
Clara duduk termenung di salah satu bangku yang berada di luar rumah sakit. Dia masih mengingat kata-kata Verro yang sangat menusuk untuknya. Kata-kata yang membuatnya seperti wanita yang tidak punya harga diri.
" Kenyamanan pasien. Jadi dia menganggapku hanya sebagai pasien yang menuntut lebih. Tapi apa harus dia mengatakan itu, kenapa dia begitu kasar. Dia sangat marah. Kenapa marahnya dia seperti tidak asing di telingaku," batin Clara yang menyeka air matanya. Sakit hatinya memang membuatnya harus terus membuat air matanya jatuh.
" Lalu kenapa Verro kau harus hadir di dalam. Ingatanku. Kenapa kau tidak mengijinkan aku untuk bertanya. Kenapa saat melihatmu. Semua lintasan yang membuat kepalaku saki muncul. Aku bahkan sekuat tenaga untuk menahan sakitnya. Hanya untuk melihat Pria itu. Yang ternyata kau. Tapi apa kau malah seperti ini kepadaku membuatku sangat bingung," batin Clara yang terus memikirkan tentang Kevin.
Ternyata di sisi lain tanpa sepengetahuan Clara Verro berdiri cukup jauh dari Clara dan melihat Clara sedari tadi meneyeka air matanya. Tidak tau apa yang di rasakannya. Seakan kakinya ingin melangkah mendekati Clara dan meminta maaf pada Clara atas apa iya lakukan tadi.
Verro menyadari jika dia hanya emosi. Clara tidak salah apa-apa dan apa yang terjadi. Karena dia yang lagi-lagi tidak bisa mengendalikan dirinya. Verro hanya dalam diam melihat Clara yang termenung.
" Air matanya caranya menyimpan kemarahan. Tidak ada bedanya dengan Cherry. Dia akan seperti itu," batin Verro yang tiba-tiba mengingat Cherry.
Cherry memang akan seperti itu. Kalau dia sedang memarahi Cherry dan hari ini. Seakan dia mengingat semua hal itu.
Sementara Selina terus mencari Clara dengan mulutnya yang tidak henti-hentinya mengoceh.
" Di mana sih dia. Bukannya mengangkat telponya. Tadi di suruh kemari. Tetapi sudah di sini. Malah tidak ditemukan. Maunya apa sih," Selina terus mengoceh. Karena belum juga menemukan di mana Clara.
Sampai akhirnya matanya menangkap wanita yang di carinya. Dia melihat Clara yang duduk melamun.
" Itu dia," ucap Selina merasa lega dan menghampiri Clara dengan cepat.
" Clara," tegur Selina yang berdiri di depan Clara. Clara mengangkat kepalanya dan melihat wanita yang memanggilnya. Selina kaget melihat air mata wanita itu.
" Kau kenapa menangis?" tanya Selina bingung. Clara langsung memeluk pinggang Selina. Membuat Selina kaget dengan apa yang di lakukan Clara kepadanya.
" Ada apa ini, apaan sih," ucap Selina berusaha melepas tangan itu. Tetapi Clara tetap mempererat pelukannya. Dan malah memperkeras tangisannya.
" Kenapa nasibku seperti ini," ucap Clara menangis Sengugukan membuat Selina semakin bingung.
" Apa yang di katakannya dan kenapa dia harus menangis seperti ini," batin Selina kebingungan.
Verro juga masih berada di tempatnya dan kaget melihat kehadiran Selina yang tiba-tiba muncul dan dari apa yang di lihatnya sangat jelas. Jika Selina dan Clara seperti sangat dekat.
" Bukankah itu Selina, ngapain dia dan kenapa dia sampai seperti itu dengan Clara," batin Verro yang penuh kebingungan. Terus melihat 2 wanita itu dengan wajah kagetnya.
" Itu Selina bukan," sahut Sasy tiba-tiba datang dan berdiri di samping Verro.
__ADS_1
" Iya. Dia Selina," jawab Verro melihat Sasy.
" Kenapa dia ada di sini dan kenapa dia bersama Clara. Mereka juga terlihat sangat dekat?" tanya Sasy yang kebingungan.
" Aku juga tidak tau. Apa mereka saling mengenal?" tanya Verro.
" Bukan hanya saling mengenal. Tetapi mereka juga bahkan terlihat sangat dekat. Dan mana mungkin tidak dekat. Jika Clara begitu nyaman meluknya," ucap Sasy.
" Kamu benar," jawab Verro.
" Biar aku tanyakan saja," ucap Sasy melangkah pergi. Tetapi Verro langsung menahan tangannya.
" Untuk apa menanyakannya?" tanya Verro.
" Bukankah kita harus tau kenapa mereka bisa saling mengenal dan bahkan sedekat itu," ucap Sasy.
