" Saya tidak punya pacar Raquel," sahut Arif.
" Lalu begitu pasti barang mantannya," sahut Raquel lagi. Arif hanya menggedikkan bahunya yang tidak bisa merespon apa-apa.
" Apa makanannya enak?" tanya Arif.
" Hmmm, sangat enak," jawab Raquel. Arif hanya mengangguk-angguk.
Ternyata di tempat yang sama yang kebetulan ada Tari dan Aldo yang juga sedang makan bersama di sana. Raquel tidak melihat dan Aldo dan Tari juga tidak melihat. Tetapi Arif melihatnya.
" Bukannya itu Aldo," ucap Arif tiba-tiba melihat kearah Aldo dan Tari dan Raquel pun melihat arah pandang Dokter tersebut yang ternyata benar itu adalah Aldo yang sedang makan bersama Tari dan saat Raquel melihat Aldo juga tidak sengaja melihatnya dan malah fokus pada Raquel.
Dan Tari yang ada di depan Aldo heran merasa jika dia telah di cueki.
" Kamu lihati apa sih?" tanya Tari yang membalikkan tubuhnya yang melihat ternyata Raquel yang menjadi fokus Aldo membuat Tari kesal.
__ADS_1
" Aldo nagapin sih kamu lihati dia," ucap Kesal Tari dan Aldo pun mengalihkan pandangannya kembali pada makanan.
Sementara Raquel juga kembali melihat kenakan dan sepertinya moodnya sudah hilang.
" Bukannya dia pacar kamu ya?" tanya Afif. Raquel melihat ke arah Aldo.
" Kak, saya mau kekamar mandi dulu," ucap Raquel yang langsung berdiri dan Arif mengangguk saja yang sepertinya dia salah bicara tadi.
Arif juga kembali melihat ke arah Aldo yang sekarang kembali melihatnya.
" Kenapa dengan mereka," batin Arif yang tampaknya tidak mau tau dan melanjutkan makannya kembali.
*********
Raquel berada di kamar mandi dengan mencuci tangannya dengan kuat.
" Ngapain sih mereka di sini. Memang mereka nggak punya tempat lain apa," oceh Raquel kesal.
" Hilangin mood aja, si pelakor itu lagi pakai acara ngelihatin segala. Untung aja Dokter Arif. Kalau nggak ni yah, sudah aku congkel matanya," geram Raquel.
" Cepat punya gebetan," tiba-tiba terdengar suara yang sudah ada di sampingnya yang tak lain juga adalah Tari yang juga mencuci tangannya di wastafel.
" Lo, ngomong sama gue," sahut Raquel sinis.
" Memang ada orang lain di sini, yang baru putus langsung punya pacar," sahut Tari sinis dan Raquel langsung mendengus mengahap Tari dengan mengendus-endus seperti anjing yang mencium- cium sesuatu membuat Tari heran dan bahkan memundurkan kepalanya melihat tingkah Raquel.
" Hmm, nyium bau pelakor, isss," ucapnya dengan menggedikkan bahunya yang jijik dengan Tari. " Mata lo ya, pantang lihat yang hening-bening. Aura pelakornya semakin keluar," sahut Raquel sinis.
" Kenapa kamu mau rebut, pacar aku yang ini juga, Astaga aku benar-benar baru ketemu ya wanita kegatelan yang nggak laku kayak kamu. Makanya langsung bertindak kalau mau lihat pacar orang bening dikit," sahut Raquel yang menyindir dengan halus.
" Tutup mulutmu, aku tidak peduli siapa pacarmu, aku tidak tertarik dengannya. Karena bagiku Aldo adalah segalanya untukku. Dia adalah milikku dan aku tidak butuh pacarmu," tegas Tari. Raquel menyunggingkan senyumnya mendengarnya dengan tangannya yang di lipatnya di dadanya.
" Benarkah! aku memang sudah melihat. Kalau wanita sepertimu sangat menyukai bekas dariku," ucap Raquel dengan sinis.
" Hmmm, sudah lah, aku tidak peduli dengan mu, Sorry waktuku hanya terbuang sia-sia untuk wanita sepertimu.
" Kau pikir waktuku tidak terbuang," sahut Tari.
" Kayaknya nggak tuh, karena kamu buktinya. Samperin aku dan kayaknya pengen gitu berteman denganku. Makanya kamu cari-cari alasan untuk bicara denganku," sahut Raquel tersenyum manis.
" Tapi sorry, low bukan level gue," ucap Raquel mengibaskan tangannya di depan Tari dan dia langsung pergi.
" Ishhhh, sial," geram Tari menggeertakkan ke-2 kakinya ke lantai.
__ADS_1
Bersambung