
Kerena Azizi tidak mungkin di bawa kedalam Villa dengan kondisinya yang sangat berantakan. Penuh lumpur kotor dan bau. Yang pasti juga bisa membuat yang lain kurang nyaman.
Jadi mereka membantu Azizi membersihkan baju Azizi di belakang Villa dengan menggunakan selang air. Cherry, Nadya dan Sasy seperti sedang memandikan Azizi.
" Keterlaluan sekali mereka," oceh Sasy yang sangat kesal dengan Selina dan Mitha yang berbuat semaunya.
" Seharusnya mereka tidak perlu melakukan ini. Ini sudah sangat kelewat batas. Apa mereka tidak tau apa perbuatan mereka bisa menimbulkan trauma," sahut Cherry membersihkan rambut Azizi yang terkena lumpur.
Dia juga pasti kesal dengan Mitha dan Selina. Biasanya Cherry hanya bisa melihat perbuatan ratu-ratu bully itu tanpa melakukan apa-apa. Karena pasti Verro tidak mengijinkannya.
Dan tadi dia memang tidak banyak komentar tetapi bisa membantu Azizi. Verro juga ada di sana dan tidak masalah baginya.
" Tapi memang akan seperti itu. Jika ada yang menggangu mereka, mereka tidak akan segan-segan melakukan semua yang mereka mau," ucap Nadya yang sudah terbiasa dengan bullying itu.
" Kalau tidak mau di ganggu jangan mengganggu orang lain," celetuk Sasy semakin kesal jika mengingat-ingat orang-orang itu.
" Memang mereka pikir siapa mereka sok jadi Penguasa sekolah. Mereka itu sangat keterlaluan. Emang pantas seperti itu. Nggak punya otak," umpat Sasy masih kesal.
" Tapi tumbenan si Raquel tidak ikut-ikutan," sahut Sasy baru menyadari hal itu.
" Atau itu cuma aktingnya saja datang paling belakang," lanjut Sasy yang langsung berpikiran buruk.
" Sasy, kamu jangan asal menuduh. Belum tentu. Kamu nggak boleh kayak gitu," sahut Cherry yang tidak setuju dengan tuduhan Sasy.
" Aku hanya heran saja," sahut Sasy.
" Sudahlah! jangan membahas itu lagi. Sebaiknya kita cepat bersihkan Azizi. Dia pasti kedinginan," sahut Cherry melihat Azizi yang pasti mengigil.
Mereka berdebat masalah Azizi dan tindakan Mitha dan Selina. Sementara Azizi hanya diam saja. Dia bahkan seperti orang linglung. Pasti tubuhnya sangat kaget menerima semua itu.
Pembullyan yang di terimanya lebih besar dari pada apa yang di rekamnya. Waktu itu.
Flass Back
Azizi yang pulang sekolah tiba-tiba
melihat Raquel dan temannya yang menarik Nadya dengan kasar.
" Mau di bawa kemana Nadya?" tanya bingung melihat Mitha dan Selina yang menyeret Nadya. Sementara Raquel berjalan di depan.
Karena penasaran akhirnya. Azizi pun mengikuti kemana orang-orang itu membawa Nadya. Yang dia tau Nadya adalah murid yang sering mendapat bully dari Raquel dan teman-temannya.
Azizi sampai di belakang sekolah. Azizi mengintip di balik tembok dan melihat bagaimana Raquel dan teman-temannya membully Nadya dengan kata-kata yang kasar penuh penghinaan.
Di tambah dengan tindakan yang sangt kelewat batas. Perbuatan Raquel dan teman-temannya sangat tidak pantas.
" Kenapa mereka seperti itu. Apa yang harus aku lakukan," tanyanya dengan hatinya penuh kebingungan tidak tau harus melakukan apa.
Dia ingin menghentikan semua itu. Tetapi tidak mungkin sama saja dia akan masuk kedalam kandang singa.
