DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 236 Bermain bersama.


__ADS_3

Azizi tidak mengingkari janjinya. Azizi benar-benar memberi izin Iqbal untuk bermain bersama Vandy dan dia juga ikut.


Di taman bermain yang memang banyak orang tua mendampingi anak-anak mereka yang masih belia yang menyempatkan waktu untuk mengajak bermain yang membuat anak-anak itu bahagia.


Yang pasti kebahagian juga di pancarkan oleh Iqbal anaknya. Yang sedari tadi bermain bersama Vandy. Seperti sekarang ini di mana Vandy menemani putranya bermain di ayunan dan mengayun-ayunkan yang membuat Iqbal terus tertawa.


Sementara Azizi hanya duduk di salah satu bangku dan hanya melihat anak dan ayah itu yang penuh kebahagian. Azizi harus menyadari jika Vandy benar-benar sangat tulus memberikan kebahagian untuk Iqbal.


Di mana putranya yang merasakan kebahagian. Yang mungkin juga Iqbal yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Jadi sangat wajar dia seperti itu yang baru merasakan bermain dengan seorang ayah.


" Apa selama ini aku salah, apa aku telah mengambil kebahagian putraku sendiri," batin Azizi yang seakan menyesal dengan apa yang di lakukannya.


Melihat sang anak bahagia membuatnya menyesal karena selama ini melarang Vandy untuk mendekati anaknya. Padahal Azizi tau Iqbal memang menyukai Dokter itu.


Mungkin memang Iqbal sudah punya ikatan batin dengan Vandy makanya langsung mudah untuk dekat. Dan bahkan Iqbal pernah menangis karena Azizi melarangnya bicara dan apa lagi yang lain-lain kepada Vandy.


Tetapi tanpa iya sadari putranya hanya akan tertawa seperti anak-anak yang lain di lihatnya ketika bersama Vandy. Iqbal merasa lengkap dan sempurna, seakan dia juga sama dengan yang lainnya yang memiliki seorang ayah.


" Maafkan mama Iqbal, mama sudah menutupi kebenaran jika laki-laki yang sedang bersamamu adalah papa kandungmu. Seharusnya kamu bahagia sejak dulu. Seharusnya kamu merasa lengkap sejak dulu. Tetapi karena ke egoisan mama. Kamu jadi anak yang tidak ceria. Bahkan dia saat kamu saki. Kamu juga tidak mendapatkan kebahagian, maafkan mama sayang," batin Azizi dengan meneteskan air matanya yang menyesali semuanya.


" Mama tidak akan mencuri kebahagian kamu lagi. Kamu berhak mendapatkan semuanya. Kamu memiliki mama. Kamu juga memiliki papa dan bahkan nenek dan kakek kamu yang menunggu kamu. Kamu memiliki semuanya Iqbal. Mama tidak akan merampas itu lagi," ucap Azizi lagi di dalam hatinya yang benar-benar menurunkan egonya demi putranya.


" Mama ayo kemari!" panggil Iqbal yang ingin mamanya ikut bermain bersamanya. Azizi tersenyum dan menggeleng.


" Iqbal, mama kamu mungkin lelah, kita main berdua saja," ucap Vandy.


" Baik Dokter," sahut Iqbal yang kembali melanjutkan permainannya dengan Dokter dan Vandy melihat ke arah Azizi. Vandy tersenyum melihat senyum tipis di wajah Azizi yang menunjukkan Azizi juga bahagia.


" Aku tidak akan menghilangkan senyum di wajahmu lagi," batin Vandy. Vandy kembali bermain dengan putranya.


Azizi, Iqbal, dan Vandy, benar-benar mengabiskan waktu seharian untuk bermain. Setelah dari taman bermain dan sekarang Vandy membawanya ke wahana permainan yang lebih lengkap.

__ADS_1


Azizi hanya melihat dan tidak ingin menggangu kebersamaan ayah dan anak itu. Dia menonton putranya dan Vandy yang sekarang main mobil-mobilnya dengan wajah senyum anaknya yang tidak hilang dari wajahnya.


Iqbal juga tersenyum pada mamanya dan mengajak sang mama untuk bermain dan lagi-lagi Azizi menolaknya. Dia memilih untuk menonton saja.


