DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Eps 231 Menerima apa adanya.


__ADS_3

Setelah memenangkan diri masing-masing dalam tangisan yang penuh penyesalan dan permintaan maaf dengan tulus. Leni mama Vandy membawa Azizi kekamarnya.


Ke-2 wanita itu duduk di sisi ranjang dengan tangan Leni yang terus menggenggam tangan Azizi yang di letakkan di atas pahanya. Wanita itu sedikit tenang dengan Azizi yang membuka pintu maaf untuknya dan sekarang dia ingin bicara pribadi pada Azizi.


" Kamu wanita yang sangat sabar. Kamu bisa menghadapi semuanya dengan sendirian. Kamu benar-benar sangat baik," ucap Leni dengan memegang pipi Azizi. Azizi memang melihat ketulusan di wajah wanita itu.


" Tidak Tante, aku bukanlah orang baik, aku tidak sebaik yang Tante pikirkan. Aku jelas tidak sebaik itu," sahut Azizi.


" Azizi, Tante tau apa yang kamu rasakan sangat sakit. Tante tau perbuatan Vandy tidak mudah untuk di maafkan. Tante tau sayang kamu tidak mungkin mudah untuk membuka pintu maaf untuknya. Tetapi sebagai seorang ibu. Tante bertanggung jawab, untuk dosa yang sudah di lakukan anak Tante," ucap Leni yang memang ingin menebus kesalahan Vandy.


" Jadilah menantu kami. Mari kita sama-sama membesarkan cucu kami. Tante mohon pada kamu untuk memberi keluarga kami kesempatan itu," ucap Leni yang lagi-lagi memohon.


Azizi tidak menyangka jika orang tua Vandy akan memperlakukannya seperti ini. Bahkan memohon kepadanya dengan penuh ketulusan dan memintanya untuk menjadi menantunya.


" Azizi, kenapa kamu diam, apa kamu memang ingin membuat keluarga kami terus di hantui rasa bersalah. Apa kamu tidak akan mendapat kesempatan untuk menebus semuanya," ucap Leni.


" Tidak Tante bukan itu. Saya merasa hanya tidak pantas. Jika harus menjadi sungguhan di rumah ini," sahut Azizi.


" Tidak pantas seperti apa Azizi. Kami yang tidak pantas mendapatkan menantu seperti mu. Kami yang tidak pantas Azizi," ucap Leni yang kembali meneteskan air mata.


" Nak, kami tau perasaan kami. Maka dari itu izinkan Vandy menikah dengan mu secara resmi. Di akui negara dan juga agama," ucap Leni. Azizi terdiam mendengarnya.


" Ya Allah, kenapa wanita begitu baik. Kenapa dia sama sekali tidak membenciku. Atau merasa jijik dengan perbuatanku. Kenapa dia begitu tulus dan rela memohon hanya untuk hal yang sama sekali tidak perlu," batin Azizi yang meneteskan air mata. Perkataan Leni membuat hatinya tersentuh.


" Kamu bisa kan sayang, memberikan Tante kesempatan?" tanya Leni lagi. Azizi pun akhirnya mengangguk membuat Leni akhirnya tersenyum dengan kemurahan hati Azizi yang memberikan keluarga itu kesempatan.


" Terima kasih ya. Kamu sudah memberikan Tante banyak kesempatan. Makasih ya sayang," ucap Leni dengan tulus. Saya mengangguk dan Leni langsung memeluk Azizi dengan erat. Dengan penuh kasih sayang. Azizi juga pasti bisa merasakan kasih sayang itu.


" Kami tidak akan membuat kamu kecewa lagi. Tidak akan sayang, kami tidak akan membuat bahagia. Juga putra mu yang akan bahagia. Kita semua akan membesarkannya bersama-sama," ucap Leni.


" Iya Tante," jawab Azizi dengan tersenyum tipis.


Pembicaraan dan segalanya diskusi sudah selesai. Akhirnya Azizi memberikan kesempatan untuk keluarga yang benar-benar baik itu.

__ADS_1


Dia juga tidak menyangka, jika keluarga Vandy sangat baik. Bahkan menerima dirinya dengan penuh ketulusan. Dia tidak percaya mendapatkan perlakukan yang baik dari keluarga yang sangat tulus itu.


