
28 hari Study tour.
Tidak terasa kegiatan Study tour mereka akan selesai sebentar lagi. Mereka bahkan akan kembali ke Jakarta lusa.
Sebagian dari murid-murid sudah mulai packing. Mereka tidak ingin buru-buru dalam packing. Makanya mereka mulai packing dari pada mendesak nantinya.
Verro sedang berada di pinggir kolam renang dengan memegang kertas putih. Beberapa kali dia membaca isi dari kertas putih itu.
Hasil catatan medis Cherry yang sama sekali belum di beritahukan nya kepada Cherry. Verro terus memegang kertas itu. Dia bingung harus memulai dari mana untuk membujuk Cherry melakukan operasi yang di sarankan dari Dokter Arif.
Kondisi Cherry jelas sangat membuatnya khawatir. Apa lagi berbicara masalah operasi. Verro jelas sangat tidak ingin Cherry sedih dan kepikiran tentang hal itu.
" Bagaimana ini," batinnya terus melihat kertas itu.
" Kenapa di baca terus," suara itu membuat Verro tersentak kaget.
Merasa mengenal suara itu Verro langsung menoleh kebelakang dan melihat yang ternyata suara itu berasal dari Vita suara Cherry. yang berdiri di depan pintu entah dari kapan. Dengan cepat Verro langsung melipat kembali kertas itu dan berusaha menyembunyikannya.
" Cherry sejak kapan kamu di situ?" tanya Verro gugup.
" Sejak tadi," jawab Cherry menghampiri Verro.
" Kenapa di sembunyikan?" tanya Cherry duduk di samping Verro dengan memasukkan ke-2 kakinya kedalam renang.
" Itu bukan apa-apa, itu tidak penting," ucap Verro.
" Aku tahu itu tidak penting. Aku juga sudah melihatnya," ucap Cherry membuat Verro kaget.
" Kamu melihatnya?" tanya Verro memastikan. Dengan santainya Cherry mengangguk dengan menggoyang-goyangkan kakinya di dalam air.
" Iya aku sudah melihatnya. Semalam kau menyuruhku mengambil sweater milikmu di dalam kamar dan tidak sengaja aku melihat itu," jawab Cherry dengan tenang.
" Cherry, aku tidak bermaksud menyembunyikan hal itu kepadamu," sahut Verro khawatir jika Cherry salah paham.
" Aku tau. Kamu hanya mengkhawatirkan kan ku jadi aku sudah maklum," sahut Cherry dengan santai.
" Maafkan aku seharunya aku memberitahumu. Seharusnya aku tidak menyembunyikan ini dari mu," ucap Verro merasa bersalah mengusap pipi Cherry dengan membuat menatapnya dengan penuh penyesalan.
" Sudahlah Verro aku tidak apa-apa. Kamu memberi tahu atau tidak. Tidak akan ada akan mengubah apapun. Jadi hal itu tidak akan berpengaruh kepadaku. Aku terbiasa melihat dan mendengar tentang kesehatanku. Jadi ini bukan pertama kali. Bukannya kamu juga tau itu," ucap Cherry menjelaskan.
" Cherry, apa kamu juga tau. Kalau kamu harus operasi?" tanya Verro. Cherry mengangguk.
" Papa sudah memberitahu. Aku harus segera operasi dalam waktu dekat," jawab Cherry yang memang menerima telpon dari papanya dan mengatakan tentang kesehatannya.
__ADS_1
Verro langsung meletakkan tangannya di pundak Cherry meraih kedalam pelukannya. Sehingga Cherry yang duduk di sampingnya. Verro juga mencium kening Cherry yang berada di area lehernya.
" Apapun keputusanmu. Aku akan selalu mendukungmu," ucap Verro mengusap-usap bahu Cherry.
" Aku tau. Jadi jangan mengkhawatirkan kan ku," sahut Cherry.
Verro melepas pelukannya dari Cherry. Menatap wajah Cherry dengan intens. Wajah Cherry selalu tersenyum tanpa mempedulikan bagaimana keadaannya.
" Hari ini Pak Sony memberi kita kebebasan untuk melakukan apapun di luar Villa," ucap Verro sambil menyelipkan rambut Cherry kebelakang telinganya.
" Cherry aku mengajakmu untuk Dinner malam ini. Kita belum pernah Dinner berdua," ucap Verro. Terukir senyum tipis di wajah Cherry.
" Kamu mau Dinner denganku?" tanya Verro menatap dalam-dalam.
