
Hari berganti hari. Pagi hari yang cerah kembali datang. Pancaran matahari yang begitu cerah. Memberikan semangat baru untuk orang-orang yang akan memulai aktivitas paginya.
Cherry duduk di pinggir ranjangnya dengan memakai kaus kakinya. Dia sudah bersiap sejak pagi tadi. Sudah mandi dan memakai seragam sekolahnya dengan lengkap.
Dia sangat bersyukur bisa kembali sekolah. Bisa merasakan aktivitas belajar kembali. Pulang dari Study tour. Memang murid-murid di berikan waktu istirahat 1 hari.
Setelah itu mereka kembali melaksanakan kewajiban mereka untuk sekolah menuntut ilmu seperti biasanya.
Setelah selesai memasang kaos kaki itu. Cherry juga memakai sepasang sepatunya. Dengan wajahnya yang seperti biasa pasti sangat ceria. Cherry melihat arloji yang selalu berada dilengannya.
" Waktunya berangkat," gumam Cherry dengan semangat 45, mengambil tasnya menyandang di punggungnya dan keluar dari kamarnya.
Saat ingin menuruni anak tangga langkah Cherry yang penuh ceria dan semangat yang tinggi harus terhenti. Ketika melihat Verro yang sudah bersama papanya. Bukan itu yang membuat langkahnya terhenti. Tetapi pembicaraan itu.
" Hanya kamu Verro, satu-satunya harapan Om. Om mohon sama kamu. Tolong bujuk Cherry agar dia mau operasi," ucap Laskarta yang menyampaikan kegundahan hatinya kepada Verro.
Karena jika dia mengatakan hal itu kepada Cherry langsung. Cherry pasti langsung menolaknya.
" Om apa Cherry akan sembuh jika di operasi?" tanya Verro.
Walau Verro juga sebelumnya sudah mendengar langsung dari Dokter Arif berapa % kesembuhan Cherry. Tetapi dia juga ingin mendengar jawaban dari Laskarta.
Laskarta terdiam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Verro. Karena dia juga tau tidak ada kemungkinan untuk sembuh terhadap Putri satu-satunya itu.
" Apa Om orang tua yang jahat?" tanya Laskarta tiba-tiba.
" Kenapa Om bicara seperti itu?" tanya Verro bingung.
" Kesembuhan untuk Cherry memang tidak ada. Dan mungkin apa yang ditakutkan Cherry saat berada di meja operasi akan menjadi hari terakhirnya akan terjadi. Tetapi kamu pasti bertanya-tanya. Kenapa Om sudah tau. Tetapi masih memaksa Cherry melakukan itu. Karena Om tidak ingin melihat Cherry terus menahan sakit," jelas Laskarta.
" Verro, kita hanya melihat dia santai seperti tidak ada apa-apa. Tetapi kita tidak tau bagaimana dia menahan rasa sakit di tubuhnya itu," ucap Laskarta yang sudah berlinang air mata.
" Apa itu artinya om siap kehilangan dia?" tanya Verro. Laskarta menepuk pundak Verro.
" Om sangat menyayanginya. Selama ini om menuruti kemauannya untuk tidak operasi. Karen Om egois yang juga tidak mau kehilangannya dengan apa yang di takutkannya. Tetapi Om sadar jika keegoisan om hanya akan menyiksa dirinya," jelas Laskarta lagi.
" Verro, om tau kamu juga tidak mau kehilangannya. Tapi Om juga tau. Kalau kamu tidak mau melihat dia kesakitan. Om tau perasaan kamu," ucap Laskarta membuat air mata Verro jatuh.
Verro terdiam dan menundukkan kepalanya membiarkan air matanya menetes kelantai. Dengan Ke-2 telapak tangannya yang saling mengatup. Tangan yang bergetar dengan beberapa kenyataan yang mungkin akan di hadapinya.
Verro menyadari jika dia memang egois. Dia juga tidak menginkan Cherry melakukan operasi karena dia juga tidak sanggup jika pada akhirnya harus kehilangan Cherry. Keegoisannya bahkan melupakan rasa sakit yang di tahan Cherry selama ini.
Cherry yang berada diujung anak tangga meniup keatas matanya agar tidak meneteskan air mata mendengarkan 2 orang pria yang sangat mencintainya.
__ADS_1
Yang sekarang dilema karena tidak mau kehilangannya. Cherry membuang napasnya perlahan kedepan dengan pipinya yang mengembang.
" Morning Papa," tegur Cherry dengan suara cerianya menuruni anak tangga. Verro dan Laskarta melihat kedatangan Cherry langsung buru-buru menyeka air mata mereka dan memancarkan senyum lebar di balik kesedihan.
" Hay, Verro," sapa Cherry yang sudah berada dibruang tamu.
" Hay," sapa Verro tersenyum lebar. Cherry duduk di samping papanya dan memeluk erat papanya.
" I love you pa," ucap Cherry memeluk erat papanya.