__ADS_1
*Azizi mengambil ponselnya dan merekam langsung perbuatan Raquel dan yang lainnya dengan tangannya yang bergetar hebat memegang ponsel itu.
Saat Varell datang. Azizi menghentikan rekamannya dan memilih pergi dengan hati-hati agar tidak ketahuan*.
Setelah sampai rumahnya. Azizi yang duduk di meja belajarnya dengan laptop di depannya. Tanpa kacamata dan juga rambut yang di gerainya.
Azizi melihat hasil rekaman tadi di dalam laptopnya.
" Bagaimana ini. Jika aku memberitahunya. Yang ada aku akan menjadi bulan-bulanan mereka. Mereka pasti tidak tinggal diam dan mereka pasti akan terus mengincarku dan lama-lama mereka akan mengetahui siapa aku.
" Tapi jika tidak ada yang mengetahui perbuatan mereka. Mereka tidak akan pernah jera. Apa yang harus aku lakukan,"
Azizi terus bergerutu bingung dengan apa yang akan di lakukannya selanjutnya. Dia mengalami perang batin karena melakukan ini salah melakukan itu juga salah. Setelah lama berpikir akhirnya Azizi mendapat ide.
Tangannya yang lincah mulai mengetik di keyboard laptop itu. Wajahnya sangat serius dan terlihat sangat mahir dalam menggunakan komputer. Hanya 15 menit dia menakan enter Azizi tinggal menunggu sampai 100 %.
" Begini jauh lebih baik," ucapnya yakin dengan tersenyum.
Falss of
" Kayaknya harus mandi kembang supaya bau amisnya segera hilang," ucap Sasy yang merasa masih masih bau amis pada tubuh Azizi.
" Apa dengan itu bisa hilang," sahut Cherry lumayan tertarik sedikit dengan ide Sasy.
" Kayaknya," sahut Cherry yang sebenarnya kurang yakin.
" Di mana mendapatkannya?" tanya Nadya.
" Kasian Azizi, hanya karena ingin menghentikan Raquel dan yang lainnya dia harus menjadi korban seperti ini, padahal aku lah yang mereka bully," batin Nadya merasa bersalah dengan keadaan Azizi.
Mereka masih terus melanjutkan pekerjaan mereka. Untuk membersihkan tubuh Azizi. Sementara di sisi lain tidak jauh dari tempat itu.
Verro, Varell, Vandy dan Toby sedang berbincang-bincang sambil melihat kearah wanita-wanita itu. Laki-laki itu tampak serius dengan obrolannya. Kecuali Toby ya yang duduk bersilah dan serius melihat ponselnya.
" Bagaiman jika Raquel tidak main-main dengan omongannya?" tanya Vandy yang jujur sangat mengkhawatirkan hal itu.
" Kayaknya dia memang tidak main-main. Dia terlihat begitu serius dengan apa yang dikatakannya. Mungkin efek yang dia dapat terlalu besar untuknya dan keluarganya. Makanya dia bersih keras melanjutkan hal itu ke Rana hukum," sahut Verro menabak-nebak.
" Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Vandy.
" Kita lihat saja dulu. Aldo sedang membahas masalah itu dengan Pak Sony, Pak Lucky dan Bu Asri, kita tunggu saja keputusan mereka," ucap Varell.
" Seharusnya Selina dan Mitha tidak melakukan hal itu kepada Azizi. Apa tidak bisa berbicara baik-baik, kenapa bisa melakukan tindakan yang seperti itu," sahut Vandy masih kesal dengan tindakan Selina dan Mitha.
" Memang mereka sudah seperti itu sejak awal," sahut Varell.
" Tapi tumben banget Raquel tidak ikut-ikutan," celetuk Toby tiba-tiba.
" Maksud kamu?" tanya Vandy menoleh kearah Toby yang di bawah kakinya.