" Apa tidak bisa. Jika kita pulang ke Jakarta dulu," jawab Cherry pelan.
" Kenapa? apa ada masalah? tanya Verro heran. Cherry menganguk.
" Apa?" tanya Verro heran.
" Verro aku mana tau kalau kita bakalan jadian saat Study tour. Jika kamu mengajakku Dinner malam ini. Aku tidak punya pakaian yang cantik untuk makan malam denganmu. Karena aku tidak membawanya. Jadi percuma jika mengajakku Dinner," jelas Cherry yang ternyata menjadi alasannya. Hal itu membuat Verro mendengus tersenyum.
" Jadi itu alasannya?" tanya Verro masih tersenyum.
" Kau tidak mau?" tanya Cherry.
" Aku hanya mengajakmu malam ini. Belum tentu aku mengajakmu besok atau kapanpun. Jadi aku tidak akan mengundur waktunya. Aku akan menunggumu di pagar jam 8 malam," ucap Verro tidak ingin mengubah keputusannya.
" Tapi bagaiman dengan pakaianku. Aku tidak punya dress yang cocok untuk makan malam," sahut Cherry panik.
" Aku tidak peduli. Dan benar katamu. Kau harus tampil cantik. Karena aku tidak mau makam malam dengan wanita yang sembarangan berpenampilan," tegas Kevin dengan wajah serius dan langsung berdiri.
" Verro ini tidak serius kan?" tanya Cherry memastikan.
" Ini serius sangat serius. Kamu taukan bagaimana marahnya aku. Kalau sampai aku kecewa. Jadi aku akan menunggumu datanglah tepat waktu," tegas Verro memperingatkan sekali dan langsung pergi.
" Verro itu tidak mungkin," teriak Cherry kebingungan. Verro berjalan mendengar teriakan itu tersenyum miring.
" Apa dia tidak tau tanpa memakai pakaian yang bagus atau memakai riasan. Dia sudah sangat cantik," batin Verro yang sengaja mengerjai Cherry.
Verro jelas tidak peduli penampilan Cherry yang seperti apa nantinya. Yang terpenting untuknya Cherry dan dia bisa makan malam bersama.
" Apa yang harus aku lakukan?" tanya Cherry mengigit ujung jarinya panik.
__ADS_1
" Aku tidak mungkin tidak pergi dia akan marah dan kalau aku biasa saja dia juga akan marah. Lalu aku harus ngapain," Cherry kebingungan sendiri tidak tau harus melakukan apa lagi.
Cherry pun langsung berdiri, Cherry berlari menuju kamarnya.
Bruk. Cherry membuka pintu dengan kuat. Sampai Nadya, Sasy dan Azizi heran melihat wajah Cherry yang panik.
" Kenapa Cherry?" tanya Sasy.
" Aku tidak tau harus berbuat apa," ucap Cherry duduk di pinggir ranjang bicara dengan cepat-cepat seperti orang kebingungan membuat yang lainnya saling melihat heran dengan tingkah Cherry.
" Memang ada apa?" tanya Nadya.
" Verro mengajakku Dinner," jawab Cherry jujur membuat semuanya kaget dengan wajah penuh senyum lebar.
" Serius," sahut Sasy langsung duduk di samping Cherry.
" Lalu?" tanya Sasy penasaran.
" Ya aku bingung," sahut Cherry.
" Bingung kenapa?" tanya Nadya yang juga sudah berada di dekat Cherry.
" Aku tidak punya baju bagus untuk di pakai ke acara Dinner dan aku tidak mau Verro kecewa," jawab Cherry dengan wajah murungnya.
" Bukannya semua pakaiannya kamu bagus," sahut Nadya. Menurutnya mana mungkin orang sekaya Cherry tidak memiliki pakaian yang bagus.
" Bukan itu. Aku tidak memiliki dress yang cocok untuk di pakai saat Dinner," jawab Cherry dengan panik.
" Ya terus gimana dong?" tanya Sasy.
" Aku juga bingung, aku tidak ingin Verro marah dan kecewa. Kenapa juga dia mengajakku Dinner saat suasana seperti ini," ucap Cherry yang benar-benar kebingungan. Tidak tau harus melakukan apa-apa lagi.
" Aku punya ide," sahut Sasy tiba-tiba.
" Apa?" tanya Cherry langsung semangat.
Bersambung...
Jangan lupa mampir ke sini ya. Ditunggu like Coment, Vote nya. Terima kasih.
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.
__ADS_1