
Varell memberhentikan mobilnya di depan rumah Nadya mantan kekasihnya itu dan pasti wanita itu masih di cintainya.
Lama menunggu akhirnya apa yang di nantikan nya tiba. Nadya yang sudah rapi ingin bekerja. Dengan kemeja dan dan celana jeans-nya keluar dari dalam rumah sederhana itu.
" Nadya," lirih Varell saat benar-benar tidak percaya jika dia akan melihat Nadya kekasih hatinya. Wanita yang benar-benar sangat di cintainya.
Tidak bisa menahan rasa kerinduannya dan tidak peduli dengan apapun. Varell langsung keluar dari mobil. Nadya yang berjalan fokus pada dalam tasnya seperti mencari sesuatu. Menghentikan langkahnya ketika melihat sepasang sepatu yang membuat kepalanya akhirnya terangkat.
Betapa terkejutnya Nadya saat melihat orang tersebut yang tak lain adalah Varell orang yang dulu pernah mengisi hidupnya.
" Varell," lirih Nadya benar-benar schok.
" Nadya," ucap Varell yang langsung melangkah cepat dan langsung memeluk Nadya. Hal itu membuat Nadya kaget dengan pelukan erat Varell di tubuhnya.
Varell yang benar-benar sangat merindukan Nadya tidak bisa memungkiri perasaannya. Dia benar-benar ingin melampiaskan rasa rindu itu kepada wanita yang sangat di cintainya itu.
5 tahun tidak bertemu. Jadi wajar saja. Dia benar-benar sangat merindukannya sampai tidak bisa mengendalikan dirinya. Sementara Nadya masih bengong dengan pertemuannya dengan Varell dan bahkan tindakan Varell yang tiba-tiba memeluknya.
" Varell lepas," berontak Nadya saat ingin melepas diri dari Varell. Tetapi Varell terus mempererat pelukannya sampai sama sekali tidak terlepas.
" Aku merindukanmu Nadya. Aku sangat merindukanmu," ucap Varell semakin mempererat pelukannya.
Tetapi Nadya langsung mendorong tubuh Varell kuat. Sampai akhirnya Varell terdorong.
" Apa yang kamu lakukan?" tanya Nadya yang terlihat marah.
" Nadya aku, aku," sahut Varell yang tidak bisa berkata apa-apa.
" Cukup Varell. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa dan jangan mengganggu ku lagi," ucap Nadya menegaskan.
Karena dia tidak mau berurusan lagi dengan keluar Varell yang pasti tidak sepantaran baginya.
" Nadya, dengarkan aku dulu," ucap Varell.
" Maaf Varell. Aku harus pergi," ucap Nadya yang langsung pergi meninggalkan Varrell.
" Nadya, Nadya," panggil Varell. Tetapi Nadya sama sekali tidak merespon dan tetap melanjutkan langkahnya.
***********
Clara sudah siuman kembali. Clara membuka matanya perlahan, memijat kepalanya dan mencoba untuk duduk.
Ternyata Clara harus di infus kembali. Karena kondisinya yang memang sangat memburuk dan membuatnya tidak stabil. Clara yang sudah duduk melihat di kirinya yang ternyata memperlihatkan Bayu yang tertidur pulas di sofa.
" Kenapa mas Bayu ada di sini," batin Clara yang tampak gelisah.
Dengan perlahan Clara mencabut selang infus dari tangannya dan langsung pergi. Setelah tercabut dengan perlahan Clara beranjak dari tempat tidurnya dan langsung pergi dengan mengendap-ngendap agar Bayu tidak menyadari kepergiannya.
Clara berjalan di koridor rumah sakit dengan gelisah sambil melihat-lihat. Semoga dia tidak bertemu Dokter yang merawatnya. Karena pasti dia tidak akan di biarkan untuk pergi.
__ADS_1
" Aku harus temui Selina," batin Clara yang ternyata ingin menemui Selina.
