DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 131 Verro yang emosi.


__ADS_3

Pagi hari kembali tiba. Pagi yang ceria ini ternyata membuat Sasy, Raquel, Aldo dan Vandy begitu semangat. Seperti janji mereka kemarin akan melakukan camping 1 hari.


Mereka akan menaiki 1 mobil. Walau hanya perjalanan 1 hari. Tetapi peralatan mereka sangat banyak. Namanya juga Sasy dan Raquel selalu heboh.


" Oke, kita sudah bisa berangkat?" ucap Raquel yang sudah tidak sabaran sementara Aldo dan Verro sedang memasukkan barang-barang bawaan mereka ke mobil.


" Oke, kalian boleh masuk," ucap Vandy.


" Oke sip," sahut Sasy dan Raquel serentak dan dengan semangat mereka langsung memasuki mobil. Aldo yang yang menyetir. Aldo langsung melaju dengan kecepatan santai.


Aldo dan Vandy duduk paling depan. Sementara Sasy dan Raquel duduk di belakang.


" Kita akan Camping di mana?" tanya Sasy.


" Di puncak," jawab Vandy.


" Wau seru dong, sudah tidak sabar untuk kesana," sahut Raquel.


" Tapi kan, kita belum tau tempatnya di mana. Kita juga belum pesan tempat," sahut Sasy.


" Tenang aja, teman aku juga ada di sana, kebetulan dia juga lagi libur dan langsung Kesana," sahut Vandy.


" Berarti kita ber-5 dong?" tanya Sasy.


" Iya kita ber-5," jawab Vandy.


" Teman kamu cowok apa cewek?" tanya Sasy.


" Cowok?" jawab Vandy.


" Semoga saja tampan, biar aku bisa bisa jadi gebetan," sahut Sasy dengan tersenyum.


" Ihhhsssas, gini nih kalau kelamaan jomblo," sahut Raquel dengan sewot.


" Sirik aja lo," sahut Sasy.


Aldo dan Vandy saling melihat dan sama-sama menggedikkan bahu mereka. Ya mereka mungkin akan sakit. Jika tidak melihat Sasy dan Raquel bertengkar sehari saja.


***********


" Bi," panggil Verro yang menuruni anak tangga yang dengan pakaian rapi yang sepertinya ingin pergi.


" Iya nak Vero," jawab Bi Ira yang langsung menghampiri Verro.


" Aku mau pergi dulu kepemakaman," ucap Verro berpamitan.


" Oh, ya sudah," jawab Bi Ira.


" Ya, sudah aku pergi ya," ucap Verro pamit.

__ADS_1


" Iya, hati-hati, ya," sahut Bi Ira.


Verro pun langsung keluar dari rumahnya. Saat ingin memasuki mobilnya. Mobil merah langsung berhenti di depan pagar rumahnya.


" Verro," suara wanita yang memanggil langsung keluar dari dalam mobil yang ternyata Fiona. Fiona langsung berlari menghampiri Verro.


" Kamu apa kabar?" tanya Fiona yang sangat bahagia bisa bertemu Verro.


" Ngapain kamu di sini?" tanya Verro datar.


" Kamu kenapa nanyak gitu, ya pasti karena aku ingin menemuimu," jawab Fiona memegang lengan Verro dan langsung di tepis oleh Verro.


" Jangan menyentuhku. Itu sangat tidak pantas," ujar Verry dengan ketus.


" Kamu kenapa sih Verro. Selalu seperti ini mengatakan aku tidak pantas lah. Aku baru pulang dari Luar Negri. Kamu yang pertama kali aku kunjungi. Apa kamu tidak bisa menghargaiku. Setiap menemui kamu selalu menghindar. Apa kamu tidak bisa menghargai ku sekali saja," ucap Fiona dengan wajah seriusnya yang seperti menuntut sesuatu.


" Kamu dengar ya Fiona, aku tidak menyuruhmu untuk datang menemuiku. Jadi jangan minta di hargai oleh ku dan sebaiknya kau pergi dari sini," ucap Verro yang langsung berterus terang dan terang-terangan langsung mengusir Fiona.


" Verro, kau sangat kejam. Kau tau dari dulu jika aku menyukai mu, apa kau tidak bisa membuka hati mu sedikit saja untukku," ucap Fiona dengan matanya yang bergenang yang menuntut untuk di balas perasaan.


" Dan kau juga tau dari dulu. Kalau aku tidak menyukaimu. Dan masalah hati membuka atau tidak. Memang tidak. Karena hatiku hanya tetap milik Cherry," tegas Verro sambil menunjuk-nunjuk Fiona.


Fiona yang mendengar nama Cherry geleng-geleng dengan tawanya yang menggambarkan rasa mualnya dengan kata-kata Verro yang terus mengulang-ulang h itu.


" Cherry lagi, Cherry lagi. Sadarlah Verro dia sudah mati," ucap Raquel dengan sinis.


" Kenapa, apa kau masih mengharapkan dia hidup kembali. 1 hari, Minggu bulan dan tahunan dan sudah 7 tahun. Apa kau melihat dia bangkit dari kuburnya dan datang kepadamu. Sadar Verro dia sudah mati," teriak Fiona.