" I love you to," sahut Laskarta mengusap pucuk kepala Cherry. Mencium pucuk kepala itu dengan lembut. Cherry melepas pelukannya dari papanya.
" Ya sudah Cherry berangkat sekolah dulu," ucap Cherry mencium punggung tangan papanya.
" Iya sayang," sahut Laskarta. Verro juga berdiri dan ikut berpamitan kepada Laskarta. Melakukan hal yang sama seperti Cherry. Mencium punggung tangan Laskarta.
" Verro juga berangkat om," ucap Verro pamit.
" Iya Verro, jagain Cherry ya," ucap Laskarta.
" Pasti Om," sahut Verro.
" Da papa," sahut Cherry melambaikan tangannya dan menggandeng tangan Verro dan dengan ceria melangkah keluar rumahnya.
Cherry berlagak seperti tidak mendengar apa-apa tadi. Dia bersikap seperti biasa menutupi kembali kesedihannya seperti yang di lakukan 2 pria yang sangat di cintainya.
Verro dan Cherry berada di dalam mobil yang di setiri Verro. Cherry membuka tasnya dan mengeluarkan kotak bekal dari dalam tasnya.
Cherry membuka isi bekal itu yang ternyata potongan roti sandwich.
" Aak" Cherry menyodorkan kemulut Verro. Verro sambil menyetir menggigit suapan dari Cherry.
" Kamu belum sarapan?" tanya Verro. Cherry menggeleng dan memakan apa yang tadi di berikannya kepada Verro.
" Kenapa tidak bilang, seharusnya tadi sarapan dulu," ucap Verro.
" Tidak apa-apa, kan juga sudah di siapin bekal sama bibi," sahut Cherry yang kembali menyuapi Verro. Verro kembali memakannya.
" Kamu juga kayaknya belum sarapan," tebak Cherry tersenyum curiga.
" Kamu benar, aku juga belum sarapan. Jadi kamu harus iklhas kalau sarapan mu kita bagi dua," sahut Verro.
" Kenapa tidak bilang, seharusnya aku membawa lebih tadi," ucap Cherry.
__ADS_1
" Apa kamu keberatan membaginya denganku?" tanya Verro.
" Ini sangat sedikit aku pasti kurang," sahut Cherry dengan nada bercanda.
" Apa kita harus mencari sarapan dulu. Sebelum kesekolah, masih banyak waktu," ucap Verro mendapat ide.
" Boleh juga," sahut Cherry setuju.
" Kamu mau makan apa?" tanya Verro.
" Bubur ayam kayaknya enak," jawab Cherry sudah membayangkan rasa bubur ayam.
" Baiklah!" sahut Verro setuju.
Mobil Verro sudah berhenti di depan penjual gerobak. Verro dan Cherry sudah memesan bubur ayam. Mereka menikmati 1 mangkok bubur berdua dan makan di salah satu bangku yang sudah di sediakan di sana tanpa adanya meja.
" Enak?" tanya Verro yang menyuapi Cherry. Cherry mengangguk. Verro menyuapi Cherry dan juga menyuapi dirinya sendiri.
" Bagaimana jika setiap hari kita sarapan di sini," ucap Cherry yang tiba-tiba mendapatkan ide.
" Baiklah aku setuju, kenapa tidak," sahut Verro langsung setuju.
Cherry melihat Verro sangat lama, tiba-tiba Cherry menutup Ke-2 telinga Verro dengan telapak tangannya membuat Verro bingung dengan apa yang di lakukan Cherry.
" Jangan mendengarkan perkataan papa. Harus tutup telinga jika papa membicarakan hal itu," ucap Cherry dengan wajah serius menatap Verro dengan dalam.
" Cherry, kamu mendengarnya?" tanya Verro. Cherry mengangguk dengan raut wajah sedih.
" Aku tidak mau kamu mendengarkan kata-kata papa. Aku tidak bisa tidak menurutimu. Jadi aku mohon jangan meminta hal itu dari ku," ucap Cherry memberitahu terlebih dahulu. Sebelum Verro membujuknya untuk operasi. Karena memang dia tidak akan bisa menolak apapun yang di katakan Verro.
" Cherry," lirih Verro..
" Please," sahut Cherry dengan wajah memohonnya.
" Sampai kapan?" tanya Verro.
" Sampai kapanpun," sahut Cherry.
" Cherry itu hanya akan membuatku menyesal. Jika membiarkan semuanya," ucap Verro.
" Verro, aku masih ingin menghabiskan waktu bersama mu. Jadi aku mohon jangan menyia-nyiakan hidupku," ucap Cherry yang terus memohon.
" Please," desak Cherry lagi.
__ADS_1
" Makan lagi," Verro menjawab dengan menyodorkan sesendok bubur lagi kemulut Cherry. Cherry melepas tangannya yang di telinga Verro dan memakan suapan dari Verro.
Bersambung.......