" Aku tidak bisa tinggal diam. Aku merasa ada yang aneh padaku bukan karena Cherry," ucap nya lagi yang malah menemukan teka-teki baru.
Tetapi saat dia melangkah dengan serius. Langkahnya harus terhenti ketika melihat Verro berdiri di depannya dengan jarak 5 meter.
" Apa ini ingatan ku. Atau ini kenyataan, Kenapa di dalam mimpiku aku bertemu dengannya. Dia bahkan berdiri dan tersenyum kepadaku. Aku yakin apa yang ada di ingatanku adalah dia," batin Clara yang ternyata sudah bisa melihat jelas 1 wajah di dalam ingatannya.
Saat bersama Verro di dalam kamar perawatannya. Dia mencoba mengingat sambil melihat Verro. Bayangan orang itu semakin jelas dan dia tidak percaya jika itu adalah Verro. Dia sebenarnya ingin memastikan lagi.
Tetapi kepalanya tidak tahan dan akhirnya dia tidak sadarkan diri. Tetapi Clara masih mengingat jika wajah Verro terlintas jelas di dalam otaknya.
" Siapa sebenarnya aku," batin Clara yang tiba-tiba mempertanyakan dirinya.
" Kamu mau kemana?" tanya Verro yang tiba-tiba sudah ada di depan Clara dengan seragam Dokternya di letakkan lengannya.
" Clara, apa yang kamu lakukan malam-malam begini dan kamu bahkan mencabut infus mu. Apa kamu tau kondisi mu tidak baik," sahut Verro berbicara serius pada Clara.
" Aku- aku ingin mencari udara segar," jawab Clara gugup.
" Kembalilah kekamarmu, udara di luar tidak baik untukmu," ucap Verro. Clara terdiam. Padahal dia ingin pergi menemui Selina.
" Aku tidak mungkin kembali kekamar dan juga tidak mungkin pergi," batin Clara.
" Ayo!" ajak Verro yang berjalan terlebih dahulu. Tetapi Clara menghentikan Verro dengan memegang tangan baju Verro.
" Aku bosan di dalam kamar. Jika udara di luar tidak baik untukku. Maka aku ingin tau di mana udara yang baik selain di dalam ruang perawatan," ucap Clara yang membuat Verro langsung melihatnya dengan menatapnya aneh.
" Apa maksudmu?" tanya Verro.
" Bukannya kau Dokter. Kau seharunya bisa membuat pasien nyaman. Bukan hanya bisa tetapi memang tugasmu untuk membuatnya nyaman dan kali ini aku tidak nyaman di dalam kamar," sahut Clara.
" Clara," ucap Verro.
" Pikiran ku tidak tenang. Di dalam ruangan hanya akan membuatku tambah sakit. Jadi aku ingin pergi," ucap Clara yang menatap mata Verro. Verro juga menatapnya dengan tatapan yang penuh arti. Tetapi tidak tau apa itu artinya.
********
Tidak tau ada apa dengan Verro. Dia bahkan membawa Clara ke suatu tempat. Yang ternyata tempat itu berada di gedung rumah sakit di lantai paling atas terlihat seperti balkon yang di lapisi kaca dingding dan juga di beri atap kaca yang langsung bisa melihat keluar dengan jelas.
Melihat kota malam Jakarta dan juga melihat langit yang di penuhi bintang dan bulan di atas sana yang terlihat sangat indah.
Verro langsung mengambil tempa duduk di salah satu kursi. Sementara Clara masih melihat-lihat seisi ruangan yang tidak besar itu dan memang kosong hanya ada kursi panjang.
" Jika kau bosan di kamarmu. Aku rasa tempat ini nyaman untukmu. Kau seperti berada di luar tanpa udaranya yang tidak sehat menyentuh kulitmu," ucap Verro.
" Apa tempat ini memang di sediakan untuk pasien?" tanya Clara masih melihat-lihat takjub pandangan alam matanya. Yang mungkin tidak pernah di lihatnya.