Vandy dan Azizi pun sudah berada di dalam mobil. Vandy mengantarkannya Azizi untuk pulang setalah beberapa jam berada di rumah Vandy.


Walau apa yang terjadi tadi tidak membuat Azizi harus bersikap ramah pada Vandy. Urusan orang tuanya adalah orang tuanya. Urusan Vandy adalah adalah urusan Vandy. Meski akan menikah dengan Vandy. Bukan berati Azizi sangat mudah membuka hatinya.


Jika Vandy benar-benar serius. Mungkin Vandy akan berusaha lebih banyak lagi. Agar hati Azizi bisa kembali menerimanya. Bukan hanya sebagai suaminya. Tetapi juga bisa mencintainya. Seperti apa yang di katakan wanita itu dulu.


Sesekali Vandy menoleh kearah Azizi yang tampak tenang dan diam.


" Kita langsung pulang?" tanya Vandy membuka suara.


" Kamu turunkan aku di apotik saja. Aku harus membeli obat-obatan Iqbal," jawab Azizi.


" Baiklah!" sahut Vandy.


Tidak lama mobil Vandy pun berhenti di depan apotik.


" Makasih, sudah mengantarku!" ucap Azizi membuka seat beltnya dan langsung turun dari mobil.


" Kamu ngapain?" tanya Azizi saat membalikkan tubuhnya dan melihat Vandy yang mengekor saja.


" Aku ingin memastikan obat yang kamu tebus itu benar atau tidak," jawab Vandy mencari alasan.


" Tidak perlu," sahut Azizi tidak mau. Vandy yang tidak peduli langsung menarik resep dari tangan Azizi dan langsung memasuki apotik itu.


" Vandy," teriak Azizi yang Vandy sudah pergi saja dan menarik resep di tangannya.


" Ishhhh," desis Azizi kesal dan mau tidak mau ikut masuk.


Di tempat yang bersamaan ternyata Verro dan Cherry juga ada di sana dan sedang menunggu untuk pengambilan obat.


" Azizi," tegur Cherry yang melihat Azizi dan Vandy. Azizi langsung melihat ke arah suara yang memanggilnya. Begitu juga dengan Vandy.

__ADS_1


" Cherry," sahut Azizi yang melihat Cherry dan Verro duduk dan Cherry dan Verro pun berdiri.


" Kalian kok bisa ada di sini?" tanya Verro heran. Azizi dan Vandy jadi salah tingkah mendengar ucapan itu.


" Oh, aku mau menebus obat Iqbal," jawab Azizi gugup.


" Lalu Vandy?" tanya Verro merasa ada yang aneh.


" Katanya, dia mau melihat resepnya salah atau tidak," jawab Azizi. Verro melihat Vandy dengan menaikkan 1 alisnya.


" Vandy, kamu meragukanku sebagai Dokter," sahut Verro yang membawa masalah itu serius.


" Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya jaga-jaga," sahut Vandy menggoyang-goyangkan tangannya. Sementara Cherry hanya tersenyum tipis.


" Verro jangan salah paham dulu," sahut Vandy.


" Yang Dokter Iqbal itu siapa. Aku apa kau?" tanya Verro kesal.


" Sayang, sudah lah," sahut Cherry mengusap lengan putranya.


" Santailah Verro jangan langsung sensitif seperti itu," sahut Vandy lagi mencoba mencairkan hati sahabatnya.


" Sudah-sudah, jangan di bahas lagi. Bagaimana setelah ini. Kita makan malam bersama," sahut Cherry yang menawarkan makan malam. Walau hari masih sore.


" Makan malam," sahut Azizi.


" Iya kalian tidak keberatan kan?" tanya Cherry memastikan.


" Tidak, itu ide bagus," sahut Vandy yang semangat. Azizi langsung menoleh ke arah Vandy yang suka-sukanya. Padahal Azizi tidak mengatakan setuju atau tidak.


" Ya sudah bagus kalau begitu," sahut Cherry kesenangan.


" Ya sudah, aku tebus obat dulu," sahut Vandy.

__ADS_1


" Oke," sahut Verro dan Vandy langsung pergi. Sementara Cherry mengajak Azizi untuk duduk bersamanya.


Bersambung


__ADS_2