" Fiona," geram Verro memukul atas mobil.


Hal itu menggambarkan betapa marahnya dia kepada wanita itu. Matanya memerah ingin keluar. Ingin menerkam Fiona yang berani mengatai istrinya. Verro langsung mencengkram lengan Fiona.


" Kau dengar baik-baik. Cherry memang sudah tidak ada. Tetapi sampai kapanpun dia tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Termasuk wanita seperti mu. Jadi jangan pernah mengatakan sesuatu hal mengenai Cherry di depanku. Hari ini aku memafkanmu. Jika kau mengatakan sesuatu lagi. Jangan salahkan aku. Jika mulutmu tidak akan bisa bicara lagi," ucap Verry dengan tegas dengan ancaman kepada Fiona menatap mata Fiona. dengan tajam dan pasti menolaknya kembali perasaan Fiona.


Verro langsung menjatuhkan kasar lengan Fiona dengan kasar dan hampir membuat Fiona jatuh.


" Jangan pernah datang kerumah ini lagi," ucap Verro menegaskan dan langsung pergi memasuki mobilnya. Meninggalkan Fiona yang diam mematung dengan air matanya.


" Brengsek," desis Fiona mengepal tangannya. Ketika melihat mobil Verro yang sudah pergi.


" Cherry lagi, Cherry lagi, selalu Cherry. Apa dia tidak bisa memikirkan perasaan ku. Kenapa dia masih mencintai wanita yang sudah mati. Aku selalu berusaha untuk masuk kedalam hatinya. Tetapi dia selalu menolaknya," ucap Fiona yang marah-marah dengan Verro.


" Tidak Verro. Aku tidak peduli. Usahaku selama ini tidak akan sia-sia. Mau kamu bicara apapun, melarangku apapun. Aku tidak akan menyerah aku pasti mendapatkan mu," batin Fiona yang tetap masih kekeh untuk merebut hati Fiona.


**********


Vandy, Aldo, Sasy dan Raquel sudah tiba di puncak. Mobil mereka berhenti di lapangan hijau dan terdapat Dano di sana. Mereka semua langsung turun dari mobil.


" Udaranya segar sekali," ucap Sasy yang menghirup udara dalam-dalam dan membuatnya perlahan.

__ADS_1


" Ada yang ada kemping di sana?" tunjuk Raquel melihat tenda yang terpasang sekitar 20 meter dari mereka.


" Apa itu teman yang kamu maksud?" tanya Sasy.


" Hmmmm. Kayaknya iya," jawab Vandy.


Membicarakan teman Vandy. Pria tersebut langsung keluar dari dalam tenda. Pria tampan yang terlihat sangat mempesona. Tinggi badan yang frofesional. Dengan wajah yang terpahat sempurna.


" Ya ampun keren banget," ucap Sasy yang langsung mengagumi.


" Benar padahal masih dari jauh," sahut Raquel yang harus memuji juga. Aldo yang berdiri di sampingnya langsung menutup matanya dengan telapak tangannya.


" Dosa, kalau melihat pria lain," ucap Aldo yang langsung main cemburu aja.


" Vandy," teriak Pria itu mengangkat tangannya. Vandy juga melakukan hal yang sama Pria tampan itu langsung berjalan agak cepat menghampiri 4 orang itu.


" Bukannya itu Toby," sahut Raquel yang sudah Menyinggirkan tangan Aldo. Melihat semakin dekat Pria itu. Dia mengenali jika pria tampan yang di pujinya benar-benar Toby.


" Toby," sahut Sasy, " Ahmad Toby?" tanya Sasy yang masih belum mengenali. Walau Pria itu sudah semakin dekat. Dan bahkan sudah di depan mereka dan Sasy terus memastikan.


" Apa kabar bro," ucap Vandy tos dengan Toby dan langsung memeluk.


" Baik dong," sahut Toby.


" Tambah keren aja lo," ucap Vandy yang sudah melepas pelukannya.


" Ngejek aja lo," sahut Toby. Mata Toby langsung melihat Aldo.


" Aldo apa kabar?" tanya Toby yang juga langsung tos dengan Aldo dan memeluk.


" Kau terlalu lebay menanyakan kabar. Kemarin kita baru bertemu," sahut Aldo.


" Ahhhhh, apa salahnya," sahut Toby sudah melepas pelukan.


" Raquel apa kabar?" tanya Toby.


" Baik dong, ternyata kau teman Vandy yang mau ikutan camping," ucap Raquel.


" Iya, nggak apa-apa kan gabung?" tanya Toby.


" Ya nggak apa-apa lah," sahut Raquel.


Toby langsung menoleh ke arah Sasy. Temannya dulu berantam.


" Sasy apa kabar?" tanya Toby yang melihat Sasy masih tampak kebingungan.


" Ohhh, baik," sahut Sasy sangat terlihat gugup saat memang menyadari jika itu benar-benar Toby teman SMA nya.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2