" Jika pasien menuntut tempat untuk kenyamanan. Selain di dalam kamar. Maka aku akan memberikannya dan hanya kamu yang menuntut itu. Maka aku rasa ini nyaman untukmu. ucap Verro. Clara mengangguk dengan tersenyum dan duduk di samping Verro
__ADS_1
Alasan kenyamanan memang hanya alasannya saja. Tetapi tidak tau jika alasannya akan membawanya ketempat ini. Dia bisa melihat indahnya kota tersebut yang benar-benar membuatnya merasa tenang.
" Apa itu berarti aku yang pertama berada di tempat ini?" tanya Clara mamastikan melihat kearah Verro.
" Iya," jawab Verro apa adanya.
" Aku tidak menyangka bisa berada di tempat ini. Ini sangat indah," ucap Clara yang terus melihat keindahannya.
" Maka nikmatilah?" ucap Verro. Clara mengangguk.
" Kenapa dia begitu baik kepadaku. Apa karena dia melihat aku sebagai istrinya," batin Clara.
" Clara!" tegur Kevin.
" Iya," jawab Clara.
" Aku minta maaf karena aku sudah membuat kepala mu tambah sakit. Aku tidak bermaksud memaksamu," ucap Verro menatap Clara. Clara juga melihatnya.
" Verro aku melihatmu di dalam ingatanku. Apa itu terjadi hanya karena aku terus memikirkanmu," batin Clara yang masih kebingungan.
" Maafkan aku," ucap Verro lagi. Clara mengangguk.
" Kenapa minta maaf. Aku rasa tidak ada yang salah," jawab Clara yang menanggapi santai.
" Lagian aku sudah sembuh dan iya aku lupa aku juga harus berterimah kasih padamu," ucap Clara.
" Terima kasih atas apa?" tanya Verro bingung.
" Karena kamu sudah mendonorkan darahmu untukku. Berkat kamu aku bisa hidup sampai sekarang," ucap Clara yang terus menatap dalam Kevin.
" Kamu mengetahuinya?" tanya Verro. Clara menganggukkan kepalanya. Dia memang mengetahui karena tidak sengaja mendengar selintingan di telinganya.
" Apa itu juga sebagian dari tugasmu sebagai Dokter?" tanya Clara. Verro terlihat diam dengan pertanyaan Clara.
" Huhhhh, Kamu memang Dokter yang berbeda. Sepertinya pasien adalah froritas utamamu. Aku jadi ingat waktu kamu mencegah wanita untuk Bunuh diri. Wanita itu langsung luluh dan dari situ aku merasa memang kamu sangat berbeda," ucap Clara tersenyum jika mengingat pertama kali bertemu dengan Verro.
" Kamu ada di sana?" tanya Verro yang melihat Clara tanpa melepas pandangannya. Clara mengangguk dan melihat kearah Verro.
" Aku tidak tau kenapa aku sangat nyaman denganmu. Mungkin kamu memang Dokter yang berbeda. Sampai-sampai aku merasa ingin di sampingmu terus," lanjut Clara yang tidak tau kenapa dia ingin bicara seperti itu.
" Belakangan ini aku merasa sangat aneh. Atau mungkin itu juga berpengaruh karena darahmu sudah mengalir di tubuhku. Makanya kesannya aku sangat merasa berbeda. Sebelumnya aku tidak pernah merasakan ke anehan itu," ucap Clara.
Verro kaget mendengarnya dan hanya diam tanpa bisa bicara apa-apa pada Clara.
" Verro kenapa mendonorkan darah mu kepadaku?" tanya Clara membuat Verro terdiam dan terus menatap Clara yang pasti cara bicara Clara mengingatkannya pada Cherry dan membuat jantungnya berdebar tidak menentu.
" Bagaimana jika aku salah paham, bagaimana jika.... Mpptt," Clara tidak melanjutkan kalimatnya saat Verro menutup mulutnya dengan bibirnya. Membuat Clara kaget saat Verro menciumnya.
Bersambung........
__ADS_1