Banyak wahana permainan yang di lakukan Vandy dan Iqbal, dari balap mobil, naik komedi putar dan sekarang Iqbal bermain kolam bola bersama anak-anak seusianya.


Sementara Azizi tetap duduk di salah satu bangku yang tetap mengawasi sang anak. Sementara Vandy sepertinya sedang pergi.


Dan tidak berapa lama Vandy pun datang duduk di samping Azizi. Vandy datang membawa paper bag yang mungkin berisi makanan dan memang benar-benar itu makanan ringan.


" Makanlah!" ucap Vandy memberikan hamburger untuk Azizi.


" Makasih," sahut Azizi langsung mengambilnya.


" Terimakasih, sudah menemani Iqbal seharian," ucap Azizi.


" Aku yang berterima kasih. Karena kamu sudah memberi izin dia bersamaku," sahut Vandy. Azizi hanya diam dan tidak merespon lagi.


Vandy yang sepertinya lapar langsung memakan humburger dan melihat ke arah Azizi yang sepertinya ada yang ingin di sampaikannya.


" Iya kenapa?" tanya Azizi.


" Tadi mama menelponku dan aku mengatakan aku sedang bersamamu dan juga Iqbal. Dan mama bilang kalau kamu mengijinkan dia ingin bertemu Iqbal," ucap Vandy yang ragu menyampaikan apa yang di inginkan mamanya.


Vandy sangat menghargai apapun keputusan Azizi dan apa-apa memang harus minta izin pada Azizi. Karena semuanya Azizi yang berhak.


" Mama hanya ingin makan malam, bersama kalian," ucap Vandy yang masih berusaha sementara Azizi masih diam. Tetapi Vandy memang tidak banyak berharap. Dengan bersama Iqbal sedari tadi sudah membuatnya bahagia.


" Kapan?" tanya Azizi tanpa melihat Vandy.


" Malam ini," jawab Vandy.

__ADS_1


" Baiklah, jika memang Tante Lina ingin menemui Iqbal maka tidak akan masalah," sahut Azizi dengan berbesar hati memberi izin putranya untuk menemui nenek dan kakeknya. Vandy mendengarnya tersenyum lebar.


" Terima kasih," ucap Vandy dengan lembut.


" Sama-sama," sahut Azizi.


************


Setelah puas bermain seharian akhirnya malam hari Vandy membawa Iqbal dan Azizi kerumahnya.


" Ini rumah siapa Dokter?" tanya Iqbal bingung.


" Ini rumah Dokter, kita mampir sebentar ya," ucap Vandy.


" Baik Dokter," sahut Vandy.


Merekapun sama-sama membuka seat beltnya dan langsung turun dari mobil dan langsung melangkah memasuki rumah. Yang ternyata papa, mama dan kakaknya sudah menunggu di depan pintu.


Saat Vandy, Iqbal, dan Azizi berhadapan dengan 3 orang itu. Lina melihat langsung kepada anak laki-laki itu dan tidak sanggup untuk tidak menangis. Tetapi dia menahannya. Arif mengusap pundak mamanya untuk memberikan mamanya kekuatan.


" Selamat datang," sahut papa Vandy Yanto.


" Siapa mereka Dokter?" tanya Iqbal yang di tengah-tengah Vandy dan Azizi.


" Ini mama Dokter, ini papa Dokter, dan ini kakak Dokter," jawab Vandy mengenalkan. Dan Iqbal langsung menciumi tangan orang yang lebih tua darinya itu dan menyentuh tangan anak kecil itu membuat mereka bergetar.


" Lalu Iqbal harus memanggil apa untuk mama dan papa Dokter?" tanya Iqbal, Vandy terdiam mendengarnya. Begitu juga dengan mama dan papanya yang juga tidak bisa menjawab apa yang di katakan anak itu.


" Iqbal, panggil mereka kakek dan juga nenek," sahut Azizi.


Yang lain mendengar hal itu kaget. Tidak percaya jika Azizi memberikan kesempatan anak kecil itu memanggil mereka dengan sebutan itu.

__ADS_1


Sampai air mata Leni harus menetes dengan kebesaran hati Azizi yang benar-benar memberikan kesempatan kepadanya untuk mendengar cucunya memanggilnya dengan sebutan nenek. Yang pasti itu hal yang tidak pernah di bayangkannya.


Bersambung


__ADS_2