" Tidak perlu. Kau tidak perlu melakukan itu. Itu bukan urusan kita. Dia Clara dan bukan Cherry. Jadi jangan melakukan sesuatu. Karena kamu hanya penasaran dengannya. Karena bagaimana pun dia adalah Clara bukan Cherry. Jadi biarkan saja dia mau seperti apa," ucap Verro menegaskan pada Sasy.
" Tapi Verro," ucap Sasy.
" Sudahlah, kamu sebaiknya bawa dia masuk, dan jangan membicarakan hal yang lain-lain," ucap Verro menegaskan sekali lagi dan langsung pergi.
***********
Akhirnya Clara sudah tidak menangis lagi dan duduk bersama Selina di tempat yang sama. Walau tidak menangis lagi. Tetapi Selina tidak tau juga kenapa Clara menangis. Karena Clara tidak juga memberikan alasannya kepadanya.
" Kenapa sih dia sebenarnya. Kok tiba-tiba seperti itu," batin Selina yang penasaran. Melihat air mata Clara membuatnya ikut simpatik dengan wanita itu. Dia menjadi kasihan dengan Selina.
" Hmmmm, apa yang ingin kau katakan. Kenapa memanggilku kemari?" tanya Selina melihat ke arah Clara.
" Tidak jadi," jawab Clara dengan suara serak. Membuat Selina mengkerutkan dahinya.
" Maksudnya?" tanya Selina heran.
" Aku sudah lelah. Aku juga lupa harus mengatakan apa. Jadi tidak ada yang ingin aku katakan," ucap Clara.
" Lalu ngapain menyuruhku kemari?" tanya Selina dengan geram.
__ADS_1
" Maaf, sudah merepotkan mu. Besok saja kita bicara. Aku mau istirahat dulu," ucap Clara.
" Apa!" pekik Selina.
" Kau mengatakan ingin istirahat setelah menyuruhku datang. Kau tau tidak. Aku juga lelah bekerja dan harus datang kemari demi dirimu dan kau masih dengan seenaknya mengatakan kau yang lelah. Lalu bagaimana denganku," Selina mengerocos dengan apa di dengarnya.
" Maafkan aku. Tapi aku benar-benar ingin istirahat. Aku minta maaf ya," ucap Clara seperti wajah memohon.
" Ahhhhhh, sudahlah. Lupakan semuanya," sahut Selina benar-benar kesal. Clara hanya diam saja menerima kemarahan Selina.
Dia memang tidak punya mood lagi untuk mengetahui segala sesuatu lagi tentang Cherry. Karena apa yang sudah terjadi antara dia dan Verro.
Bersambung
Clara berada di ruangannya dan sedang di potongkan buah oleh Tari. Bayu juga ada di dalam dan sibuk bermain ponsel.
" Apa mama masih belum siuman juga?" tanya Clara pada Bayu.
" Belum! kamu cepatlah sembuh. Biar kita kembali ke Jerman. Rumah sakit ini tidak cocok untuk mama. Sudah berapa lama. Tetapi mama tetap saja koma," ucap Bayu dengan tegas terus menscroll ponselnya tanpa melihat Clara.
" Dugaanku benar. Mas Bayu akan tetap membawaku dan mama ke Jerman. Lalu bagaimana selanjutnya. Jika aku pergi ke Jerman. Aku tidak akan mengetahui yang sebenarnya,"
" Tetapi apa itu masih penting sekarang. Sepertinya semua itu sudah tidak penting. Aku sudah tidak ada gunanya harus mengetahui semua tentang Cherry. Lagi pula untuk apa aku melakukannya. Itu bukan urusanku. Wajahku hanya mirip dengannya,"
" Jika aku juga tetap bertahan yang ada dia akan semakin menganggap jika aku mengejar-ngejarnya dan dia akan menganggap aku hanya ingin menggantikan posisi istrinya," Clara terus bergerutu di dalam hatinya yang mulai putus asa dengan semuanya.
" Memang kalian akan kembali ke Jerman?" tanya Tari.
" Iya. Karena tempat ini tidak cocok untuk dia dan juga mama," jawab Bayu dengan tegas.
" Tetapi kondisi Clara juga belum stabil," sahut Tari sambil memotong buah.
" Dia akan secepatnya sembuh," sahut Bayu.
" Aneh sekali. Kenapa Bayu sangat mendadak membawa Clara dan Tante Karina pergi. Padahal kondisi mereka masih belum stabil. Apa lagi Clara. Bahkan Dokter saja mengatakan ada keganjalan di dalam otaknya. Yang menyebabkan dia menderita sakit kepala yang sangat berlebihan," batin Tari.
" Sikap Bayu benar-benar sangat aneh. Kenapa aku merasa dia menyembunyikan sesuatu," batin Tari yang merasa ada keganjalan dengan Bayu.
__ADS_1
Bersambung....