__ADS_1
" Ya dia kan, datang bersamaku berarti dia juga tidak tau hal itu. Dia juga berbicara sangat tenang seperti wanita yang dapat hidayah. Tidak marah-marah. Walau hasil dari pembicaraannya sangat menakutkan," jelas Toby yang menjadi orang satu-satunya mengamati Raquel tadi saat berbicara.
" Sok tau lo. Apapun itu dia ingin melanjutkan kasus ini, apa gunanya dapat hidayah atau tidak," sahut Vandy kesal.
" Kan paling tidak," sahut Toby.
Sementara Verro terlihat tertarik dengan kata-kata Toby. Karena beberapa hari yang lalu dia juga membantu Cherry. Bahkan sampai sekarang Verro belum meminta maaf lagi. Padahal sudah janji dengan Cherry.
*********
Raquel berjalan sambil mengoceh dia tidak habis pikir dengan kejadian tadi. Bukan itu yang membuatnya kesal. Tetapi pasti Fiona yang berani mempermainkannya mengatakan Aldo perlakukannya.
Dan lebih parahnya dia mempercayai hal itu. Dan malah melakukan hal yang bodoh kepada Aldo. Menghina Aldo dan membuat Aldo kehilangan nilai dan mendapat hukuman.
Mata Raquel di tutup dengan hal yang belum tentu benar. Dia tidak mencari terlebih dahulu dulu kebenarannya malah langsung menuduh Aldo. Sekarang Raquel malu sendiri. Apa tadi sewaktu kejadian itu. Ada Aldo di sana. Tetapi Aldo tidak melihatnya sama sekali.
" Wanita sialan. Kau salah berhadapan dengan ku. Dasar wanita kurang ajar," umpatnya mengepal tangannya dan menaiki anak tangga.
Ternyata Raquel langsung menghampiri kamar di mana tempat Fiona tidur. Raquel membuka pintu dengan kasar membuat Fiona kaget yang berbaring di ranjangnya dengan memakai earphone sambil membaca buku.
" Kau pikir ini rumahmu, masuk dengan sesukamu," ucap Fiona.
" Wanita sialan," geram Raquel yang langsung menarik tangan Fiona bangkit dari ranjang.
" Apa yang kau lakukan lepaskan aku," berontak Fiona yang sudah berdiri dengan kasar. Raquel melepas tangan itu.
Plakkk.
Raquel langsung menampar keras di pipi Fiona membuat Fiona kaget.
" Apa yang kau lakukan?" teriak Fiona yang tidak terima.
" Berani sekali kau mengatakan jika Aldo di balik semuanya. Kau ingin mempermainkanku," teriak Raquel kehilangan kesabarannya. Mendengarnya Fiona mendengus tersenyum miring.
" Oh jadi bukan dia pelakunya. Aku juga tidak tau siapa pelakukannya. Aku hanya asal-asalan saja," sahut Fiona dengan entengnya.
" Wanita sialan," geram Raquel semakin emosi ingin menampar kembali Fiona. Tetapi tidak sempat tangan itu melayang. Fiona langsung menahannya.
" Jangan mau suka-suka mu menamparku. Kau tidak punya hak untuk melakukan itu," tegas Fiona menghempas tangan Raquel.
" Kau dengan ya Fiona. Kau salah sudah berhadapan dengan ku. Aku tidak akan mengampuni diri. Kau akan melihat siapa aku sebenarnya. Kau sudah berani mempermainkanku. Kau akan melihat akibat dari perbuatanmu," tegas Raquel menunjuk-nunjuk Fiona dengan penuh ancaman.
" Awas kau," kecamnya lalu pergi dengan kemarahan yang besar. Tetapi Raquel malah kembali lagi. Dengan cepat Raquel langsung menarik earphone di gantungkan di leher Fiona dan langsung membantingnya dengan kasar.
" Pelajaran pertama untuk mu," tegas Raquel
Bersambung...
Jangan lupa mampir ke sini ya. Ditunggu like Coment, Vote nya. Terima kasih.
__ADS_1
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.